Number 29

3077 Kata
"Juga? Apa kamu juga memilikinya?" tanya Perly. "Tidak. Zack pernah melihat ini juga saat festival," jawab Zack dan Perly hanya tersenyum. "Mungkin Zack keliru melihatnya. Gelang yang seperti ini pasti banyak yang memilikinya," ucap Perly. "Kamu yang keliru Perly. Gelang pasangan seperti itu hanya dibuat satu pasang oleh seseorang. Ayahku mengatakan, kalau para seniman sangat menghargai kisah cinta antar pasangan. Karena itulah, jika mereka membuat suatu karya seni yang mempunyai pasangan, mereka hanya akan membuatnya satu pasang. Karena mereka tidak ingin ada yang lain yang membuat keduanya hancur," jelas Marta dan Perly membulatkan mulutnya seraya mengangguk pelan. Ada yang begitu ternyata di sini. Dia baru tau. "Zack melihat orang yang memakai gelangnya?" tanya Befra. "Zack tidak melihat wajahnya, dia memakai penutup wajah dan juga jubah yang menutup kepalanya," jawab Zack membuat Befra menghela nafas lesuh. "Padahal aku berharap kalau Zack menjawab, laki-laki. Itu artinya Perly akan berjodoh dengannya," ucapnya pelan. "Kenapa Zack bisa tau kalau dia juga memakai gelang ini?" tanya Perly lagi. "Zack terpisah dari ibu, dan kakak itu yang membantu Zack. Jadi Zack melihatnya saat memegang tangannya. Seperti ini," ucap Zack mengangkat tangan Perly yang dia genggam. Perly mengangguk pelan beberapa kali, "Begitu ya? Yasudah tidak perlu dibahas. Kalian juga, jangan meracuni pikirannya dengan urusan percintaan. Dia masih terlalu kecil untuk itu," ucap Perly menoleh pada teman-temannya. Mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka sampai di bawah pohon besar tepat di depan air terjun plants. "Di sinikah dulu Zack menunggu ayah dan ibu Zack?" tanya Tier pada Zack. "Iya. Lalu mereka pergi ke sana," ucapnya menunjuk air terjun di depannya, tepatnya di tempat mereka dulu pernah berenang. "Kita tunggu saja di sini, mungkin saja orangtuanya akan datang lagi ke sini," ucap Zate diangguki yang lainnya. Mereka terus menunggu, sampai pada matahari yang kini sudah berada tepat di atas mereka, itu artinya mereka sudah sangat lama menunggu di bawah pohon itu. "Bagaimana kalau kita titipkan Zack pada tetangga dekat rumah Zack. Kita sudah terlalu lama menunggu," ucap Anta memberi usulan. Yang lainnya mengangguk dan sekarang menatap Perly seperti meminta persetujuan. "Mau bagaimana lagi? Sepertinya hanya itu pilihannya sekarang," ucap Perly. "Ayo, Zack" Mereka berdiri dan berjalan menuju daerah pengendali Plants. "Zack!" Belum jauh mereka berjalan, seseorang memanggil mereka dari belakang. Merasa familiar dengan suara itu, Zack menoleh ke belakang dengan senyum lebar miliknya, "Ayah! Ibu!" teriak Zack dan segera berlari pada dua orang yang memanggilnya. Mereka berpelukan dan ibunya yang sepertinya menangis. Perly dan yang lainnya tersenyum melihat Zack akhirnya bertemu dengan orangtuanya. "Apa kalian yang menjaga Zack?" tanya ayah Zack. Mereka hanya mengangguk. Ayah Zack langsung menunduk pada mereka semua, "Terimakasih. Kami berhutang budi pada kalian semua," ucapnya lagi. "Tidak apa-apa. Kami senang Zack bisa kembali pada kalian," jawab Perly. "Kami harus pergi sekarang. Jagalah Zack. Dia anak yang baik," ucap Marta pada orang tua Zack. "Zack, jaga dirimu, Sayang," ucap Perly mengelus rambut Zack. Zack melepas rengkuhan ibunya, kemudian mendekat ke arah Perly dan memeluk tubuh Perly. Gadis itu tersenyum, memilih berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Zack dan kembali memeluk anak itu. "Terima kasih, Kakak Cantik," ujarnya membuat Perly terkekeh. Melepas pelukan itu dan mengusak pelan rambut Zack, "Sama-sama, Tampan," ucapnya yang mana membuat Zack tersipu malu. Ah, Perly jadi gemas lagi! Bagaimana ini? Apa dia harus membawa Zack saja? Namun pemikirannya sudah lebih dulu terbaca oleh Marta yang segera menepuk bahunya dan membawa Perly berdiri. Memberi senyum dan menunduk singkat pada kedua orangtua Zack sebelum mereka semua beranjak dari sana, namun baru beberapa langkah, mereka kembali berhenti. "Nak, apa yang ada di punggung jarimu?" ucap ibu Zack. • Perly terdiam di tempatnya saat mendengar itu. Perly dan yang lainnya berbalik dan tersenyum pada orang tua Zack. Berusaha untuk tampak se-tenang mungkin, "Bibi berkata sesuatu?" tanya Befra. Bibi menunjuk tepat pada tangan Perly, "Aku melihat sesuatu di punggung jari gadis Plants itu. Boleh aku melihatnya?" tanyanya lagi seraya berjalan ke depan. "Apakah dia tau tentang lambang ini?" tanya Perly dalam hati. Marta dan Tier yang ada di belakang Perly, maju ke depan, tepat berada di kedua sisi Perly dan menggenggam masing-masing tangan Perly sebentar lalu kembali melepasnya. "Boleh aku melihatnya?" tanya bibi setelah sampai di depan Perly. Tangannya terulur ke depan, membuat tetesan keringat Perly semakin terasa. Namun belum sampai bibi meraih tangan Perly, ada tangan lain yang menghentikannya, "Jangan seperti ini. Kamu terlalu mencampuri urusannya," ucap ayah Zack ternyata sudah berada di samping istrinya. Bibi pun langsung menarik kembali tangannya. Merasa tidak enak dengan Perly. Sedangkan suaminya langsung menatap Perly dan menunduk pelan, "Maafkan istriku," ucapnya. "Tidak apa-apa. Biarkan Bibi melihatnya," ucap Marta sedikit mendorong tangan Perly, membuat sang pemilik tangan dengan cepat menatapnya. Marta mengangguk dan tersenyum pada Perly, seolah mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Akhirnya dengan ragu dan perlahan, Perly mengangkat tangannya diikuti perasaan yang berdebar akan rasa takut. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat lambang-lambang itu sudah tidak ada di tangannya. Hilang entah ke mana? Dia menoleh pada Marta dan gadis itu lagi-lagi menganggukkan kepala. Dan Perly dapat bernafas lega. Ternyata mereka menyembunyikannya, ucapnya dalam hati. "Aku pikir aku melihat sesuatu di punggung jarimu tadi," gumam ibu Zack pelan sambil membolak balik kedua telapak tangan Perly. "Mungkin Bibi salah lihat," ucap Tier masih tersenyum. "Sudahlah. Aku merasa tidak enak pada mereka," ucap ayah Zack menarik tangan istrinya lagi. Kedua suami istri itu tersenyum canggung pada Perly dan yang lainnya. "Maafkan sikap Bibi. Kalian pasti merasa tidak nyaman," ucapnya menatap mereka bergantian. Dan semakin merasa bersalah kala tatapannya jatuh pada pemuda plants yang memasang wajah datar di sana. "Ah, tidak masalah, Bi. Aku juga memiliki sifat seperti Bibi. Rasa ingin tauku sangat tinggi," jawab Perly tersenyum. "Kalau begitu kami pergi dulu, Paman, Bibi dan Zack. Kami harus segera pulang," ucap Zate. Zack melambaikan tangannya pada mereka dan mereka pun melambaikan tangannya pada Zack. "Itu tadi hampir saja," ucap Anta bernafas lega. Dia tadi juga ikut gelisah omong-omong. Untung saja dia cukup ahli dalam bermain peran. "Bagaimana lambang itu bisa hilang? Kalian menyembunyikannya lagi?" tanya Perly. Marta mendengus mendengarnya, "Ya tentu saja. Seharusnya kamu bisa menyembunyikannya di saat seperti tadi," jawab Marta tak santai. "Jangan menyalahkan aku, aku tidak tau caranya. Lagi pula kamu juga tidak pernah memberitahuku bagaimana caranya," gumam Perly pelan namun Marta masih bisa mendengarnya. "Astaga Perly!" pekiknya sedikit keras membuat Perly terkejut. "Sudah aku katakan kalau kekuatanmu sudah sempurna, kamu hanya perlu fokus pada apa yang ingin kamu lakukan. Kamu hanya perlu fokus untuk menyembunyikannya lalu itu akan tersembunyi. Kamu pikir dulu saat kamu membungkus bunga kehidupan itu dengan cara apa? Kenapa pemikiranmu tidak sampai ke sana?" ucapnya kesal. Tidak habis pikir dengan pemikiran cemerlang Perly yang tiba-tiba pergi entah ke mana. Beruntungnya, Zack dan kedua orangtuanya sudah pergi dari sana, jadi mereka tak mendengar semua teriakan melengking dari Marta. Bukannya merasa takut atau bersalah, Perly malah memasang wajah tak kalah kesal dari Marta, "Hey, bukan salahku jika aku tidak terpikir sampai ke sana. Kamu pikir aku tidak cemas memikirkan identitasku yang hampir terbongkar tadi?" balas Perly membuat Marta berdecak. "Marta sudahlah. Kenapa kamu jadi marah-marah begini?" ucap Befra menengahi kala Marta sepertinya kembali ingin menyuarakan pekikan yang memekakkan telinga. Menghembuskan nafas kasar, lalu menunjuk Perly, "Jangan melakukan itu lagi. Jika saja tadi aku dan Tier tidak menyembunyikannya, kamu pasti sudah berada dalam bahaya," ucap Marta lalu kembali melanjutkan langkahnya. "Aneh! Sebenarnya ada apa dengan wanita itu?" tanya Perly bingung. "Sudahlah. Intinya dia marah karena dia tidak ingin kamu dalam bahaya. Ayo," ucap Zate merangkul bahu Perly dan berjalan menyusul Marta. Sedangkan di belakang sana, seorang pemuda berdecak melihat langkah teman-temannya yang kini telah menjauh, "Hey! Apa hanya aku yang ingat kalau kita harus mengambil air terjun itu? Kalian mau pergi ke mana?" ucap Anta sedikit berteriak. Mereka berhenti melangkah dan berbalik. Anta sudah berdiri dengan bertolak pinggang dan menatap mereka kesal. "Tidak perlu mengeluarkan ekspresi seperti itu. Kau berlagak seperti kau tidak pernah melupakan sesuatu saja," ucap Tier lalu berjalan ke arah air terjun itu diikuti yang lainnya. Dan Anta hanya bisa melongo melihat mereka semua yang berjalan melewatinya seakan dirinya tak ada di sana, "Setidaknya kalian mengucapkan terimakasih padaku karena aku mengingatkan kalian!" teriaknya lagi dan tidak di tanggapi oleh mereka semua. Poor Anta. • "Aku tidak tau lagi apa fungsinya yang lain selain melindungi kita dari Pengendali Dark," ucap Zate terus memandangi kalungnya. "Aku juga tidak pernah membaca tentang kalung ini," timpal Befra melakukan hal yang sama dengan yang Zate lakukan. Ini semua berawal dari Perly dan pemikirannya yang ajaib. Akibat dari kebosanan karena perjalanan jauh, Perly tiba-tiba berceletuk, "Kalung itu fungsinya apa saja?" Dan dengan segera Tier menjawab, "Untuk melindungi kita dari Dark." Dan pertanyaan selanjutnya dari Perly yang membuat mereka berpikir keras hingga sekarang, "Lalu? Apa cuma itu?" tanyanya waktu itu. Ingin bersikap tak mau tau, buktinya mereka sudah dibuat penasaran juga oleh pertanyaan Perly. Benar juga, kalung berharga ini tidak mungkin fungsinya hanya untuk berlindung dari dark, bukan? "Memangnya di buku takdir itu tidak dijelaskan?" tanya Perly. "Di buku itu memang ada, namun fungsinya hanya sebagai pelindung dari Dark. Tidak ada yang lain selain itu," jawab Tier. "Tidak mungkin hanya berfungsi untuk itu," gumam Perly membolak balik kalung Befra yang ada di tangannya. Sangat nyaman dengan posisinya yang sekarang bersandar pada punggung Anta. Iya, di perjalanan tadi, gadis itu terlalu fokus sampai Anta dan Marta berulang kali menariknya ke jalan yang benar saat gadis itu sewaktu-waktu berbelok tak tentu arah. Dan berkali-kali harus di marahi oleh Tier dan Zate kala Perly yang selalu hampir terjatuh. Maka dari itu mereka mengambil langkah aman dengan mengistirahatkan diri. Perly dan segala kefokusannya terhadap kalung itu tidak baik jika terus dibawa berjalan. Saat sedang fokus pada kalung itu, Perly melihat adanya celah di tengah-tengah lambang Froz di kalung itu. Celah itu seperti tempat untuk sebuah permata kecil berbentuk lonjong. Jangan di tanya tingkat ketajaman mata seorang Perly. "Tier, boleh aku melihat kalungmu?" ucap Perly menadahkan tangannya pada Tier dengan mata yang tetap fokus pada celah itu, seolah celah itu akan hilang jika dia beralih pandang sedetik saja. Tier langsung memberikan kalung yang dia pegang pada Perly. Perly memperhatikan kalung Tier, dan siapa sangka ternyata kalung Tier juga memiliki celah yang sama di tengah-tengah lambangnya. Persis seperti celah pada kalung Befra. "Sepertinya aku menemukan sesuatu. Coba kalian lihat ini," ucap Perly masih fokus menatap kedua kalung itu. Mereka yang tadinya duduk berjauhan, kini bangkit dan duduk merapat di dekat Perly yang juga segera menarik diri dari bersandar pada punggung Anta. "Lihat ini. Apakah di kalung milik kalian juga ada celah seperti ini?" tanya Perly memperlihatkan celah yang dia temukan. Anta dan Zate langsung melihat kalungnya dan mencari celah yang Perly maksud. "Ya. Ada!" seru keduanya bersamaan. "Benarkah? Bagaimana bisa?" ucap Marta penasaran ikut merapatkan diri pada Zate, ikut meneliti dengan seksama pada kalung Zate. "Wah Perly. Matamu benar-benar luar biasa!" ucap Befra bertepuk tangan heboh. "Aku yang sudah memakai kalung ini selama bertahun-tahun tidak tau kalau celah ini ada di sini. Apa ini baru saja ada?" gumam Anta masih memperhatikan kalung miliknya, melihat dari segala arah namun celah itu masih ada. "Aku semakin yakin kalau kalung ini memiliki fungsi lain selain melindungi kalian dari Dark," ucap Perly. "Bukankah ini terlihat seperti permata?" tanya Tier pada yang lainnya. "Ya, aku pikir juga begitu. Apa itu berarti ada yang hilang dari kalung kita?" tanya Zate. "Atau mungkin ini ada hubungannya dengan kekuatan kita?" giliran Befra yang bertanya. "Maksudmu kekuatan dari sayap kalian?" tanya Marta memastikan dan Befra mengangguk, "Iya. Bisa saja celah ini akan terisi ketika sayap kita kembali," ucapnya kemudian mengedikkan bahunya. "Itu masuk akal. Berarti sesuatu yang ada di celah ini hilang ketika sayap kita juga hilang, dan kekuatan dari sayap kita juga ikut menghilang," jelas Anta yang diangguki oleh mereka semua. Itu penjelasan yang sangat masuk akal. Semuanya berhubungan. Berbeda dengan Perly yang menatap mereka bingung, "Maksudnya? Aku tidak paham," ungkapnya. "Begini. Ketika kamu berenang apa kamu tidak merasakan sesuatu? Seperti kamu bergerak sangat cepat?" tanya Marta pada Perly. "Apakah itu ketika aku terasa sangat ringan di dalam air?" Perly balik bertanya. Marta mengangguk, "Benar. Kamu berenang dengan cepat bukanlah karena kamu pandai atau mahir dalam berenang, tapi kekuatanmulah yang membuatnya seperti itu," jelas Marta dan Perly mengangguk paham. "Lalu sayap? Apa sayap juga memiliki kekuatan?" tanya Perly lagi. "Dari apa yang aku baca sayap memang memiliki kekuatan sama seperti ekor, tapi kekuatan dari sayap memang sedikit lebih besar dari pada ekor. Ketika salah satu dari mereka hilang, itulah yang menyebabkan kekuatan kita hanya tertinggal pada yang lainnya. Dalam artian lain, kekuatan kita belum benar-benar sempurna sebelum memiliki keduanya," jelas Tier panjang lebar. "Itu juga menjadi penyebab kita selalu merasa lelah atau sangat lemah saat mengeluarkan banyak kekuatan. Karena itulah para pengendali lebih banyak menggunakan energinya, karena masih ada tumbuhan energi, bunga kehidupan dan air Plants yang membantu mengembalikan energi mereka yang terkuras," lanjut Marta menjelaskan lagi. Perly mengangguk beberapa kali. Sangat mengerti dengan penjelasan keduanya, meskipun otaknya dipaksa untuk menampung itu semua membuat kepalanya sedikit berdenyut. "Kenapa semuanya semakin banyak teka-teki seperti ini?" ucap Perly menghela nafas lelah. "Apa yang akan kita lakukan dengan kalung ini? Apa celah ini akan terisi setelah sayap kita kembali?" tanyanya lagi menatap semuanya. "Ya mungkin saja. Hanya itu opsi yang kita dapat sekarang," ucap Befra. Dia mengembalikan kalung Befra dengan raut bingung, seperti berpikir ada yang janggal. Tak lama setelah itu, dia kembali bertanya, "Tapi kenapa aku tidak memiliki kalung? Apa aku tidak memiliki sayap?" tanyanya. "Kami tidak memiliki jawaban untuk pertanyaanmu itu," ucap Anta membuat Perly mendesah lesu. Jika memang begitu, itu artinya dia tidak akan bisa merasakan bagaimana rasanya terbang? Anta kembali melanjutkan membuatnya menoleh, "Tapi ingatlah. Kamu berada satu tingkat di atas kami. Apa yang kami miliki pasti kamu memiliki yang lebih dari pada itu." dengan senyum tipis menyertai. Anta sangat jarang tersenyum, dia lebih sering menampakkan wajah datar dan cueknya, terkadang juga wajah sinis. Melihat Anta tersenyum Perly ikut tersenyum, percayalah Anta memiliki senyum yang sangat meneduhkan. "Jadi berhentilah memasang wajah lesuh seperti tadi. Sangat tidak enak untuk dilihat," ucapnya kembali pada wajah datarnya. Sebaiknya Perly berpegang teguh pada realita bahwa Anta tidak akan pernah tersenyum tulus. Pengendali yang satu itu akan terus bersifat menyebalkan dengan wajah datar andalannya. "Aku baru saja memuji senyummu. Dan ucapanmu barusan membuat aku menyesal telah memujimu," ucap Perly membuat mereka terkekeh. "Yasudah ayo kita lanjutkan. Aku rasa istirahat kita sudah cukup," ucap Tier seraya berdiri begitupun yang lain. "Apakah masih sangat jauh?" tanya Perly masih duduk di bawah sana. Memasang wajah lesuh. "Cukup jauh. Mungkin kita harus mencari tempat bermalam lagi nanti," jawab Zate menarik pelan tangan Perly yang terulur padanya. "Jika kamu bosan, berceritalah. Atau mungkin kamu ingin menanyakan sesuatu," ucap Tier yang melihat Perly. Dia tau anak itu akan sangat lelah jika hanya berjalan tanpa melakukan apapun. Cepat bosan jika hanya berdiam saja. "Sepertinya aku akan bertanya saja. Aku suka bertanya," ucapnya. Mendengar itu, Anta langsung menoleh padanya, setelah selesai memperbaiki ikatan alas kaki Perly, "Dan kami tidak suka menjelaskan jawaban dari pertanyaanmu," jawab Anta cepat. "Setidaknya aku tidak bertanya padamu jadi kau cukup diam saja dan dengarkan," balas Perly tak kalah pedas. Tampaknya gadis itu belajar dengan baik dari Anta, bagaimana cara berbicara menohok. "Tanyakan saja," ucap Zate. "Apa kalian pernah mendengar seseorang yang telah tiada terlahir kembali?" tanyanya. Lagi, pertanyaan aneh yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya, itulah yang terlontar dari mulut Perly. Mereka terdiam sejenak sebelum Tier menjawabnya, "Aku belum pernah mendengar atau bahkan melihatnya. Tapi mungkin saja itu ada dan pernah terjadi," jawabnya. "Jadi kamu percaya tentang itu?" "Aku tidak bisa mengatakan iya karena aku tidak pernah menyaksikannya secara langsung. Aku hanya berpendapat kalau hal semacam itu bisa saja terjadi," jelas Tier membuat Perly mengangguk. "Kalau aku jelas tidak percaya. Itu terdengar sangat mustahil," ucap Zate membuat mereka beralih menatapnya, ingin mendengar penjelasan apa yang akan Zate jelaskan, "Jika seseorang telah meninggal dan tahun-tahun berikutnya lahir pula orang yang memiliki wajah atau mungkin kepribadian dan nama yang sama dengan orang tadi. Apa itu bisa disebut dengan terlahir kembali? Aku rasa tidak, itu tidak masuk akal," jelasnya lagi. "Kenapa kamu menyebutnya tidak masuk akal? Mungkin saja itu terjadi. Sesuatu yang kebetulan seperti itu pastinya memiliki penjelasan bukan?" ucap Befra. Langkah kaki mereka melambat sembari berdiskusi karena pertanyaan yang Perly lontarkan. "Mari kita bandingkan. Aku lahir di tahun ini, dan ada seseorang yang juga lahir di tahun yang sama. Kami dari elemen yang berbeda dan ras yang berbeda. Namun wajah, nama, sifat, bentuk fisik kami sama. Apa itu bisa di sebut dengan kembar?" tanya Zate menatap mereka satu persatu. Mereka hanya diam tanpa menjawab apa-apa sampai Anta bersuara, "Tidak. Kembar adalah dua orang atau lebih yang terlahir dari satu rahim di waktu yang hampir bersamaan. Jadi itu tidak bisa disebut kembar, tapi itu bisa disebut dengan serupa," jawab Anta. Zate menjentikkan jarinya menunjuk Anta dan mengangguk, "Ya. Benar," katanya, "Sama halnya dengan terlahir kembali. Itu tidak bisa disebut dengan terlahir kembali, tapi hanya waktu mereka terlahir yang berbeda. Jika, waktunya bersamaan maka kasusnya akan sama dengan apa yang aku umpamakan tadi," ucap Zate menyelesaikan ucapannya. Mereka hanya diam, kecuali Anta yang mengangguk sependapat dengan Zate, "Apa yang Zate jelaskan lebih masuk akal. Tapi jika aku melihat langsung bukti terlahir kembali itu memang ada, mungkin aku akan berpikir itu memang benar ada," ucap Anta mengangguk pelan. Tak ingin kalah, Marta membuka mulut, siap untuk bersuara, "Itu secara logika. Kalau kita lihat realitanya, roda kehidupan di dua dunia ini adalah sistem generasi. Tidak menutup kemungkinan kalau generasi sebelumnya terlahir kembali untuk menuntaskan suatu hal, atau mungkin ingin memperbaiki sesuatu. Kesalahan yang mereka perbuat contohnya." ucapnya. "Oke kita jangan menyebutnya dengan terlahir kembali. Tapi kita ganti dengan raga yang berbeda namun dengan jiwa yang sama. Bukankah itu lebih masuk akal?" lanjutnya dengan nada bertanya. Tier mengangguk, "Ya, aku rasa itu juga masuk akal. Apa kalian tidak pernah membaca tentang generasi pertama pengendali tertinggi dua dunia? Mereka memiliki delapan orang pengendali tertinggi, di mana ada empat ratu dan empat raja. Dan kalian tau? Anak-anak dari para ratu dan raja itu memiliki nasib yang sama seperti kita. Di mana para pangeran hanya mempunyai ayah, sedangkan para putri hanya mempunyai ibu. Hanya satu yang berbeda, salah satu dari putri itu ada yang terlahir kembar sedangkan dari kita tidak ada yang kembar," jelas Tier panjang lebar. "Satu yang kamu lupakan," ucap Perly tiba-tiba. Mereka baru sadar, pihak yang membuat mereka berdebat sedari tadi hanya berdiam diri tanpa mau ikut serta. "Para putri dan pangeran itu memiliki nama yang sama persis dengan nama kita," lanjutnya. •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN