Mereka yang tadinya tidak bereaksi apa-apa, tiba-tiba langsung berdiri di depan Perly untuk melindunginya. Membiarkan Cava yang terduduk lemah di lantai, seolah lupa jika tak hanya Perly yang harus dilindungi kalau-kalau ternyata yang di depan mereka ini adalah bahaya.
Cahaya itu berwarna perak dan bersinar semakin terang membuat mereka menutup mata karena silau. Benar-benar tak diberi kesempatan untuk sekedar mengintip dari celah jari.
"Kalian memang orang yang tepat untuk menemani perjalanan adikku." Suara itu terdengar menggema di pendengaran mereka semua. Jika saja, mungkin, orang-orang di luar sana dapat mendengarnya dengan baik.
"Tapi ingatlah satu hal. Dia adalah pemimpin yang terlahir dari tiga dunia, di mana satu dari dua dunianya memiliki semua hal yang bertentangan dengan dua dunianya. Sama halnya seperti ini, tetaplah bersamanya sekalipun kalian tidak menyukainya. Sekalipun dia membuat kesalahan yang besar," lanjutnya.
Mereka semua hanya bisa mendengarkan tanpa bisa melihat siapa yang ada di balik suara itu. Percuma saja berbuat nekat dengan membuka mata. Itu menantang maut namanya. Percaya atau tidak, cahaya itu bahkan rasanya dapat menembus saraf mata dan langsung merusaknya.
"Siapa kamu sebenarnya? Dan apa maksudmu menyebut Perly adalah adikmu?" tanya Tier sedikit berteriak.
Entah keberanian dari mana, yang jelas, itu sebagai bentuk dorongan kala matanya tak kunjung mau dipaksa untuk membuka.
"Aku? Aku adalah kembaran dari gadis yang sedang terbaring lemah di sana," ucapnya lalu kemudian cahaya itu perlahan meredup dan hilang.
Mereka kembali membuka mata dan tidak menemukan siapa-siapa lagi selain Cava yang masih terduduk lemas di tempatnya.
Cukup lama mereka berdiri, menatap Cava seolah memastikan apakah Cava sudah aman untuk didekati atau belum. Dan orang pertama yang pasti akan hal itu kemudian mendekat, berjongkok di samping Cava, "Cava kamu tidak apa-apa?" tanya Erlie.
Cava menggeleng lemah, "Aku hanya merasa sedikit pusing," jawabnya lirih.
"Kemana perginya cahaya itu? Dan siapa sebenarnya dia?" tanya Zate pada yang lainnya.
"Itu adalah pertanyaanku," gumam Befra.
Erlie membawa Cava untuk berdiri dan mendudukkan pemuda itu di kursi yang tak jauh di sampingnya.
"Apa yang telah terjadi barusan? Kenapa aku tidak bisa mengingat apa-apa?" tanya Cava membuat semua tatapan terarah padanya.
"Kamu benar tidak bisa mengingat apa-apa?" tanya Marta pada Cava dan Cava hanya menggeleng. Memang apa yang telah dia lewatkan?
Dia berusaha mengingat membuat kepalanya semakin dilanda rasa sakit, "Terakhir kali yang aku ingat aku masih tertidur tadi malam, lalu kenapa tiba-tiba aku sudah berada di sini saja?" ucapnya lagi membuat yang lainnya ikut bingung.
"Kau tidak berlaku pura-pura lupa untuk mendapatkan maaf dari kami bukan?" Zate masih menatap curiga padanya.
Kening Cava mengkerut, "Maaf? Maaf apa? Aku melakukan kesalahan? Apa?" tanyanya beruntun.
Dan mereka menyimpulkan bahwa guratan bingung itu tidaklah dibuat-buat. Itu alami yang berarti benar, Cava benar-benar sedang dikendalikan sedari tadi.
"Berarti orang yang tadi sudah ada di dalam tubuh Cava sejak pagi tadi," ucap Tier tiba-tiba, dan mereka setuju dengan pendapat itu, ah bukan, bukan pendapat, tepatnya pernyataan.
"Apa lagi ini? Apa kalian mencoba mempermainkanku? Orang apa maksudnya? di dalam tubuhku?" tanya Cava menatap Tier.
Cava lebih terlihat seperti orang lupa ingatan sekarang. Linglung akan sekitarnya, bahkan terhadap apa yang terjadi pada dirinya sendiri, dia tak bisa ingat dengan baik.
"Iya, tadi kami sempat berdebat denganmu mengenai Perly dan baru saja ada sebuah cahaya keluar dari dalam tubuhnya dan dia mengaku kembaran Perly, bahkan dia menyebut Perly adalah adiknya," jelas Befra diangguki mereka semua.
"Aku sama sekali tidak bisa mengingat apa-apa tentang itu," gumamnya pelan.
"Berarti sedari tadi yang berargumen dengan kita adalah orang itu." Anta berujar pelan.
"Ini pasti ada hubungannya dengan kondisi Perly dan kita semua," tebak Zate mendapat raut bingung kentara akan meminta penjelasan dari para sahabatnya, "Bukankah orang tadi terlihat seperti sedang menguji kita? Dia menguji kita dengan cara memancing kita sehingga kita berdebat dengannya tadi. Setidaknya itu yang terjadi," jelas Zate.
Lama mereka berpikir sampai akhirnya mereka mengangguk setuju.
"Iya itu benar. Apalagi dia tadi berterima kasih pada kita semua," timpal Erlie.
"Apa dia memang benar kembaran Perly?" Anta bertanya terlalu tiba-tiba, "Maksudku kembaran dari pendahulu generasi pertama?" Anta menatap mereka semua bergantian, sarat akan permintaan suatu pendapat yang membenarkan pernyataannya.
•
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Perly pada gadis emas di sampingnya.
Gadis itu hanya menoleh pada Perly lalu terkekeh, "Ternyata benar. Di kepalamu itu tersimpan banyak sekali pertanyaan," ucapnya membuat Perly mendengus.
"Kau mengatai dirimu sendiri jika kau lupa," tukasnya yang lagi membuat gadis emas terkekeh.
Jika dipikir lagi, gadis itu banyak terkekeh dan tertawa jika di dekat Perly. Sekuat itu pengaruh gadis manusia ini?
"Baiklah, aku suka itu. Jadi, apa pertanyaanmu?"
"Kita adalah orang yang sama. Apa itu artinya aku juga seperti dirimu? Maksudku lihatlah dirimu sekarang. Apa warnaku juga berwarna emas?" tanya Perly penasaran.
Kekehan kembali terdengar, kali ini dari gadis perak, "Kupikir pertanyaanmu serius. Ternyata kau hanya menanyakan soal warna?" Dia terlihat remeh, berakibat pada keluarnya decihan halus dari Perly.
"Aku serius menanyakannya. Kau tidak tau ya kalau aku terus memikirkan itu?" tukasnya kesal.
Gadis emang hanya tersenyum. Dia hampir lupa dengan sifat si kakak yang sangat jahil padanya. Ah, sekarang, perlahan sifat mereka dulu mulai terlihat kembali semenjak Perly datang.
"Memangnya kenapa kamu ingin mengetahui hal itu? Aku rasa itu tidak ada sangkut pautnya dengan perjalananmu," jawab gadis emas.
"Bukankah lebih baik jika aku bertanya dari pada menerka-nerka dan ternyata apa yang aku terka tidaklah benar. Kau ingin sekali melihatku salah paham ternyata," ucap Perly membuat gadis emas tertawa kecil.
Apanya yang akan disalahpahamkan dari sebuah warna identitas? Perly dan pemikirannya memang luar biasa.
"Aku sudah mengatakan kalau apa yang kamu punya melebihi diriku. Kamu bisa melihat dirimu yang sebenarnya jika waktunya sudah tiba," jawab gadis itu terus menatap lurus ke depan.
"Kapan waktu itu akan datang?" tanya Perly lagi tak sabaran.
Kali ini gadis emas menatap Perly sepenuhnya, "Perly, perlu aku ingatkan kalau tidak baik mempunyai sifat yang tergesa-gesa. Mendapatkan suatu hal tidaklah semudah kamu membalik telapak tanganmu. Dan bukankah kamu juga membutuhkan tenaga untuk menggerakkan tangan agar telapak tanganmu terbalik? Itu artinya semuanya membutuhkan usaha dan proses," jelasnya panjang lebar dan kembali menatap ke depan.
Perly terdiam tak lagi mengeluarkan suara, gadis emas itu seperti tak ingin menjelaskan lebih dalam, jadi, ya sudah. Lebih baik dirinya ikut menikmati pemandangan di depan sana.
"Kamu tidak penasaran dengan ibumu?" tanya gadis emas tiba-tiba tanpa menatap Perly.
Mendengar kata itu, Perly tersenyum lembut. Itu adalah satu kata yang entah mengapa selalu membuat hatinya tentram. Rasanya dirinya tak pernah mendapat masalah apapun.
"Ibu? Ibu mana yang harus membuat aku penasaran?" Perly bertanya.
"Ibuku di dunia manusia, aku lebih dari sekedar kenal dengannya. Sifatnya, kebiasaan, kesenangan, bahkan setiap kecerobohan yang dia perbuat, aku tau dan hapal di luar kepala. Ibu kandungku, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali, ah, tidak juga, kurasa, sejak saat papa memberiku seekor ikan, ibu kandung maupun ibu yang melahirkanku, dua-duanya ada bersamaku." Dia melanjutkan masih dengan senyum yang terpatri di bibir.
Dia menoleh, "Bukankah itu sudah lebih dari cukup? Aku tak perlu penasaran lagi. Bagian mana yang harus membuatku penasaran?"
Gadis emas itu mengangguk beberapa kali, "Kau benar. Dan ya ... aku cukup terkejut kau ternyata mengetahuinya. Itu mengesankan," pujinya.
"Aku memang mengesankan. Tak perlu memujiku secara terang-terangan seperti itu," ujar Perly.
Keheningan kembali terasa. Lebih lama daripada sebelumnya. Sedangkan si gadis perak hanya menikmati. Pemandangan langka dapat melihat adiknya yang berbeda generasi saling melempar kata satu sama lain.
"Kamu tidak ingin tahu tentang keadaannya sekarang dan di mana dia sekarang?" Lagi gadis emas bertanya. Masih pembahasan yang sama.
"Marta mengatakan kalau sekarang dia ditawan oleh Queen Ellona. Bukankah mereka tidak menyakiti para queen dan king? Itu artinya mereka baik-baik saja," jawab Perly membuat gadis itu tersenyum dengan pemikiran Perly.
Perly menghembuskan nafas berat, meminta atensi, memberitahu bahwa, dia masih ingin melanjutkan ucapannya.
"Bohong jika aku mengatakan kalau aku tidak ingin bertemu dengannya. Memangnya alasan apa yang aku punya? Bagaimanapun juga, aku mempunyai ikatan batin yang kuat dengannya. Tak satu dua kali aku menangis saat memikirkannya," sekali lagi dia hembuskan nafas berat, kepalanya ditundukkan, "Tapi bukankah lebih baik begini saja? Aku tak ingin, nanti semakin sering aku bertemu dengannya, semakin besar rasa rinduku padanya, maka bisa saja aku akan bersikap egois untuk melepaskannya lebih dulu," lanjutnya.
"Pemikiran kalian sama sekali tidak jauh berbeda." Sebuah suara asing dari belakang, si gadis serba biru tua.
"Aku rasa pemikiran mereka sama saja. Mereka bagaikan satu orang yang dibelah dua," sahut suara lainnya.
Itu adalah para sahabat gadis emas itu.
"Yaa ... terkadang aku seperti berbicara pada pantulan cermin. Berbicara pada diri sendiri adalah hal yang sangat tidak masuk akal," ucap Perly membuat mereka terkekeh.
"Perly ...." Zate, pemuda serba kuning itu memanggil membuat dua orang dengan nama sama itu menoleh padanya.
"Maksudku, gadis penyelamat itu," ucap Zate.
"Aku yakin masih banyak yang belum kamu ketahui tentang dua dunia ini. Waktumu di sini masih banyak. Bertanyalah, kami akan menjawab semuanya." ucap nya pada Perly.
Perly menatap Zate dan tersenyum. Benar-benar mirip dengan sahabatnya. Dia kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Kalian mempertemukan aku dengan orang-orang baik di dunia manusia dan aku sudah sangat menyayangi mereka. Tapi pada akhirnya kami terpisah." Perly kemudian kembali menatap Zate yang ternyata masih menatapnya.
"Apa itu juga akan aku rasakan pada mereka? Kami bertemu lalu terpisah?" lanjutnya.
"Apakah kamu tidak tau dengan konsep awal yang pasti mempunyai akhir?" Gadis perak yang ada di sampingnya yang bertanya.
"Aku benci mempercayai itu. Kalau bisa, aku akan menghapus kata-kata itu," ungkapnya.
"Jadi, jika pertemuan tidak ada perpisahan, bagaimana caranya kamu bisa menyebut itu sebuah pertemuan?" lanjutnya menatap Perly.
"Jadi, aku juga akan terpisah dari mereka?" tanya Perly lagi.
"Terpisah memiliki dua arti. Terpisah tapi tetap bisa merasakan keberadaannya, dan terpisah tapi hanya bisa merasakan kenangannya," ucap Tier, si pemuda serba coklat, "Dua arti itulah yang nantinya akan kamu rasakan," lanjutnya.
Perly hanya diam mendengar jawaban mereka. Sungguh, dia benci sebuah perpisahan. Dan dia menyesal menanyai hal itu pada mereka.
"Perly, bertanyalah apa yang benar-benar ingin kamu ketahui, bukan apa yang hanya ingin kamu tanyakan," ucap gadis emas pada Perly.
"Ketahuilah, rasa penasaran dan ingin tahu itu berlainan arti. Rasa penasaranmu membuatmu semakin berpikir jauh." Dia menatap Perly dan mengusap bahu gadis itu lembut, "Jangan pikirkan itu jika kamu sudah kembali pada mereka nantinya," lanjutnya.
Dia mengangguk, "Ya baiklah," jawabnya pelan.
"Boleh aku bertanya lagi?" tanya Perly lagi.
Mereka semua kini menatapnya.
"Apa yang akan membuatku ragu pada akhirnya sehingga kamu membuat pertimbangan sebuah kemenangan dan kehancuran padaku?" tanya Perly pada gadis emas itu.
•
Masuk pada hari ke lima, dan selama itu juga Perly belum menampakkan tanda-tanda akan sadarkan diri.
Setiap saat dan setiap waktu, mereka selalu memeriksa kondisi Perly, dan selalu memberikan air dari bunga kehidupan pada Perly tapi tetap saja itu sama sekali tidak membuahkan hasil yang bagus. Yaa ... meskipun mereka juga tau kalau itu juga tak bisa diandalkan untuk memperbaiki kerusakan jantung Perly.
"Perly, bangunlah. Kembalilah pada kami" batin Marta menatap Perly dengan tatapan sedih.
"Perly aku memang berjanji akan selalu menunggumu, tapi bukan berarti kamu terus seperti ini. Setidaknya perlihatkanlah pada kami bahwa kamu ingin tetap bertahan dan kembali pada kami," batin Zate juga menatap Perly.
Dari mulai matahari menampakkan sinar, sampai sekarang warnanya sudah berganti menjadi orange, yang mereka lakukan hanya duduk di depan tempat tidur Perly menanti Perly untuk membuka matanya.
"Cava, bisakah kamu kembali memeriksanya? Mungkin saja keadaannya sudah membaik sekarang," ucap Erlie pada Cava yang duduk di ujung sana.
Cava menghela nafas. Mereka akan bergantian mengucapkan kata itu dalam waktu tiga puluh menit sekali. Menyusuh dirinya memeriksa Perly dengan berdalih mungkin keadaan gadis itu sudah baik-baik saja. Yaa ... baiklah, dia hanya menuruti, mungkin saja mereka ada benarnya. Tapi tidak lagi untuk kali ini. Bukan dirinya tak mau, tapi itu tak mungkin.
"Aku tidak ingin membuat kalian termasuk diriku sendiri semakin berharap dan pada akhirnya berakhir pada hasil yang sama. Itu akan membuat kalian semakin sedih," jawab Cava membuat Erlie menghela nafas panjang.
Tak lama setelah Cava berucap seperti itu, Befra merasakan adanya pergerakan saat dia menggenggam tangan Perly.
Sempat tak percaya, Befra meletakkan telapak tangan Perly di atas telapak tangannya.
Dan benar, jari Perly kembali bergerak lemah.
Tersenyum, semakin lebar dan semakin lebar saja, "Perly sadar!" pekik Befra membuat semua atensi beralih padanya.
Mereka dengan cepat berkumpul di depan Perly untuk memastikan apa yang Befra ucapkan.
"Aku bersumpah, aku sudah memastikannya tadi. Jarinya bergerak," ucap Befra semangat dengan kedua tangan menggenggam salah satu tangan Perly.
Cava dengan cepat mengambil tangan Perly yang lain dan menggenggamnya.
"Jantungnya kembali berdetak dengan normal," ucap Cava tersenyum senang.
Tak terelakkan. Nafas lega yang mereka buang kali ini benar-benar sangat lega. Sama-sama tau mereka kalau masing-masing menahan nafas sampai pada Cava akhirnya mengatakan hal tersebut. Mereka berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, tak ingin terlalu banyak berharap dari pergerakan tak berarti dari jari Perly.
"Tapi ...." Cava menggantung ucapannya membuat mereka semua kembali menatap cemas pada Cava.
"Cava, jika kamu sedang membuat lelucon akan aku pastikan aku akan membunuhmu saat ini juga," ucap Anta cepat sebelum Cava melanjutkan ucapannya, sudah bersiap dengan sebuah pedang di tangannya pertanda tidak ada kata main-main di ucapannya.
"Ada apa Cava? Kamu bilang jantungnya kembali normal, lalu ada apa lagi?" tanya Marta tak sabaran.
"Ya, jantungnya memang kembali berdetak dengan normal. Tapi keadaan jantungnya masih seperti awal. Hampir pecah," ucapnya membuat mereka mengernyit bingung.
"Bagaimana mungkin. Jantungnya hampir pecah dan kau mengatakan detak jantungnya normal? Itu mustahil Cava," ucap Tier dan mereka mengangguk.
"Kamu lupa kalau sebelum ini kita sudah mengalami hal-hal mustahil lainnya? Ini memang terasa sangat mustahil, tapi inilah kenyataannya," jawab Cava membuat mereka terdiam.
"Aku rasa kita tidak perlu memperdebatkan itu. Lihatlah Perly," ucap Zate membuat mereka beralih menatap Perly.
Mereka bisa melihat kalau bola mata Perly bergerak dan keningnya mengerut. Itu pertanda baik bukan?
Mereka tetap menanti dengan harapan yang sangat besar. Dan kemudian senyum cerah terbit di bibir mereka melihat Perly yang perlahan mulai membuka kelopak matanya. Ah, itu sebuah pemandangan indah, bagaimana gadis kecil yang tidur berhari-hari, kini kembali membuka kelopak mata itu untuk melihat dunia. Sungguh, ini indah.
Mata Perly kini sudah terbuka sempurna dan masih berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Perly ...." Marta memanggilnya dengan terus menggenggam tangan Perly.
Dengan sangat perlahan Perly memutar kepalanya dan menoleh ke samping di mana asal suara itu berada. Perly menatap Marta yang menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca namun bibirnya terus menyunggingkan senyuman. Kentara sekali perasaan haru menyelimuti gadis berelemen earth itu.
"M-ma-r-ta ...," lirihnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Marta bahagia, tak hanya Marta tapi mereka semua sangat bahagia. Marta mempererat genggamannya di tangan Perly dan membawanya pada bibirnya. Inginnya dia peluk saja. Peluk yang erat, kalau bisa tak dia lepaskan sampai besok pagi. Tapi sadar diri, keadaan Perly pasti belum bisa menyesuaikan dengan pelukannya nanti.
"Kamu membuatku sangat khawatir Perly," lirihnya seiring dengan air matanya yang terjatuh.
Perly hanya tersenyum lalu menggeleng. Dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suaranya saat ini.
"Perly, kamu bisa mengenali kami bukan? Apa jantungmu masih terasa sakit?" tanya Tier pada Perly dan Perly mengangguk lalu menggeleng.
"Satu-satu kalau bertanya, sudah tau dia belum bisa mengeluarkan suara," ucap Befra memukul pelan lengan Tier.
Perly kembali tersenyum, Befra terlalu peka untuk ukuran seorang gadis. Gadis itu menumpukan kedua tangannya di sisi, mencoba untuk menyanggah berat tubuhnya untuk duduk namun tidak bisa. Dia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk membawa tubuhnya bergerak terlalu banyak.
"Kamu berbaring saja. Jangan memaksakan diri jika tenagamu masih belum pulih," ucap Anta cepat.
Namun bukan Perly namanya kalau dia tidak keras kepala.
"Sudahku katakan berbaring saja. Turuti ucapanku kali ini saja," ucap Anta lagi menahan pergerakan Perly.
Akhirnya Perly hanya bisa mengangguk dan pasrah.
"A ... A-ku ...." Perly memukul dadanya pelan agar suaranya keluar.
"Jangan. Katakan saja kamu ingin apa?" ucap Befra memegang tangan Perly agar berhenti memukul dadanya.
"Kamu ingin sesuatu?" tanya Erlie dan Perly mengangguk.
Perly meraba lehernya.
"Kamu haus? Mau aku ambilkan minum?" tanya Cava dan Perly kembali mengangguk.
Cava dengan cepat beranjak dari sana dan pergi mengambilkan Perly segelas air.
Gadis itu mengedarkan pandangan, hingga terhenti pada pemuda lightning yang sepertinya menatapnya dengan intens sedari tadi. Dia membuat raut bertanya, lengkap dengan gestur tangan yang melambai lesuh di depan Zate.
Mencoba untuk peka, Erlie menyentuh bahu Zate, menyadarkan laki-laki itu, "Kau kenapa?" Dia bertanya.
Zate kembali menatap Perly, "Tidak. Hanya saja, aku merasa ada yang berbeda darimu?" ucap Zate terus memandangi Perly.
Mendengar itu, semuanya ikut menatap dan meneliti apa yang aneh dari Perly.
"Perly ...." Dia melirih, telunjuknya perlahan menunjuk tepat pada mata Perly, "Matamu ...."