Number 35

3006 Kata
"Salamku." Gadis itu menundukkan kepalanya sedikit. Tak ingin berdiam lebih lama, Perly turut menundukkan kepala, mengikuti gerakan awam yang baru saja di dapat, "Salam," balasnya. Kini, Perly tak perlu lagi memeriksa keadaan sekitar, memeriksa apakah ada yang mengetahui ini selain mereka? Sekarang dirinya sudah terlampau mengerti. Situasi ini sudah pasti terjadi. "Kenapa kamu datang? Aku tidak memanggilmu," ucap Perly pada gadis emas itu. "Aku hanya ingin memberitahumu satu hal," jawabnya tersenyum. Sama seperti senyum-senyum sebelumnya. Perly mencoba menebak, "Ingin membuatku tau, atau ingin membuatku mengerti?" Dia bertanya. Gadis itu masih mengulas senyum. Tak habis pikir dengan bibir si gadis yang sangat betah untuk berlama-lama tersenyum. "Kau sudah berbicara layaknya diriku," katanya, "Tak masalah, itu terdengar lebih menyenangkan," tambahnya. "Layaknya dirimu? Jika kau lupa kalau aku adalah dirimu. Tak perlu kuingatkan bukan bahwa kau sendiri yang memberitahukannya padaku," jawab Perly. Semakin sering dirinya bertemu dengan gadis emas ini, semakin berbeda pola pikirnya, bahasanya dan caranya bertutur. Meski tetap bergaris bawah jika dia berlaku demikian hanya pada gadis ini, mungkin juga para pendahulu yang lainnya nanti? "Yaa ... baiklah, aku tak perlu jengkel dengan gaya bahasaku sendiri bukan?" Tersenyum lagi. Perly melirik teman-temannya, entah untuk apa. Dia pun tak tau alasannya. "Lalu? Apa yang ingin kau jelaskan?" tanyanya lagi. Gadis emas menyapukan tangannya di udara dan sebuah bayangan muncul di belakang Perly. "Lihatlah," ucapnya namun Perly bergeming. Tak serta merta menuruti perintah yang diberikan, lihat saja matanya yang setia menatap tepat di mata gadis di depannya. "Ada apa? Kau tak ingin melihatnya?" Gadis itu bertanya, tentu saja, meski tak ada yang tau termasuk Perly, bahwa jawaban sudah di dapat olehnya tanpa Perly repot bersuara. "Aku tau kau tau kalau aku sedang ketakutan," Bibir Perly berucap lirih, "Kau pun tau kalau aku tak akan bisa menerimanya jika itu hal buruk yang akan terjadi," imbuhnya. Dan entah Perly harus bersyukur atau harus apa, gadis itu kini menghilangkan senyum di wajahnya, mengganti senyum itu dengan tatapan sendu padanya. Suatu ekspresi lain yang belum pernah dia lihat sebelumnya. "Lihatlah, Perly. Kau tau kalau aku tidak bisa memberitahumu tanpa kau sendiri yang menyaksikannya langsung," ungkapnya. Maka dengan berat, tubuhnya di putar paksa oleh gerakan patah-patah dari kaki yang menerima perintah dari otaknya, sama sekali tak peduli pada hatinya yang berteriak jangan. Ada tiga bayangan yang berbeda di sana. "Ini adalah bentuk ketamakan dari dirimu," ucapnya menunjuk bayangan yang pertama. Tanpa di pinta, dan tentu, gadis itu tau kalau Perly sama sekali tak ingin mendengarnya. "Kamu hanya mementingkan apa yang menguntungkan bagimu dan bukan bagi semua orang. Berbuat semaumu untuk mencapai apa yang kamu inginkan, tak berpikir apakah itu baik untuk semuanya atau tidak. Meski begitu pada akhirnya kamu tetap berhasil tetapi banyak yang tidak menyukaimu," jelasnya. Jangankan mereka, dia sendiri tak akan menyukai dirinya yang seperti itu. Baru saja tangan gadis emas akan bergulir, Perly lebih dulu menahannya, "Kau berniat menjelaskan hal ini padaku? Untuk apa? Agar aku tak melakukannya?" katanya bertanya. "Bukan, agar kau menyadarinya," ucapnya, ulas senyum tipis kala Perly menoleh. "Ini adalah bentuk ketakutan dari dirimu," tunjuknya pada bayangan kedua. "Kamu hanya memikirkan keselamatan dirimu, tanpa memikirkan semua kesatria yang akan terluka karena kamu terlalu takut. Kau terlalu takut untuk menghadapi bahaya yang jelas kau bisa menghadapinya. Pada akhirnya kamu juga akan berhasil namun banyak yang menganggapmu tidak becus." Dia bahkan akan mati-matian menjaga keselamatan teman-temannya dan orang-orang yang berjuang bersamanya. Tak pernah terpikir olehnya untuk membiarkan mereka menderita ataupun terluka sedikitpun. "Boleh aku menanggapi yang satu itu?" tanya Perly yang sepertinya tidak membutuhkan jawaban darinya kala gadis itu segera berkata, "Kau tak mungkin lupa jika semua ini juga berawal dari dirimu," ucapnya telak membuat gadis emas terkekeh pelan. Kekehan halus yang baru kali ini Perly dengar, "Dan kau tak mungkin lupa kalau ai sedang memperbaikinya," jawabnya. Melanjutkan pada bayangan terakhir, "Dan yang itu adalah bentuk ketidakpercayaan dari dirimu." "Kamu tidak bisa berpikir jernih dan banyak melakukan kesalahan besar. Namun pada akhirnya kamu tetap berhasil dengan segala penyesalan yang ada pada dirimu," jelasnya mengakhiri ucapannya. Dibanding ketiga bayangan ini, pun Perly melakukan salah satunya, dia lebih memilih opsi ke tiga. Sungguh, tak ingin dirinya menyusahkan orang lain, tak ingin dirinya dibenci oleh banyak orang. Cukup dia sendiri yang menanggungnya, jangan siapapun selain dia. "Kenapa semua bentuk diriku begitu buruk," gumam Perly pelan. "Itulah yang seharusnya aku tanyakan padamu." ucap gadis emas menatap Perly sepenuhnya, "Aku menakdirkanmu di dunia manusia supaya kamu lebih siap menghadapi semua ini. Bukankah dulu kamulah yang sering memimpin? Kamu yang paling berani, selalu bersikap tegas dan percaya diri. Kenapa setelah datang ke duniamu sendiri semua itu hilang dari dirimu?" tanya gadis emas pada Perly. Perly terdiam. Dirinya baru menyadari tujuan utama gadis ini menunjukkan semuanya pada dirinya. Dia tidak menyangkal, lebih membenarkan dalam hati karena memang itulah yang terjadi. Dia merasakannya. "Perly, apa yang aku tunjukkan padamu tadi adalah sebagai bahan pertimbangan bagimu. Apakah kamu akan tetap seperti ini, atau kamu akan kembali pada dirimu. Hasil akhirnya memang sama, namun bukankah akibatnya berbeda?" jelas gadis emas pada Perly. Gadis itu tersenyum, dia tentu tau bagaimana cara mengembalikan keadaan dirinya sendiri, "Semua itu memang ada pada dirimu, tapi bukan berarti kamu akan mengalami salah satu dari ketiganya. Kecuali jika kamu memang menginginkannya." "Kalaupun iya, aku lebih merelakan yang ke tiga yang aku alami. Itu tampak tak semengerikan yang lainnya," ucap Perly dan gadis emas mengangguk, mengerti. "Tapi bukankah lebih baik jika tak ada dari ketiganya kau alami?" Dia bertanya, "Ingatlah. Kamu seorang pemimpin. Jadilah pemimpin yang memimpin, bukan dipimpin. Tapi jangan sampai kamu terlalu memimpin, karena di situlah nanti keserakahan, keegoisan dan ketamakanmu di uji," ucapmya memegang bahu Perly sambil tersenyum. Perly kembali membuka matanya dan semuanya menjadi normal kembali. "Perly, ada apa denganmu? Ayo cepatlah," ucap Befra yang ada di depannya. Mereka semua sudah berada di depan namun Perly masih terdiam di belakang sana. Perly menatap mereka yang melambaikan tangan, bahkan Anta sudah menatap nyalang padanya, "Ah, ya. Tunggu aku!" teriaknya sedikit berlari. "Baiklah. Aku tidak akan membiarkan ketiganya terjadi." batin Perly tersenyum. • Tok! Tok! Tok Tidak ada sahutan dari dalam membuat Erlie kembali mengetuk pintu di depannya. "Apa dia sedang tidak ada di rumah?" tanya Zate pada Erlie. Erlie menggeleng, melambangkan kata tidak, "Dia biasanya selalu berada di rumah kalau malam hari." jawab Erlie. "Mungkin saja dia sedang pergi ke laut." Marta berpendapat. Erlie berpikir sejenak. Itu masuk aka, bisa saja sekarang pria itu tidak sedang berada di rumah, "Apa mungkin ya ...," gumam Erlie pelan. Mendengar itu, Anta langsung menatap tak suka pada Erlie, "Ck. Bagaimana kau ini? Kau membawa kami pada sebuah rumah kosong yang tidak berpenghuni. Percuma saja kalau begitu. Lebih baik mencari tumpangan saja tadi!" ucap Anta ketus. "Maafkan aku. Aku pikir dia ada di sini." Erlie menunduk. Ucapan Anta sangat tidak bisa diterima hatinya. Menghantarkan perasaan lain yang kentara akan rasa bersalah. "Kamu jangan terlalu kasar padanya. Kita tunggu saja, mungkin dia hanya keluar sebentar lalu kembali lagi," ucap Perly. Anta ingin menyela, seperti biasa pria itu berdebat dengan Perly. Namun kali ini urung, melihat wajah lelah Perly yang duduk di bawah, membuatnya tak teg menambah lelah gadis itu. Maka tak ada pilihan lain baginya untuk menurut, begitupun yang lainnya, turut duduk di sana sambil menanti sang pemilik rumah datang. Hari semakin larut namun tidak ada tanda-tanda orang yang akan memasuki rumah itu. Juga, tak ada yang ingin berbasa basi menanyakan kenapa mereka ada di sana, atau hanya sekedar mengatakan ke mana si pemilik rumah ini. "Aku rasa percuma kita menanti di sini. Lihatlah, tidak ada satupun orang yang datang ke mari," ucap Anta berdiri. Pemuda itu sudah gusar sedari tadi. Memantapkan dalam hati, menghitung waktu untuk mengira-ngira jika sampai perhitungannya habis maka akan langsung dia suarakan untuk pergi. "Lalu kamu akan pergi? Ke mana? Kamu punya rumah di sini?" tanya Marta menatap Anta. "Setidaknya kita berusaha mencari tempat dari pada menanti yang tidak pasti di sini," jawab Anta bersikeras. Perly menggeleng lemah, karena sumpah semi apapun, dirinya sudah dilanda kantuk berat yang mengharuskan tubuh untuk segera brbaring dan matanya tertutup. Organ tubuhnya perlu istirahat omong-omong, "Berbahaya jika kita mencari tempat lain lagi. Lebih baik kita di sini saja. Bukankah kita juga butuh istirahat?" ucap Perly pada Anta. "Itu dia orangnya datang!" seru Erlie melihat seseorang yang menuju ke arah mereka. "Cava!" teriak Erlie melambaikan tangan pada orang yang dia panggil Cava itu. "Erlie?" ucap Cava setelah sampai di depan Erlie dan yang lainnya. Melihat Erlie yang tak datang sendiri, Cava lantas membungkuk pelan, "Salamku," ucap Cava. "Salam," jawab mereka semua. "Sedang apa kamu di sini? Dan mereka siapa?" tanya Cava. Erlie menunjuk temannya satu persatu, "Mereka teman-temanku. Kami menunggumu sedari tadi di sini," jelas Erlie membuat Cava bingung. "Jelaskan nanti saja. Ayo masuk ke dalam." ucap Cava membuka pintu rumahnya. "Jadi kalian akan menginap di sini?" tanya Cava setelah mereka sampai di dalam. "Iya. Apa tidak masalah? Hanya malam ini saja, kami tidak mempunyai tempat yang lain di sini," tanya Tier pada Cava. Cava tersenyum lalu gelengkan kepala sekali, "Tentu saja tidak masalah. Aku tidak akan keberatan, lagi pula aku hanya sendiri di sini. Tapi beginilah keadaan rumahku," ucap Cava menatap rumahnya. "Terimakasih banyak. Kamu sudah sangat membantu kami," ucap Marta dan Cava hanya mengangguk. "Kalau begitu. Kalian istirahatlah, kalian terlihat sangat lelah," ucap Cava mempersilahkan. "Ya, dan kamulah penyebabnya," gumam Anta pelan. Untung saja Cava tidak mendengarnya. "Tidak bisakah mulutmu itu diam sebentar saja?" bisik Zate yang ada disamping Anta, dijawab rolingan mata oleh pemuda itu. Tatapan Cava kini terhenti pada Perly yang bersandar di bahu Tier, "Ah, sebaiknya kau pindahkan dulu gadis itu. Jika mau, ada kamar adikku, dia kebetulan sedang di laut. Di sebelah sana." Tangannya di arahkan menunjuk satu ruangan dengan tirai berwarna putih. "Tidak apa, dia tidur dengan kami saja. Terimaksih sekali lagi," ucap Tier segera menggendong Perly. Gadis ini benar-benar kelelahan rupanya. • Pagi menjelang, setelah melalui malam panjang yang melelahkan. Tidak bisa dikatakan panjang juga mengingat tadi malam mereka tidur sudah lewat tengah malam. Tapi tak apa, begitu saja sudah cukup. "Kalian semua berteman?" Pertanyaan Cava memulai adanya suara pada pagi ini. "Tentu saja kami berteman," jawab Befra. "Ada yang aneh? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tidak percaya?" tanya Zate. Cava segera menggeleng, "Tidak bukan begitu. Hanya saja jarang bukan pengendali dari elemen yang berbeda berhubungan akrab seperti kalian. Bahkan kalian bilang sudah bepergian ke mana-mana--" jawab Cava. "Cava ...." Harus terpotong oleh panggilan Erlie dari arah dapur, tak hanya menarik atensi Cava namun juga yang lainnya, "Aku tidak menemukan buah di sana. Kamu mengubah tempatnya?" tanyanya langsung. "Ah iya aku lupa memberitahumu. Kamu cari saja di atas lemari di dekat meja, persediaanku masih banyak," jawab Cava dan Erlie hanya mengangguk, berbalik kembali ke belakang. "Kalian terlihat sangat akrab. Kalian sudah berteman lama?" tanya Marta pada Cava. Yang di tanya mengangguk, "Sebenarnya dia teman adikku. Adikku adalah pengendali Snow, gen dari ayahku. Jadi aku mengenalnya lewat adikku," jelas Cava membuat Marta dan yang lainnya mengangguk. "Apa dia sering ke sini? Dia seperti sangat tau letak barang-barang di rumahmu," giliran Perly yang bertanya. Cava terkekeh mendengarnya, "Begitulah. Kalau kau mau tau, dia yang mengatur tata letak barang-barang di rumah ini, sampai aku yang harus menanyakan di mana letak sesuatu." Dia lanjut terkekeh, "Kadang jika merasa bosan di daerahnya dia pasti akan ke rumahku. Dia juga sering menginap di sini." Uhuk! Uhuk! Tiba-tiba Anta terbatuk saat mendengar ucapan Cava yang terakhir itu, menatap Cava sarat akan tanya, "Hanya berdua dengan mu?" tanyanya langsung. Cava tak langsung menjawab, malah menatap Anta bingung, "Tentu tidak. Adikku yang membawanya ke sini. Lagi pula jika tidak ada adikku, ibuku juga sering datang ke sini," jelas Cava membuat Anta mengangguk paham. "Memangnya ada apa denganmu? Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Tier menatap Anta curiga. "Ada yang salah dengan pertanyaanku?" Anta balik bertanya. Tier tak menjawab, lantaran sudah disela duluan oleh gelak tawa Perly, "Pertanyaannya tidak salah. Tapi siapa yang menanyakannya, itulah yang menjadi masalahnya. Kamu bertanya seperti itu seperti kamu adalah kekasihnya. Berbeda jika aku, Marta atau Befra yang bertanya," jelas Perly membuat Marta dan Befra mengangguk. "Lalu? Apa bedanya jika Tier atau zate yang bertanya?" Anta menantang dengan menaikkan dagu. "Tier itu milik Befra jika kau lupa," ucapnya santai tanpa tau Befra yang tersedak oleh ucapannya yang frontal itu, "Dan Zate, dia menyukaiku, ya 'kan, Zate?" Kedip sekali membuat Zate terkekeh dan mengangguk dalam kekehannya. Telak, dirinya kalah. Betul apa yang Zate katakan. Gadis ini tak akan mau kalah dengan mudah. Anta berdecak, "Ck. Kenapa kalian malah membahas ini," gumamnya. "Hahaha ... kamu tenang saja. Aku menganggapnya seperti adikku. Dia juga sudah menganggapku kakaknya. Aku tidak akan menjalin kasih dengan adikku sendiri," ucap Cava terkekeh. Tatapan sinis Cava terima, "Lalu? Aku tak peduli karena itu bukan urusanku," jawab Anta ketus. "Kalian sedang membahas apa?" tanya Erlie datang dengan membawa satu keranjang buah di angannya. Anta lebih dulu melotot pada Perly saat ingin menjawab pertanyaan Erlie. "Kami hanya bertanya tentangmu pada Cava." jawab Tier membuat Anta bernafas lega. Zate dan Tier memang yang paling netral di sana. Erlie hanya mengangguk dan ikut duduk dengan mereka. "Erlie, kenapa kamu tidak pernah bercerita kalau kamu mempunyai teman selain Jean? Kamu juga tidak pernah membawa mereka ke sini," ucap Cava pada Erlie yang sedang memakan buahnya. Erlie berhenti mengunyah dan menatap Perly dan yang lainnya. "Kami yang melarangnya. Ini juga pertama kalinya kami mengunjugi Erlie lagi," jawab Befra. "Ah ya, soal Jean, kenapa dia ke laut? Dia juga tidak mengabariku," ucap Erlie. "Soal itu, aku melupakannya. Dia juga sepertinya lupa mengabarimu. Maafkan aku." Cava menampakkan deretan giginya yang rapi. Erlie cemberut mendengarnya. "Baru beberapa hari aku tidak ke sini, dan kalian melupakan aku," ucapnya terus cemberut. Cava terkekeh dan mengacak pelan rambut Erlie, "Maafkan aku. Sebagai permintaan maaf, aku berjanji akan membuatkanmu kalung kerang yang cantik nanti," ucap Cava. "Dengan hiasan mutiara?" Erlie berucap semangat. Cava tertawa kecil melihatnya, "Tentu saja. Akan aku lakukan apapun untuk adikku ini," ucap Cava mencubit pelan hidung Erlie membuat sang empunya tertawa pelan. Itu biasa mereka lakukan. Duk! "Ah, maafkan aku. Aku tidak sengaja," ucap Anta dengan tatapan datarnya pada Cava. "Iya tidak masalah," jawab Cava lalu meletakkan bekas apel Anta di tempat sampah yang ada di dekat mereka. Ada apa dengan Anta? "Lalu kalian akan ke mana setelah ini?" tanya Cava lagi setelah lama mereka terdiam. "Erlie bilang, dia akan membawa kami untuk melihat-lihat daerah ini. Kami juga harus mencari sesuatu," jawab Perly. "Kalau kalian mau aku bisa menemani kalian juga," ucap Cava menawarkan. "Tidak perlu. Bukankah kamu juga banyak pekerajaan yang harus kamu lakukan?" ucap Anta cepat membuat semua tatapan mengarah padanya. "Kenapa? Ada yang salah denganku? Kalian menatapku seakan aku sangat bersalah," ucapnya Cava lagi-lagi terkekeh. Sadar betul kenapa Anta berlaku seperti ini padanya, "Tidak. Kamu benar. Aku akan mengunjungi adikku besok. Dia sedang sendiri di laut," jawabnya tersenyum. "Sampaikan salamku padanya," ucap Erlie dan Cava hanya mengangguk menanggapi. "Sepertinya kami akan pergi sekarang," ucap Tier dan semuanya mengangguk menyetujui. "Baiklah. Ayo aku antar ke luar," ucap Cava dan mereka semua berjalan ke luar rumah Cava. "Terimakasih atas rumahmu dan makanannya. Kami senang bisa mengenalmu," ucap Marta tersenyum. "Aku juga senang bisa mengenal kalian. Sering-seringlah datang ke sini. Aku akan mengenalkan kalian pada Jean, adikku. Dia pasti senang memiliki banyak teman," jawab Cava. "Aku rasa itu tidak perlu," ucap Anta tanpa sadar. Dan tersadar kala di dapati semua tatapan mengarah padanya, "Maksudku, " tersenyum pada Cava setelahnya, "Tentu." "Yasudah. Aku dan yang lainnya pergi dulu. Jangan lupa sampaikan salamku pada Jean." ucap Erlie menatap Cava. "Akan aku sampaikan. Berhati-hatilah." ucapnya. Mereka semua kemudian pergi dari rumah Cava untuk melanjutkan perjalanannya. • "Lihat dia." Gadis emas pada dua gadis lainnya yang ada di samping kanan dan kirinya. "Kami menyaksikannya setiap saat dan setiap waktu. Lalu untuk apa kamu memanggil kami ke mari Queen?" tanya gadis di sebelah kanannya. "Ya benar. Kalian para angel yang selalu mengawasi mereka. Bagaimana kalian melihat dia sebagai penyelamat?" tanya gadis emas itu lagi. Mereka tak lantas menjawab. Lebih memilih memandangi gadis yang kini tertawa bersama para kesatria lainnya. "Kamu takut kalau dirimu kembali mengulang kesalahan yang sama, Queen?" tanya gadis di sebelah kirinya. "Apa ketakutanku akan terjadi?" tanyanya. "Dia memang memiliki kepribadian yang sama denganmu. Tapi percayalah Queen, dirimu yang sekarang bisa melebihi dirimu yang dulu. Yang baik maupun yang buruknya, dia mempunyai semuanya melebihi dirimu yang dulu. Aku tau kau pun tau tentang hal itu," jawab gadis sebelah kanan. "Queen. Kamu telah menulis takdir untukmu sendiri. Kamu menulis luka sekaligus penawarnya di sana. Jadi kamu tidak perlu takut jika luka itu akan menjadi semakin besar, karena kamu sudah membuat penawarnya," ucap gadis sebelah kiri. "Kekuatanmu membuat kami para angel bisa melihat jauh ke depan. Dan kami pun yakin kalau kamu juga mengetahui bahwa kemenangan yang akan mereka raih nantinya." lanjut gadis sebelah kanan sambil tersenyum. "Kau tak perlu risau, Queen," lanjutnya membuat wanita yang mendapat panggilan queen itu tersenyum teduh. • "Perly ...." Perly yang berjalan di depan pun berhenti mendengar panggilan dari Befra. "Kemarilah. Kami ingin menunjukkan sesuatu padamu," ucapnya lagi dan Perly pun berbalik berjalan ke arah mereka. "Ada apa?" tanyanya. "Lihat ini," Marta menyapukan tangannya di udara dan terlihatlah bayangan sebuah sekolah di sana. Sekolah di dunia manusia. Perly terkejut melihatnya dan menutup mulutnya tidak percaya, "Itu sekolahku ...," gumamnya pelan. "Vanya, Agnes, Teta ... aku merindukan kalian," ucap Perly melihat ketiga sahabatnya ada di sana. Perly masih menatap bayangan itu melihat apa yang akan terjadi. Di sana, ketiga sahabatnya masih berdiri di depan mobil milik salah satu dari mereka. Persis sekali seperti kebiasaan mereka dulu. Perly mau tak mau harus tersenyum mengingatnya. Mengingat betapa menyenangkannya membuat mereka menunggu sampai mereka dihukum bersama. Mungkin sampai sekarang mereka belum tau jika dirinya sengaja melambatkan diri dan terkikik melihat dari kejauhan wajah mereka yang kesal. Tak lama datang lagi sebuah mobil mewah, memarkirkannya tepat di samping mobil ketiganya. Yang kedatangannya langsung membuat mata Perly melotot, "Itu mobilku ...," gumam Perly menunjuk bayangan itu. Setelahnya Perly dibuat hilang kata kala netranya menangkap sosok yang keluar dari dalam mobil itu. "I-itu ... Itu aku ...," ucapnya dengan suara yang sangat pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN