Number 41

2741 Kata
Mendengarnya mereka semua memfokuskan tatapan mereka pada mata Perly, menimbulkan reaksi yang sama dengan yang Zate tampakkan. Terkejut, sangat, bercampur rasa kagum dan tidak percaya. "Perly, apa yang terjadi pada bola matamu?" tanya Marta bingung. Dan raut bingung dan Perly tunjukkan membuktikan bahwa gadis itu juga tidak tau menau tentang hal itu. Ada apa dengan bola matanya? Itu pertanyaan aneh. Jika saja dia dapat melihat bola matanya, maka dia pasti bisa menjawabnya. "Bola matanya berkilau seperti emas," gumam Erlie masih menatap takjub pada mata Perly. "Bukan. Yang aku lihat bola matanya memang berwarna emas," Befra ikut bergumam lirih. Perly mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan menggeleng. "Baiklah lihat ini." Tier dengan cepat membuat sebuah cermin di depan Perly agar dia bisa melihat pantulannya di sana. Perly menatap cermin itu dan keningnya berkerut lalu kembali menggeleng pelan. Memperhatikan sekali lagi, mungkin saja penglihatannya yang salah, pikirnya. Tapi benar, tidak ada kilau emas di sana, bola matanya masih normal, berwarna biru muda sesuai elemennya saat ini. Gelengan Perly membuat mereka semua menatap Perly, tepatnya bola matanya. "Bagaimana bisa ...." gumam Zate. "Apa aku baru saja berhalusinasi?" Tier bergumam sangat pelan. Dia bahkan masih merekam dengan jelas bagaimana kerlipan emas di bola mata Perly tadi. "Apa hanya aku yang melihat bola mata Perly yang berubah menjadi warna emas?" tanya Marta pada yang lainnya. "Tidak." Anta membantah dengan gelengan kepala, "Aku juga melihatnya. Aku yakin aku benar-benar melihatnya tadi," ucapnya dan diangguki oleh yang lainnya. "Perly, maaf aku terlalu lama. Ini minumlah aku sudah menambahkan air dari bunga kehidupan di dalamnya," ucap Cava tiba-tiba datang membawa segelas air di tangannya. Perly mengangguk dan tersenyum, menjulurkan tangannya, meminta bantuan untuk duduk. Bukannya membantu duduk, Cava hanya mengangkat sedikit kepala Perly dan membantu Perly untuk meminum airnya. "Eheem ... Ehem ...." Suara Perly sudah mulai keluar walaupun masih terdengar serak. "Bagaimana? Apa kamu merasa lebih baik?" tanya Marta pada Perly. Dia mengangguk, "Iya ... terimakasih ...," jawabnya tersenyum pada mereka dan dibalas senyum oleh mereka. "Masih ada yang kau butuhkan? Kau ingin apa? Katakan saja," kata Zate. "Boleh, bantu aku duduk?" Dia meminta yang seketika rasanya Zate menyesal mengatakannya. "Salahmu yang mengajukan pertanyaan. Sudah tau dia pandai sekali memanfaatkan situasi," sinis Anta. Laki-laki itu kemudian beralih menatap Perly, "Kau berbaring saja. Jangan keras kepala, atau kau akan kupukul," ancamnya mengangkat tangan berancang-ancang memukul, yang malah membuat Perly merotasi bola matanya malas. Dia menoleh pada Marta, "Apa dia tidak mengkhawatirkan aku ketika aku tak sadar?" tanyanya sesekali melirik Anta lewat ekor mata. "Dia bahkan sudah seperti orang gila memikirkan keadaanmu," jawabnya membuat Perly terkikik dan mengangguk-angguk ringan. Berbeda dengan Anta yang mendecih mendengarnya. Marts bukan orang yang tepat untuk berbagi cerita. Tak akan sekali-kali Anta membagi rahasia pada Marta. Bisa-bisa seluruh pengendali tau tentang rahasianya. "Ayolah, aku ingin duduk. Kalian benar-benar ingin berbicara denganku seperti ini?" Perly mengarahkan tangannya, menunjuk dirinya yang berbaring. "Itu tak masalah, kau memang butuh istirahat banyak," ucap Erlie membuat Perly total merenggut. "Aku tidak nyaman jika begini. Kalian mau ya kalau aku bertambah sakit karena tidak merasa nyaman?" Dan mereka lupa, kalau Perly sangat pandai dalam bermain peran. Zate segera mendekat dan membantu gadis itu untuk duduk, mengatur bantal sedemikian rupa, agar gadis itu nyaman dalam duduknya, "Kau sudah puas sekarang?" tanyanya di balas cengiran oleh Perly, gadis itu tiba-tiba memberi kecupan singkat di pipi si pemuda lightning, "Terimakasih. Kau memang yang terbaik," ucapnya senang membuat Zate terkekeh geli, lalu mengusak pelan rambut Perly. "Cih, berlebihan sekali," ucap Anta sinis membuat mereka menoleh padanya. Si gadis yang baru saja sadarkan diri itu, kini memicing menatap Anta, "Kenapa? Kau juga mau mendapat kecupan?" tanyanya yang masih saja dibalas tatapan sinis oleh Anta. "Tidak usah terima kasih!" Dia berbicara ketus yang malah membuat Perly kembali cekikikan. "Lalu aku?" Perly beralih menatap Tier yang kini sudah duduk di sampingnya. Sejak kapan? Dia menunjuk pipi sebelah kanannya, "Aku tak dapat?" tanyanya sudah mendekatkan pipinya pada Perly. "Kau ingin membuat Befra cemburu ya?" tanyanya yang langsung saja membuat mata Befra mengarah padanya. Tier melirik Befra, lalu terkekeh pelan, "Itu berbeda. Kau adikku dan dia kekasihku," katanya. Tier lagi-lagi menunjuk pipinya pada Perly, "Ayo, kau tak berniat membuatku pegal dengan posisi begini bukan?" tanyanya. Perly tertawa pelan, lalu dengan sekejap kecupan mendarat di pipi Tier dan kembali tertawa setelahnya, entah karena apa, tapi yang pasti, tawa itu berhasil dia tularkan pada yang lainnya. Setelahnya hening, lebih tepatnya mereka yang lebih memperhatikan Perly yang masih masih menyisakan tawa kecil di sana. "Perly, aku sungguh tidak mengerti dengan yang baru saja terjadi," ucap Erlie tiba-tiba mengalihkan atensi mereka. "Apa kamu mengalami hal yang tidak masuk akal selama kamu tidak sadarkan diri?" tanyanya lagi membuat kening Perly berkerut. "Tidak," jawabnya singkat sambil menggeleng pelan. "Itu tadi sangat aneh. Warna bola matanya berubah dan kembali pada keadaan semula dalam sekejap," ucap Erlie lagi bingung. "Yasudahlah. Yang terpenting sekarang adalah Perly sudah sadarkan diri dan kembali pada kita. Dan lebih baik kita lupakan saja kejanggalan-kejanggalan yang terjadi," ucap Befra dan mereka mengangguk setuju. "Bagaimana dengan kekuatannya?" tanya Marta pada Cava melalui telepati. "Bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya?" jawab Cava. Marta menghembuskan nafas panjang. Bagaimana cara memberitahukannya pada Perly. Dia pasti akan sangat sedih mendengarnya. "Kamu kenapa?" tanya Perly pelan menatap raut wajah gelisah Marta. Marta langsung menoleh, "Aku? Oh tidak, aku hanya memikirkan keadaanmu," jawabnya cepat. "Aku sudah baik-baik saja. Tenanglah. Kau tak lihat? Aku sudah bisa tertawa," jawabnya tersenyum pada Marta. "Tapi bagaimana kalau kamu tahu tentang kekuatanmu? Apa kamu masih akan baik-baik saja?" batin Marta masih menatap Perly dengan senyumnya, senyum palsunya. "Bagaimana dengan kalian? Apa baik-baik saja?" tanya Perly menatap mereka semua bergantian. Mereka saling tatap satu sama lain sesaat sebelum mereka tersenyum pada Perly. Senyum yang sangat terpaksa. "Tentu kami baik-baik saja. Hanya kamu yang membuat kami khawatir," jawab Tier mewakili. Gadis itu mengangguk pelan beberapa kali, "Baguslah," katanya, "Setidaknya aku tahu kalau kalian semakin menyayangi aku," ucap Perly tertawa pelan. Lagi, hanya karena tawa Perly itu dapat membuat mereka ikut tersenyum. Hah ... ternyata benar, mereka sudah semakin menyayangi manusia satu itu. Tawa Perly yang berderai, kini berangsur terhenti, menatap bingung mereka semua, "Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Perly yang menyadari tatapan mereka berbeda dari biasanya. "Perly sebaiknya kamu jangan banyak membuang tenaga dulu. Istirahatlah," ucap Cava membuat Perly menatapnya. "Terimakasih sudah menjagaku Cava. Kamu sangat baik. Tapi aku baik-baik saja sekarang," balas Perly dan tersenyum. "Berbicara soal Cava. Dia sudah tau identitasmu Perly. Kami sudah menjelaskannya padanya," ucap Zate pada Perly. "Benarkah? Apakah tidak akan terjadi apa-apa?" tanya Perly. "Selagi Cava bisa menjaga rahasianya, itu akan baik-baik saja," jawab Tier dan Perly hanya mengangguk. "Salamku, Putri," ucap Cava menundukkan kepala pada Perly. Perly terkekeh melihatnya. Pantas saja Cava bersikap agak segan padanya tadi, ternyata pemuda itu sudah tau ternyata. "Bukankah kamu menyebut kami semua adalah adikmu, dan temanmu? Jadi bersikaplah seperti kakak dan teman bagiku," ucap Perly. "Itu sebelum aku mengetahuinya. Akan tidak sopan jika aku memperlakukanmu seperti semula," jawabnya cepat. "Aku akan lebih nyaman jika kamu memperlakukanku seperti semula," tukasnya lagi lalu melirik para sababatnya bergantian, "Kau lihat mereka? Mereka saja tidak ada sopan-sopannya padaku. Jadi jangan bersikap begitu, aku tidak terbiasa diperlakukan seperti itu, " ucap Perly lagi mendapat dengusan malas para sahabatnya. "Hey, harusnya dia yang kau bilang begitu." Menunjuk Cava dengan dagunya, "Dia itu sedang cari muka, kau tau? Dia saja tidak berlaku sopan pada kami setelah tau tentang kami yang sebenarnya," sinis Anta pada Cava. "Siapa yang ingin berlaku sopan padamu? Lihatlah gaya bicaramu, kamu pikir itu sopan?" Cava menatap Anta tak kalah sinis. "Ah yaa ... rupanya kau dendam terhadapku. Kenapa baru kau lampiaskan sekarang? Tunjukkan saja dirimu yang sebenarnya sejak awal. Dasar bermuka dua!" sarkas Anta bertolak pinggang. "Ya! Aku dendam padamu. Kamu pikir aku adalah orang yang sabar? Sejak awal aku ingin sekali menjahit mulutmu itu. Tidak berhenti mengoceh dan menyalahkan orang lain," balas Cava membuat Anta semakin menatapnya kesal. "Lalu kenapa kau berpura-pura baik padaku hah?!" "Karena aku lebih mengerti situasi dari pada dirimu. Memangnya dirimu yang dari pertama sudah menunjukkan sifat yang buruk. Dasar!" remeh Cava lalu mendecih, menularkan decihan malas juga pada Anta. "Setidaknya aku menunjukkan sifat asliku tanpa menutupinya." "Sifatmu yang buruk itu? Ck. Kamu sama sekali tidak cocok untuk Erlie," balas Cava membuat wajah Anta semakin memerah karena marah. Lain hal dengan Erlie memelotot kaget. "Kenapa kau jadi membawa namaku?" ucap Erlie yang mendengar namanya disebut. Mengabaikan kata protes dari Erlie, Anta langsung menyuarakan kekesalannya pada Cava, "Apa maksudmu aku tidak cocok dengannya? Kamu pikir kamulah yang cocok dengannya? Hey! Sadarlah kamu hanya dianggap kakak olehnya. Jadi jangan berharap banyak dari itu!" ucapnya marah membuat Cava tersenyum miring. "Begitukah? Jadi kamu ingin mengatakan kalau kamu cocok dengannya?" tanya Cava. "Ya. Aku yang cocok dengannya? Memangnya kenapa? Ada masalah? Kau ingin marah?" jawab Anta cepat. "Hah ...." Cava membuang nafas berat, "Baiklah, setidaknya aku sudah tau perasaanmu yang sebenarnya," ucap Cava kembali duduk seakan tidak pernah terjadi apa-apa. "Hah?" cengo Anta seperti orang linglung. Yang lainnya hanya tertawa pelan melihatnya. Sedangkan Erlie, wajahnya sudah memerah menahan malu. "Apa yang ...." Anta menggantung ucapannya saat menyadari apa yang dia ucapkan tadi. "Aku pikir kamu adalah orang yang pintar. Ternyata kamu sangat mudah untuk ditipu," ucap Zate masih terkekeh pelan. Tidak, tidak. Anta harus meluruskan hal ini. Mereka salah paham. "Bukan itu maksudku. Dengarkan du--" "Sudahlah kamu tidak perlu mengelak lagi Anta," ucap Perly cepat menyela ucapan Anta. Gadis itu tampak sangat senang dengan hal ini. Lihat saja alis matanya yang naik turun menggoda Anta. "Anta, akui saja kalau kamu mencintai Erlie. Kami sudah melihatnya dari ucapanmu tadi. Bahkan Erlie juga mendengarnya. Bukan begitu Erlie?" tanya Befra menatap Erlie dengan tatapan menggoda. "Kenapa kalian membahas itu," ucap Erlie pelan, tak lupa untuk memalingkan wajah menutupi pipinya yang dipenuhi semburat merah merona. Kontras sekali dengan kulit putihnya. Sungguh, dia sangat malu sekarang. Kenapa Anta begitu bodoh, pikirnya. "Anta, sebaiknya kamu berterimakasih padaku karena akulah yang membuatmu mengakuinya. Aku berjasa pada urusan percintaanmu. Kamu tidak merasa berhutang budi begitu?" ucap Cava. Melihat Cava, nafas Anta kembali memburu. Gara-gara Cava, semuanya jadi seperti ini. "Ya ...." Dia mengangguk-angguk kecil, "Aku sangat berhutang padamu Cava. Aku akan membalas semua perbuatanmu." Anta berjalan mendekat ke arah Cava. Melihat itu, Cava dengan cepat mengambil langkah dan berlari menghindari Anta. "Jangan menghindar kau Cava!" teriak Anta masih mengejar Cava yang sudah berlari keluar rumah. Mereka yang melihatnya hanya tertawa dan semakin gencar menggoda Erlie yang masih berdiri di sana. Haruskah Erlie ikut berlari mengejar Cava yang menjadi penyebabnya? Atau mengejar Anta saja dan memukulnya karena terlalu bodoh sampai ditipu oleh Cava? • "Berapa lama aku akan terus beristirahat? Kapan kita akan mencarinya?" tanya Perly pada mereka semua. Ini sudah dua hari berlalu sejak Perly sadarkan diri dan mereka belum juga pergi mencari kesatria storm. "Apakah kondisimu sudah membaik?" tanya Tier padanya. Perly berdecak kesal. Apakah mereka sama sekali tidak memiliki pertanyaan lain selain itu? Dirinya juga bosan menjawab pertanyaan yang itu-itu saja. Ucap Perly dalam hati. "Untuk yang kesekian kalinya aku menjawab bahwa aku baik-baik saja dan kondisiku sudah sangat membaik. Aku sudah bisa berjalan dengan baik, berdiri lama, bahkan berlari dan melompat. Aku rasa aku juga sudah bisa memanjat sekarang, apa itu kurang baik bagimu? Perlu kulakukan semuanya terlebih dahulu?" ucap Perly menggebu. "Perly, dia hanya memastikan keadaanmu. Jika nanti terjadi apa-apa lagi padamu bagaimana?" ucap Befra. Perly meroling bola matanya malas, "Ya ya. Kalian sangat kompak sekarang. Bukankah dulu kamu selalu bertengkar dengan Tier? Lalu sekarang, kenapa kamu selalu memihaknya? Apa karena kalian adalah sepasang kekasih, begitu?" tanya Perly membuat Tier dan Befra terdiam. "Oh ayolah. Kalian jangan memperlakukan aku seperti ini. Jangan karena aku sudah tidak mempunyai kekuatan, kalian memperlakukan aku seakan aku ini tidak bisa menjaga diriku. Kalian tidak melupakan tugas kita bukan?" ucap Perly panjang lebar membuat mereka terkejut. Mereka sama sekali tidak pernah berbicara tentang kekuatan pada Perly. Lalu dari mana Perly mengetahuinya? Apa selama ini Perly sudah mengetahui itu lebih dulu? "Dari mana kamu mengetahuinya?" tanya Zate padanya. Hembusan nafas terdengar sebagai pembuka awal, "Aku sudah tau sejak awal. Aku hanya menanti kalian untuk menjelaskan jadi aku berpura-pura tidak mengetahuinya." jawabnya. "Lalu apa kamu tidak merasa sedih? Aku harap tidak, kami tidak ingin melihatmu bersedih," ucap Marta cepat. Dia yang menjaga rahasia ini, dan menyuruh mereka semua untuk juga merahasiakannya dengan satu alasan, agar Perly tidak bersedih. "Apa aku terlihat sangat bersedih? Bersedih tidak akan membuat kekuatanku kembali, jadi untuk apa? Waktuku lebih berharga dari pada memikirkan itu," jawabnya membuat mereka bernafas lega. "Jadi bagaimana dengan pertanyaanku tadi? Apakah aku akan terus beristirahat di sini?" lagi Perly mengulang pertanyaannya, "Hah ... rasanya kasur saja juga bosan karena terus aku tindih setiap waktu," lanjutnya menggumam. Mereka saling tatap satu sama lain, seperti sedang meminta persetujuan. "Perly, apa kamu tidak ingin lebih lama di sini? Kenapa kamu begitu terburu-buru ingin pergi?" tanya Cava membuat Perly menatapnya. Itu rencana lain agar Perly tetap di sana dan beristirahat, untuk jangka waktu yang sedikit lebih lama lagi. "Cava. Aku hanya tidak ingin lalai dari tanggung jawabku. Aku hanya tidak ingin Pengendali Dark semakin berkuasa di dua dunia ini," ucapnya. "Tolonglah, kamu pasti mengerti jika kamu berada di posisiku. Aku ingin cepat pergi bukan berarti aku tidak suka berlama-lama di sini," lanjutnya membuat Cava tersenyum. Maka apa kuasa Cava untuk mempertahankan ucapannya tadi? "Ya, aku mengerti. Aku menahanmu dan kalian semua di sini hanya karena aku tidak ingin berpisah dengan kalian. Kalian sudah seperti adik bagiku," ucapnya lagi. Erlie yang mendengar itu langsung memeluk Cava dari samping. "Aku juga sudah menganggapmu sebagai kakak. Kamu kakak terbaik yang aku miliki," ucapnya membuat Cava tertawa kecil. Hitungan ke lima, Anta sudah mengambil tindakan dengan menarik Erlie dari pelukan Cava untuk berdiri di sampingnya. "Aku rasa ucapanmu sudah selesai, jadi cukup berpelukan dengannya," ucap Anta tanpa menatap Erlie, namun dengan genggaman erat di tangan si gadis. Erlie hanya tersenyum gemas melihatnya, "Ya baiklah. Aku tau kau cemburu," ucapnya membuat Anta berdecak pelan. "Baiklah, mari kita pergi hari ini," ucap Tier tiba-tiba. "Hari ini? Yang benar saja," protes Zate langsung. Dia memang menyetujui, tapi tidak hari ini juga bukan? Biarkan Perly beristirahat untuk hari ini lagi, setelahnya baru mereka lanjutkan, begitu pikirnya. "Kenapa? Perly benar. Kita tidak boleh lalai dengan tanggung jawab kita. Maka dari itu, ayo kita pergi hari ini. Lagi pula ini masih pagi, semoga saja kita bisa menemukannya secepatnya," lanjutnya membuat Perly mengangguk semangat. Perly yang tadinya bersandar pada dinding, mengambil posisi duduk dan langsung berdiri. "Ayo. Bukankah kita hanya perlu menemukannya. Lihat, lambangnya sudah tergambar di jariku," ucapnya semangat. Masih ragu, mereka melirik pandang satu sama lain, mempertimbangkan baik buruknya jika mereka melangkah pergi sekarang. Tapi melihat Perly yang antusias dan semangat, apalagi senyum manis mengembang begitu sempurna di wajahnya, mereka semua tak ada pilihan untuk mengangguk menyetujui. "Baiklah, ayo," ucap Zate akhirnya. "Kalian tidak ingin membawa bekal? Hari ini tidak ada pasar, kalian akan kesulitan menemukan makanan nanti," ucap Cava setelah mereka sampai di depan rumahnya. "Kamu terlambat menawarkannya. Aku bahkan sudah membungkus air untuk perjalanan kami," ucap Erlie dari arah belakang membawa tiga kantung berisi buah-buahan dan minuman. "Dasar kau ini," ucap Cava terkekeh. Erlie hanya menampilkan senyum lebarnya dan memberikan dua kantung masing-masing pada Anta dan Tier. "Cava. Kami, terutama aku sangat berterima kasih padamu. Aku berhutang padamu, terimakasih banyak, ucap Perly menundukkan kepala pada Cava. Cava tersenyum. Ada rasa bangga dalam dirinya menjadi salah satu orang yang beruntung dapat bertemu langsung dengan gadis penyelamat yang ditakdirkan itu, "Suatu kehormatan bagiku bisa bersama kalian, terutama kamu. Apalagi aku mengetahui identitas kalian. Aku merasa beruntung untuk itu," jawabnya juga menundukkan kepala pada Perly. "Kami berjanji akan mengenang semua jasamu. Dan aku harap kita akan segera bertemu nanti," ucap Befra tersenyum dan Cava hanya mengangguk. "Kami pergi. Salam," ucap mereka bersamaan dan memberi salam layaknya putra dan putri kerajaan. "Salamku," balas Cava juga membalas salam mereka. "Berhati-hatilah selalu," ucapnya dan mereka hanya mengangguk. Cava melambaikan tangannya begitu juga mereka yang melambaikan tangannya. "Semoga saja kita bisa dengan cepat menemukan gadis itu," ucap Zate dan mereka mengangguk. "Iya. Aku juga berharap begitu. Karena peluang kita sangat besar untuk bisa menemukannya," timpal Marta. "Tak hanya itu. Petunjuk kita bertambah. Selain kalung, kita tau dia adalah seorang gadis, memiliki rambut lurus yang panjang," lanjut Perly. Dia masih ingat jelas perawakan gadis itu yang walaupun hanya menampakkan sedikit punggungnya tapi itu membantu meski sedikit. Mereka kembali melanjutkan perjalanan sambil terus memperhatikan sekeliling mencari gadis yang mereka cari. "Perly, lihatlah," ucap Erlie tiba-tiba menunjuk pergelangan tangan Perly.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN