Perly dan yang lainnya mengernyit bingung sesaat sebelum mereka tersenyum lebar mendengarnya.
Berarti benar, dia orangnya. Tapi tampaknya gadis ini belum mengetahui apa-apa tentang mereka.
Gadis itu membulatkan mata lalu tersenyum, "Benar!" Dia menyeru semangat, "Kamu yang dulu pernah menyelamatkan aku dari aliran listrik itu. Aku sangat mengingat wajahmu," ucap gadis itu senang memeluk Perly erat yang juga dibalas oleh Perly.
Gadis itu melepas pelukannya dan menatap Perly dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.
"Terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan aku. Aku sangat khawatir akan terjadi sesuatu padamu," ucap gadis itu lagi.
Perly menggeleng pelan, "Itu tidak masalah. Sudah kewajibanku untuk menolong sesama. Apalagi menolong seorang kesatria seperti kamu," ucap Perly masih tersenyum.
Kata kesatria yang keluar dari mulut Perly membuat si gadis lantas bingung, "Hah?" Dia terlihat tak tau dan tak paham dengan ucapan Perly.
"Apakah kamu pemilik lukisan ini? Maksudku, kamu yang melukisnya?" tanya Perly mengangkat lukisan itu.
Melirik sekilas lukisan yang Perly pegang, dan menampilkan raut terkejut di sana. Dia pikir lukisan itu sudah hilang karena dia tak menemukannya di manapun. Lalu di mana gadis itu mendapatkannya? Pikirnya.
Si gadis storm mengangguk, "Iya itu adalah buatanku. Dan lukisan-lukisan itu juga aku yang membuatnya," ucapnya menunjuk tempat lukisan tadi.
Perly mengangguk dengan senyum yang entah kenapa tak mau hilang dari wajahnya, "Berarti kamu adalah pemilik kalung yang ada dalam lukisan ini?" tanya Perly lagi yang sukses membuat gadis itu terkejut.
Sungguh, siapa sebenarnya gadis di depannya ini? Kenapa dia bisa tau tentang kesatria dan kalung? Apa dia hanya asal bicara dan kebetulan itu benar? Atau ....
"Kenapa kamu bisa tau kalau di dalam sana ada lukisan sebuah kalung?" tanyanya pelan.
"Jadi benar itu milikmu?" tanya Marta mengulangi pertanyaan Perly yang belum menjadapat jawaban pasti dari gadis itu.
Gadis itu menoleh pada Marta, lalu memberi anggukan kepala, "Iya. Aku melukis kalungku di sana," jawabnya membuat mereka kembali tersenyum senang.
Maka sekali lagi, gadis itu di buat terkejut sampai melangkah mundur saat mereka semua membungkuk memberi salam padanya. Salam yang berbeda, salam ini sungguh terlihat seperti kaumnya. Apa mereka adalah para putra putri kerajaan? Dia bertanya dalam hati.
"Salam kami, Putri," ucap mereka semua serentak.
Telunjuk gadis storm menunjuk mereka semua, memidai wajah-wajah tersenyum itu dengan tatapan yang sulit diartikan, "Kalian ...." Ucapan gadis itu menggantung di udara.
"Iya. Kami adalah kesatria itu, termasuk dirimu," jawab Zate tersenyum padanya.
Gadis itu mengalihkan tatapan, dan terdiam saat melihat senyum Zate. Senyuman yang sangat meneduhkan menurutnya. Kenapa dia baru memperhatikannya?
Gadis itu melamun atau sedang apa? Pikir Zate. Zate melambaikan tangan di depan wajah gadis itu, "Ada apa? Ada yang salah?" tanya Zate membuat gadis itu tersadar dan gelagapan.
"Ah iya. Salamku Putri, Pangeran," ucapnya juga memberi salam.
"Bisakah kita bicara di dalam saja? Pengendali lainnya mulai menatap kita dengan tatapan aneh," ucap Befra menatap beberapa pengendali lain yang melihat interaksi mereka.
Tentu saja. Mereka tidak pernah melihat para anggota kerajaan. Akan sangat terasa asing bagi mereka melihat cara mereka berinteraksi.
Gadis itu ikut menatap sekitar, "Oh tentu. Ayo silakan masuk. Aku sampai lupa mempersilakan kalian masuk," ucap gadis itu dan mereka semua masuk ke dalam rumah si gadis.
"Duduklah dulu. Aku punya sedikit buah, kalian bisa membantuku menghabiskannya bukan?" Dia bukan bertanya, melainkan menawarkan. Bahkan gadis itu tak memberi waktu dan pilihan untuk mereka menjawab iya atau tidak.
"Dia benar-benar seorang seniman lukis yang hebat." Perly memuji, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang mana, dinding rumah itu di penuhi oleh lukisan. Kalau tidak salah, namanya mural. Dan ada beberapa lukisan yang tergantung di beberapa sudut.
"Kau sangat suka lukisan ya?" tanya Tier yang dijawab anggukan olehnya, katanya, "Kau tau? Aku tidak pernah belajar bagaimana caranya melukis, bahkan aku tak bisa menggambar. Dulu ketika kecil, aku sempat membenci para pelukis dengan alasan yang sangat kekanakan untuk ukuran anak umur dua belas tahun. Alasannya, karena mereka bisa melukis dengan indah dan sempurna sedangkan aku tidak, karena itu aku membenci mereka," jelasnya lalu terkekeh setelahnya.
"Yaa ... itu memang benar-benar aneh," ucap Marta mengomentari.
Perly mengangguk menyetujui, "Itu benar. Tapi setelah aku berada di SMA--" Perly menjeda ucapannya, menatap mereka satu persatu, "Kalian tau SMA?" tanyanya dan mereka mengangguk, "Sekolahmu yang sekarang bukan?" jawab Zate dan Perly membenarkan.
"Waktu itu aku mulai kembali menyukai seni lukis, karena aku pernah melihat, kakak dari Agnes yang juga tak bisa melukis menjadi sabgat mahir karena tekun mempelajarinya, jadi, kupikir aku juga akan bisa setelah belajar nanti. Tapi aku tak pernah berniat mempelajarinya." Perly mengedikkan bahunya, "Mungkin setelah ini gadis itu bisa mengajariku," tuturnya kemudian.
"Kau bisa belajar dengannya. Aku akan membantumu menjadi sumber inspirasi untuk lukisanmu nanti," ucap Befra membuat Perly tertawa pelan.
Atensi mereka teralih pada gadis storm yang kini berjalan mendekat, dengan keranjang buah segar yang sepertinya baru saja dicuci, di tangannya.
"Ayo, makanlah," ucapnya.
Erlie tersenyum, "Seharusnya kau tak perlu repot, kamu membawa banyak di tas," ucapnya menunjuk tas yang mereka letak di lantai.
"Bukan masalah. Itu bisa dimakan untuk nanti," jawabnya tersenyum.
"Ah ya, pertama, perkenalkan namaku Putri Prelica Lareti Storm. Kalian bisa memanggilku Lica," ucapnya memperkenalkan diri.
"Namaku Befra."
"Aku Tier"
"Perkenalkan aku Erlie."
"Panggil aku Zate."
"Anta."
"Kamu bisa memanggilku Marta."
"Dan aku Perly."
Ucap mereka semua memperkenalkan diri mereka satu persatu.
"Ternyata kau lebih cantik dari yang aku banyangkan, Tuan Putri," ucap Lica menatap Perly penuh binar.
Perly tersenyum, lalu terkekeh melihat ekspresi jijik dari Marta yang terang-terangan mengejek dirinya, "Kau berlebihan. Dan juga, jangan panggil Tuan Putri. Panggil namaku saja. Aku merasa sangat jauh denganmu kalau kau begitu," ucapnya dan Lica hanya mengangguk ringan.
Tak lama setelah mereka selesai memperkenalkan diri, tiba-tiba saja telapak tangan kiri Perly mengeluarkan cahaya berwarna abu-abu, menyisakan sebuah lambang di sana, lambang Storm.
"Wah! Itu tadi menakjubkan! Kenapa lambang itu terlihat lebih indah padamu dibanding yang ada padaku!" pekik Lica bertepuk tangan senang. Sangat heboh dan berisik, menjadikan Anta, satu-satunya orang yang menutup telinga akan hal itu.
Pakaian yang Perly pakai pun kini sudah berubah menjadi warna abu-abu. Sama dengan yang Lica pakai saat ini.
Lica melongo, betapa indahnya, pikirnya, "Perly, kekuatan Storm milikmu sempurna." lagi, Lica berucap dengan semangat, "Ayo! Tunjukkan kekuatanmu. Aku ingin melihatnya," ucapnya.
Perly yang tadinya tersenyum melihat kehebohan yang Lica perbuat, kini perlahan murung.
"Ada apa? Apa aku mebginggungmu? Ah, kau tak suka suara bising ya? Maaf, aku memang selalu begini," ujar Lica tersenyum canggung.
Perly dengan segera menggeleng ribut, "Tidak, tidak. Bukan begitu, aku senang kau terlihat sangat senang melihatnya," ucap Perly.
"Lalu?" Lica bertanya, menuntut penjelasan dari satu kata itu.
"Lica, dia tidak bisa menggunakan kekuatannya. Tepatnya, dia tidak memiliki kekuatan lagi," ucap Erlie pelan.
Lica tentu terkejut, padahal dia sudah menggebu tadi, "Benar begitu? Apa yang terjadi padamu?" tanya Lica ikut bersedih mendengarnya.
"Dan tunggu," lanjutnya menggantung ucapannya, "Kamu bisa hidup bahkan tanpa kekuatan?" tanya Lica menatap tak percaya pada Perly.
"Ya, aku juga tidak percaya tapi beginilah adanya," ucap Perly mengangkat bahunya acuh.
"Apa yang terjadi sehingga kamu tidak memiliki kekuatan lagi?" tanya Lica lagi membuat mereka semua saling tatap satu sama lain.
"Akan sangat panjang jika kami menceritakannya padamu," ucap Marta mewakili.
"Tak apa. Aku akan dengan senang hati mendengarkannya," ucapnya sedikit memaksa.
Mereka menyimpulkan, Perly dan Lica adalah dua orang dengan sifat yang sama.
Akhirnya mereka menceritakan semuanya yang terjadi, pada Lica. Semua yang menjadi penyebab Perly tidak bisa menggunakan kekuatannya lagi.
"Jadi kamu seperti ini karena menyelamatkan aku?" tanya Lica menundukkan kepalanya.
Dan ini adalah alasan mereka tak ingin bercerita.
"Maafkan aku. Kalau akan seperti ini, seharusnya kamu tidak menyelamatkan aku waktu itu. Sekarang jantungmu hampir pecah dan kekuatanmu hilang," ucapnya mulai menitikkan air mata.
Perly meraih pergelangan tangan Lica untuk dia genggam, "Jika aku membiarkanmu waktu itu mungkin kita tidak bisa bertemu seperti ini. Dan bagian terburuknya adalah salah satu sahabatku hilang. Itu akan membuatku sangat menyesal nantinya," jawab Perly seraya menghapus air mata Lica.
"Walaupun ini kejadian paling buruk yang terjadi padanya. Tapi tenang saja, kamu tidak perlu merasa bersalah sendirian. Kami juga masih merasa bersalah padanya. Karena dia juga sudah menyelamatkan hidup kami semua dan dia juga mengalami hal yang buruk karena kami," ucap Anta membuat Lica menatapnya.
Kalimat panjang yang penuh kebijakan dari seorang Anta. Tanpa adanya nada sinis dan raut datar. Perly sampai berpikir, apakah Tier atau Zate sengaja masuk ke dalam tubuh Anta untuk mengambil kendali? Itu sulit di percaya.
"Jadi lupakan saja. Semakin kamu mengungkitnya maka rasa bersalah itu akan semakin besar," lanjutnya menenangkan Lica.
"Bagaimana? Rasa sedihmu sudah berkurang?" tanya Perly dan Lica menggeleng pelan, "Tapi aku merasa sedikit lebih tenang," jawabnya membuat Perly tersenyum.
"Lica, kamu mengatakan kalau kamu mengingat wajah Perly. Apa itu artinya kamu melihat kami semua waktu itu?" tanya Tier pada Lica.
Lica mengangguk dan menghela nafas berat, "Iya. Awalnya aku mendengar orang berteriak lalu aku berbalik melihat ke belakang dan melihat semuanya. Aku sangat terkejut sampai aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku juga mengikuti kalian waktu itu, tapi aku kehilangan jejak dan aku tidak menemukan kalian lagi sejak saat itu," jelasnya panjang lebar.
"Ah begitu rupanya. Ya pantas saja kamu tidak menemukan kami. Kami tidak pernah keluar dari rumah Cava sejak saat kami masuk ke dalam rumahnya membawa Perly," ucap Befra diangguki yang lainnya.
"Cava? Yang ayahnya seorang tabib?" tanya Lica membuat mereka mengangguk.
"Kamu mengenalnya?" tanya Erlie cepat.
"Iya. Dia beberapa kali datang ke tempat aku melukis, jadi aku tau namanya," jawabnya dan Erlie mengangguk mengerti.
"Lalu dari nana kamu tahu kalau ayahnya seorang tabib?" tanya Erlie lagi.
Mendengar itu, Anta jadi sangsi sendiri, "Hey. Kenapa kamu jadi banyak bertanya seperti itu? Apakah penting dia tau tentang Cava dari mana?" tanya Anta cepat pada Erlie.
"Kenapa kamu jadi marah padaku? Aku hanya bertanya," jawab Erlie.
"Erlie sadarlah. Dia cemburu padamu. Kamu tau bukan kalau dia tidak menyukai Cava karena Cava dekat denganmu. Dia pasti merasa tersaingi," ucap Zate menggoda Anta yang menatapnya kesal.
"Jadi kalian sepasang kekasih?" tanya Lica menunjuk Erlie dan Anta bergantian.
Mereka berdua saling tatap sebelum Erlie melepaskan tatapannya dan beralih menatap Lica.
"Entahlah. Dia melarangku ini itu, tapi aku rasa kami tidak pernah menjalin kasih," ucapnya tak acuh.
"Aku sungguh kasian padamu Erlie. Kamu tau? Hubungan seperti itu di dunia manusia sering disebut dengan HTS, artinya hubungan tanpa status," ucap Perly membuat yang lainnya terkekeh.
"Aku rasa begitulah yang terjadi padaku sekarang," ucap Erlie mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Contohlah aku. Aku langsung meresmikan hubungan kami," ucap Tier bangga merangkul Befra dari samping.
"Kalian juga berpasangan? Wah kenapa aku yang senang melihat kalian," ucap Lica semangat dan gemas.
Mereka semua tertawa kecil melihatnya. Rasanya lucu saja. Terkadang orang yang melihat orang lain berpasangan akan merasa iri atau mungkin akan kesal, tapi Lica malah sebaliknya. Dan rasanya dia sama saja dengan Perly.
"Oke, lupakan pembicaraan yang sebelumnya. Mari kita bicarakan tentang perjalanan kita selanjutnya," ucap Marta menghentikan tawa mereka, membawa mereka pada situasi serius kali ini.
"Oke baiklah. Akan ke mana kita sekarang? Ayo kita berangkat," ucap Lica semangat dan antusias.
"Kamu begitu ekspresif," ucap Zate terkekeh melihatnya.
"Aa ... kamu sangat manis jika sedang tersenyum," ucap Lica terang-terangan membuat Zate menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Kamu mengatakan sesuatu tentangku?" tanya Zate menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Aku mengatakan kamu sangat manis saat tersenyum," jawabnya dengan anggukan semangat.
Semuanya kembali tertawa dengan kejujuran Lica. Namun lain hal dengan Zate, wajahnya tampak memerah mendengar Lica yang memujinya secara terang-terangan seperti itu.
"Oke hentikan. Kasihan Zate sudah sangat malu," ucap Erlie menunjuk wajah Zate.
"Berarti perjalanan kita kali ini adalah ke daerah pengendali Fire. Hanya kesatria Fire yang belum kita temukan," ucap Tier dan mereka mengangguk.
"Apakah di sana sangat panas?" tanya Perly.
"Tidak. Hanya saja akan terasa sedikit hangat dibanding daerah lainnya," jawab Marta dan Perly mengangguk mengerti.
Perly merapikan anak rambutnya yang menutupi matanya.
"Perly, aku rasa semakin hari rambutmu semakin bertambah panjang," ucap Anta tiba-tiba memperhatikan rambut Perly.
"Benarkah? Aku tidak menyadari itu," ucap Perly menyatukan rambutnya dan membawanya ke samping bahunya, terlihat mengukurnya meski itu di rasa percuma. Perly bahkan tak ingat panjang rambutnya yang terakhir, bagaimana bisa dia membandingkannya?
"Iya. Aku rasa juga begitu," ucap Zate mengangguk.
"Apakah itu juga sebuah pertanda?" tanya Perly pada mereka.
"Tentu saja tidak. Memangnya ada pertanda apa dengan memanjangnya rambut seseorang? Pertanyaanmu aneh," jawab Lica terkekeh pelan.
Perly ikut tertawa kecil, "Kalian terlihat sangat aneh melihat rambutku memanjang, karena itulah aku bertanya," ucap Perly.
"Rambutmu memanjang dengan cepat, itulah yang membuat kami heran. Lihatlah rambutku hanya memanjang sedikit selama perjalanan kita," ucap Marta menunjukkan rambutnya, yang sudah pasti, Perly juga tidak tau menau apakah rambut Marta memanjang atau tidak.
"Sudahlah. Kenapa kalian jadi mempermasalahkan rambut Perly? Ayo biar aku kepang rambutmu biar terlihat lebih rapi," ucap Erlie duduk di belakang Perly.
"Kamu yang merawat rambutmu?" tanya Erlie seraya terus berkerja mengepang rambut Perly.
Perly menggeleng, "Tidak. Marta yang memperhatikannya. Aku adalah tipe yang tidak terlalu mementingkan rambut. Karena wajah cantikku sudah menunjang kecantikanku, jadi aku tidak perlu lagi memerlukan keindahan rambut," ucapnya percaya diri dan tertawa kecil.
"Ya ya. Pujilah dirimu sesuka hatimu. Kami akan berusaha untuk tidak mendengarnya," ucap Anta membuat Perly semakin tertawa.
"Perly apa ini?" tanya Erlie melihat sesuatu di belakang bahu kiri Perly.
"Apa? Aku tidak bisa melihatnya," ucap Perly berusaha menoleh ke belakang.
"Ini seperti gambar sepasang sayap," ucap Erlie setelah memperhatikan gambar itu lama.
"Benarkah?" tanya Marta dan segera melihatnya.
Tak hanya Marta, yang lainnya juga berkumpul di belakang Perly untuk melihat apa yang Erlie lihat.
"Benar. Itu gambar sepasang sayap," ucap Lica membenarkan.
"Tapi itu tidak memiliki warna," tambah Zate diangguki semuanya.
"Benarkah? Kenapa aku tidak tau kalau tanda itu ada di sana? Lalu ada apa dengan tanda itu?" tanya Perly penasaran.
"Aku rasa aku juga baru melihatnya," ucap Marta.
"Aku sungguh penasaran. Memangnya ada apa dengan tanda itu? Apakah akan terjadi sesuatu hal?" lagi Perly bertanya.
"Perly, apa kamu memiliki tanda ini?" tanya Tier memperlihatkan sebuah tanda di punggung telapak kaki kanannya.
Di sana terdapat gambar sebuah ekor mermaid berwarna coklat.
Perly membuka alasnya dan melihat kaki kanannya.
"Iya. Aku juga memilikinya, ini berwarna abu-abu," jawabnya lalu tersenyum. Dia baru tau lambang ini, dan terlihat sangat cantik. Ah, kalau saja dia tau dari dulu, pasti akan puas melihatnya.
"Itu adalah tanda bahwa kamu memiliki ekor. Dan tanda sayap di belakang bahumu menandakan kamu memiliki sayap," jelas Tier membuat Perly terkejut.
"Aku memiliki sayap?" tanyanya menatap tak percaya pada mereka semua.
"Ya itu adalah tanda seseorang memiliki sayap. Tapi tanda itu tidak memiliki warna. Dan bagian terpentingnya kamu belum mengalahkan Queen Ellona, tapi kenapa tanda itu sudah ada padamu?" ucap Lica panjang lebar.
"Ah ya. Kamu benar. Bukankah semuanya akan kembali mendapatkan sayap setelah aku berhasil memotong sayap Queen Ellona?" tanya Perly dan mereka mengangguk mengiyakan.
"Cobalah kalian lihat belakang bahu kalian. Apakah tanda ini juga ada di sana?" perintah Perly.
Mereka semua saling membantu untuk melihat belakang bahunya masing-masing.
"Tanda itu tidak ada. Sepertinya hanya kamu yang memilikinya Perly," ucap Marta di angguki yang lainnya.
"Pasti ada yang salah di sini," gumam Perly berpikir.
"Perly. Bukankah kamu bisa berinteraksi dengan pendahulu itu? Coba tanyakanlah padanya. Aku sangat tidak tenang dengan rasa penasaran seperti ini," ucap Tier pada Perly.
Beberapa hari ini. Banyak kejadian tak mengenakkan membuat dirinya terlalu takut akan sebuah ketidakpastian. Takut jika Perly kembali mendapat masalah akan hal itu.
"Perly kamu ...." Ucapan Lica menggantung di udara sambil menunjuk Perly.
"Iya. Dia memang bisa. Dan jangan meminta kami untuk menjalaskannya lagi," ucap Anta cepat.
"Perly ...," panggil Perly dalam hati sambil menutup matanya.
Perly membuka matanya dan semuanya kembali mematung. Ah bukan, waktunya kembali terhenti.
"Kenapa tanda ini sudah ada? Apakah jantungku sudah membaik?" tanya Perly pada dua gadis yang mirip dengannya itu. Lebih tepatnya pada kedua dirinya yang lain.
"Bukankah aku sudah mengatakan kalau jantungmu membaik saat kamu berhasil menemukan kesatria terakhir? Dan sekarang masih tersisa satu kesatria yang harus kamu cari," jawab gadis emas.
"Itulah inti dari pertanyaanku," ucapnya, "Bagaimana dengan tanda ini? Kamu mengatakan kalau tanda ini akan muncul ketika kekuatanku membaik," ucap Perly lagi.
"Tapi tanda itu belum memiliki warna Perly. Sama halnya dengan lambang kesatria yang ada di punggung jarimu. Bukankah itu juga tidak memiliki warna sampai kamu menemukan mereka?" jawab gadis perak.
"Lalu bagaimana caranya aku mengetahui kalau semuanya sudah membaik?" lagi Perly bertanya.
Gadis emas itu menyapukan tangannya di udara membuat kedua tangan Perly mengeluarkan cahaya berwarna emas.