Number 30

3453 Kata
"Kalian melihat aku dan teman-temanku bukan? Aku tau kalian pasti sedang memperhatikan kami. Apa yang harus aku percaya? Kamu membuat aku yakin, dan mereka juga membuat aku yakin kalau sebenarnya aku bukanlah dirimu. Setidaknya berikan aku bukti kuat untuk mempercayaimu," batin Perly. "Apa itu begitu penting bagimu? Apa itu ada hubungannya dengan tujuanmu?" suara itu menjawab pertanyaan Perly. Perly menatap teman-temannya yang masih sibuk berargumen, berarti benar hanya dia yang bisa mendengarnya. "Kamu mengatakan kalau dirimulah yang akan memperbaiki kesalahan ini, jika ternyata aku bukanlah dirimu berarti bukan aku orang yang mereka nantikan selama ini. Jadi berikan aku bukti agar aku bisa mempercayaimu," ucap Perly lagi. "Kamu bersikeras meminta bukti pada adikku, itu artinya kamu sudah sangat percaya padanya sehingga kamu tidak ingin membiarkan pendapat mereka benar adanya, bukankah itu yang saat ini kamu maksudkan?" Suara itu terdengar lain dari suara yang pertama menjawabnya. Dan Perly tau siapa itu. Ingatan Perly akan dua suara dari dua gadis yang serupa dengannya itu sangat kuat. Perly tak pernah melupakannya dan tak sulit untuk membedakannya. "Perly, apa kamu mencari bukti hanya untuk memperkuat keyakinanmu terhadap dirimu sendiri?" tanya gadis itu lagi. "Aku hanya tidak ingin mereka keliru dalam menilai generasinya sendiri," jawab Perly. "Jadi kamu mempercayainya bukan?" tanya suara itu. "Ya aku mempercayaimu, jika bukti yang aku pinta bisa meyakinkan aku," jawab Perly lagi Sekali lagi, Perly menoleh pada mereka yang masih setia pada dunia perdebatannya. Bahkan tak sadar jika dirinya sama sekali tidak terlibat di dalam sana. Tapi itu bagus, setidaknya mereka tidak akan bertanya dan menaruh curiga padanya. "Baiklah dengarkan ini. Generasi pertama dan generasimu saat ini di kehidupan para pengendali sama halnya dengan perputaran roda. Di titik mana roda itu memulai perputarannya, maka pada akhirnya akan berakhir di titik yang sama dan kembali memulai perputarannya, perputaran yang sama seperti perputaran awalnya. Hanya saja yang berbeda jalan yang dia lalui tidak akan sama dengan awal perjalanannya, kecuali dia berjalan mundur," jelas gadis emas. Perly hanya diam. Dalam hatinya diam-diam dia berucap lega. Berarti tidak akan sia-sia selama ini mereka menunggu dirinya. Tidak sia-sia pula perjalanan mereka yang sudah sebegini panjangnya. "Aku rasa kamu dapat mengerti dengan baik apa yang aku sampaikan," lanjutnya. Perly tak lagi mendengar apa-apa setelah kata terakhir yang terdengar di telinganya. Namun Perly masih terdiam memikirkan ucapan gadis itu. Apa itu artinya semua yang ada di sini memang sudah terjadi pada generasi sebelumnya? Benar begitu? Perly memelototkan matanya saat menyimpulkan itu. Perly memperhatikan Tier yang sedang menjelaskan pendapatnya pada yang lainnya. Tepat sekali mereka sedang membahas generasi pertama. Generasi si gadis emas dan perak itu. "Satu yang kamu lupakan," ucap Perly tiba-tiba membuat semua mata terarah padanya. "Para putri dan pangeran itu memiliki nama yang sama persis dengan nama kita," lanjutnya. Mereka terdiam. Tentu. Pernyataan mustahil dari orang yang bahkan tak mencapai angka ke tiga bulan dia berada di dua dunia ini. Bagaimana bisa mereka percaya begitu cepat? "Apa maksudmu? Kamu tau tentang generasi kita sebelumnya?" tanya Marta menatap Perly bingung. Tak sempat Perly menjawab, Anta lebih dulu memotong, "Jadi kamu sependapat dengan Tier hanya karena nama kita sama dengan para putri dan pangeran itu?" tanya pemuda plants itu, juga menatapnya bingung. "Aku percaya bukan karena pendapat Tier, tapi dari awal aku memang sudah percaya dengan itu," jawab Perly. Memutuskan untuk menceritakannya sudah hal yang tepat bagi Perly. Bagaimanapun juga, mereka berhak tau tentang diri mereka sendiri. Dan juga, ini adalah perjalanan mereka bersama, Perly rasa, hal ini bukanlah hal yang cocok untuk disimpan menjadi rahasia. "Apa alasanmu mempercayainya? Hanya karena kesamaan sebuah nama? Aku rasa itu tidak bisa mengubah pandanganku soal itu," ucap Zate menatap Perly. Masih bersikeras mempertahankan pendapatnya. "Bukan hanya nama. Wajah kita, tanggal lahir, pukul berapa kita dilahirkan, di mana atau dengan cara apa kita dilahirkan, apa yang ada di diri kita termasuk orang tua kita. Semua itu memang sudah terjadi pada generasi pertama di dua dunia ini. Kalian tau apa yang membuatnya berubah pada generasi ke dua sampai ke tujuh? Karena pendahulu di generasi pertama yang membuat kesalahan itu. Bukankah kalian sudah tau ceritanya seperti apa?" jelas Perly pada mereka semua. Mereka terdiam mendengar penjelasannya. Juga, terheran mungkin? Bagaimana bisa Perly bisa tau apa yang tidak ditulis di buku takdir yang mereka jadikan pedoman untuk mengetahui semua yang ada di dua dunia ini? "Benar apa yang Marta katakan, pendahulu itu menulis ini semua karena masih ada yang belum tuntas darinya, karena itulah dia membuat mereka semua terlahir kembali untuk memperbaiki kesalahannya. Yang berbeda hanyalah jalan yang dilalui bukan perputaran rodanya," lanjutnya lagi. Yaa, itu cukup mengejutkan. Dan cukup lama juga mereka terdiam setelah Perly menyelesaikan ucapannya. Dari sekian panjangnya Perly berbicara, Tier menangkap kejanggalan yang paling menonjol menurutnya, dia bertanya, "Perly, dari mana kamu mengetahui kalau kita adalah generasi ke delapan dari dua dunia? Aku rasa kita belum pernah membahas itu sebelumnya," ucap Tier menatap Perly begitupun yang lainnya yang juga menatapnya penuh tanya. Dan giliran Perly yang terdiam. Di dalam sana, hati dan otaknya berperang. Hatinya berkata, 'katakan saja, mereka juga memiliki hak untuk tau tentang dirimu'. Namun itu dibantah oleh otaknya yang berteriak, 'jangan!' ya, hanya jangan tanpa penjelasan. "Apa kamu diberitahu oleh pendahulu itu lagi?" tanya Befra pelan. Lihat? Mau bagaimanapun, mereka terlalu tau tentang dirinya. Perly menatap Befra dan tersenyum. Senyum lembut yang terlihat dewasa dari umurnya. Senyum yang mungkin baru mereka lihat selain senyum konyol dan senyum lebar miliknya. "Lebih tepatnya aku yang bertanya padanya. Awalnya aku sudah membahas ini dengannya, tapi mendengar pernyataan Zate aku menjadi ragu. Karena itulah aku bertanya dan meminta bukti padanya agar aku bisa mempercayainya sepenuhnya," jelasnya lagi. "Jadi kamu benar-benar bisa berinteraksi dengannya?" tanya Anta masih tidak percaya. Perly mengangguk, "Begitulah kira-kira," ucap Perly seadanya. "Tapi untuk apa kamu bertanya padanya? Hanya untuk membuat kami percaya?" tanya Marta pada Perly. "Iya. Aku tidak ingin ada salah paham diantara kita. Dan aku tidak ingin kita terpecah hanya karena sebuah pendapat yang berbeda," jelasnya lagi. Dirinya kemudian melirik Anta dan Zate bergantian, "Jadi, apa kalian berdua masih tidak percaya?" "Walaupun aku masih merasa itu mustahil, tapi aku tidak bisa untuk tidak mempercayainya. Apalagi pendahulu itu sendiri yang memberitahumu. Memangnya apa lagi yang bisa kubantah?" ucap Zate diangguki Anta. "Baiklah berarti kita akhiri perdebatan kita tentang terlahir kembali. Dan sekarang kita harus memikirkan di mana kita akan bermalam? Hari sudah mulai gelap," ucap Befra menatap langit. "Apa tidak ada daerah pengendali yang dekat dari lokasi kita sekarang?" tanya Perly. "Sebenarnya daerahku tidak terlalu jauh dari sini. Tapi jika berjalan ke sana aku rasa itu juga tidak mungkin. Kita tidak akan ada waktu untuk beristirahat dengan cukup nantinya," ucap Befra. "Bagaimana kalau di bawah tanah? Bukankah kalian berdua bisa membuatnya?" tanya Zate pada Marta dan Tier. Marta mengernyit, menampakkan gurat tak setuju di sana, "Lalu apa yang terjadi ketika kekuatan kami menipis nantinya? Itu akan membuat perjalanan kita semakin lambat," ucap Marta di setujui oleh Tier. Selagi mendengar teman-temannya berdebat, Perly membawa matanya untuk berkeliling, melihat-lihat sekitar dengan berpikir, apa yang bisa mereka jadikan tempat untuk beristirahat kali ini. Tak cukup lama baginya untuk memberi pendapat, "Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk membangun rumah sementara? Maksudku kita hanya perlu membuat atap dan dinding, itu tidak akan membutuhkan banyak kekuatan bukan?" ucap Perly memberikan usulan. "Aku rasa itu juga akan membutuhkan banyak kekuatan. Membuat sebuah rumah bukanlah hal yang kecil untuk di lakukan," ucap Zate, dan semuanya mengangguk setuju akan hal itu, termasuk perly sendiri. "Itu benar, tapi tidak akan se-rumit itu jika kita menggunakan pohon yang rindang itu," ucap Perly menunjuk salah satu pohon yang tidak terlalu tinggi namun cukup besar dan rindang. "Kita hanya perlu menambahkan dinding di masing-masing sisi dan belakangnya. Untuk penghalang Anta akan membuatnya, dan aku hanya perlu menambahkan sedikit tumbuhan menjalar didedaunan itu agar semuanya tertutup. Bagaimana?" jelasnya lagi. Tiba-tiba saja jika arsitek-nya mengapung kepermukaan. Jangan salah, dia belajar banyak tentang dunia arsitek dari papa yang lulusan arsitektur. Marta yang lebih dulu mengangguk, "Mungkin itu tidak terlalu buruk. Apa salahnya kalau kita mencoba usulannya," ucap Marta. "Baiklah. Lagipula kita hanya mempunyai satu usulan saat ini," ucap Anta diangguki yang lainnya. Mereka berjalan ke arah pohon itu dan menatap ke atas. "Kamu yakin ini akan berhasil?" tanya Tier tanpa menatap Perly. Gadis itu tersenyum dengan pandangan yang masih mengarah ke atas sana, "Ya aku yakin. Befra dan Marta yang akan membuat dindingnya. Kamu membuat tempat tidur, Zate membuat penerangan, aku membuat atap dan Anta yang akan membuat penghalangnya. Kalian setuju?" ucap Perly membagi tugas mereka. Mereka semua mengangguk pelan, namun kemudian menggeleng kuat membuat Perly menatap mereka bingung. "Kau, diam saja. Aku yang akan membuat penghalang dan atapnya." Anta berucap sambil menunjuknya yang mana diangguki setuju oleh yang lainnya. Kecuali Perly tentunya. "Ck. Jangan mulai! Biarkan aku bekerja dan menggunakan kekuatanku," ucapnya yang entah mengapa mereka serentak sekali untuk menggelengkan kepala. "Tetap tidak. Biar Anta saja yang melakukannya. Kau duduklah, atau lakukan apa yang ingin kau lakukan selain bekerja," ucap Zate membuat Perly mencebik kesal. Ini 'kan ide darinya, kenapa malah mereka yang mengaturnya? Tidak adil! Tanpa ingin mendengar bantahan lebih lanjut dari Perly, mereka langsung mengerjakan tugas masing-masing sesuai dengan apa yang Perly intruksikan tadi. "Kalian menyebalkan!" teriak Perly yang hanya disambut kekehan dari mereka. • Pagi ini setelah menghabiskan makanannya dan mengembalikan keadaan pohonnya, mereka berenam kembali melanjutkan perjalanannya. Walaupun bekal dan air terjun plants yang mereka punya hampir habis tapi mereka tidak memikirkan itu, karena tempat tujuan mereka tidak terlalu jauh lagi. "Apa di buku takdir itu tertulis nama para pendahulu di generasi pertama itu?" tanya Perly di dalam perjalanan mereka. "Yang tertulis hanya nama dari penulisnya, selain itu tidak ada lagi nama pendahulu yang lainnya," jawab Tier. Marta mengangguk, segera menimpali, "Ya benar. Di buku milikku juga tidak ada nama-nama mereka." Perly menghela nafasnya panjang, pundaknya menurun lesuh, "Kalau saja namanya ada di sana, pasti kita lebih mudah untuk mencari kesatria yang lainnya," ucap Perly. "Ah, ya kamu benar. Kamu mengatakan kalau nama mereka mirip dengan nama kita, jika kita tau namanya kita bisa saja bertanya pada para pengendali," ucap Befra menyetujui dan Perly pun mengangguk. "Jika semudah itu, perjalanan kita tidak akan di namakan petualangan," ucap Anta. "Tapi setidaknya kita memiliki petunjuk. Tidak seperti ini, mencari seperti seseorang yang kehilangan arah," ucap Perly. Mereka semua terdiam, tidak ada yang berbicara sampai Tier membuka suara. "Perly, apa kamu masih menginginkan untuk kembali pada dunia manusia?" tanyanya tiba-tiba membuat Perly terdiam. Hanya tiba-tiba untuk Perly, karena tadi malam, mereka sudah membahas ini ketika gadis itu tidur. Mengingat dulu Perly yang pernah menangis karena rasa rindu pada orang-orang yang ada di dunia manusia, mereka sekarang sepakat kembali menanyakannya pada Perly. Harus siap menerima apapun jawaban yang terlontar dari mulut Perly nantinya. Lama Perly terdiam sampai kemudian dia menggeleng dan tersenyum. "Aku pikir duniaku memang di sini. Walaupun tidak akan mungkin rasanya, tapi aku sedang mencoba untuk melupakan mereka. Karena mungkin saja mereka juga sedang berusaha melupakan aku, jadi untuk apa aku masih mengingatnya," jawabnya tetap tersenyum. "Bagaimana kalau ternyata mereka terus bersedih dan menanti kedatanganmu?" tanya Befra membuat Perly kembali terdiam. "Aku yakin mereka bisa memulai hidup baru tanpa aku. Ayolah, aku hanya satu diantara seribu orang yang ada diantara mereka, jawabnya yakin. Anta terkekeh, "Kamu tidak perlu berusaha untuk terlihat kuat. Perlihatkan saja sisi lemahmu pada kami. Karena itu akan membuat kami membantumu untuk tetap kuat," ucap Anta tanpa menatap Perly. Perly menghembuskan nafas panjang, "Apa aku sangat terlihat sedang berpura-pura?" tanyanya. "Kamu sangat tidak pandai dalam hal berpura-pura," jawab Marta terkekeh membuat Perly tersenyum kecut. "Jadi apa yang harus aku lakukan selain berpura-pura?" tanyanya. "Sudah aku katakan, tunjukkan sisi lemahmu, jangan sebaliknya," jawab Anta. "Apa aku harus menangis? Atau harus berteriak kalau aku sangat ingin bertemu dengan mereka?" tanya Perly lagi. Mereka tersenyum, "Jika itu diperlukan, kami tidak masalah mendengar tangisan ataupun teriakanmu," jawab Zate. "Kalian membuatku terlihat sangat lemah," gumamnya pelan. Mereka kembali terdiam, lebih tepatnya menunggu Perly untuk berbicara. "Aku sangat merindukan Mama dan Papa." Akhirnya Perly berucap sambil menundukkan kepalanya. Mereka hanya diam tidak menanggapinya. "Aku mengatakan pada Mama kalau aku tidak akan melakukan hal aneh saat tour. Mama juga sudah memperingatiku agar aku berhati-hati dan jangan membuatnya cemas seperti tour tahun lalu. Tapi aku malah membuatnya semakin parah. Dan Papa, terakhir kali aku bersama dengannya satu bulan yang lalu sebelum dia pergi ke luar kota untuk bekerja. Aku bahkan tidak berpamitan padanya. Aku masih ingat, terakhir sebelum dia pergi ke luar kota, dia berkata akan mengajakku liburan." Perly bercerita dengan nada yang mulai bergetar. "Aku juga rindu Vanya, aku rindu Agnes dan Teta. Aku juga rindu pada anggota OSIS-ku, guru-guru dan semua yang mengenalku. Aku rindu ketika jam pelajaran kosong, aku dan teman sekelasku akan bernyanyi dengan sangat lantang di kelas. Ketika aku ulang tahun mereka yang memberiku kejutan dan hadiah. Mengerjai guru atau temanku yang lainnya. Tertawa di kelas, dihukum bersama, saling mencontek, adu pendapat. Aku rindu semua itu. Aku menginginkan semua itu kembali," lanjutnya sudah mulai terisak. Perly berhenti berjalan dan berjongkok di bawah, menyembunyikan kepalanya pada lipatan tangannya dan menangis. Befra yang melihat itu ikut berjongkok dan menenangkannya, mengusap punggungnya tanpa mengatakan apa-apa. Semua yang melihat itu hanya dapat menghela nafas panjang. Mereka tidak bisa mengatakan kalau mereka mengerti dengan apa yang Perly rasakan, karena nyatanya mereka tidak akan mengerti. Tapi mereka tau betapa sedihnya Perly saat ini. "Apakah tidak apa jika kita lakukan itu?" tanya Zate pada yang lainnya. "Aku rasa itu tidak akan berpengaruh. Kita hanya membutuhkan waktu sebentar untuk itu," jawab Marta. "Tapi itu akan sangat beresiko baginya dan bagi kita juga," ucap Anta. "Anta benar. Kita juga harus memikirkan resikonya," ucap Tier. "Tapi jika dia terus seperti ini, juga tidak akan baik baginya," ucap Marta lagi diangguki oleh Zate. Mereka terdiam memikirkan apa langkah yang harus mereka ambil. "Baiklak kita tidak mempunyai pilihan lain," ucap Tier lalu ikut berjongkok di depan Perly. "Perly," panggilnya sambil mengangkat bahu Perly. Menampakkan wajah Perly yang merah penuh air mata. Tier menghapus jejak air mata itu, sangat tak cocok ada air mata kesedihan di sana. Tier tak suka. "Jika kamu mau, kami bisa membantumu kembali pada mereka," ucapnya tersenyum menatap Perly. • Tangis Perly perlahan berkurang dan terhenti saat mendengar ucapan Tier. Apa katanya tadi? Membuatnya kembali pada mereka? Pada keluarganya? Yang ada di dunia manusia? Benarkah? Ini sungguhan? Dia bisa kembali? Itulah pertanyaan yang berputar di kepalanya saat ini. Perly menatap lama mata Tier yang begitu terlihat bersungguh-sungguh akan hal yang baru saja dikatakannya, "Apa kamu hanya sekedar berucap untuk menghiburku, agar aku tidak menangis lagi?" tanya Perly pada Tier. "Tier bilang jika kamu mau. Tidak masalah jika kamu tidak mau. Toh semua keputusan ada di tanganmu," ucap Anta padanya. Mata Perly yang berair menjadi berbinar. Senyum lebar perlahan terbit dari bibirnya, "Jadi kamu serius? Aku bisa kembali pada mereka? Bagaimana caranya? Katakan padaku Tier!" Perly sangat bersemangat memegang kedua bahu Tier dengan senyum lebar yang kini menghiasi wajahnya. "Apakah dia memang tidak ingin ada di sini? Lihatlah betapa bahagianya dia saat tau dia bisa kembali ke dunianya yang dulu. Dia seperti tidak menganggap kita ada di sini untuknya," gumam Anta pelan melihat antusias Perly. Semuanya tersenyum tipis melihat Perly yang begitu semangat. Sejujurnya mereka tidak ingin melakukan ini, mereka juga sedikit merasa kecewa pada Perly. Apakah Perly sama sekali tidak menganggap kalau mereka juga sangat menyayangi dan menjaganya? Sehingga hanya orang-orang di dunianya dulu yang dia pikirkan. Apa di pikirannya benar-benar tidak ada mereka? Apa dia tidak mengingat tujuannya dan kebersamaan yang mereka lalui bersama dalam beberapa waktu ini? Tidakkah Perly ingat bahwa dua dunia ini lebih membutuhkan dirinya daripada dunia manusia? Banyak pertanyaan yang muncul di kepala mereka, namun mereka tetap menguatkan hati untuk tidak melontarkannya langsung di depan Perly. Mereka masih sangat menjaga perasaan gadis cantik ini. Mencoba untuk memposisikan diri pada Perly meski rasanya itu tak mungkin. Melihat Tier yang tak memberi tanggapan, segera Perly beri sedikit guncangan pada bahu pemuda itu, "Tier jawab aku. Benarkah aku bisa kembali pada mereka? Benarkah aku bisa menjalani hidupku dengan mereka seperti dulu?" tanya Perly lagi membuyarkan lamunan Tier. Tier tersenyum kecut, dan mengangguk pelan. Tidak bisakah Perly merasakan apa yang mereka rasakan saat dia berucap dengan begitu semangat seperti itu? "Tentu. Kamu bisa kembali pada mereka. Kamu bisa menjalani kebiasaanmu dulu bersama mereka dan kamu tidak perlu lagi merisaukan mereka," jawab Tier tetap tersenyum. Perly semakin tersenyum lebar, namun perlahan senyum itu surut, menatap mereka satu persatu, "Tapi bagaimana dengan kalian? Apakah tidak apa jika aku meninggalkan kalian semua?" tanya Perly lagi. Mereka terdiam sejenak sampai Befra menjawabnya. "Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu tidak perlu mencemaskan kami. Bukankah ini yang kamu inginkan? Kami juga akan ikut senang jika kamu senang," jawabnya tetap menampilkan senyum di wajahnya. Itu bohong. Sepenuhnya bohong. Tak terdapat kejujuran di sana. Meski Perly merasa senang jika kembali ke dunia manusia, mereka tidak akan pernah bahagia. Terlebih, apa jadinya jika penyelamat dua dunia ini pergi tanpa menyelamatkan dunianya terlebih dahulu? Mereka tentu akan hancur seiring dengan kepergian Perly. "Benarkah begitu?" tanyanya. Matanya berhenti pada Marta yang seketika langsung tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangan. Menjaga jarak dari kontak mata dengannya. Tier yang ada di depannya hanya mengangguk dan tersenyum. Perly ikut tersenyum melihat Tier tersenyum lalu memeluk Tier erat, "Tidak perlu melakukan itu," ucapnya dipelukan Tier membuat Tier terkejut. Perly mengurai pelukannya menatap mereka satu-persatu, "Bukankah kalian yang mengatakan padaku kalau aku tidak perlu berpura-pura kuat? Lalu ada apa dengan kalian? Kalian semua baru saja melakukannya," ucap Perly menatap mereka semua. "Apa maksudmu? Itulah yang kamu inginkan. Kembali pada duniamu yang dulu," ucap Zate menatapnya bingung. Di sana, Perly malah tersenyum lebar, menghapus kasar air mata di pipinya, "Ternyata tidak sulit untuk melihat seberapa besar kalian menyayangi aku. Sudahlah jangan mengelak lagi, aku tau kalian sangat menyayangiku," ucap kembali melanjutkan langkahnya. "Ah, ternyata tidak sia-sia aku ikut seni teater di sekolah, kemampuanku semakin bertambah saja," gumamnya kemudian terkekeh pelan. Mereka masih cengo. Bahkan Marta merasa paling bodoh di sini. Apa dia baru saja dibodohi oleh gadis nakal itu? Benar begitu? "Jadi sedari tadi kamu hanya berpura-pura?" tanya Befra mengikuti Perly dari belakang. "Bukan aku yang tidak pandai dalam berpura-pura. Tapi kalianlah yang tidak mahir dalam hal itu. Hah ... tampaknya kalian harus berguru padaku," jawabnya seraya terus berjalan. "Hah ... bagus sekali. Kita berlima, dia sendiri. Dan tidak ada satupun dari kita yang menyadari itu tipuan," ucap Zate. Mereka kesal karena di kerjai, meski tak dapat dipungkiri pula, mereka merasa sangat senang dan lega. Setidaknya Perly benar-benar serius dalam menjalani tugasnya, dan menghargai kebersamaan mereka selama ini. Di depan sana, Perly mengangkat telunjuknya, "Dan satu lagi. Aku tidak akan kembali pada mereka. Aku sudah membuat banyak kenangan di sana, aku rasa aku juga bosan berada di sana. Lagi pula duniaku yang sebenarnya ada di sini. Jadi jika kalian mengira aku melupakan tujuan dan tanggungjawabku di sini, berarti kalian tidak benar-benar mengenalku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan lakukan semua kewajibanku di sini," ucapnya tanpa berbalik dan terus berjalan seolah dia berbicara pada dirinya sendiri. "Untuk pertama kalinya aku ditipu oleh seorang gadis kecil," ucap Anta terkekeh pelan. "Yaa ... setidaknya aku memiliki alasan untuk selalu menyayangi dan menjaganya." ucap Tier tersenyum menatap Perly dari belakang. Mereka terus berjalan sambil sesekali bercerita dan bercanda. "Ada dua jalan di sini. Kita akan lewat yang mana?" tanya Perly menunjuk jalan bercabang dua di depannya, bertanya dengan tampang polosnya. "Ambil yang kiri. Kalau yang kanan, kamu akan pergi ke daerahku." ucap Tier sedikit mendorong Perly ke kiri. Perly mengangguk-angguk, "Baiklah. Ayo semuanya, ambil yang kiri. Kalian ikuti aku, aku yang akan memimpin jalan," ucapnya berjalan diurutan paling depan. Mereka mendengus mendengarnya. "Apa-apaan dia," gumam Marta. "Ya pimpinlah sesuka hatimu. Jika kamu salah jalan dan tersasar, kami tidak akan mencarimu," ucap Anta membuat Perly berhenti dan berbalik. Melipat tangan di atas perut, mendongakkan kepalanya, "Aku tidak yakin itu akan terjadi. Karena kalian, terutama kau," telunjuknya menunjuk Anta, "Sangat menyayangiku dan kalian tidak akan membiarkan sesuatu apapun terjadi padaku," jawabnya penuh percaya diri. Anta mendecih, "Kesampingkan rasa percaya dirimu. Itu akan menyusahkanmu nanti jika itu tidak sesuai kenyataannya," balas Anta. "Hey, kau lupa kalau aku sudah mengetesnya tadi? Jadi jangan mengelak lagi," ucap Perly kembali berjalan di depan. Anta terdiam dan berdecak kecil. "Baiklah. Sepertinya kamu tidak akan menang jika berdebat dengan Perly," ucap Zate menepuk pelan bahu Anta. "Tentu saja karena aku mengalah padanya. Dia adalah adikku," jawab Anta. Masih membela diri ternyata. Apa salahnya katakan iya saja? "Ah, kamu menganggapnya adik rupanya. Berarti benar, kamu memang menyayanginya. Jadi jangan mengelak," ucap Marta mengikuti gaya Perly. "Ck. Kalian sangat menyebalkan!" ucapnya kesal dan berjalan beriringan dengan Tier yang ada di belakang Perly. Marta, Zate dan Befra hanya tertawa melihat raut kesal Anta. Bukankah selama ini mereka yang dibuat kesal olehnya? Jadi tidak masalah bukan, jika dia juga merasakan kesalnya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN