Uhuk! Uhuk!
Perly terus terbatuk membuat mereka semua semakin panik. Mereka sama sekali tidak tau apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan Perly.
Tak mereka, tak orang-orang di sekitar sana, mereka sama-sama tak tau apa yang harus diperbuat. Bedanya, Tier dan yang lainnya menampakkan usaha, sedangkan penduduk di sana hanya melihat, menonton tanpa ingin tau betapa paniknya mereka saat ini. Setidaknya, ada satu dua orang yang berniat membantu memanggilkan seorang tabib atau siapapun, tapi mereka hanya diam, bak sedang menyaksikan pameran pentas seni.
"Bagaimana ini? Kita harus apa?" ucap Erlie panik.
"Ayo kita ke rumah Cava. Mungkin saja Cava bisa membantunya," usul Zate yang langsung diangguki oleh mereka.
Tier dengan cepat menggendong Perly dan berlari ke arah rumah Cava. Perly masih sadarkan diri namun kondisinya sangat lemah.
Uhuk! Uhuk!
Sekali lagi Perly terbatuk seiring dengan keluarnya darah dari mulutnya. Darah pertama yang mereka lihat dari Perly. Dan itu sangat menakutkan.
"Tidak! Perly!" teriak Tier berhenti berlari saat melihat Perly tak sadarkan diri, "Perly bangunlah. Perly!" teriaknya mengguncang pelan tubuh Perly.
"Dia mengeluarkan darah," gumam Anta yang melihat mulut dan tangan Perly.
"Jantungnya hampir pecah!" pekik Befra panik.
"Bagaimana ini. Lakukan sesuatu! Tolonglah, siapapun lakukan sesuatu!" teriak Tier menatap sekelilingnya.
"Kami mohon, tolong dia. Kami tidak tau harus berbuat apa. Tolong kami," ucap Marta meminta pada para pengendali yang hanya menatap mereka.
"Tidak bisakah kalian berhenti menatap kami?! Tatapan kalian sama sekali tidak membantu!" teriak Anta marah.
"Percuma. Dia akan mati jika kita hanya berteriak-teriak di sini. Ayo cepat bawa Perly ke rumah Cava," ucap Erlie yang langsung diangguki oleh Tier yang kembali berlari menggendong Perly menuju rumah Cava.
Berbeda dengan Anta yang malah berdiri di sana, tatapan kilat penuh amarah terlayang begitu saja pada para pengendali di sana, "Jika terjadi sesuatu padanya." Dia menunjuk mereka satu-persatu, "Maka akan aku pastikan kita semua tidak akan pernah terlepas dari Dark," tekannya membuat mereka cukup terbelalak kala kata dark keluar begitu saja dari mulut Zate.
"Apa yang baru saja terjadi?" gumam gadis yang ada di dekat pohon tadi.
Dia masih di sana menatap Perly dan yang lainnya yang berlari semakin menjauh.
"Dia telah menyelamatkan aku." Lagi dia bergumam. Dia seperti kehilangan raga. Tak terbayang olehnya jika listrik itu menyentuh ujung kukunya saja, maka dia akan tiada.
"Aku hampir mati, tapi sekarang dia yang berada diambang kematian," gumamnya lagi masih menatap lurus ke depan.
"Bodoh!" makinya selanjutnya, "Kenapa kamu diam saja Lica! Bantu dia, dia sudah membantumu!" Dia memarahi dirinya sendiri.
Gadis yang memanggil dirinya dengan nama Lica itu segera berlari mengejar Perly dan yang lainnya. Namun entah kesialannya hari ini atau apa, dia sama sekali tidak menemukan mereka. Padahal baru saja mereka pergi dari hadapannya.
Tok! Tok! Tok!
Erlie terus mengetuk pintu di depannya tidak sabaran, namun sudah sedari tadi dia mengetuk tidak ada sahutan dari arah dalam. Sepertinya Cava sedang tidak berada di rumah.
"Cepatlah. Detak jantungnya mulai melemah," ucap Tier bertambah panik membuat yang lainnya ikut panik.
Melihat usaha Erlie tidak membuahkan hasil apa-apa, Anta yang ada di belakangnya maju ke depan.
"Minggirlah!" ketusnya Anta menarik Erlie ke belakang.
Anta segera mengambil ancang-ancang mendobrak pintu itu menggunakan kakinya.
Percobaan pertama gagal. Namun Anta tidak menyerah dan kembali berusaha. Dan berhasil ketika akhirnya Zate turun untuk membantu.
"Ayo, bawa dia masuk," ucap Zate dan Tier langsung berlari membawa Perly masuk ke dalam.
"Erlie. Kamu tau tata letak rumah Cava bukan? Carilah apapun yang bisa membuat kondisi Perly membaik," ucap Marta yang langsung dituruti oleh Erlie.
"Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin hanya berdiam diri melihatnya seperti ini," ucap Befra yang berada di samping Perly.
"Kita harus berbuat apa? Jantungnya yang bermasalah, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk jantungnya," jawab Zate frustasi.
Langkah kaki Erlie terdengar dari arah belakang, membuat semua kepala yang ada di ruangan itu berputar untuk melihat Erlie yang datang terengah-engah, "Tidak ada yang bisa kita gunakan," ucapnya.
"Kita sudah tamat. Ini sudah berakhir, dia tidak akan bisa bertahan lama dengan jantung yang hampir pecah," ucap Anta mengusak rambutnya frustasi.
Otak sama-sama buntu, benar-benar tak bisa berpikir jernih untuk memikirkan solusi yang terbaik. Karena memang, mereka juga tidak tau, apakah ada solusi untuk masalah ini atau tidak.
"Tidak. Kita masih bisa mempertahankannya," ucap Marta setelah lama berpikir, "Salurkan semua kekuatan kalian padanya. Itu bisa membantu memperbaiki jantungnya," lanjut Marta.
"Kau sudah gila? Itu tak hanya berakibat buruk pada kita, tapi itu juga tidak akan bisa membantu dia sepenuhnya," ucap Befra menatap Marta.
"Lalu apa? Kita akan tetap melihatnya meregang nyawa seperti ini? Ayolah, kita harus mencobanya. Walaupun tidak sepenuhnya setidaknya itu dapat membantu," ucap Marta bersikeras.
"Marta ingatlah, kita tidak boleh gegabah. Kita harus memikirkan yang terbaik untuk semuanya," ucap Zate memihak Befra.
"Apa lagi yang harus di pikirkan? Dan sampai kapan kita berpikir? Sampai dia mati? Lihatlah dia hampir mati sekarang!" ucap Marta meninggikan suaranya.
Nafasnya sudah tak beraturan, matanya sudah berair hampir menetes jika dikedip, "Jika kalian tidak mau melakukannya, biar aku yang lakukan sendiri," putusnya.
"Ayo kita coba," ucap Tier akhirnya membuat mereka semua menatapnya.
"Satu-satunya jalan hanya apa yang Marta ucapkan. Kita tak punya cara lain selain itu," ucap Tier yang mengerti arti tatapan mereka.
"Cepatlah! Jantungnya hampir tidak berdetak!" pekik Erlie.
Marta, Zate dan Anta langsung menggenggam tangan kanan Perly sedangkan Tier, Befra dan Erlie menggenggam tangan kiri Perly.
Masing-masing cahaya mereka keluar dari celah genggaman mereka. Dan benar saja, mereka mengeluarkan semua kekuatan yang mereka punya dan menyalurkannya pada Perly.
Kekuatan mereka semua mengalir di tubuh Perly. Terlihat dari cahaya-cahaya mereka menjalar menuju jantung Perly.
Semakin lama, kekuatan mereka semakin menipis. Mereka juga merasakan sakit di jantung mereka masing-masing tapi mereka tetap terus menyalurkan kekuatannya pada Perly.
Uhuk! Uhuk!
Mereka melepaskan genggaman tangannya dari tangan Perly dan terbatuk, sama seperti apa yang Perly alami tadi.
"Perly jangan menyerah. Bertahanlah," gumam Marta pelan.
Tak lama setelah bergumam seperti itu, Marta terjatuh ke lantai. Tak hanya Marta namun mereka semua juga tidak sadarkan diri.
•
Ada empat orang gadis dan tiga orang pemuda kini sudah berdiri di depan mereka semua. Mereka bukan seperti pengendali-pengendali lainnya. Namun lebih terlihat seperti seorang malaikat dengan sepasang sayap besar di masing-masing punggung mereka.
"Mereka memang tepat untuk disebut sebagai para pemimpin generasi," ucap pemuda serba hijau itu tersenyum.
"Mereka bahkan melebihi kita semua," timpal gadis serba biru muda juga tersenyum.
"Perly, apakah ini saatnya kita menyalurkan kekuatan kita pada mereka?" tanya pemuda serba kuning pada gadis emas yang dipanggil Perly itu.
"Bukankah masih ada dua kesatria yang harus mereka temukan?" jawab Perly, "Pulihkan saja mereka. Itu sudah cukup membantu," lanjutnya yang langsung dituruti oleh mereka semua.
Perly menoleh ke sebelah kanannya, "Kakak, bantulah gadis itu," ucap Perly menunjuk Marta.
Mereka semua tetap berdiri di tempatnya dengan tangan yang mengarah pada masing-masing kesatria.
Berbeda dengan gadis emas itu. Dia hanya berdiri menatap Perly tanpa melakukan apa-apa. Berdiri dengan senyum manis menyertai.
"Kamu tidak ingin menolongnya?" tanya gadis perak pada Perly setelah dia selesai dengan Marta.
"Apa aku perlu menolongnya?" Si gadis emas malah balik bertanya.
"Tak seharusnya kau mengabaikan keselamatan dirimu sendiri, Perly. Sampai sekarang, aku masih tak mengerti bagaimana cara berpikirmu, " tukas gadis perak.
"Dia sangat kuat Kakak. Dia tidak memerlukan bantuanku," jawabnya.
"Apa dia masih bisa bertahan dengan keadaan yang seperti itu?" tanya pemuda serba kuning.
"Harusnya aku bertanya lebih awal saat kalian begitu mengeluh-eluhkan dia bahwa dia bisa melebihi aku. Jika kalian begitu yakin, maka jangan risau," jawabnya.
Mereka menghela nafas, kembali berdiri di samping si gadis emas. Jangankan mereka, kakak kembarannya saja tidak tau bagaimana pola pikir gadis itu.
"Perly. Bangunlah," ucapnya lagi.
Siapa yang sangka suara itu ternyata didengar oleh Perly yang tadinya tidak sadarkan diri.
"Aku yakin kamu bisa. Bangunlah, dan lihat aku," ucapnya lagi saat melihat Perly mulai memberikan respon.
Perlahan Perly bergerak dan mengerjap-ngerjap kan matanya, Perly mulai bangun dan duduk. Namun dia merasakan sakit pada jantungnya membuatnya meringis karena sakit.
"Jantungku ... Arrkkhh ...!" rintihnya lagi masih memegangi dadanya.
"Bantulah dia. Jantungnya tidak berfungsi," ucap gadis serba biru tua pada Perly. Tak sampai hati rasanya melihat Perly yang kesakitan seperti itu.
"Tidak apa jika kamu menyerah dan kembalilah berbaring. Tapi jika kamu ingin terus berusaha, bangunlah," ucap gadis emas pada Perly.
Perly yang mendengar itu terus mencoba untuk bangun. Dia paham apa yang dimaksud dengan kata 'menyerah' yang gadis itu katakan padanya.
Dengan semua energi yang masih dia punya, Perly berhasil berdiri walaupun tidak berdiri dengan sempurna.
Perly menatap mereka semua. Menatap dengan tatapan tidak percaya. Benarkah ini adanya? Jadi terlahir kembali itu memang ada. Dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Bertatapan dengan teman-temannya dengan aura yang jauh berbeda. Seakan, mereka semua adalah kembar. Apa ini adalah para pendahulu itu?
Tapi sungguh, walaupun sebelumnya dia sudah percaya akan hal ini, namun melihatnya secara langsung seperti ini bukankah itu juga hal yang cukup mengejutkan?
"Jadi apa yang kamu ucapkan dulu memang benar adanya?" gumam Perly masih menatap mereka semua.
"Ya. Mereka adalah sahabatku, sama seperti sahabatmu," jawab gadis emas itu.
Perly mengalihkan perhatiannya pada teman-temannya yang tergeletak di bawah.
Mau tak mau harus terkejut melihat para sahabatnya yang tak sadarkan diri. Apa yang terjadi? Terakhir kali yang dia ingat, mereka baik-baik saja, lalu ini?
"Kenapa? Ada apa dengan mereka?" tanya Perly cepat.
"Mereka menyalurkan semua kekuatan yang mereka punya untuk meyelamatkanmu," jawab pemuda serba coklat.
"Apa? Lalu bagaimana sekarang? Apa terjadi sesuatu pada mereka?" tanyanya lagi.
"Tenanglah. Tidak terjadi apapun pada mereka," jawab gadis perak.
Perly bernafas lega mendengarnya. Dia tak akan tenang jika mereka terkena masalah karena dirinya. Dan dirinya baru sadar, jika jantungnya tak baik-baik saja meski dirinya hanya menarik nafas dan menghembuskannya.
"Apa yang terjadi dengan jantungku? Kenapa ini sangat sakit?" tanya Perly menatap lurus pada gadis emas.
"Kau tak ingat jika tadi kau mengeluarkan kekuatan terlalu banyak?" tanyanya.
Tatapan yang lama, sebelum kemudian Perly mendecih pelan, "Kau tak perlu menunjukkan padaku bagaimana caranya membohongi anak kecil," ujarnya.
Tatapannya kemudian beralih pada gadis perak, "Lihat adikmu. Katakan padanya kalau aku bukanlah anak kecil yang akan berkata, 'Ah ya, aku lupa,' kupikir dia yang lupa bahwa dialah yang mengajarkanku menjadi seperti ini," ucapnya.
Gadis emas terkekeh pelan, yang entah mengapa membuat para sahabatnya ikut tersenyum. Sudah beribu tahun lamanya, ini adalah kekehan pertama yang mereka dengar dari gadis emas itu, setelah lahirnya pengendali dark.
"Ah ya, aku lupa," jawabnya membuat Perly kembali mendecih.
"Kau tak ingin memberitahuku apa-apa?" Perly lagi-lagi bertanya.
Kekehan terhenti meninggalkan senyum manis di bibirnya, "Jantungmu sedang dalam masa penguatan," jawabnya.
"Pada masa ini, jantungmu akan terlihat pecah dan tidak akan berfungsi. Tapi setelah semua itu terlewati jantungmu akan menguat dengan sempurna," lanjutnya lagi.
"Apa maksudmu dengan tidak berfungsi? Apa aku akan mati?" tanya Perly.
"Kau takut mati?" Pemuda serba hijau bertanya dan Perly dengan pantas menggeleng, "Bukan aku, tapi kalian. Bukankah kalian bisa membiarkan kami seperti tadi saja tanpa harus dibantu? Aku tak takut dengan kematian," jawabnya.
"Lalu kenapa kau bertanya?"
"Kau ingin aku bersikap sombong dengan mengatakan, 'karena tidak ada lagi penyelamat dua dunia ini selain aku' begitu?" Perly balik bertanya.
"Kau benar, dia terbilang sangat baik untuk seseorang yang jantungnya mengalami keretakan," ucap gadis serba biru tua pada gadis emas.
Tatapan Perly kemudian terhenti pada gadis perak, masih meminta jawaban dari pertanyaannya yang sebelumnya.
"Kamu akan baik-baik saja sampai masa itu selesai. Hanya saja kamu tidak akan bisa menggunakan kekuatanmu sampai kesatria terakhir ditemukan." Dia menjawab.
"Lalu bagaimana aku bisa menemukan dua kesatria lagi? Bukankah aku bisa menemukan mereka setelah aku menyelamatkan mereka?"
"Apakah kamu sungguh berpikiran seperti itu?" tanya pemuda serba kuning.
"Bukankah begitu caraku baru bisa menemukan mereka. Dan juga lambang ini baru tergambar setelah aku menyelamatkan mereka," jawab Perly.
"Perly, bukan mereka yang kamu selamatkan. Tapi dirimulah yang sedang kamu selamatkan," ucap gadis emas cepat membuat Perly beralih menatapnya, "Apa kamu tidak pernah berpikir bahaya seperti ini akan terjadi? Bahkan bahaya yang lebih besar dari ini akan kamu hadapi nantinya. Benar, kamulah yang nantinya menyelamatkan mereka dari segala bentuk bahaya, tapi siapa yang akan menyelamatkanmu setelah kamu menerima bahaya yang seharusnya datang pada mereka?" jelas gadis itu panjang lebar.
Perly masih diam dan menatap lurus pada gadis itu.
"Jika bukan mereka yang menolongmu, maka kamu akan tiada sejak awal. Itulah yang aku maksud dengan kamu yang sedang menyelamatkan dirimu sendiri," lanjutnya lagi.
"Jadi aku tidak pernah benar-benar menyelamatkan mereka. Lalu untuk apa aku di takdirkan menjadi penyelamat?"
"Seorang penyelamat bukan berarti harus menyelamatkan semua orang dari awal dia datang. Bukankah seorang pengecut juga bisa menjadi seorang penyelamat?" ucap pemuda serba coklat.
Kata-katanya sangat mirip dengan apa yang Tier ucapkan dulu.
"Perly, apa kamu belum mengerti dengan penyelamat yang aku maksud?" tanya gadis emas pada Perly.
Perly hanya diam tanpa ingin menjawab.
"Apakah dengan mengorbankan nyawamu pada seseorang, atau melibatkan dirimu dalam bahaya besar, kamu sebut dengan seorang penyelamat?" lagi gadis itu bertanya, "Tidak se-simpel itu Perly. Jika memang seperti itu, bukankah semua sahabatmu juga melakukan hal yang sama? Mereka juga mempertaruhkan nyawanya demi kamu. Apa itu artinya mereka juga seorang penyelamat?"
Benar. Semua orang juga pernah bertaruh nyawa untuk seseorang. Kalau begitu semua orang bisa menjadi penyelamat, dan tidak akan ada takdir yang seperti ini untuknya jika semuanya adalah penyelamat. Pikir Perly dalam hati.
"Perly. Tidak apa jika kamu fokus pada tujuanmu, tapi jangan lupakan berbagai kejadian yang pernah kamu alami untuk menempuh tujuanmu itu. Jangan sampai keserakahan memenuhi hatimu," ucap gadis perak pada Perly.
"Lalu aku harus apa? Aku tidak tau harus melakukan apa. Aku tidak mengerti awalnya, aku tak tau apa-apa tentang perjalanannya, dan aku sama sekali tidak tau ke mana arah tujuanku. Aku hanya mengikuti alur yang kamu berikan padaku," ucap Perly akhirnya setelah lama terdiam.
Gadis emas itu maju beberapa langkah ke depan dan berdiri tepat di depan Perly. Gadis itu memegang kedua bahu Perly dan tersenyum, "Aku sudah mengatakannya sebelumnya. Menyeralah, jika kamu tidak sanggup. Dan teruslah berusaha jika kamu ingin tetap melangkah," ucapnya pada Perly.
"Apa yang akan terjadi jika aku menyerah? Dan apa yang terjadi jika aku tetap berjuang?" tanya Perly menatap gadis itu.
Gadis emas hanya tersenyum dan kembali berdiri di tempatnya semula.
"Ah, ada yang kami lupakan," ucapnya.
Perlahan mereka menunduk seperti memberi salam pada Perly.
"Salam kami, Queen," ucap mereka serentak.