Seorang gadis berenang dengan ekornya yang berwarna abu-abu, tak begitu mencolok di kedalaman laut yang hampir tak tampak penerangan di sana. Begitu lihai gadis itu berenang menyusuri lautan dengan sebuah surat yang tadi malam dia dapat masih berada di genggaman. Menjadi alasan kenapa dia berenang sebegitu cepat saat ini.
Bisa dikatakan, itu surat yang penting.
Lama gadis itu berenang sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah rumah dan seorang laki-laki yang sudah menantinya di sana.
"Salam Paman." Gadis itu menunduk dan juga di balas oleh orang yang dia panggil paman itu.
"Suratmu baru sampai padaku tadi malam. Ini terlihat sangat penting, ada hal apa Paman?" tanya gadis itu langsung pada inti pembicaraan.
"Entah ini bisa disebut penting atau tidak, tapi yang jelas ini untuk sang penyelamat kita," jawab Polo.
Kata penyelamat bagaikan sengatan listrik yang membuat dirinya cukup terkejut. Seketika, pusat semangat dalam dirinya memberontak, memberi jawaban mutlak yang terdengar tegas, "Akan aku lakukan apapun perintahmu Paman."
Dan jawaban di luar ekspektasi terdengar di telinga gadis itu kala paman mengatakan, "Yuna, kamu harus menjadi manusia." Telak membuatnya tak bisa berpikir, ke mana perginya akal sehat si paman. Siapapun, semua pengendali di dua dunia ini tentu tau, nyawa adalah taruhan utama jika mereka tinggal di dunia manusia lebih dari sepuluh menit.
Maka tak ada rasanya pertanyaan yang cocok selain, "Paman ingin membunuhku?" tanyanya pelan.
"Tidak. Maksudku bukan begitu," ucap Polo cepat, "Kamu akan hidup seperti halnya kamu di sini. Hanya saja wujudmu adalah seorang manusia. Kamu tenang saja, aku dan para penjaga kesatria sudah memikirkan ini matang-matang, dan ini tidak akan beresiko buruk padamu," jelas Polo.
"Tapi bagaimana bisa? Cara hidup kita berbeda dengan mereka, dan apa tujuanmu mengirimku ke sana?" tanya Yuna beruntun. Dia masih belum terima jika tak ada alasan pasti yang kuat yang sekiranya bisa dia terima.
Polo menghela nafas dalam, harus sebaik mungkin menjelaskannya, "Gadis penyelamat itu adalah seorang manusia pada awalnya. Kehidupannya yang sekarang membuatnya selalu memikirkan kehidupan manusia. Itu akan berdampak buruk pada perjalanannya dan para kesatria." Menjeda sejenak, "Aku mengutusmu ke dunia manusia agar kamu bisa menggantikannya di sana untuk sementara. Agar dia merasa tenang dan bisa fokus pada tujuannya," lanjut Polo kembali membuat Yuna terkejut.
Sudah berapa banyak dirinya terkejut dalam beberapa menit ini?
"Aku dan gadis itu berbeda Paman. Sifat, ucapan, tindakan, bahkan aku rasa wajah kami tidaklah sama," ucap gadis itu. Mengatakan realita yang ada.
Polo mengangguk membenarkan, itu sama sekali tak salah, katanya, "Ya aku tau itu. Itulah sebenarnya bagian tersulit yang aku dan para penjaga lainnya pikirkan selama ini. Tapi kamu tau sesuatu tentang ilusi dua dunia?" tanya Polo pada Yuna.
"Jangan katakan kalau kalian akan membuat mereka berhalusinasi," ucap Yuna membuat Polo tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Itulah cara satu-satunya yang bisa kita lakukan. Kamu bisa bertindak dan bersikap sesukamu, namun mereka akan tetap menganggap tindakan dan sikapmu normal seperti sedia kala. Mereka akan menganggap dirimu adalah gadis itu. Dan aku yang akan memastikan kalau identitasmu tidak akan terbongkar," ucap Polo panjang lebar.
"Lalu kekuatanku?" tanya Yuna lagi.
"Kekuatanmu tidak akan menghilang. Suhu tubuh dan lingkunganmu, semua yang berkaitan dengan kelangsungan hidupmu sudah kami pikirkan. Kamu hanya perlu ke dunia manusia dan jadilah gadis itu," ucap Polo.
Yuna terdiam mendengarnya seperti sedang berpikir.
"Ini hanya sementara, sampai gadis itu tak lagi memikirkan dunianya yang lalu. Atau kalau bisa, hanya sampai dia berhasil membebaskan para king dan queen," ucapnya.
"Kapan dia tidak memikirkannya Paman? Apa kamu bisa menjamin aku akan kembali lagi ke sini?"
"Ya. Aku bisa menjaminnya, ketika saatnya tiba, aku yang akan menjemputmu ke dunia manusia. Dan selama kamu berada di sana, aku yang akan mengamatimu dan menjagamu," jelas Polo pada Yuna.
Lama Yuna berfikir sampai akhirnya Yuna mengangguk mantap, "Baiklah Paman. Aku akan lakukan itu jika itu yang harus aku lakukan," ucapnya membuat Polo tersenyum lega.
"Terimakasih karena kamu sudah mau menerimanya. Hanya kamu orang yang bisa aku percaya selain Marta anakku. Jadi aku harap kamu bisa menjalaninya dengan baik."
"Aku akan melakukannya sebaik mungkin Paman. Lalu kapan aku akan pergi ke sana?" tanya Yuna.
"Saat matahari tenggelam, aku dan para penjaga akan mengantarmu ke sana. Dan ingatlah satu hal. Jangan perlihatkan kekuatanmu pada siapapun di sana. Itu akan memudarkan pengaruh ilusi yang ada pada mereka," ucap Polo memperingati.
Yuna mengangguk, "Aku akan mengingatnya Paman," jawab Yuna.
•
"Kenapa di sana ada aku? Kenapa aku ada dua?" tanya Perly menatap bingung pada mereka.
"Bukankah kamu ingin ada orang yang menjaga orang-orang yang kamu sayangi di sana? Itulah orangnya," jawab Marta tersenyum.
Perly tetap tak bisa mencerna jawaban itu dengan baik. Tak ada penjelasan berarti dari kata-kata Marta barusan.
"Tapi, bagaimana bisa? Aku ada di sini dan aku juga di sana. Marta, aku tidak mempunyai kembaran, lalu siapa dia?" tanya Perly beruntun.
Sungguh, dia benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.
"Sebenarnya aku juga tidak tau bagaimana ini terjadi. Tapi yang pasti, sebelum kita pergi ke dunia fairy, ayahku mengatakan kalau dia akan membuatmu berada dalam dua dunia sekaligus. Mungkin ini yang dia maksud," jelas Marta membuat Perly semakin tidak mengerti.
"Aku masih belum bisa mengerti. Dan sepertinya aku tak akan bisa mengerti karena kau pun sama, " gumam Perly pelan masih menatap intens bayangan yang ada di sana.
"Kamu pernah berhalusinasi?" tanya Erlie pada Perly.
"Entahlah, aku tak ingat. Mungkin saja pernah," jawab Perly mengangguk pelan.
"Itulah yang sedang mereka alami sekarang," lanjut Erlie.
Tatapan Perly langsung di dapat oleh Erlie, "Jadi mereka hanya berhalusinasi kalau itu adalah diriku?" tanya Perly dan mereka semua mengangguk.
"Lalu siapa dia sebenarnya? Dia juga seorang mermaid dan fairy?"
"Begitulah. Di mata orang-orang yang mengenalmu, mereka akan melihat dirimu yang dulu. Walaupun dia menunjukkan sesuatu yang aneh, tapi mereka akan menganggap itu adalah hal yang normal dan biasa kamu lakukan," jelas Tier diangguki Marta.
Perly terdiam sebentar mendengar penjelasan mereka, "Apa itu artinya dia hanya sementara di sana?" tanya Perly lagi.
Mereka tidak menjawab apa-apa melainkan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Perly menghembuskan nafasnya panjang. Satu sisi kecil di hatinya merasa tak ingin ini terjadi. Dia tak ingin ada yang menggantikan dirinya untuk mereka semua. Dia ingin egois dengan biarkanlah mereka bersedih daripada dirinya digantikan oleh yang lain. Toh, sedih mereka tak akan selamanya dan kenangan akan dirinya akan tetap tersimpan di benak dan hati mereka. Lain hal jika ada yang berperan menjadi dirinya di depan mereka. Kenangan yang mereka rajut tak akan lagi sama.
Tapi ... sisi lainnya mengatakan, "Tidak masalah. Setidaknya dia bisa menjaga mereka dan membuat mereka tidak bersedih lagi." Perly tersenyum menatap bayangan itu.
"Apa kamu merasa kecewa?" tanya Befra.
"Untuk apa aku kecewa? Karena bukan aku yang ada di sana? Aku pikir itu terlalu kekanakan. Aku sudah merasa lega sekarang melihat mereka kembali seperti dulu. Setidaknya senyum mereka sudah cukup untuk membuatku lega," jawab Perly membuat mereka tersenyum.
"Tapi, sampai kapan dia berada di sana? Dan bagaimana caranya dia pergi dari sana nantinya?" tanya Perly.
"Ayahku tidak mengatakan apa-apa soal itu. Yang jelas itu tidak akan berdampak buruk pada mereka, kamu tenang saja," jawab Marta membuat Perly mengangguk tanda mengerti.
"Apa kamu sudah merasa tenang melihat itu?" tanya Anta yang sedari tadi hanya terdiam. Perly mengangguk, "Ya. Itu membuatku merasa lebih baik," jawabnya.
"Baguslah. Aku harap kamu lebih fokus pada perjalanan kita kali ini. Ingatlah, kita sudah sampai di akhir pencarian dan perjalanan selanjutnya akan lebih berbahaya dari apa yang terjadi sebelumnya. Jika kamu tidak fokus, maka semuanya bisa jadi berantakan," ucap Anta panjang lebar membuat Perly tersenyum menatapnya.
"Mau kuberitahu sesuatu?" Perly bertanya menimbulkan kerut bingung di kening masing-masing mereka, "Aku sudah sangat menyayangi ibuku. Aku tak mungkin membiarkannya berada dalam tawanan Dark selamanya. Kau pikir aku tak ingin memeluknya?" Perly terkekeh setelahnya.
Dia kemudian berbalik dan lanjut berjalan, "Aku akan berusaha untuk tidak membuat kalian kecewa," ucapnya lagi berhasil membuat simpul ke atas di bibir mereka semua.
"Hey." Tier menyenggol lengan Anta, meminta atensi, "Kau tau? Dia adikku," ucapnya lalu melangkah menyusul Perly.
Anta mendengus di tempat, "Dia juga adikku jika kau lupa," gerutunya membuat mereka terkekeh kecil.
•
Di atas sebuah pohon yang rindang, ke tujuh remaja itu bersantai di dahan-dahan pohon itu. Melepas rasa lelah akibat berjalan terlalu lama.
Dengan mata tertutup Perly berkata, "Apa kalian tidak bosan?" tanyanya.
Gadis itu yakin tak ada satupun dari mereka yang tertidur. Tau yang mereka katakan kala dia menyuruh mereka untuk tidur?
"Kau tidur saja jika mengantuk, kami akan berjaga."
Hah! Rasanya Perly benar-benar seperti seorang bayi di sini. Niatnya baik menyuruh mereka tidur, beristirahat agar nanti tidak terlalu lelah, yaa, meski ini masih siang bolong menuju sore, tak ada salahnya bukan?
"Hanya kau yang cepat diserang bosan," jawab Marta.
"Ada apa? Kau bosan?" Tier bertanya.
Zate menimpali, "Lakukan sesuatu untuk hilangkan bosanmu."
Lihat? Memang Zate dan Tier yang netral di sini.
"Apa kalian tau di mana letak istana?" tanya Perly masih dengan mata tertutup.
"Semua istana ada di atas sana," tunjuk Tier ke atas langit.
Perly membuka matanya dan mengikuti arah tunjuk Tier, "Benarkah? Dari mana kamu mengetahuinya? Ah iya, kalian mempunyai buku takdir," ucap Perly mengangguk-angguk pelan.
Anggukan terhenti, diganti kernyitan di dahi, "Tunggu dulu. Kalian mengatakan kalau seminggu sekali orang istana datang ke daerah pengendali. Bagaimana caranya mereka turun dan kembali lagi ke langit? Bukankah mereka tidak memiliki sayap?" tanya Perly bingung.
"Kamu lupa kalau di sini ada dua dunia?" tanya Befra pada Perly.
Perly berpikir sebentar apa maksud dari ucapan Befra, namun setelahnya dia membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Jadi di laut juga ada istana?" tanya Perly yang hanya diangguki oleh mereka semua.
"Jangan bertanya kenapa ada dua tempat istana, dan bagaimana para queen dan king mengurusnya. Kami sama sekali tidak mengetahui itu," ucap Anta cepat melihat Perly yang kembali ingin bertanya.
Gadis itu cemberut, "Aku baru saja ingin menanyakannya," gumamnya pelan.
Tak menyurutkan semangatnya untuk kembali bertanya, "Jadi, apa kalian juga tau di mana queen dan king ditawan?" tanya Perly lagi.
"Kami tidak tau di mana tempat pastinya, yang jelas mereka ditawan di daerah kekuasaan mereka sendiri," jawab Zate diangguki yang lainnya.
Perly pun ikut mengangguk. Tapi tetap saja, pertanyaan dalam otaknya tak akan habis begitu saja. Masih banyak stok yang mengantri ingin keluar mendapat jawaban.
"Tapi ada yang aneh dari itu," katanya, dia merubah posisinya menjadi duduk, "Bukankah monster itu sudah di bawah kendali Dark?" tanya Perly dan mereka hanya mengangguk.
"Bukankah Dark sangat ingin berkuasa di dua dunia ini? Jika benar begitu, kenapa dia tidak langsung membunuh queen dan king, tapi malah menawan mereka. Dengan keadaan seperti ini bukankah Dark bisa menghabisi mereka? Tapi kenapa itu tidak mereka lakukan? Apa itu tidak terasa aneh bagi kalian?" jelas Perly panjang lebar.
Mereka yang awalnya berbaring di dahan pohon itu mengubah posisinya menjadi duduk mendengar ucapan Perly. Tampak sekali pertanyaan itu membuat mereka berpikir keras.
"Benar juga," gumam Marta.
"Kenapa kita tidak sampai berpikir ke sana?" ucap Erlie.
"Ya itu benar. Itu sangat aneh," ucap Anta mengangguk.
"Apa di buku takdir itu tidak tertulis di sana?" tanya Perly lagi.
"Jika ada, kami tidak mungkin bereaksi seperti ini," jawab Anta menatap Perly.
"Tapi kira-kira apa kemungkinan yang membuat pengendali Dark tidak bisa membunuh mereka?" tanya Tier pada semuanya.
"Mungkinkah ada kekuatan yang melindungi mereka sehingga Dark tidak bisa menyakiti mereka?" ucap Zate memberikan pendapat.
"Aku rasa itu tidak mungkin. Bukankah kekuatan sifatnya terbatas? Jika benar kekuatan yang melindungi mereka, pasti semakin hari kekuatan itu akan habis. Tapi ini sudah terjadi bertahun-tahun dan pengendali Dark tidak membunuh mereka." jawab Perly.
"Benar. Itu masuk akal. Aku sependapat dengannya. Kita tidak mungkin di desak untuk cepat jika mereka terlindungi terus menerus," ucap Marta mengangguk.
"Berarti ada sesuatu yang lebih besar dari kekuatan," ucap Erlie, "Tapi apa?" lanjutnya entah pada siapa.
"Apa mungkin kelemahan Dark ada pada orang tua kita yang ditawan?" tanya Perly setelah lama mereka terdiam.
"Kelemahan?" tanya Tier mengulang ucapan Perly. Gadis itu mengangguk, "Iya. Pikirkan baik-baik," Perly memperbaiki posisi duduknya.
"Anggap saja aku sedang sangat memerlukan banyak darah, dan satu-satunya darah yang cocok denganku hanyalah darah Befra. Tapi di sisi lain aku sangat ingin membunuh Befra. Apa menurut kalian aku akan membunuh Befra sedangkan kelangsungan hidupku ada padanya?" jelas Perly panjang lebar menatap mereka satu persatu.
"Jadi maksudmu, ada yang pengendali Dark inginkan dari orang tua kita maka dari itu mereka tidak bisa membunuh orang tua kita. Begitukah?" tanya Erlie membuat Perly mengangguk cepat.
"Tapi mereka menginginkan apa? Bukankah mereka sudah mendapatkan sayap ibumu untuk memperkuat kekuatannya?" ucap Zate menatap Perly.
"Jangan bertanya padaku, aku juga tidak tau menau soal itu," ucap Perly, dia melanjutkan, "Tapi yang pasti, itu ada hubungannya dengan rencana mereka yang ingin menguasai dua dunia ini," jawab Perly.
"Yasudah kita tidak perlu memikirkan itu lagi. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Marta dan diangguki oleh mereka semua.
"Zate, bolehkah aku melihat kekuatan listrikmu? Aku tidak sempat menggunakan kekuatanku yang satu itu dulu," ucap Perly saat mereka sudah kembali berjalan.
Zate menoleh, "Memangnya kenapa kamu harus melihatnya?" tanyanya yang telak membuat Perly merenggut.
"Kau tak mau? Ya sudah, aku bisa melihatnya nanti!" Ketusnya memalingkan wajah dengan tangan di lipat di da*da.
"E eh." Zate segera menahan pergelangan tangan gadis itu kala si gadis ingin beranjak dari sampingnya, "Kau ini. Mudah sekali merajuk. Baiklah, kau ingin aku bagaimana?" tanyanya.
Dan apa lagi yang di lakukan gadis itu selain bersorak senang?
"Dia tak mau diperlakukan seperti anak kecil, tapi lihatlah tingkahnya, kurasa anak kecil saja kalah olehnya," ucap Marta disambut kekehan oleh mereka.
"Dia sangat polos. Apa di dunia manusia dia diperlakukan dengan baik?" Erlie bertanya.
Tier mengangguk, "Dari ceritanya, dan dari cara dia menyayangi mereka, sepertinya banyak yang menyayanginya. Aku sangat yakin jika dia diperlakukan dengan sangat baik di sana," jelasnya di angguki setuju oleh Marta.
"Aku tak yakin jika ada yang tidak menyukainya," gumam Befra membuat Anta menoleh padanya, "Aku tak menyukainya," ucapnya.
Mereka mendecih, "Tak suka apanya? Kau lupa jika kau memarahi semua orang ketika dia di dalam bahaya?" Marta menatapnya sinis.
"Woah!"
Perhatian mereka teralih pada suara teriakan Perly. Di sana, Zate senang mengeluarkan listrik miliknya, di alirkan pada sebuah pohon yang ada di depan mereka.
Anak itu tampak takjub melihatnya dan tersenyum lebar sambil bertepuk tangan, hanya karena melihat percikan aliran listrik yang menyala-nyala di tanah.
Namun perlahan senyum itu memudar, tepukan tangannya tak lagi terdengar. Tatapan Perly menatap aliran listrik itu dan Zate bergantian, hingga akal sehatnya berteriak untuk menghentikan, "Zate hentikan!" teriak Perly membuat Zate terkejut.
Bukannya berhenti, aliran listrik itu semakin cepat merambat dan terlihat sangat besar.
"Zate di sana ada orang!" Lagi Perly berteriak.
Mereka yang berjalan lambat di belakang, langsung saja berlari menyusul Zate dan Perly mendengar teriakan panik dari Perly.
"Ini tidak terkendali." jawab Zate ikut panik.
Maka tak ingin lagi Perly membuang waktu untuk segera mengambil posisi seperti Zate dan menempelkan kedua telapak tangannya di atas tanah.
Salju yang dia miliki menjalar dengan cepat seiringan dengan listrik milik Zate.
"Perly apa yang kamu lakukan!" teriak Befra.
Perly tidak mendengarkannya dan terus menambah kekuatannya.
"Perly hentikan!!" Giliran Tier yang berteriak.
Aliran listrik yang Zate keluarkan kini tertahan oleh gumpalan salju milik Perly.
Zate menoleh ke samping, mendapati Perly yang memejamkan mata menahan sakit. Lalu bergulir melihat teman-temannya yang hanya berdiri melihat mereka, "Apa yang kalian lakukan?! Bantu dia! Ini tidak terkendali!" teriak Zate.
Mereka semua ikut menumpukan tangannya di atas tanah dan membantu meredam listrik Zate.
Zate juga tidak bisa berfikir kenapa kekuatannya tiba-tiba tidak bisa dikendalikan.
Uhuk! Uhuk!
Perly terbatuk seiring dengan dia yang menarik kembali kekuatannya. Akhirnya aliran listrik itu berhasil mereka hentikan.
"Perly!" pekik mereka bersamaan melihat Perly yang melemah.
"A-apa itu tadi?" gumam gadis yang ada di sebalik pohon itu.
Ya dia melihanya.