Number 44

2658 Kata
Perly menatap takjub pada kedua pergelangan tangannya. Bagaimana tidak, semua lambang yang ada di tangannya sekarang berubah menjadi berwarna perak dan emas. "Kenapa ... kenapa semua warna lambangnya berubah?" tanya Perly masih dengan tatapan takjubnya. Dialihkan tatapan dari tangan pada dua gadis di depan sana, sarat akan mencari penjelasan yang sudah jelas tak dapat dirinya pecahkan sendiri. "Itulah wujud asli dari semua lambang yang ada di tubuhmu," jawab gadis perak. Gadis emas itu menjentikkan jarinya dan sekarang terdapat sebuah cermin berukuran besar di depan Perly. Cermin yang sangat cantik dan indah, pun memiliki perpaduan warna emas dan perak. Di sana Perly melihat pantulan dirinya. Ada sebuah lambang di keningnya membuat Perly berdiri dan berjalan mendekat ke arah cermin itu. Perlahan, Perly menyentuh keningnya, menatap lamat-lamat lambang itu, yang tentu saja berwarna emas dan perak. Perly sempat berpikir, apakah ini warna dari masing-masing gadis pengendali itu? "Lambang apa ini?" tanyanya bingung masih menyentuh lambang yang ada di keningnya itu. "Kamu akan tahu apa itu nantinya," ucap gadis emas. Cermin itu hilang dan Perly langsung berhadapan dengan gadis emas itu. Namun Perly kembali terkejut melihat gadis itu. Apa itu? Bagaimana Perly menjelaskannya? "Kenapa kamu berubah?" tanyanya menunjuk gadis itu. "Bukankah kamu ingin melihat wujudmu nanti?" tanya gadis emas itu pada Perly. Gadis emas dan gadis perak sama-sama menutup matanya. Kemudian mereka mengembangkan sayap mereka masing-masing membuat sayap itu terlihat semakin besar, membentang luas sampai rasanya memenuhi ruangan itu. Kedua gadis itu kembali membuka mata, tersenyum pada Perky yang tampak serius memperhatikan mereka. Perly harus terkejut lagi, berkali-kali yang kali ini di iringi decak kagum dan takjub sekaligus tak menyangka, ah, bagaimana dia menjelaskan perasaannya saat ini? Di depan sana, tubuh kedua gadis itu baru saja menyatu, di mana, sisi kiri adalah gadis perak dan kanannya gadis emas, membentuk satu tubuh. "Sangat indah ...," gumam Perly pelan. Matanya benar-benar tak bisa lepas dari pemandangan di depannya. "Inilah wujudmu Perly," ucap gadis itu dengan suara yang menggema di pendengaran Perly. "Kamu bertanya apa yang kamu butuhkan untuk memusnahkan pengendali Dark. Wujud inilah yang kamu butuhkan. Wujud pengendali paling sempurna yang pernah ada, wujud yang paling di takuti juga paling di idam-idamkan semua pengendali. Dan kamu tau? Untuk mendapatkan wujud yang seperti ini, kamu harus melewati dan mempunyai semua hal yang aku katakan kepadamu dulu," jelasnya lagi. "Termasuk lambang ini?" tanya Perly menunjuk keningnya. Gadis itu mengangguk, "Ya, termasuk lambang itu," jawabnya, "Kamu tau itu lambang apa?" Dia kembali bertanya dengan Perly yang menggelengkan kepala. "Itu adalah lambang dari dirimu, hanya milikmu. Tidak datang dari diriku ataupun kakakku, lambang itu, benar-benar hanya kamu yang memilikinya. Kamulah satu-satunya penguasa yang memilikinya," jawabnya membuat Perly semakin mengernyit bingung. Gadis di depannya ini seperti sedangkan menekankan satu kata yang sedari tadi terus dia ulang dalam kalimatnya. "Kenapa hanya aku yang memilikinya?" Perly ajukan pertanyaan. Gadis itu tersenyum, hanya tersenyum. ~ "Perly, apa kamu tidak mendapatkan jawaban apa-apa darinya?" tanya Befra saat mereka sudah kembali melanjutkan perjalanan. Perly menghembuskan nafas panjang. Dan beralih menatap Befra. "Apa yang harus aku katakan agar kamu tidak mengulang pertanyaan yang sama?" Perly balik bertanya. "Apa aku baru saja bertanya dengan pertanyaan yang sama?" Dijawab decakan kesal oleh Perly, "Dan itu juga merupakan pertanyaanmu yang sama sedari tadi," ucapnya malas membuat Befra terkekeh. "Ya, aku hanya penasaran saja. Kamu yakin dia sama sekali tidak memberitahumu petunjuk apa-apa?" "Ya. Aku yakin. Sangat yakin," jawab Perly dengan nada lelah. "Sangat yakin? Tak mungkin dia tak mengatakan apa-apa," ujarnya masih bersikeras. Perly berdecak keras, menghentakkan kakinya kuat, lalu menatap Tier, "Tier!" teriaknya membuat pemilik nama tentu terkejut dan menghentikan jalan, menatap Perly yang menatap tajam dirinya dengan raut kesal. "Urus gadismu itu! Astaga! Dia membuatku hampir menangis!" pekiknya kesal yang sebenarnya ingin sekali mereka tertawakan, tapi melihat mata gadis itu yang berkaca-kaca mereka urungkan niat untuk sementara. "Oke, oke, baiklah. Aku tidak akan menanyakan itu lagi padamu, aku berjanji kali ini," ucap Befra memperlihatkan genggaman tangannya pada Perly, membuat sebuah janji. Gadis itu kembali berjalan, masih dengan hentakan kuat dari kakinya, pertanda marahnya belum usai, "Itu juga salah satu kalimat yang kamu ulangi sedari tadi," ucap Perly lagi membuat Befra terkekeh pelan. "Sebaiknya kita mengambil jalan ke daerahku. Itu dekat dengan daerah Pengendali Fire," ucap Tier. Anta menatap Tier dengan sebelah alis yang terangkat. Terlihat sangat tidak setuju dengan usul Tier. "Tier, itulah mengapa orang-orang selalu mengatakan bahwa, berpikirlah terlebih dahulu sebelum berucap. Kamu pikir berjalan dari daerah Storm menuju daerahmu itu hanya membutuhkan waktu yang sebentar?" tanya Anta menatap Tier. Tier terdiam sejenak dan tersenyum lebar sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Kali ini Anta benar. Dia tidak bisa menyangkal. Lagipula kenapa dia bisa melupakan hal itu? "Aku lupa kalau kita masih di daerah Storm," ucapnya membuat Anta berdecak kesal. "Mungkin kita bisa ke rumahku. Setelah itu kita mengambil jalan ke daerah Pearl. Bagaimana?" usul Zate meminta persetujuan mereka semua. "Sepertinya itu jalan terdekat yang kita punya sekarang," ucap Erlie menyetujui. "Baiklah. Mari kita ambil jalan itu," ucap Marta dan diangguki yang lainnya. "Arrkkhh ...!" Tiba-tiba Perly merintih kesakitan sambil memegangi dadanya. "Perly, ada apa denganmu?" tanya Lica menahan pergelangan tangan Perly. "Kenapa jantungku ... arkkh ... tiba-tiba terasa sakit!" ucapnya sesekali merintih. "Kenapa ini?" ucap Erlie panik melihat Perly yang terus saja merintih kesakitan. "Arrkkh ...!" Tak kuat berdiri, Perly akhirnya ambruk ke bawah dengan kedua lututnya menjadi tumpuan. Beruntung, Marta dan Lica juga ingin menyanggah bobot badannya. "Perly bertahanlah," Tier sudah bersiap untuk kembali menyalurkan kekuatannya pada Perly. "Jangan," cegah Perly membuat Tier berhenti, "Jangan gunakan kekuatanmu lagi," lanjutnya. "Perly, ini bukan saatnya untuk berdebat. Bertahanlah," ucap Tier lagi dan kembali mencoba untuk menyalurkan kekuatannya pada Perly. Dengan sedikit tenaganya, Perly menjentikkan jarinya membuat waktu di sekitarnya berhenti berputar. Perly terbaring di bawah dengan masih memegangi dadanya yang terasa sakit. "Apakah akan selalu terjadi seperti ini?" tanya Perly entah pada siapa. "Semakin matang proses penguatan jantungmu, maka itu akan terasa semakin sakit," jawab sebuah suara. Perly tau, gadis emas itu, dialah yang menjawabnya. Hanya saja, Perly hanya tidak tau kalau gadis itu juga merambatkan tangan di d**a, merasakan sakit yang Perly rasakan saat ini, bahkan bisa dikatakan, kalau dia jauh lebih sakit. "Ini ... aarkkkh ... rasa sakit pertamaku. Tapi ini sudah sangat sakit bagiku," ucap Perly lagi. Gadis emas membuka matanya, menurunkan tangan dan melihat Perly di bawah sana, "Perly. Kamu masih ingat dengan kata-kataku bah--" "Aku tidak akan menyerah. Aku mengeluh bukan berarti aku menyerah," ucap Perly cepat menyela suara itu. "Bukankah aku hanya perlu meredam rasa sakitnya? Baiklah. Aku akan mencobanya," ucap Perly lagi. Dengan susah payah Perly berusaha untuk duduk di tempatnya dan mencoba untuk meredam rasa sakit di dadanya, tepatnya jantungnya. Perly menutup matanya, menarik nafas dalam kemudian kembali membuka matanya, menatap gadis emas yang masih berdiri di sana. "Kau menjadikan aku pengendali yang paling jahat," ucapnya dengan tampang datar, menahan segala gelanyar sakit di dadanya. Gadis emas tersenyum. Cukup terkejut dirinya kala Perly mengatakan itu, "Jadi kau mengetahuinya?" tanyanya membuat Perly semakin memasang wajah datar. "Kenapa kau melakukannya?" Perly bertanya. "Lalu apa yang harus aku lakukan?" Perly memaksakan diri untuk berdiri, satu tangannya memegang dadanya yang kembali terasa berdenyut. "Kau mengatakan, aku yang harus melewati masa-masa ini. Lalu kenapa kau mengambil peran dengan menyalurkan rasa sakit itu padamu? Aku mungkin tak tau menau debgan takdir apa yang kau buat, aku juga tak tau apa kuasa yang bisa kau lakukan. Tapi satu yang kau lupa, kau adalah diriku. Setidaknya itu menguntungkan. Tanpa bertanya sekalipun aku tau apa yang kau lakukan," ucap Perly panjang lebar. "Yaa ... itu juga membuatku cukup terkesan dan terkejut. Lalu, bagaimana kau tau? Kakakku yang menjadi teman berceritamu?" tanya gadis itu. Perly hanya menatapnya semakin intens, "Kurasa tak penting lagi aku mengetahui dari mana. Yang jelas, bisakah kau tidak melakukan itu lagi?" Dia meminta. Gadis itu malah terkekeh yang kemudian langsung memejamkan mata menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul, "Kau mengkhawatirkanku?" tanyanya setelah itu. "Aku hanya mengkhawatirkan diriku sendiri. Aku tak ingin tumbang lebih dulu,"ujarnya. Perly tak lagi mendapat jawaban maupun tanggapan. Dan Perly rasa, diapun tidak membutuhkannya. Dia hanya ingin menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, itu saja sudah cukup tanpa adanya balasan dari lawan bicaranya. Perly berbalik, mengambil posisi yang sama ketika dia menghentikan waktu. "Maafkan aku, karena aku harus merahasiakan ini dari kalian semua," ucap Perly menatap semua sahabatnya yang masih diam mematung. Saat Perly sudah merasa lebih baik, Perly kembali menjentikkan jarinya dan semuanya kembali normal. "Sudah Tier. Aku sudah lebih baik," ucap Perly cepat menahan pergelangan tangan Tier membuat Tier menghentikan kegiatannya. "Jangan berucap jika hanya untuk membuatku tenang Perly. Situasi seperti ini tidak bisa dianggap kecil," ucapnya lagi membuat Perly tersenyum. "Perly. Sudahlah, biarkan kami menolongmu," timpal Zate. "Apa kalian tidak melihat aku sudah baik-baik saja sekarang? Percayalah, jantungku tidak lagi terasa sakit," ucap Perly meyakinkan. Mereka memperhatikan Perly dengan seksama. Perly sama sekali tidak terlihat sedang menahan sakit, dan dia juga terlihat baik-baik saja sekarang. "Benarkah? Kamu tidak membohongi kami bukan?" tanya Marta memastikan. "Jangan memasang wajah beraktingmu itu, aku tak akan memaafkanmu jika aku tau kau berbohong," ucap Anta mengancam. Selalu, pria itu adalah lelaki yang penuh dengan ancaman. "Bukankah kalian juga tau kalau aku sedang berbohong atau tidak?" "Sudahlah. Mungkin itu hanya rasa nyeri yang masih ada karena peristiwa dulu. Ayo kita lanjutkan lagi," ucap Perly sudah berdiri dengan perlahan. Ya walaupun rasa sakitnya sudah menghilang, tetap saja dia harus berhati-hati agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan. "Aku rasa tidak perlu sekarang. Lebih baik kita kembali ke rumah Lica untuk beristirahat, dan besok kita lanjutkan." ucap Zate tiba-tiba. "Kamu gila? Kita sudah cukup jauh dari rumah Lica dan kamu meminta kita agar kembali ke sana? Sia-sia saja perjalanan kita ke sini. Tidak perlu, aku sudah baikan," jawab Perly. "Lebih gila lagi jika kita meneruskan perjalanan ke daerahku. Lihat kondisimu sekarang, dan aku yakin di tengah perjalanan kita, malam akan segera tiba. Akan semakin berbahaya untukmu," jawab Zate panjang lebar. "Apa kau takut?" tanya Perly cepat. "Kau bercanda?" Respon yang Perly berikan sungguh tak dapat dia percaya. "Ayolah. Bukankah sebutan kesatria melekat didiri kita? Seharusnya kita harus hadapi apapun itu bahaya dan rintangan yang datang kepada kita. Kalau seperti ini terus menerus, kita akan membuang waktu terlalu banyak," ucap Perly lagi. "Tapi Perly. Dengan kondisimu seperti ini, sama saja kita mencari mati. Walaupun kita adalah kesatria yang ditakdirkan itu, tatap saja untuk saat ini kekuatan Dark lebih berkali lipat dari pada kita," ucap Tier menyetujui ucapan Zate. "Baik, dengarkan aku. Bukannya aku ingin mengandalkan nama itu untuk menang, tapi bukankah kalian sendiri yang mengatakan bahaya yang kita dapat pasti akan lebih besar dari pada ini. Jika kita terus menghindar kapan kita akan menghadapinya? Kapan kita akan memulainya jika kita terus takut seperti ini?" tanya Perly menatap mereka satu persatu. "Memangnya kenapa kalau mereka mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pada kita? Bukankah bisa ular yang beracun juga bisa melumpuhkan raksasa? Ayolah, kita tidak boleh bertumpu pada kekuatan, masih banyak cara yang bisa kita lakukan selain menggunakan kekuatan. Yakinlah dengan kemampuan kalian, yakini diri kalian kalau kalian pasti bisa. Jika mereka bisa lebih kuat dari pada kita, kenapa kita tidak? Kita juga harus bisa," lanjutnya menyemangati mereka semua. Ya, jika jujur. Mereka memang terlalu takut untuk menghadapi bahaya di luar sana, dan menjadikan keadaan Perly sebagai alasan. Mereka terlalu takut dengan kemungkinan buruk yang mereka pikirkan yang tentunya kemungkinan itu belum tentu akan terjadi. Mereka terlalu takut untuk mengambil resiko dan membuat mereka terus mengulur dan bersembunyi. Perly benar, mereka takut, mereka terlalu mengedepankan sifat pengecut yang mereka sembuyikan lewat khawatir pada Perly. "Ya, kamu benar. Kami terlalu takut untuk menghadapi bahaya," ucap Tier akhirnya menundukkan kepalanya. "Dan kami terlalu mementingkan keselamatan kami sendiri sehingga kami terus bersembunyi," timpal Erlie. "Lalu apa kalian akan terus seperti ini? Semua orang mengharapkan kita, dan kita juga ingin mengharapkan orang lain? Dengan kata lain, kalian ingin menyerah. Bukan begitu?" tanya Perly lagi membuat mereka semua beralih menatapnya. "Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Lica pada Perly. Tak masalah dengan kata pengecut atau semacamnya, tapi jangan dengan kata menyerah. Mereka sama sekali tidak memikirkan kata itu sekalipun dalam masa sulit sekalipun. Atau ... apakah mereka yang tidak sadar telah tidak sengaja melakukannya? "Bukankah begitu garis besarnya? Apa kalian ingin mengelak kalau kalian ingin menyerah?" tanya Perly menatap Lica. "Aku pernah di posisi kalian. Aku pernah ingin menyerah karena ketakutan yang ada dalam diriku. Tapi apa gunanya menyerah? Apa dengan menyerah, Pengendali Dark akan musnah dengan sendirinya? Apa mereka akan merelakan kita menang karena kasihan melihat kita yang telah lelah dan akan pergi dengan sukarela dari dua dunia ini?" Perly menatap mereka bergantian lalu menggeleng pelan, "Tidak. Itu tidak akan terjadi sampai kapanpun," lanjutnya. Perly menghembuskan nafasnya panjang kemudian tersenyum menatap mereka semua. "Aku bukan ingin memaksakan hal ini pada kalian. Tapi jika kalian ingin menyerah, ingatlah semua perjuangan dan perjalanan yang sudah kita lewati untuk mencapai titik ini. Tidaklah mudah, kita memulai semuanya dari nol," ucap Perly lagi lalu pergi menjauh dari mereka semua. Berjalan menuju daerah Lightning. Mereka terus menatap punggung Perly yang berjalan semakin menjauh. "Aku tak akan kembali ke titik nol. Aku tidak ingin menjadi pecundang yang berjalan mundur," ucap Marta dan berlari menyusul Perly. Mereka semua saling tatap untuk beberapa saat. "Entahlah, aku rasa aku sependapat dengan Marta. Aku akan meneruskannya," ucap Zate juga menyusul mereka berdua. "Aku rasa kita tidak mempunyai waktu untuk menyerah," ucap Lica menatap mereka semua. "Tunggu apa lagi? Ayo kita susul mereka," ucap Anta dan mereka mengangguk. Mereka ikut berlari mengejar Perly, Marta dan Zate di depan sana. "Jadi kalian sudah memutuskannya?" tanya Perly setelah mereka semua sampai di sampingnya. "Memangnya apa lagi yang harus kami pilih? Kami tak punya pilihan lain selain terus berjuang," jawab Tier. "Kami membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menunggumu. Sia-sia jika kami berhenti sampai di sini," ucap Befra. Anta menimpali, "Aku rela untuk dipisahkan dari ayahku dan istanaku. Aku juga tidak ingin membuat mereka menanti kedatanganku terlalu lama." "Jangan lakukan jika kalian terpaksa. Kalian bisa mengatakan kapanpun padaku jika kalian ingin menyerah," ucap Perly lagi. "Sudahlah jangan kamu membahas itu lagi. Kami tidak akan pernah menyerah, dan akan terus berjuang bersamamu," ucap Erlie dan diangguki yang lainnya. "Terimakasih," jawab Perly tersenyum pada mereka semua. "Kami yang berterimakasih karena kamu sudah menyadarkan kami dan menyemangati kami semua," ucap Marta juga tersenyum pada Perly. Mereka kembali melanjutkan langkah mereka, namun belum beberapa langkah, Perly berhenti di tempatnya saat mendengar sebuah suara memanggil namanya. "Aku rasa aku mendengar seseorang sedang memanggilku," ucap Perly membuat mereka ikut berhenti. "Siapa? Tidak ada yang memanggilmu. Tidak ada orang lain di sini selain kita," ucap Zate menatap sekelilingnya. "Perly, aku di bawah sini. Di dekat semak belukar samping kananmu." Lagi suara itu terdengar jelas di telinga Perly. Perly segera memutar kepala untuk melihat sumber suara itu. Ya di sana ada semak belukar tapi Perly tidak menemukan apa-apa di sana. Perly berjalan mendekat dan melihat lebih dekat ke arah semak belukar itu. "Di mana kamu?" Perly bertanya dalam hati. "Apa yang anak itu lakukan?" gumam Anta bertanya, memperhatikan Perly dari tempat mereka berdiri. "Entah. Dia terlihat mencari sesuatu," jawab Zate mengangkat bahunya. "Aku di bawah sini, di bawah," ucap si suara itu lagi membuat Perly berjongkok. Seekor kelinci berwarna putih bersih, itu yang Perly temukan. "Kamu yang memanggilku?" tanya Perly tersenyum padanya. "Iya. Salam ku, Putri." ucapnya dan Perly dapat melihat kelinci itu menundukkan kepalanya sedikit. Perly ikut menundukkan kepala lalu mengusap pelan kepala kelinci itu. Sangat lembut, kelinci ini terlihat begitu terawat. Entahlah, dia nyaman mengusap makhluk lucu berbulu itu. Perly menoleh ke belakang, mengibaskan tangan mengintruksi teman-temannya untuk mendekat, "Kemarilah. Kelinci ini yang memanggilku," ucap Perly pada yang lainnya. Mereka berjalan mendekat dan ikut berjongkok di samping Perly. "Apa yang dia katakan padamu?" tanya Tier. "Dia belum mengatakan apa-apa," jawabnya. Tangan Perly lagi-lagi mengusap bulu halus kelinci itu, "Kamu ingin menyampaikan sesuatu padaku?" tanya Perly pada kelinci itu. "Tuan Putri, saat ini daerah Lightning dserang Dark," jawabnya membuat Perly membulatkan bola matanya terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN