Number 39

2712 Kata
"Bukankah tadi masih ada?" tanya Marta sudah berada di dekat Perly, duduk di samping gadis itu memegang tangan Perly, memastikan apa yang dilihat matanya salah. "Iya. Aku juga masih melihatnya tadi," timpal Befra mengangguk. "Lalu kenapa sekarang tiba-tiba menghilang? Pertanda apa lagi ini?" tanya Anta pada mereka semua. Zate memijat pelipisnya, kepala terasa berdenyut kuat seakan denyutan itu bisa memecah otaknya kapan saja, "Kenapa tiba-tiba aku merasa kalau aku sedang tidak berada di duniaku sendiri? Apa ini yang Perly rasakan saat pertama kali datang ke dua dunia ini? Rasanya sangat menyiksa memikirkan semua hal yang bertolak belakang dengan akal sehat kita," ucap Zate panjang lebar. Dan lagi-lagi, hanya Erlie yang dapat berpikir rasional di sini, "Apa itu karena kekuatan Perly menghilang?" tanya Erlie tiba-tiba, "Bukankah lambang pengendali adalah tanda bahwa kita mempunyai kekuatan? Masuk akal bukan kalau lambang ini hilang karena Perly yang juga kehilangan kekuatannya," lanjutnya memperjelas ucapannya. Seketika mereka bertanya, apa mereka se-bodoh itu untuk menyadari itu? Dan pertanyan itu terjawab sendiri kala tersadar debgan hal sia-sia yang mereka lakukan sedari tadi. Mengeluh tanpa tau otak sudah tak berfungsi karenanya. Itu sungguh perbuatan yang sia-sia. "Benar juga. Kekuatan Perly hilang dan lambangnya juga menghilang. Tapi apa itu artinya kekuatan Perly tidak akan pernah kembali lagi?" Tier kembali menambah pertanyaan yang tidak dapat mereka jawab. Jika saja tadi Anta menulis pertanyaan itu satu persatu, dia tak yakin satu buku saja dapat menampung semuanya. "Cava, kamu pasti tau sesuatu tentang ini bukan? Apa benar kekuatan Perly tidak akan pernah kembali lagi?" tanya Erlie menatap Cava. "Bukankah kalian juga sudah tau tentang itu? Bahkan jika pengendali biasa yang mengalami hal yang sama yang dialami Perly, jangankan kekuatan, mereka pasti sudah tiada sejak awal," jelas Cava. "Itu pengendali biasa Cava, kau tau sendiri Perly itu siapa." Befra dengan cepat meralatnya. "Lalu? Aku tau dia penyelamat itu, tapi kau tak lihat kondisinya sekarang? Aku juga tak ingin percaya ini terjadi padanya, tapi kita bisa apa? Mau menyangkal seperti apapun, ini sudah terjadi, di depan mata kita sendiri," ucapnya lagi. Dia hanya mencoba berfikir dan bersikap rasional. Mengatakan yang semestinya memang terjadi. "Tapi yang Perly alami bukanlah hal yang biasa. Dia masih tetap hidup walaupun tanpa kekuatan dan keadaan jantung yang sangat buruk. Itu tidak mungkin terjadi hanya karena sebuah keajaiban," ucap Tier. Hening cukup lama, sampai Anta yang sedari tadi menunduk dalam berkata, "Tier, apa kamu lupa kalau sebelumnya Perly adalah seorang manusia biasa? Dia hidup dengan keadaan yang jauh berbeda dengan dunia kita. Mungkin saja itu yang membuat dia bertahan tanpa kekuatan," ucap Anta menyanggah ucapan Tier. Ada rasa tak rela dalam hatinya saat otak lebih memilih jalan logika. Inginnya kini hatinya yang mengambil alih, memaksa otaknya untuk mengirim rangsangan pada mulutnya agar berkata, "Perly akan baik-baik saja," tapi itu tidak mungkin. Terlalu terpampang kebohongan jika dia mengatakannya. Tak ingin kalah hanya dengan sekali sanggah, Tier kembali menyela, "Oke. Kalau begitu mari kita abaikan tentang kekuatan. Lalu bagaimana dengan keadaan jantungnya? Apa kamu pikir manusia hidup dengan keadaan jantung seperti Perly saat ini? Lalu kamu pikir manusia biasa bisa hidup di dua dunia ini?" Dia menatap Anta intens. Seakan mata itu bisa berkata, "Katakan, apa lagi yang ingin kau katakan?" Anta tak lagi menjawab ucapan Tier. Benar juga apa yang Tier ucapkan, manusia biasa tidak bisa hidup di dua dunia ini. "Lalu apa yang terjadi pada Perly? Kamu bisa menarik kesimpulannya?" tanya Marta menatap Tier. Tier yang ditanya hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Dia sama sekali tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan itu. Tak hanya Tier, tapi mereka semua tampak sangat frustasi. Perjalanan mereka yang sebenarnya belum dimulai tapi rasanya mereka ingin menyerah saja sekarang. "Oke. Semuanya dengarkan aku," ucap Cava menarik perhatian mereka, "Aku tau seharusnya aku tidak ikut campur dalam urusan kalian. Tapi tolong dengarkan aku sebagai seorang teman, sebagai sesama pengendali dan mungkin sebagai seorang adikku," ucap Cava. Menjeda sejenak, sekedar memastikan bahwa mereka menyetujui jika dirinya ikut terjun dalam masalah ini. Dan keterdiaman mereka membuatnya berani untuk kembali terampil dalam berkata. "Aku tau kalian sedang frustasi sekarang, tapi yang terpenting dan yang kalian utamakan di sini adalah Perly. Berarti untuk saat ini yang harus kalian pikirkan hanyalah Perly, fokus kalian hanya untuk Perly dan jangan pikirkan yang lain dulu selain itu." Terjeda lagi. "Biarkan dia istirahat untuk memulihkan keadaannya, dan kita harus dengan sabar menantinya untuk sadarkan diri. Dan kalian juga seharusnya memulihkan kekuatan kalian. Kalaupun nanti Perly tidak lagi memiliki kekuatan, bukankah masih ada kalian yang akan menjaga dan melindunginya? Jadi, jangan pikirkan apa-apa dulu saat ini dan beristirahatlah," lanjutnya menyelesaikan ucapannya. Mereka saling tatap satu sama lain mendengar ucapan Cava, sampai akhirnya hembusan nafas panjang sama-sama terdengar. Itu lebih seperti kepada nafas lega kala beban sepenuhnya luruh. "Cava benar. Kita juga harus istirahat untuk memulihkan kekuatan kita agar secepatnya kembali. Kita membutuhkan kekuatan dan energi yang besar untuk melindungi Perly nantinya," ucap Befra yang diangguki oleh mereka semua. "Terimakasih karena sudah memberi kami nasehat. Itu cukup membantu meringankan beban pikiran kami," ucap Tier tersenyum menatap Cava. Cava balas juga debgan sunggingkan senyum, "Hanya itulah yang bisa aku bantu," jawabnya. "Yasudah istirahatlah di sini. Aku akan kembali lagi nanti," ucapnya dan berlalu dari hadapan mereka. • Di suatu tempat, di mana, orang-orang akan menyebutnya dengan satu kata, surga. Dua pengendali dengan sayap berlainan warna yang melekat di punggung masing-masing, pun tongkat kerajaan, mahkota, juga jubah khas dari ratu dan raja berdiri berdampingan dengan satu gadis cantik tanpa sayap, tanpa mahkota, tanpa tongkat kerajaan dan jubah, di tengah-tengah. "Kapan aku akan kembali pada mereka?" tanya Perly pada gadis emas yang ada di sampingnya. Gadis yang ditanyai langsung menjawab, "Ketika kamu siap untuk kembali pada mereka." "Kapan aku akan siap?" "Ketika kamu ingin siap, kamu akan siap." Bukan gadis emas tapi gadis peraklah yang menjawabnya. Jawaban dan pertanyaannya hanya seputar itu saja. Membolak balik akal untuk dapat dimengerti. Namun tidak untuk Perly. Dirinya sudah memakan habis kata-kata kiasan seperti itu. Dirinya hanya diam dan terus menatap semua teman-temannya yang sudah mengambil tempat untuk beristirahat. "Kenapa kamu membawaku ke sini?" Lagi Perly bertanya. Gadis emas menoleh, menatap dari samping wajah gadis yang mirip dengannya ini, "Aku rasa aku sudah menjelaskannya padamu malam itu. Apa penjelasanku kurang jelas?" Dia balik bertanya. "Kalian membawaku dengan alasan agar aku bisa menyempurnakan kekuatanku dan karena aku adalah seorang Queen," katanya. Memutar hingga sembilan puluh derajat tubuhnya untuk menghadap sepenuhnya pada gadis emas, "Jika aku yang memberi alasan itu padamu, apa kamu bisa mengerti dengan baik apa maksudku yang sebenarnya?" tanyanya. Pada dirinya sendiri. "Jadi kamu sama sekali tidak mengerti?" Perly jengah. Dia butuh jawaban, bukan pertanyaan balik yang sudah tentu gadis emas di depannya ini sudah tau jawabannya, "Katakan," gugatnya, "Untuk apa aku dibawa ke sini? Dan apa maksudmu dengan Queen? Kenapa semua yang ada di sini memanggilku Queen?" tanya Perly beruntun. "Kau serius bertanya begitu?" gadis perak yang bertanya, mendapat tatapan datar dari Perly kala disempatkan untuk menoleh pada gadis perak. Seakan berkata, "Apa aku terlihat bercanda?" "Baiklah akan aku jelaskan satu persatu." Putus gadis emas akhirnya. "Kamu dengar apa yang mereka ucapkan tadi? Dirimu yang sekarang bagaikan seorang manusia biasa, bukan lagi seorang pengendali atau seorang penyelamat. Selama ini kekuatanmulah yang membuat pengendali Dark tidak bisa mencium aromamu dan tidak bisa menemukan keberadaanmu. Lalu kamu pikir kamu akan tetap aman jika kamu tetap berada di sana?" jelas gadis itu panjang lebar. Perly mencoba mencerna perkataannya dengan baik, berulang kali dan yang dia simpulkan tetap sama. Apa gadis ini sedang salah bicara atau tidak menangkap apa pertanyaannya? Atau memang kenyataannya begitu? Gadis ini merencanakan ini untuknya? "Jadi kamu membawaku agar pengendali Dark tidak menemukan aku?" Gadis itu mengangguk mengiyakan. Perly ikut mengangguk, dalam hati dia berteriak, "kenapa kau lakukan ini!" Sambil menatap datar gadis emas di depannya. "Itu artinya kamu menyelamatkan aku. Lalu bagaimana dengan mereka? Kamu membiarkan mereka tanpa perlindungan apa-apa. Bagaimana kalau pengendali Dark menemukan mereka?" "Kamu tenang saja Queen. Kami yang akan memastikan mereka baik-baik saja," ucap seseorang dari arah belakangnya. Perly berbalik dan menemukan semua sahabat dari gadis emas itu sudah berdiri di belakangnya. Mereka mendekat, dan hanya pengendali fire yang tidak ada di sana, juga, pengendali storm. "Perly, kamu hanya perlu fokus pada kekuatanmu sekarang," ucap Befra, si gadis serba biru tua. Perly hanya diam. Logikanya, itu adalah hal yang baik, sangat baik malah. Tapi hatinya berkata, itu sama sekali tidak baik untuknya. Mereka melakukan hal tersebut seolah-olah dirinya tidaklah mampu. Oke, dia tak menampik jika sekarang dia memang tidak bisa melakukan apa-apa jika bahaya datang pada mereka, tapi setidaknya, biarkan dirinya berada bersama para sahabatnya. Mereka bisa melewati ini bersama. "Kalian tidak percaya dengan kemampuanku dan para kesatria itu. Dalam artian lain, kalian tidak percaya pada diri kalian sendiri. Itulah kesimpulan yang aku dapat dari perlakuan kalian saat ini," ucap Perly menatap lurus pada gadis emas, "Jika kamu mempercayai dirimu, kenapa kamu begitu takut kalau pengendali Dark akan menemukan aku? Baiklah soal kekuatan, aku akui itu bukan kuasaku. Tapi apakah kamu tidak percaya dengan kemampuan kami? Selain kekuatan, kami masih mempunyai banyak hal untuk melawannya. Aku yakin tidak hanya kekuatan yang bisa diandalkan untuk melawannya," lanjutnya menjelaskan. "Perly--" Tatapan Perly langsung membuat ucapan gadis perak terhenti. Tatapan itu secara otomatis menghentikannya. "Kak ...." Dan kata itu yang mendukungnya untuk tetap diam. Satu panggilan pertama dari Perly, si gadis manusia memanggilnya dengan kata itu. "Kita akan bicara banyak nanti. Biarkan dia menjelaskan lebih dulu," ucap Perly kembali menatap gadis emas. Perly, si gadis emas itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Perly. Benar apa yang kakaknya ucapkan. Dia tidak ada bedanya dengan dirinya yang dulu, sangat kritis terhadap hal apapun. Juga, sangat sensitif terhadap apapun. "Jika aku tidak mempercayai kemampuan para kesatria termasuk dirimu, aku tidak akan membuat takdir seperti ini," katanya, "Menyembunyikan dirimu dari pengendali Dark bukan berarti aku takut kamu kalah sebelum berperang." Perly diam. Tau diri jika sekarang adalah gilirannya untuk mendengarkan. "Kamu tau? Kekuatanmu melebihi kekuatan yang aku punya. Tanpa berperang pun dan tanpa para kesatria itu pun kamu bisa mengalahkan Queen Ellona, Ratu Pengendali Dark. Tanpa adanya kekuatan yang sempurna kamu bisa memusnahkan elemen Dark dari dua dunia ini," lanjutnya lalu berbalik badan menatap sepenuhnya pada Perly. "Tapi apakah kamu pernah berpikir tentang hal yang dulu pernah aku sampaikan padamu? Semua kepribadian dalam dirimu dapat memenangkan pertempuran ini. Hanya saja dampak yang kamu dapat yang berbeda. Bayangkan jika kamu mengalahkan Queen Ellona sejak awal, apa yang akan terjadi dengan kepribadianmu?" Gadis emas itu bertanya. Perly tak menjawab apa-apa. Dia hanya menatap gadis emas dan semua yang ada di sana. "Jadi kamu takut kalau aku mempunyai kepribadian dari tiga bagian yang kamu tunjukkan dulu padaku?" tanyanya pelan. Gadis emas menggeleng, "Aku tidak takut. Aku hanya tidak ingin melihatnya. Karena sejatinya kamu tetap memiliki kepribadian yang kamu bawa dari dunia manusia. Sifat manusia dan pengendali Dark itu sama. Mereka tidak akan pernah merasa puas, dan perasaan itulah yang membuat mereka menjadi tamak, egois, iri, dan dengki. Salah satu tujuanku menakdirkan jalan yang seperti ini padamu adalah supaya semua sifat itu hilang dari dirimu," jawabnya. "Lalu kenapa kau menitipkan aku ke dunia manusia?" Perly bertanya. "Untuk melindungimu, apa lagi?" "Maksudmu untuk berakhir seperti ini?" Gadis emas tersenyum mendengarnya, "Lihatlah Perly, tidakkah kau rasa kau masih membawa sifat manusia?" Tanyanya membuat Perly akhirnya tak lagi bicara. "Menurutmu, jika ada tempat lain selain dunia manusia, apa aku akan tetap menitipkanmu di sana?" Jeda sejenak, "Perly, suatu keterpaksaan itu terkadang lebih baik daripada mengumpankan diri karena tidak ingin mengambil resiko," ucapnya Gadis itu maju beberapa langkah dan memegang kedua bahu Perly. "Ingatlah Perly. Kesenangan, kemenangan, kekayaan dan semua hal yang berbau seperti itu, akan membuatmu mempunyai sifat yang buruk. Masa sulit dan masa senangmu adalah sebuah ujian. Jika kamu tidak bisa menyikapinya dengan baik maka semua akibat buruk akan kamu terima di kemudian hari. Ingatlah itu," ucapnya terus tersenyum. • Tiga hari sudah berlalu namun Perly masih terbaring lemah di sana. Bahkan keadaannya masih sama seperti awalnya, tidak ada perubahan yang lebih baik dan tidak pula semakin buruk. "Cava, apakah dia benar-benar masih bisa bertahan hidup?" tanya Befra tiba-tiba pada Cava. "Kamu tenanglah. Aku rasa inilah saatnya rasa sabar kalian diuji. Aku yakin dia akan secepatnya sadar, percayalah padanya kalau dia tidak akan mengecewakan kalian semua dan dua dunia ini," jawab Cava tak mengurangi rasa khawatir didiri Befra dan yang lainnya. "Itulah yang kamu ucapkan selama tiga hari ini. Setidaknya ubahlah kata-katamu agar kami bisa lebih tenang," ucap Anta tanpa menatap Cava. Cava mengangguk menyetujui. Memangnya mau bagaimana lagi? Pertanyaan mereka juga sama. "Kenapa kalian tidak melanjutkan pencarian kalian? Bukankah kalian hanya perlu menemukannya kali ini tanpa melibatkan Perly. Bukan apa-apa, tapi kalian tau sendiri, kalau saja nanti Perly sadarkan diri, dia butuh istirahat yang cukup dan itu tidak dalam waktu dekat," ucap Cava tiba-tiba menatap mereka bergantian. "Aku rasa kami harus menunggunya saja. Kami akan pergi bersama," jawab Zate diangguki oleh Tier dan Marta. "Tapi bukankah lebih baik jika kita yang mencari kesatria itu? Benar kata Cava, kita tidak mungkin langsung membawanya melakukan pencarian, dia perlu istirahat terlebih dahulu," ucap Erlie panjang lebar. "Erlie, kami mendapat petuah bahwa kita semua harus tetap bersama dan tidak boleh meninggalkan salah satu dari kita bagaimanapun keadaannya. Jika aku jelaskan itu akan sangat panjang. Tapi intinya, kita semua harus tetap bersama, kita tidak boleh terpisah," jelas Marta pada Erlie. "Begitukah? Baiklah jika itu yang terbaik," ucapnya mengangguk pelan. Dirinya tidak tau tentang hal itu. Lama mereka terdiam sampai Tier kembali bersuara. "Apa yang akan kita lakukan jika keadaan Perly tak kunjung membaik?" tanyanya pada mereka semua. "Aku akan tetap menunggu dan menjaga Perly disini," ucap Marta tegas, "Sejak awal, akulah yang dipercaya untuk menjaga dan mendampinginya. Dan apapun nanti bahaya yang datang padaku, akan aku hadapi untuk melindunginya," lanjutnya. "Ya, aku juga akan tetap berada di sampingnya. Berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk membaik, maka selama itulah aku akan menunggunya," timpal Zate menganggukkan kepalanya. "Lalu bagaimana dengan perjalanan kalian selanjutnya jika Perly tak kunjung sadarkan diri?" lanjut Cava bertanya. "Bukankah dia yang menjadi pemeran utamanya di sini? Semua keajaiban akan datang padanya. Dan apapun bentuk halangannya aku yakin dia pasti akan selalu bisa melewatinya. Termasuk yang ini, aku yakin dia pasti secepatnya sadarkan diri. Kita hanya perlu menunggu," ucap Befra menggenggam tangan Perly dan menatap Perly yang masih menutup matanya. "Jadi kalian tidak ingin bebas dari Pengendali Dark secepatnya? Kalian tidak memiliki rasa kasian terhadap pengendali lain yang menjadi korban Dark?" lagi Cava bertanya. Anta langsung mengalihkan atensi padanya, "Tunggu," katanya mengangkat tangan lalu menunjuk Cava, "Apa maksudmu berbicara seperti itu?" tanyanya menatap tak suka pada Cava. Mengedikkan bahu, "Aku hanya bertanya. Jika kalian tetap di sini menunggu Perly tanpa melakukan apa-apa, itu artinya perjalanan kalian akan semakin lama dan pengendali yang menginginkan kebebasan akan semakin tersiksa dengan Pengendali Dark. Bukankah begitu kenyataannya?" ucap Cava memperjelas ucapannya. Semuanya, tak hanya Anta, kini menatap tak suka dengan pemilihan kata Cava. Itu sangat mengganggu di pendengaran. "Cava, apa kamu sedang mempengaruhi kami agar kami terpecah?" tanya Marta pada Cava. "Aku tidak melakukan itu. Aku hanya bertanya, apakah itu salah?" "Cava, pertanyaanmu membuat kami tersinggung. Kamu berucap seakan-akan kami tidak akan meraih kemenangan. Keadaan Perly seperti ini bukankah salah satu bentuk dari perjuangannya? Apa kamu tidak bisa menghargai itu? Setidaknya jaga ucapanmu itu, " ucap Zate yang kini juga acungkan jari telunjuk pada Cava. Dia melanjutkan, "Entah itu dalam waktu yang sebentar atau pun lama, pada akhirnya Perly pasti bisa meraih kemenangan itu. Jadi jangan tanamkan keraguan dalam dirimu pada Perly.". "Apa seyakin itu kalian padanya?" Tatapan remeh mereka dapat dari Cava. Apa-apaan?! Mereka semua semakin menatap bingung pada Cava, apalagi Anta yang awalnya memang tidak menyukai Cava kini pemuda itu menambah kadar ketidaksukaannya. Pemuda plants itu berdiri, berjalan mendekat pada Cava dengan aura gelap yang dia bawa, "Apa itu penting bagimu? Apa urusanmu jika kami sangat percaya atau tidak padanya. Apakah kamu juga ikut menyaksikan perjalanan kami selama ini? Apa kamu juga memiliki takdir yang sama seperti kami? Cava, berhati-hatilah jika kamu ingin berucap. Jangan sampai apa yang kamu ucapkan memperlihatkan sisi buruk pada dirimu," ucap Anta menatap Cava. "Dan kau tau? Ucapanmu itu sama seperti sampah. Tak berguna!" Tekannya menohok. Yaa ... Anta sudah berusaha menahan kekesalannya, tapi Cava terus saja memancingnya. Melihat reaksi mereka, Cava tersenyum dan tak lama sebuah cahaya muncul dari dalam tubuhnya membuat tubuh Cava melemah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN