Perly segera mengarahkan pandangan pada pergelangan tangannya. Dan selanjutnya yang terjadi adalah mereka semua terkejut melihatnya.
"Semua lambang itu kembali!" pekik Marta senang.
"Apa itu artinya kekuatan Perly juga kembali?" tanya Zate menatap mereka bergantian.
"Perly, ayo cobalah," ucap Tier senang.
Sungguh, tak terkira lagi rasanya sara senang mereka semua saat melihat lambang-lambang itu kembali. Setidaknya satu dari masalah mereka selesai bukan?
Perly menganggukkan kepalanya dan mencoba fokus untuk mengeluarkan kekuatannya.
Cukup lama mereka menunggu, namun tidak terjadi sesuatu pada sekitar mereka. Apa itu artinya kekuatan Perly tetap tidak kembali?
"Sepertinya kita tidak perlu terlalu berharap. Mungkin saja lambang itu hanya muncul dan kekuatanku akan hilang selamanya," ucap Perly menunduk lemah.
Baiklah, lupakan dengan kata-kata mereka yang satu masalah sudah selesai, ini benar-benar bum terselesaikan.
Mereka yang melihatnya ikut merasakan kesedihan. Inilah yang tidak mereka ingin lihat dari Perly. Padahal mereka sudah berharap kalau kekuatan Perly akan kembali, tapi sepertinya tidak.
Tersebyum manis, Erlie menggeser tubuh memeluk Perly dari samping, "Jangan bersedih," katanya, "Kami semua akan selalu mendampingimu, dengan atau tanpa kekuatanmu, " tambahnya.
"Iya. Setidaknya aku masih punya kalian. Tak masalah jika kekuatanku hilang asalkan aku tidak kehilangan kalian," ucapnya tersenyum tulus.
"Yasudah ayo kita lanjutkan," intruksi Zate membuat mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Bagaimana kalau kita tidak menemukannya, kita akan kembali ke rumah Cava?" tanya Marta pada mereka semua.
"Kita belum mencarinya beberapa jam, kau sudah mengatakan kemungkinan terburuknya," ujar Befra.
"Aku tak begitu. Aku hanya bertanya. Memang apa salahnya jika memastikan di awal?" Marta membalas. Tentu, gadis itu tidak pernah mau mengalah.
"Sebaiknya tidak. Aku tidak ingin kembali lagi ke sana," ucap Anta tanpa menatap Marta.
Tier menoleh, "Apa kamu takut Erlie akan direbut olehnya?" tanya Tier tersenyum jahil pada Anta.
Yang dijahili hanya memasang wajah datar andalnnya, menoleh memindai tatapan pada masing-masing mereka, "Bukan," sangkalnya, "Aku hanya tidak ingin merepotkannya. Dia sudah banyak kita repotkan," jawab Anta dan tentu saja mereka tidak percaya.
"Yasudah kalau begitu aku akan kembali ke rumah Cava," ucap Erlie sudah berbalik arah.
Anta dengan cepat menahannya, melingkarkan tangan di pinggang gadis itu dan merapat di sampingnya, "Jangan coba-coba untuk kembali ke sana!" ucap Anta tajam.
Tipe-tipe laki-laki gengsian yang posesif.
Erlie dan yang lainnya tertawa pelan melihatnya. Terlebih lagi Perly, Perly sangat gemas melihat pasangan-pasangan yang dia rasa sangat cocok, ya seperti teman-temannya ini. Sangat lucu di mata Perly.
Cukup lama mereka berjalan, diiringi oleh canda tawa. Namun tiba-tiba tidak sengaja Perly melihat sebuah tempat yang penuh dengan lukisan dan ukiran. Itu sangat menarik perhatiannya membuatnya berhenti melangkah dan terus menatap ke arah tempat itu. Cukup memberitahu bahwa dirinya sangat menyukai hal berbau seni.
"Eh, ke mana Perly?" tanya Befra yang menyadari Perly sudah tidak ada di sampingnya.
Mereka melihat sekelilingnya dan ternyata Perly berdiri di belakang mereka menatap suatu objek yang ada di depannya.
"Mau ke mana anak itu?" tanya Tier melihat Perly yang berjalan ke depan. Ke sebuah tempat di depan sana.
"Ikuti saja dia. Dia pasti ingin melihat lukisan-lukisan itu," ucap Anta menunjuk tempat yang penuh dengan lukisan itu.
Mereka kemudian mengikuti langkah Perly. Benar, Perly berhenti di depan lukisan itu. Memandang penuh kagum pada lukisan-lukisan di dalam sana. Dalam pikirannya, ternyata ada yang begitu mahir dalam melukis di dua dunia ini. Sungguh, jika dia tau siapa pemiliknya, Perly mau mengajukan diri untuk berguru. Dia ingin sekali belajar melukis.
"Kenapa kamu malah ke sini?" tanya Zate yang sudah berada di samping Perly membuat Perly terkejut.
Memberi pukulan ringan terlebih dahulu, "Kamu mengagetkan aku," ucapnya kesal.
"Yang penting bukan aku yang terkejut," jawab Zate terkekeh membuat Perly kembali memukul bahunya pelan.
Tatapannya kembali mengedar pada lukisan di depan sana. Teringat olehnya, jika setiap tahun, dia dan para sahabatnya pasti akan melihat pameran seni yang diadakan di studio mini milik kakak Agnes. Kakak Agnes yang pertama itu adalah seorang pelukis, menuruni bakat ibunya sehingga berhasil mendirikan sebuah studio lukis untuk dirinya sendiri. Ah, Perly kembali merindukan mereka.
"Kamu ingin melihatnya?" tanya Erlie pada Perly.
Langsung saja Perly mengangguk, "Iya. Bisakah? Hanya sebentar, aku sangat tertarik dengan lukisan," ucapnya menatap Erlie meminta persetujuan.
"Ayo. Aku juga ingin melihatnya." Bukan Erlie tapi Tier yang menjawabnya dan langsung membawa Perly berjalan lebih dalam.
Mereka semua masuk dan berpencar melihat-lihat semua karya seni yang ada di tempat itu. Ternyata tempat ini lebih luas dilihat dari dalam dibandingkan jika dilihat dari luar.
"Apakah tempat ini tidak ada pemiliknya? Sedari tadi aku tidak melihat pengendali selain kita di sini," ucap Zate yang ada di samping Perly dan Tier.
Perly juga berpikir begitu, padahal dia sangat ingin bertemu dengan pelukisnya.
"Permisi, apakah ada orang di sini?!" ucap Perly sedikit berteriak.
Tidak ada yang menyahuti ucapannya, "Sepertinya memang tidak ada orang," ucap Tier.
Perly menggeleng, menentang pernyataan itu, "Tidak mungkin. Tempat ini di biarkan terbuka tanpa ada orang yang membukanya, begitu maksudmu? Pasti dia berada di dalam," ucapnya berjalan pelan sembari menengok sana-sini.
"Permisi! Ada orang di dalam? Aku gadis cantik dan baik kok, aku tidak akan melukaimu dan tak akan membuat masalah!" Perly berteriak absurd menimbulkan kekehan geli dari para sahabatnya.
"Apa-apaan dia? Memangnya begitu ya caranya para manusia?" Befra bertanya.
"Aku rasa hanya dia yang seperti itu. Kau lupa kalau dia makhluk langka?" ucap Marta disambut oleh mereka.
Perly menoleh, menukik alis bingung, apa yang mereka tertawakan? Pikirnya. Tapi tak begitu dia hiraukan ketika Zate memegang pergelangan tangannya, "Sepertinya memang tidak ada orang. Kita pergi saja. Orang-orang akan menyangka kita mencuri kalau begini," ucap Zate yang diangguki oleh Tier.
"Sebentar. Aku baru saja melihat-lihat. Aku belum puas. Tunggulah sebentar lagi," ucapnya melepaskan pegangan Zate, lalu pergi ke tempat lain mencari objek lain yang ingin dia lihat.
"Biarkan saja. Kita hanya perlu menjaganya jangan melarang-larangnya," ucap Tier membiarkan Perly pergi.
Perly terus menyusuri tempat itu sampai perhatiannya terpusat pada sebuah lukisan yang sepertinya disembunyikan dari lukisan lainnya.
Lukisan itu diletakkan di antara tumpukan lukisan yang lainnya, sehingga Perly tidak bisa melihat keseluruhan lukisannya. Tapi entah kenapa, dorongan dari dalam dirinya sangat tinggi untuk mengetahui lebih jauh tentang lukisan itu. Hanya pada lukisan itu.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, langkah Perly dengan cepat mendekat ke arah lukisan itu dan mengambilnya dengan hati-hati.
Entah itu bisa di sebut dengan sebuah lukisan atau tidak. Penampakan kanvas putih itu polos, tak polos juga sebenarnya, hanya saja terdapat satu warna di sana, warna abu-abu tanpa adanya coretan yang lainnya.
Perly membolak balik lukisannya dan tetap saja tidak ada petunjuk untuk mengetahui lukisan apa itu sebenarnya. Perly melihatnya dari segala arah, dan pergerakan Perly berhenti saat dia melihatnya dari arah bawah.
Di sana dia melihat adanya sebuah gambar yang samar-samar. Lama Perly memperhatikan itu sampai dia bisa mendapat jawabannya, "Itu seperti sebuah kalung. Atau hanya pendapatku saja?" gumamnya masih terus memperhatikan lukisan itu. Terlihat ragu dengan pendapatnya sendiri.
"Benar. Itu sebuah kalung. Tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas kalung apa itu." Lagi dia bergumam.
"Nak ...." Seseorang memegang pundaknya membuat Perly terkejut dan segera berbalik badan.
Nafas lega terhel kala melihat seorang wanita di belakang sana, memasang wajah bingung di sana. Perly membawa tangannya, mengusap d**a karena terkejut, "Bibi, kamu mengagetkan aku," ucap Perly.
"Eh, maafkan aku," ucapnya
Perly malah menyengir, merasa bersalah pula dengan bibi karena melihat bibi yang terliht tidak enak hati, "Iya, tidak masalah Bibi. Ngomong-ngomong apakah kamu pemilik tempat ini?" tanya Perly padanya.
"Iya, akulah pemilik tempat ini," jawabnya tersenyum.
Perly menjentikkan jarinya senang, "Ah, kebetulan sekali. Aku ingin bertanya tentang lukisan ini. Kamu yang melukisnya?" tanya Perly mengangkat lukisan yang sedari tadi dia pegang.
"Oh bukan. Aku memang pemilik tempat ini, tapi semua lukisan ini bukanlah buatanku. Aku hanya membuat ukiran, aku tidak pandai melukis," jawabnya membuat kening Perly berkerut.
"Lalu ...." Dia menjeda ucapan sejenak, "Siapa yang membuatnya? Kamu punya seorang pekerja?" tanya Perly lagi.
Bibi itu menggeleng, "Tidak. Tapi memang ada seseorang yang suka melukis di sini. Aku memperbolehkannya, lagi pula lukisan yang dia buat sangat indah dan mempunyai nilai seni yang tinggi," jelas bibi itu membuat Perly mengangguk-anggukkan kepalanya pelan
"Di sini kamu rupanya," ucap Marta berhasil menemukan Perly. Setelah lama mereka mencari bahkan sampai ke luar dari tempat itu.
"Kami sudah mencarimu ke mana-mana. Sedang apa kamu di sini?" tanya Anta pada Perly.
Ya Perly memang berada di ruangan yang berbeda dengan mereka saat ini. Lebih terlihat seperti tempat penyimpanan alat-alat yang tak terpakai maupun yang belum di pakai.
"Aku hanya melihat-lihat tadi. Aku juga tidak tau kenapa aku sampai ke sini," jawabnya.
"Siapa ini?" tanya Erlie menunjuk bibi yang tadi berbicara dengan Perly.
"Oh, dia Bibi pemilik tempat ini. Bibi, mereka adalah teman-temanku," ucap Perly dan mereka menundukkan kepala memberi salam pada bibi itu begitupun bibi.
"Kalian dari pengendali yang berbeda? Hebat sekali kalian bisa berteman," ucap bibi itu membuat mereka tersenyum canggung.
Sebenarnya Perly masih agak aneh dengan kalimat itu. Memang apa salahnya jika pengendali lain saling berteman? Ada yang salah? Apakah di dua dunia ini satu pengendali dan pengendali lainnya tidak boleh saling dekat?
Menghapus kecanggungan yang ada, Zate segera meraih pergelangan tangan Perly, "Perly, ayo kita pergi. Kita sudah cukup lama di sini," ucap Zate pada Perly.
Namun Perly kembali menahannya, "Sebentar. Tadi aku menemukan lukisan ini. Dan ini sangat membuat aku penasaran," ucap Perly juga menunjukkan lukisan yang dia dapat pada teman-temannya.
"Ini sebuah lukisan? Aku tidak melihat apa-apa di sini. Ya ...." Marta meneliti lebih seksama lukisan itu, "Selain warna abu-abu tentunya," ucap Marta diangguki oleh mereka semua.
"Lihatlah lukisan itu dari arah bawah. Kalian pasti melihat sesuatu di sana," ucap Perly.
Mereka hanya menurut dan melihatnya dari arah bawah seperti yang tadi Perly lakukan.
"Aku tetap tidak bisa melihat apa-apa, atau memang ada masalah dengan penglihatanku?" ucap Befra terus memperhatikan lukisan itu.
Erlie mengangguk, "Ya, aku juga tidak melihatnya." ucap Erlie.
"Tapi aku rasa aku melihatnya," ucap Anta tiba-tiba.
"Benar bukan? Apa yang kau lihat Anta?" tanya Perly penasaran.
"Aku melihat sebuah kalung, benarkah?" tanyanya menatap Perly membuat Perly tersenyum lebar dan bertepuk tangan heboh, "Ya! Ya! Itu! Itu!" serunya heboh menunjuk-nunjuk Anta, "Itulah yang juga aku lihat," serunya lagi.
Sedangkan Marta di belakangnya hanya
"Benarkah? Coba aku lihat lagi," Befra mengambil alih lukisan itu dan menatapnya dengan seksama.
"Eh, dia benar. Di sana ada sebuah coretan seperti sebuah kalung. Walaupun samar, aku bisa melihatnya," ucap Befra membuat yang lainnya semakin penasaran untuk bisa melihatnya.
"Aku tidak tau ada lukisan di sana. Aku pikir gadis itu hanya sedang malas melukis jadi aku tumpuk saja di sana," ucap bibi itu menunjuk tumpukan lukisan yang lainnya.
"Gadis? Jadi ini bukan buatanmu?" tanya Erlie dan bibi itu menggeleng.
Senyum Perly melebar mendengarnya. Kata gadis yang keluar dari mulut bibi entah mengapa membuat dirinya sangat senang.
"Lalu di mana gadis itu sekarang?" tanya Perly.
"Aku tidak melihatnya sedari tadi. Biasanya dia sendiri yang datang ke sini," jawab bibi itu menatap sekelilingnya mencari sosok gadis itu.
"Sungguh, aku sangat penasaran apa maksud dari lukisan itu. Apa lagi lukisan itu sangat aneh bagiku," ucap Perly lagi.
"Kau lupa kalau semua hal bisa membuatmu penasaran?" Anta berucap.
"Sudahlah. Lagi pula ini hanya sebuah lukisan. Tidak ada hubungannya dengan kamu," ucap Zate diangguki oleh Anta dan Erlie.
"Tetap saja itu membuat rasa penasaranku meningkat," jawabnya lagi. Gadis yang keras kepala.
"Biarkan dia. Nanti kalau sudah tidak penasaran dia akan berhenti sendiri," ucap Marta dan mereka mengangguk melihat Perly memulai introgasinya pada bibi.
"Bibi. Apa dia tinggal di sekitar tempatmu?" tanya Perly pada bibi itu.
"Iya. Dia memang tinggal di sekitar sini." jawabnya.
Perly mengangguk, itu bagus, pikirnya, "Apa Bibi tau di mana tepatnya dia tinggal?" lagi Perly bertanya dan diangguki oleh bibi itu.
Perly lagi-lagi bersorak heboh, "Bibi, kau tau? Aku sangat suka melihatmu mengangguk. Kau tambah beribu kali lebih cantik," pujinya membuat bibi lantas tertawa.
Perly adalah gadis yang sangat aktif, pikirnya.
"i***t sekali anak itu," gumam Anta terkekeh.
"Aku baru tau kalau anggukan kepala membuat wanita semakin cantik," timpal Erlie ikut tertawa pelan.
Perly dan semua tingkahnya memang bisa membuat mereka terhibur.
"Bisakah kamu mengantar kami ke sana?" tanya Perly antusias.
Pertanyaan yang satu itu membuat tawa mereka terhenti. Apa-apaan? Untuk apa juga Perly ingin ke sana?
"Perly. Aku rasa itu tidak Perlu. Itu akan membuang waktu kita. Lebih baik kita pergi saja dari sini," ucap Tier diangguki yang lainnya.
"Iya. Lebih baik kita pergi dan melanjutkan perjalanan kita," timpal Zate.
Perly mencebik, "Tunggulah sebentar lagi. Kalian ini kenapa tidak sabaran sekali?" ucap Perly kesal dan kembali menatap bibi.
"Bisakah Bi? Aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku adalah pecinta seni, Bi. Tolonglah, antarkan aku padanya," ucap Perly lagi sedikit memohon.
Bibi menoleh pada teman-teman Perly yang hanya dibalas senyum canggung oleh mereka.
"Baiklah. Aku akan mengantar kalian ke sana," jawabnya membuat Perly tersenyum senang.
Dia menoleh ke belakang, lalu menunjuk bibi, "Lihat? Bibi ini baik," ucapnya yang disambut geraman gemas dari mereka. Gemas ingin meremukkan Perly rasanya.
"Ayo. Ikutlah denganku," ucap Perly mengajak mereka semua.
Dengan pasrah mereka mengikuti keinginan Perly.
"Perly dan pikirannya yang aneh memang tak cocok untuk disatukan," gumam Befra diangguki setuju oleh mereka.
Itu memang benar. Selain membuat mereka lelah, sering kalinya Perly malah membuat dirinya sendiri dalam bahaya. Itu yang kadang mereka tak suka.
Perly ikut berjalan disamping bibi tak lupa dengan lukisan yang tadi masih berada di tangannya, tepatnya di pelukannya.
"Itu rumahnya yang ada di dekat pohon itu," ucap bibi menunjuk sebuah rumah di depan sana.
"Yang mempunyai pagar pembatas?" tanya Perly memastikan.
Bibi mengangguk, "Iya yang itu."
"Baiklah. Terimakasih Bibi sudah menunjukkannya padaku," ucap Perly menundukkan kepalanya sopan, sambil tersenyum
"Sama-sama. Aku harus kembali ke tempatku," ucap bibi itu dan Perly hanya mengangguk dan tersenyum.
"Sebenarnya untuk apa kamu bersikeras sekali ingin ke sini?" tanya Anta pada Perly.
"Apa kalian masih tidak mengerti dengan lukisan ini?" tanya Perly menatap mereka bergantian.
Suara dan raut wajah Oerly terlihat lebih serius dibanding dengan saat tadi gadis itu berinteraksi dengan bibi. Mereka bertanya, apakah Perly ini mempunyai kepribadian ganda?
"Itu hanya sebuah lukisan Perly. Dan di dalamnya hanya didominasi oleh warna abu-abu dan sebuah coretan samar-samar seperti sebuah kalung," jelas Erlie dan Perly mengangguk.
"Lalu? Kalian masih tidak mengerti?"
Kening mereka berkerut mendengarnya. Memangnya apa yang salah dengan itu? Rasanya mereka tidak menemukan kejanggalan apapun di sana.
"Kalung. Kalian tidak bertanya-tanya ini kalung apa? Apa kalian tidak penasaran?" tanya Perly lagi.
"Apa kamu menganggap kalau kalung itu adalah kalung kesatria Storm?" tanya Tier yang mengerti maksud Perly.
"Kalian tidak memikirkan hal yang sama?" Perly balik bertanya seolah apa yang Tier katakan memang benar.
"Perly, ayolah. Lukisan itu tidak jelas. Bagaimana bisa kamu memastikan kalau kalung itu adalah kalung kesatria Storm?" tanya Befra pada Perly.
"Kalau benar ini adalah kalung lain. Kenapa lukisannya disamarkan? Kalung ini seperti sedang disembunyikan. Dan juga, apa kalian tidak menyadari kalau lukisan inilah satu-satunya lukisan yang hanya memiliki satu warna, dan itu berwarna abu-abu. Warna pengendali Storm," jelas Perly panjang lebar membuat mereka berpikir.
"Sepertinya aku mulai menganggap ucapan Perly masuk akal," ucap Marta setelah berpikir terlalu lama.
"Aku juga. Itu mungkin saja. Penjelasan Perly membuat lukisan itu terasa janggal. Tidak ada masalah bukan jika kita mencobanya terlebih dahulu," timpal Erlie.
"Lalu. Apakah kamu menganggap gadis yang melukis lukisan ini adalah kesatria Storm?" tanya Zate pada Perly dan Perly mengangguk mantap.
"Bukankah pengendali lain tidak mengetahui tentang kalung pengenal itu?"
Mereka mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita lihat gadis itu." ucap Anta dan diangguki oleh mereka.
"Pintunya sedikit terbuka," ucap Tier melihat sedikit celah di ntara pintunya.
"Apakah dia sedang berada di rumah?" tanya Erlie.
"Aku juga tidak yakin. Biar aku panggil," ucap Perly.
Tok! To! Tok!
"Apakah ada orang didalam sana?!" teriak Perly.
"Siapa di sana?" Seseorang menyahuti dari dalam rumah.
Perly tersenyum lebar dan menatap semua sahabatnya. Itu benar-benar suara seorang gadis.
"Bisakah kamu keluar dulu? Kami ingin bertemu." Lagi Perly berteriak dari luar.
Mereka dapat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arah mereka. Daun pintu dibuka lebih lebar.
"Iya. Apakah ada yang ...." Ucapan gadis itu menggantung di udara saat melihat orang didepannya.
"Kamu ...." pada Perly.
"Kamu yang dulu pernah menyelamatkan aku?" ucap gadis itu lagi.