Number 28

2149 Kata
Sudah beberapa menit yang lalu, semua pekerjaan telah mereka selesaikan. Bukannya istirahat, mereka harus terkejut dengan penemuan Perly di dalam gua itu. Gadis itu benar-benar tak bisa diam. Bisa-bisanya dia menemukan makhluk kecil itu di sana. "Jadi apa orangtuamu tidak tau kamu ada di sini?" tanya Marta pelan. Anak kecil itu hanya menggeleng dan terus menunduk. Satu tangannya menggenggam erat pakaian Perly, menghadap sepenuhnya pada Perly, memunggungi yang lainnya. Sedangkan tangannya yang lain, menggenggam erat telunjuk Perly. Sungguh, Perly saat ini sedang menahan pekikan gemas, menahan tangannya untuk tidak mencubit pipi tembam anak itu. 'Gemas! Gemas! Gemas!' Itu yang Perly teriakkan dalam hati. Ya makhluk kecil yang Perly temukan tadi adalah seorang anak laki-laki pengendali plants. Entah sejak kapan anak itu berada di dalam gua ini. "Bagaimana ini? Kita tidak mungkin membiarkannya sendiri di sini. Anak ini masih terlalu kecil," ucap Befra menatap mereka semua. Anta menoleh, "Lalu? Apa kita harus mengantarnya ke laut? Ayolah, laut itu luas dan dia sama sekali tidak tau jalan pulang ke rumahnya," ucap Anta. Argumen keduanya sama-sama bisa mereka terima. Tak mungkin meninggalkannya dan tak mungkin juga mereka mengantarnya pada orangtua si kecil. Tak ada petunjuk sama sekali mengenai orangtuanya. "Apa kamu tau siapa nama ibu atau ayahmu? Kakak akan coba menanyainya pada orang-orang," ucap Tier menatap anak itu. Lagi, anak kecil itu kembali menggelengkan kepalanya. Dan semuanya hanya bisa menghela nafas panjang. "Bagaimana? Kita tidak mungkin membawanya. Perjalanan ini terlalu bahaya baginya," ucap Marta. Dia menoleh pada anak kecil yang sama sekali tak mau menampakkan wajah pada mereka, "Tapi kita juga tidak mungkin meninggalkannya di sini. Dia masih sangat kecil, dan tidak mengerti apa-apa," lanjutnya lagi menggaruk kepala belakangnya bingung. "Lalu kita harus apa?" tanya Zate dan semuanya menggeleng. Perly yang sedari tadi sibuk mengelus rambut halus anak itu, kini ikut terlibat, memperbaiki posisi duduknya, menggeser sedikit jauh anak itu agar dirinya dapat melihat wajah si kecil. "Hey, jangan terus menunduk. Kakak ingin melihat wajahmu," ucap Perly mengangkat dagu anak itu. Perly tersenyum saat anak itu menatapnya. Kentara sekali tatapan polos itu terlihat takut, Terbukti dari genggamannya di pakaian dan jari telunjuk Perly semakin kuat. Perly menggoyangkan jari telunjuknya membuat tangan anak itu ikut bergerak, "Siapa namamu sayang?" tanya Perly lembut. Anak itu terdiam cukup lama, namun matanya tak lepas dari senyum Perly yang juga tak luntur padanya. "Zack," ucapnya pelan dengan suaranya yang lucu. Sudah cukup! Perly punya batasan untuk menahan rasa gemasnya. Maka tak butuh waktu lama bagi satu tangan Perly yang bebas untuk mencubit pelan pipi anak itu, "Aa ... kenapa kamu sangat lucu!" Dan anak itu hanya mengerjap polos, menerima saja perlakuan Perly pada pipinya. "Oke, Zack. Nama Kakak, Kak Perly. Ini Kak Tier, Kak Befra, Kak Anta. Yang itu Kak Marta, dan itu Kak Zate. Kamu bisa mengingatnya?" tanya Perly memperkenalkan temannya satu persatu, begitupun dengan kepala Zack yang menoleh satu-satu pada pengendali di sana. Anak itu menatap Perly kemudian menggeleng pelan membuat Perly dan yang lainnya tertawa pelan. Lucu sekali! "Yasudah. Kamu cukup mengingat nama Kakak. Kakak yang paling cantik di sini, Kak Perly. Oke?" tanyanya lagi. Hal itu membuat Marta mendecih. Meski dirinya tetap tersenyum tipis mendengarnya. Akhirnya anak itu menganggukkan kepalanya pertanda dia mengerti. Lagipula, dia hanya nyaman bersama Perly. Tentu namanya akan dia ingat. "Bagus. Anak pintar," ucap Perly mengacak-acak rambut hijau anak itu. Ah, lagi-lagi dia teringat pada Teta. Jika Teta tau tentang Zack, mungkin anak ini akan dijadikan pajangan olehnya. "Sekarang kita berteman, dan Zack tidak perlu takut lagi. Kakak dan teman Kakak pasti akan membantu Zack," ucap Perly lagi. "Teman?" tanya Zack pelan, dengan mata bulatnya menatap tepat pada mata Perly. Perly tersenyum lalu mengangguk, "Ya, kita teman," jawabnya mengulang ucapannya. Zack perlahan mengangkat jari kelingkingnya pada Perly. Perly yang mengerti langsung mengaitkan jari kelingkingnya pada anak itu. Anak ini persis seperti dirinya yang meminta papa untuk berjanji. Zack tersenyum lebar kala tangan mungilnya kembali bergerak saat Perly memainkan kelingking berbeda ukuran itu, sehingga lesung pipi di bagian kanannya terlihat. "Aa ... dia sangat lucu," ucap Befra tanpa sadar mencubit lengan Tier karena gemas. "Argg!" pekik Tier membuat Zack terkejut dan langsung memeluk Perly. Anta yang berada tak jauh dari Tier langsung melayangkan pukulan pada lengan Tier, "Diamlah! Kau membuatnya takut," ketusnya. Tier yang mendapat perlakuan kasar dua kali, hanya mendecih pelan, menatap nyalang pada Befra yang malah menampilkan deretan giginya yang rapi. Sungguh, lengannya yang dipenuhi otot itu kini berdenyut nyeri akibat cubitan ganas dari jari Befra yang bahkan besarnya tak lebih besar dari setengah jari-jarinya. "Tidak apa-apa. Kak Tier hanya terkejut, jangan takut," ucap Perly mengusap punggung Zack lembut. Perly melepas pelukannya dan memegang kedua tangan Zack, ah, tepatnya, Zack yang menggenggam ibu jari Perly, "Zack masih ingat kenapa Zack bisa sampai di sini?" tanya Perly. Zack menatap langit gua seperti sedang berpikir, lalu mengangguk ringan. Perly tersenyum, "Boleh Kakak mendengarnya? Kakak sedang ingin mendengar cerita saat ini," ucap Perly dan Zack kembali mengangguk. "Malam tadi saat diperjalanan pulang, Zack, ibu dan ayah berhenti di dekat air terjun. Ayah bilang, Zack harus menunggu di bawah pohon sampai mereka selesai mengambil air. Tapi Zack melihat ada orang yang terbang di bulan. Zack takut, mereka sangat seram. Zack lari dan Zack tidak tau kalau Zack masuk ke sini," jelasnya panjang lebar. Senang rasanya tidak harus berpusing ria mendengar anak usia empat tahun ini berbicara. Pengucapannta begitu lancar tanpa ada unsur cadel di dalamnya. "Apa orang yang dilihat Zack adalah Dark yang waktu itu menyerang kita?" tanya Marta pada semuanya. "Pasti. Pasti Dark yang dia lihat," ucap Zate mengangguk. Perly ikut bertanya, "Dari air terjun Zack berlari sampai ke gua ini. Apa air terjun itu tidak jauh dari sini?" tanya Perly pada mereka. "Iya, air terjun itu memang tidak jauh dari tempat ini. Dan sepertinya kita akan berjalan melewati air terjun itu besok, karena kita juga membutuhkan airnya di perjalanan," jawab Anta dan Perly mengangguk. Dia kembali menatap Zack yang begitu serius memandanginya kala berbicara pada teman-temannya, "Bagaimana kalau Zack ikut Kakak besok? Kita akan cari orangtua Zack. Bagaimana? Zack mau?" tanya Perly. Zack menatap Perly berbinar kemudian tersenyum lebar. "Zack mau. Zack ingin bertemu dengan ibu dan ayah lagi," ucap Zack semangat membuat mereka semua tersenyum senang. Ingin rasanya mereka saja yang berada di posisi Zack. Mereka tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk bertemu dengan orangtua mereka. "Apa kamu yakin orangtuanya masih ada di sana? Maksudku, mungkin saja mereka kembali ke daerah Plants untuk mencari Zack," ucap Befra. "Tidak ada salahnya jika kita pastikan dulu di sana. Mungkin saja mereka masih menunggu Zack," balas Tier. "Kalau kita tidak menemukannya?" tanya Anta. Mereka diam, apalagi Perly yang menatap Zack seolah gadis itu tak ingin lepas dari Zack, "Aku harap kalian tidak mempunyai pikiran untuk membawanya bersama kita," lanjutnya. Perly menghembuskan nafas panjang. Dia tidak akan tega meninggalkan Zack tanpa ada yang mengawasi di sini. Kapan saja, dark bisa menemukannya dan mencelakainya. Tapi bukan ide yang bagus untuk membawanya ikut serta dalam perjalanan mereka. Bahaya selain dark, akan selalu mengintai anak kecil ini jika dia pergi bersama mereka. "Kita lihat dulu nanti," ucap Perly. "Yasudah, Zack. Ayo kita tidur. Zack bisa tidur bersama Kakak. Ayo." Perly membawa Zack untuk berbaring di tempat tidur yang sudah dibuat oleh Marta dan Tier. "Kalian juga tidurlah. Kita pikirkan kemungkinannya besok," ucap Perly dan mereka hanya mengangguk. • Perly mengerjapkan matanya dan menggeliat ringan. Dibawa tubuhnya untuk duduk sambil mengusap pelan matanya, baru kemudian dikejutkan oleh sosok Zack yang sudah duduk disampingnya, menatapnya aneh, seolah dirinya ini berubah wujud? Tak pedulikan tatapan aneh itu, Perly mengulas senyum manis untuk si kecil, "Kamu sudah bangun rupanya," ucapnya sambil mengelus rambut Zack. Namun reaksi Zack masih sama, masih menatapnya yang Perly sendiri tidak tau itu tatapan seperti apa. Oke, Perly harus mulai peduli dengan tatapan itu. "Kenapa? Ada yang salah dengan wajah Kakak?" tanya Perly langsung. "Perly." Perly menoleh ke belakang dan mendapati Befra yang juga menatapnya. Befra lebih dulu menoleh pada Zack dan memberi senyum kala tatapan si kecil juga jatuh padanya, "Kekuatan Plants-mu sempurna," ucapnya menunjuk Perly. Perly dengan cepat melihat pakaian yang dia pakai dan juga warna rambutnya. Semuanya berwarna hijau, sama persis dengan Zack dan Anta. Pantas saja, jadi ini penyebabnya Zack menatapnya bingung? Zate yang kebetulan lewat di depan Perly, berhenti sejenak dan tersenyum lebar, "Wah, Perly. Kekuatan Plants-mu semp--" Befra lebih dulu meletakkan jari telunjuknya di bibir dengan lirikan mata yang tertuju pada Zack, "--purna ...," sambung Zate pelan saat Zack beralih menatapnya. "Kakak bisa berubah?" tanya Zack polos, jari kecilnya menggapai rambut Perly dan di tatap sedemikian intens sampai rambut panjang itu terpampang jelas di depan bola matanya. Perly dan Befra tertawa pelan melihatnya, sedangkan Zate ikut terkekeh sebelum kembali melanjutkan langkah untuk menyiapkan makanan mereka. Dia pikir, akan terjadi masalah jika Zack melihat Perly berubah seperti itu. Perly menurunkan kakinya, sementara dirinya masih duduk di atas tempat tidur. Kemudian menepuk paha mengintruksi Zack untuk duduk di sana, yang tanpa ragu, Zack menurutinya. Perly mengira, Zack akan ketakutan melihatnya. "Zack, apa Zack pernah berjanji sebelumnya?" Zack mengangguk menjawab pertanyaan Perly. Tangan kanannya masih setia bermain dengan rambut Perly. "Apa Zack mengingkarinya?" Zack dengan cepat menggeleng, "Ibu bilang, kalau Zack ingkar janji, Zack akan berubah menjadi hitam. Zack tidak suka warna hitam," jawabnya polos membuat mereka lagi-lagi terkekeh. "Baiklah. Kalau begitu berjanjilah untuk tidak menceritakan apa-apa tentang semua yang Zack lihat dan Zack dengar. Bisakah?" Perly mengulurkan jari kelingkingnya. Zack dengan cepat mengaitkannya pada kelingking Perly dan mengangguk. "Anak pintar!" puji Perly mengusak rambut Zack membuat anak laki-laki itu tertawa kecil. "Kalau begitu kalian bersiaplah, kita akan makan bersama baru setelah itu kita menuju air terjun," ucap Marta yang tiba-tiba datang dan Perly hanya mengangguk mengiyakan. Tak membutuhkan waktu lama bagi Perly dan Zack untuk bersiap, sekarang mereka sudah bergabung dengan yang lainnya untuk memakan makanannya. "Anta, bagaimana luka di lehermu? Apa sudah sembuh?" tanya Marta di sela-sela makannya. "Belum terlalu sembuh, tapi sudah lebih baik daripada sebelumnya," jawab Anta tanpa menatap Marta. "Baguslah kalau begitu," ucap Marta mengangguk. "Aku penasaran," Perly tiba-tiba berucap membuat semua mata tertuju padanya. Anta menatapnya malas, "Apalagi yang membuatmu penasaran kali ini?" tanyanya membuat Perly cemberut. Melihat itu, si kecil yang duduk tepat di samping Perly, dengan cepat mengangkat tangan, mengusap pipi Perly membuat gadis itu terkejut, Zack tersenyum lucu, "Ayah selalu bilang pada Ibu, orang cantik tidak boleh cemberut, nanti jelek," ucapnya yang sukses membuat Perly meledakkan tawa, begitupun yang lainnya. Perly mencubit gemas pipi Zack, "Iya, Sayang. Kakak tidak akan cemberut lagi," katanya. Zack hanya memberi senyuman pepsoden dan kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda. "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Tier membuat Perly kembali fokus pada mereka. "Apa kalian pernah melihat pengendali lainnya bersayap? Maksudku, apa kalian pernah melihat sayap dari masing-masing elemen kalian?" tanya Perly menatap mereka satu persatu. Tier menggeleng, "Tidak. Kami termasuk dirimu, terlahir ketika sayap itu sudah hilang," jawabnya dan yang lainnya hanya mengangguk. "Apakah kalian tidak penasaran bagaimana bentuk sayap kalian? Warnanya, besar atau kecilnya? Kalian tidak penasaran?" tanya Perly lagi. Sejenak mereka terdiam, kemudian mengangguk. Mereka tidak pernah berpikir sampai ke sana, tapi benar juga bagaimana bentuk sayap mereka? Pasti akan terlihat indah jika mereka berdiri berjejeran dengan sayap berbeda warna. "Perly, pemikiranmu memang lain dari yang lain. Hal yang tidak dipikirkan oleh orang lain, itulah yang kamu pikirkan," ucap Befra terkekeh pelan. "Tapi setelah Perly mengucapkan itu, aku juga jadi penasaran. Bagaimana rasanya mempunyai sayap dipunggung kita? Apakah itu berat atau terasa ringan?" ucap Zate membayangkan bentuk sayapnya. Tak hanya Zate sepertinya, yang lainnya juga. Pengecualian untuk Zack. "Aku rasa bentuknya sama seperti Pengendali Dark. Hanya saja pasti warnanya yang berbeda, sesuai dengan elemen pengendali kita," ucap Anta diangguki mereka semua. "Pasti akan sangat indah jika kita memiliki sayap," ucap Perly menerawang. "Sudahlah jangan menghayal dan habiskan makananmu." ucap Tier membuyarkan hayalan Perly. Setelah menghabiskan makanannya untuk pagi ini, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju air terjun Plants. Sambil terus berharap kalau orang tua Zack akan ada di sana. Mereka sepakat akan mempertemukan Zack dengan orangtuanya bagaimanapun caranya mereka tak ingin melibatkan Zack dalam bahaya. "Zack, kamu ingat 'kan wajah orang tuamu seperti apa?" tanya Marta pada Zack. Zack menoleh sebentar ke belakang. Kini perlahan dia sudah bisa mengingat nama mereka, "Zack ingat," jawabnya mengangguk. "Kamu bertanya seperti tidak ada pertanyaan lain. Tentu saja dia mengingatnya, mereka adalah orang tuanya dan mereka terpisah hanya selama dua hari," ucap Anta tanpa menatap Marta. Marta memberi tatapan nyalang pada pemuda itu, "Aku hanya bertanya. Lagi pula aku tidak memintamu untuk mengomentarinya!" ujar Marta dengan nada tak santai. "Tapi mulutku tidak tahan untuk tidak mengomentari pertanyaanmu yang tidak bermanfaat itu," balas Anta tak kalah sinis. "Sudahlah. Tidak ada gunanya berdebat denganmu," ucap Anta cepat saat Marta ingin kembali membalas ucapannya. Marta hanya mengepalkan tangannya kesal. Dan Befra yang ada disampingnya hanya bisa menepuk pelan punggung gadis itu untuk menenangkan. "Kakak juga memilikinya?" Perly langsung menoleh ke bawah saat Zack memegang gelang tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN