Number 38

2766 Kata
"Sebenarnya ada apa dengan kalian semua? Apakah pengendali Dark menyerang kalian?" tanya Cava saat mereka semua sudah sadarkan diri, pengecualian untuk Perly, gadis itu tampak tak berniat untuk berkhianat pada tidur panjangnya. "Jika pengendali Dark yang menyerang, pasti kami sudah tiada," jawab Tier seadanya. Keadaan mereka masih lemah, tapi entah mengapa ini bisa terjadi. Mereka sudah mengeluarkan semua kekuatan dan mereka masih bisa bertahan, bukankah itu sebuah keajaiban? "Lalu apa? Kenapa kalian semua tergeletak lemah di dalam rumahku. Bahkan sekarang Perly masih belum sadarkan diri. Jangan anggap kalau aku tidak tau kalau jantung Perly hampir pecah," ucap Cava lagi menatap mereka satu persatu. Seakan mengatakan bahwa, ceritakan lebih jelas padaku, aku sudah tau bagaimana sebagian ceritanya. "Bisakah kamu mengambilkan kami sesuatu untuk menambah energi kami terlebih dahulu? Kami hampir tidak mempunyai tenaga untuk berbicara," ucap Befra pada Cava. "Sepertinya aku membawa bunga kehidupan kemarin. Akan aku ambilkan," Cava berdiri dan berlalu dari hadapan mereka. "Apa kita harus menceritakannya?" tanya Zate pada mereka semua. "Aku rasa tidak apa jika kita menceritakannya. Itu tidak ada hubungannya dengan identitas Perly," jawab Marta. Gadis dengan ciri khas serba biru muda itu mengangguk, "Iya. Lagi pula, Cava adalah orang yang dapat dipercaya," timpal Erlie dan mereka hanya mengangguk. Tak lama, Cava kembali dari belakang dengan membawa se-tangkai bunga kehidupan di tangannya. "Ambillah," ucapnya membagikan kelopak bunga itu pada mereka semua. Mereka segera memakannya dan energi mereka kembali, walaupun tidak seperti semula karena kekuatan mereka juga terkuras. Tapi itu tidak apa, setidaknya dengan tenaga saja sudah cukup untuk sekarang. Selesai membagikannya satu persatu, Cava kembali duduk di tempatnya, menatap mereka bergantian, menanti mereka selesai dengan kunyahan yang entah sengaja dipelankan itu, dengan sabar. "Aku masih menanti kalian untuk menceritakannya," ucap Cava setelah dia rasa waktu yang dia berikan sudah cukup. Mereka yang tadinya bersandar, kini memperbaiki posisi duduknya menjadi tegap dan menatap ke arah Cava. "Sebenarnya ini murni kesalahan kami ...." Setelah itu dia menggeleng, "Maksudku, kesalahanku," ralat Zate pada kalimatnya. Zate beralih menatap Perly yang menutup mata, "Perly memintaku untuk menunjukkan aliran listrik yang aku punya, tapi aku tidak tau kalau ada seseorang di sebalik pohon yang akan aku tuju." Dia menjelaskan yang sebenarnya. Hembusan nafas berat terdengar dari sela bibir Zate. Mereka tau, itu pastinya berat untuk diceritakan. Mereka saja tak ingin rasanya mengingatnya. Ingin sekali, jika bisa, mereka akan meminta dihapus saja ingatan tentang kejadian barusan. "Aku ingin menghentikan alirannya saat Perly memberitahu kalau ada seseorang di sana, tapi entah kenapa itu jadi tidak terkendali. Alirannya malah semakin besar dan semakin cepat menjalar ke arah pohon itu. Tanpa aba-aba Perly langsung menggunakan kekuatannya untuk menghentikan aliran listrikku. Itulah penyebab jantungnya hampir pecah," ucap Zate mengakhiri ucapannya. Jeda sejenak. Bukan untuk melanjutkan ucapan, hanya untuk memberi spasi bagi Zate menarik nafas dan dihembuskan. Keadaan Perly waktu itu benar-benar membuatnya takut sekaligus merasa sangat bersalah. "Lalu apa yang kalian lakukan?" tanya Cava lagi. "Tentu saja kami membantunya untuk menghentikan listrik itu. Kamu pikir kami akan diam saja?" jawab Anta menatap Cava sinis. "Apa kalian tidak menyalurkan kekuatan kalian padanya saat dia menghentikan aliran listrik itu?" tanya Cava lagi. Mereka terdiam kali ini. Dan Cava cukup tau jawabannya tanpa mereka menjawab sekalipun. "Ck. Bodoh!" sarkasnya langsung. Katanya lagi, "Seharusnya kalian menyalurkan kekuatan kalian padanya saat dia menghentikan aliran listrik itu. Kalian tau apa yang membuat jantungnya hampir pecah? Bukan karena dia mengeluarkan kekuatannya terlalu banyak, tapi karena dia menyerap aliran itu. Jika kalian menyalurkan kekuatan kalian padanya, itu tidak akan membuat jantungnya pecah," jelas Cava panjang lebar. "Dari mana kamu tau soal itu? Apa kamu hanya mengarang?" tanya Tier pada Cava. "Ayahnya adalah seorang tabib. Dia juga sedikit pandai ilmu tabib." Bukan Cava tapi Erlie-lah yang menjawabnya. Baiklah, mungkin mereka bisa menerima ucapan Cava jika begini keadaannya. "Kalau memang benar begitu kenapa kamu tidak menyembuhkan Perly? Kamu pasti bisa bukan menyembuhkannya?" tanya Befra cepat. "Aku akan tau jika itu bukan jantungnya," jawab Cava cepat. "Aku juga tidak akan berbuat bodoh dengan membiarkannya saja seperti ini. Tapi aku bisa apa dengan jantungnya?" Dia bertanya seolah sedang menyampaikan pernyataan yang berupa fakta, membuat mereka tak dapat menyangga. Dia kembali berkata, "Kalian tau bukan kalau jantung yang hampir pecah tidak ada obat penawarnya. Kecuali seseorang memberikan seluruh kekuatannya untuk Perly. Tapi itupun hanya bisa menutupi sementara, tidak akan bisa sembuh dengan total," ucap Cava. "Ya, kami juga sudah menyalurkan kekuatan kami padanya. Tapi itu juga tidak membantunya untuk sadarkan diri," ucap Marta pelan yang masih dapat didengar oleh Cava dan yang lainnya. Dia terlihat ragu dengan ucapan Marta yang satu itu, "Benarkah? Kalian menyalurkan semua kekuatan kalian padanya?" tanya Cava pada mereka. "Begitulah. Itulah sebabnya kami juga tidak sadarkan diri waktu itu," jawab Zate. Kebingungan Cava semakin bertambah. Ada yang janggal di sini. Apa yang mereka katakan sama sekali tidak seperti kenyataan yang ada. "Tapi kenapa kalian baik-baik saja? Maksudku, kalian pasti tau akibat dari tindakan kalian. Tapi kalian seperti hanya kehilangan sedikit kekuatan," ucap Cava membuat mereka tersadar. Ya, benar juga. Kenapa mereka tidak menyadari itu sedari tadi? Befra mengangkat tangannya dan dari telapak tangannya keluar butiran-butiran es, "Kekuatanku masih ada," ucapnya kaget. Mendengar ucapan Befra, mereka semua juga ikut menguji kekuatan mereka. Ya kekuatannya masih ada, walaupun masih melemah tapi itu benar-benar sebuah keajaiban. Seharusnya kekuatan mereka sudah habis, atau bisa saja mereka sudah tiada sekarang karena sudah menyalurkan semua kekuatannya pada Perly. "Kenapa ini bisa terjadi?" gumam Tier pelan. Iya, pertanyaan yang tak akan terpecahkan rasanya. Kenapa itu bisa terjadi? Itu seharusnya tidak terjadi, tapi, apa ini? "Apa ini sebenarnya? Ini sangat mustahil," gumam Anta juga tidak percaya dengan semua yang terjadi pada mereka. "Sudahlah. Tidak perlu dipikirkan lagi. Bukankah bagus jika kalian tidak kehilangan kekuatan. Mungkin saja para angel membantu kalian karena kalian juga sudah membantu Perly," ucap Cava tersenyum. "Itu memang bagus, tapi bukankah itu terasa sangat aneh?" ucap Zate yang diangguki oleh mereka semua. "Bukan hanya aneh, menurutku, itu juga tak masuk akal," ucap Marta, "Angel pun akan turun jika ada perintah. Jika memang merka yang membantu, dengan cara apa? Kekuatan? Ayolah, kalian tak ingat kalau angel mengeluarkan kekuatan hanya pada saat diperintah?" Dia menyampaikan pernyataan. "Sudahlah ... Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah Perly. Bagaimana dengan dia? Apa yang harus kita lakukan untuk menyembuhkannya? Perjalanan kita masih sangat panjang," ucap Tier menatap Perly yang masih terbaring lemah di sana. "Pasti ada satu jalan untuk menyembuhkannya, tak mungkin tak ada," ucap Befra. "Apa mungkin kita meminta bantuan para pendahulu itu?" tanya Zate menatap mereka semua. Anta menatapnya lebih dulu, siap melayangkan kembali kata-kata pedasnya, "Silahkan saja jika kau bisa berkomunikasi dengannya. Yang realistis saja kalau bicara," tukasnya. "Bicaralah lebih sopan Anta, apa sekarang sudah tidak boleh mengajukan pendapat olehmu?" sarkas Zate menatap tak bersahabat pada Anta. Dirinya sudah panik dan pikiran kacau, setidaknya, Anta lebih banyak berdiam diri dengan tidak memperburuk emosinya saat ini. "Boleh kukatakan kalau ini bukanlah saat yang pas untuk kalian beradu argumen. Setidaknya lihatlah kondisi sekitar kalian," oceh Marta menatap mereka kesal. Bukannya mencari solusi malah menambah masalah, itu kata-kata tambahan dalam hatinya. Mengabaikan semua atensi teman-temannya yang seduah tak teratur, Erlie memindai mata menoleh pada si pemuda storm, "Cava, apa kamu tidak bisa memastikan apakah dia baik-baik saja? Tidak masalah jika tidak bisa menyembuhkannya dengan total, tapi setidaknya beritahu kami apa yang dia perlukan untuk sadarkan diri," ucap Erlie menatap Cava. Tampaknya hanya Erlie yang bisa mengendalikan akal sehatnya saat ini. "Mengenai Perly. Aku tidak memeriksanya terlalu jauh. Biar aku periksa dia terlebih dahulu," ucap Cava lalu beralih di samping Perly. Perly, gadis itu berada di tengah-tengah para sahabatnya yang tengah berdebat. Tentu mereka berhasil beralih pandang pada Cava yang mendekat di sisi gadis yang tengah tak sadarkan diri itu. Kali ini tanpa protes, dan hanya memperhatikan dengan baik apa yang akan dilakukan oleh Cava. Cava menempelkan telapak tangannya di telapak tangan kanan Perly lalu memejamkan matanya. Tak berlangsung lama, lalu Cava kembali membuka matanya dan memasang ekspresi terkejut. Yang ikut memaksa mereka memasang ekspresi yang sama, lebih mendekati khawatir yang bertambah parah. "Ada apa? Kenapa kamu terlihat terkejut?" Tier bertanya cepat. "Apa kalian yakin kalau Perly adalah pengendali biasa sama seperti kita?" tanya Cava membuat mereka sedikit terkejut. Kenapa Cava bertanya seperti itu? Apa Cava tau sesuatu tentang Perly? Tidak, tidak mungkin. Jika memang semudah itu membuka identitas Perly, maka semua orang sudah lebih dulu tau tentang Perly. "Memangnya ada apa dengannya?" tanya Marta hati-hati. Cava menoleh pada Perly, sesekali pada para sahabat Perly, "Jantungnya memang hampir pecah dan kekuatannya sama sekali tidak bisa lagi digunakan," katanya, "Tapi dia baik-baik saja. Dia normal, dan dia masih sangat bisa untuk bertahan hidup. Kalian tau manusia? Seperti itulah dia sekarang. Yang berbeda hanya keadaan jantungnya," jelas Cava lagi membuat mereka kembali terkejut. Oke, sudah berapa kali kata terkejut muncul sejak dua menit terakhir? "Oke, aku sangat senang mendengar jika dia baik-baik saja. Tapi bagaimana bisa seorang pengendali hidup dengan jantung yang hampir pecah dan sama sekali tidak memiliki kekuatan? Itu terdengar lebih mustahil dari apa yang kami alami," ucap Zate di angguki oleh mereka semua. "Aku juga tidak tau kenapa ini bisa terjadi. Ini adalah pertama kalinya aku menemukan hal semacam ini," ucap Cava juga menatap tak percaya pada Perly. Dalam pikirannya, memangnya ada pengendali yang seperti ini? Namun tak lama setelah itu, jari telunjuk kiri Perly mengeluarkan cahaya berwarna abu-abu, menyisakan sebuah lambang di sana. Lambang pengendali storm. Perhatian Cava tentu saja terpusat pada jari Perly yang satu itu. Bohong sekali dirinya tidak tertarik sedangkan cahaya yang keluar sangatlah terang. Cava mengangkat jari Perly lalu menatap mereka bergantian. "Apa ini?" tanyanya pada mereka semua. • "Jadi kenapa kalian memberitahukannya padaku kalau Perly akan berada dalam bahaya?" tanya Cava pada mereka. "Menurutmu saja. Apa kami akan bungkam jika kau sendiri sudah mengetahui setengahnya?" Befra balik bertanya. "Lagi pula, memangnya kamu akan tetap diam jika kami tidak memberitahumu? Kamu pasti memaksa kami untuk menceritakannya bukan?" Zate balik bertanya. "Dan juga, kamu sudah melihatnya sendiri jadi aku rasa itu bukan lagi rahasia," timpal Erlie diangguki yang lainnya. "Tapi berjanjilah untuk tidak membocorkan ini pada siapapun, sekalipun itu pada orang tua maupun adikmu. Jika semakin banyak pengendali yang tau, akan semakin memudahkan Pengendali Dark menemukan Perly," ucap Tier menatap Cava serius. Cava tersenyum mendengarnya, "Tanpa kamu pinta pun, aku tidak akan menceritakannya pada orang lain. Bukankah hidupku juga bergantung pada keselamatannya? Jadi aku pasti akan ikut melindunginya," jawab Cava. "Baguslah kalau kamu berpikiran seperti itu. Itu membuat kami tenang." ucap Marta. "Kau jangan senang dulu karena kami memberitahumu rahasia ini. Lihat saja jika kau berani memberitahu orang-orang!" Anta menggerakkan tangannya di leher, seolah-olah memotong leher itu dengan biji mata seakan keluar menatap Cava. "Kau berlebihan Anta," ucap Tier menatap datar pada Anta. Yang hanya di tanggapi tawa kecil oleh Cava. "Tapi tunggu dulu. Aku baru menyadari kalau diantara kalian tidak ada pengendali Storm. Kalian mengatakan kalau lambang itu akan muncul jika Perly menemukan kesatria itu. Bukankah itu adalah lambang Storm? Lalu di mana kesatria Storm?" tanya Cava membuat mereka terdiam. Kenapa seakan-akan Cava berubah menjadi Perly dalam versi laki-laki? Pertanyaan Cava sama sekali tak mereka pikirkan sebelumnya. "Mengenai itu ... kenapa aku baru menyadarinya ...," gumam Befra. "Aku ingat sekali kalau hari ini kita tidak bertemu siapapun yang bisa kita anggap sebagai seorang kesatria. Lalu kenapa lambang itu muncul di jarinya?" tanya Anta pada yang lainnya yang tentu saja mereka juga tidak mengetahui apa jawabannya. "Anta benar. Kita bahkan tidak berinteraksi dengan siapapun hari ini," timpal Zate menganggukkan kepalanya. "Dan kita bahkan tidak menyelamatkan sia--" Ucapan Erlie menggantung di udara dan beralih menatap semua teman-temannya yang juga menatapnya. "Gadis itu!" pekik mereka bersamaan termasuk Erlie. "Benar. Gadis itu pasti orangnya," ucap Tier dan diangguki oleh mereka semua. Pikiran mereka melayang pada kejadian waktu itu, mereka memang sempat melihat seorang gadis di sebalik pohon itu kala Perly berkata begitu. Dan mereka yakin, tak ada pengendali lain lagi selain gadis itu. "Gadis? Siapa yang kalian maksud?" tanya Cava menatap mereka bingung. "Seorang gadis yang hampir saja terbunuh akibat listrikku," jawab Zate. "Dan gadis itulah yang Perly selamatkan tadi," timpal Befra membuat Cava semakin bingung. Gadis yang hampir terbunuh yang Perly selamatkan. Apa kaitannya dengan dia yang bertanya di mana kesatria storm berada? Ada hubungannya? Apa? "Lalu hubungannya dengan kesatria dan lambang ini apa? Aku tidak mengerti," ucapnya menggaruk kepala bagian belakangnya bingung. "Kami berpendapat bahwa Perly akan menemukan kesatria yang dia cari setelah dia menyelamatkannya. Seperti sebelumnya dia menemukan mereka. Dan satu-satunya orang yang Perly selamatkan hari ini yaitu gadis itu. Pasti itu penyebab lambang itu tergambar di sana," jelas Marta panjang lebar. Memilih untuk berterus terang. Cava mengangguk-angguk kecil pertanda mengerti, "Lalu, di mana gadis itu?" tanyanya lagi. Pertanyaan yang kontan membuat pundak terasa lemas. Lesuh sekali saat memikirkan keberadaan gadis itu yang mereka tidak tau di mana. "Itulah masalahnya sekarang. Kami tidak melihat wajahnya karena saat itu dia berada di sebalik pohon," jawab Erlie. "Dan kami juga tidak memastikannya setelah Perly menyelamatkannya. Kami terlalu khawatir pada keadaan Perly waktu itu," sambung Anta membuat mereka menghela nafas panjang. Padahal sedikit lagi pencarian mereka di sini selesai kalau saja mereka melihat gadis itu. Tapi takdir memang begitu, keinginan tak selalu sejalan dengan takdir. Zate menatap mereka semua bergantian. Menampilkan raut seperti dia menemukan suatu fakta baru yang begitu buruk untuk di dengar, "Kita mempunyai masalah lagi sekarang, katanya memulai, "Kita sudah menemukan kesatria Storm tetapi orangnya tidak bersama kita. Bukankah itu akan mempersulit kita dalam mencarinya?" ucap Zate pada yang lainnya. Hening sejenak, lalu kembali hempaskan bahu lesuh. Terduduk sembarangan karena terlalu lelah. "Benar. Apalagi Perly sudah menyelamatkannya, dan sekarang Perly tidak bisa menggunakan kekuatannya. Selama pencarian kita, jalan tercepat kita menemukan kesatria adalah dengan Perly yang menyelamatkannya," ucap Marta. Dalam argumen, tiba-tiba Cava menyela, "Tapi aku rasa itu jauh lebih baik dibandingkan dengan Perly yang sama sekali belum menemukannya. Bukankah itu berkali lipat lebih sulit? Perly tidak bisa menggunakan kekuatannya sekarang, bagaimana caranya dia menyelamatkan kesatria itu?" ucap Cava panjang lebar. Tampak secercah harapan dan semangat di wajah mereka, seakan jika di ucapkan maka akan keluar kata, "Benar juga." Cava tersenyum manis, "Jangan menyerah. Kalian pasti bisa menemukannya lewat kalung yang dia punya," lanjutnya lagi menyemangati mereka semua. "Tapi berbicara tentang menyelamatkan. Bagaimana caranya Perly menyelamatkan kesatria selanjutnya? Kita masih harus mencari kesatria Fire," ucap Erlie membuat mereka kembali menghela nafas lelah. "Erlie, bisakah kamu simpan dulu pertanyaan itu? Sungguh, rasanya kepalaku ingin meledak memikirkan solusi dari semua masalah kita saat ini," ucap Anta sudah kembali berbaring dan menutup matanya. "Aku rasa bukan itu yang harus kita pikirkan." ucap Tier membuat mereka beralih menatap nya. "Tier, aku baru saja mengatakannya pada Erlie, dan kau ingin menambahnya sekali lagi? Ayolah, kau ingin membuatku gila ya?" racau Anta memprotes. Namun pemuda earth itu tampak tak peduli, "Perly tidak bisa menggunakan kekuatannya. Lalu bagaimana dengan perjalanan kita selanjutnya?" tanya Tier pada mereka. Mereka terdiam sejenak lalu kembali menghela nafas lelah dan mengerang frustasi. "Llihat! Sudah kukatakan jangan berkata apa-apa lagi! Arrgh!" erang Anta mengusak kasar rambut hijau miliknya. Sekarang dia benar-benar terlihat seperti orang gila. "Rasanya aku ingin menangis saja memikirkan semua ini. Begitu banyak kemungkinan terburuk yang kita dapat sekarang," ucap Befra menyandarkan kepalanya di bahu Tier yang memang duduk di sampingnya, yang tentu saja, langsung disambut baik oleh pasangannya dengan tangan membelai rambut panjang miliknya. "Hey. Jangan menyerah. Semua masalah pasti memiliki solusi, jika tidak ada solusi bagaimana bisa kita menyebut itu sebagai sebuah masalah? Ayolah, kalian harus tetap semangat dan terus berjuang. Lihat Perly, dia sedang dalam masa sulit dan kalian ingin menyerah?" tanya Marta pada mereka semua. Percayalah, keadaannya juga sama dengan yang lainnya, tapi siapa lagi yang akan menguatkan mereka jika dia juga bersifat sama.? "Benar apa yang Marta ucapkan. Walaupun aku tidak akan mengerti dengan kesulitan kalian, tapi tidak seharusnya kalian putus asa. Saat ini Perly sedang membutuhkan semangat dari kalian semua. Jika kalian putus asa, bagaimana dia nanti?" timpal Cava. "Ya, mereka benar. Keadaan Perly lebih sulit dibanding kita. Kita tidak boleh menambahnya dengan putus asa seperti ini. Bukankah perjalanan kita masih panjang? Itu artinya kita belum benar-benar menghadapi masalah terbesar. Anggap saja ini sebagai latihan kita untuk menghadapi masalah yang lebih besar nantinya," ucap Zate panjang lebar. Mereka semua mengangguk setuju. Ya, ini bukan saat yang tepat untuk berputus asa dan mungkin mereka memang tidak boleh putus asa dalam keadaan apapun dan kapanpun. "Berbicara tentang Perly. Apa kalian tidak menyadari sesuatu?" ucap Erlie menatap Perly. Dan Anta yang pertama kali menghela nafas berat mendengar kalimat penuh misteri satu itu, "Terserah kau saja Erlie. Berucaplah semaumu, aku akan mendengarkannya dengan pasrah," ucap Anta lirih. "Semua lambang di tangannya hilang. Lambang yang tersisa hanya ada di punggung jarinya," ucapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN