Queen? Apakah panggilan itu untuk dirinya?
"Apa yang dia katakan?" tanya Anta penasaran melihat Perly yang malah mematung di tempat.
Gadis itu tersadar dan mengerjap beberapa kali, "Ah, Ya," serunya, "Dia bilang ayahmu yang membuat ini khusus untuk para hewan dan membuatnya tak kasat mata. Kita bisa melihatnya karena sudah mendapat izin darinya," jelas Perly dan mereka hanya mengangguk mengerti.
Pantas saja mereka selama ini tidak bisa melihatnya.
"Tunggu dulu," ucapan Befra bagai magnet yang membuat mereka seketika tertarik dengan ekspresi was-was. Jangan salahkan mereka, salahkan ekspresi Befra yang lama-lama berubah takut. Gadis itu kemudian berbisik, "Berarti di sini ada banyak hewan selain ular itu?" tanya Befra.
Mendengar itu, mata Perly seketika melotot, bulir keringat mulai bercucuran di dahinya, dan tak buang waktu banyak untuk gadis cantik itu berlari dan bersembunyi di belakang Zate. Orang yang paling dekat untuk dia jangkau. Benar-benar bersembunyi, hampir saja masuk ke dalam pakaian yang Zate gunakan jika saja Zate tidak cepat menghentikannya.
"Jangan sampai ada lebah, jangan sampai ada lebah, jangan sampai ada lebah." Kata itu yang terus dia rapalkan bak mantra di belakang punggung Zate.
Ternyata si kecil takut lebah. Memangnya ada masalah apa gadis nakal ini dengan hewan kecil pemilik sengat itu? Sehingga yang dapat Zate lakukan adalah memutar badan, memeluk gadis yang tengah ketakutan itu. Hebat sekali, dia tak takut ular, malah takut pada lebah?
"Ya ... sepertinya kita memang salah tempat," ucap Marta menatap sekelilingnya saat hewan-hewan, dan binatang buas itu keluar satu persatu dari balik semak-semak dan pohon yang ada di sana. Sedang mengepung mereka dari berbagai arah.
"Hah ...." Perly menghela nafas lega. Segera melepas pelukan Zate membuat pemuda itu bingung, "Rupanya tidak apa-apa. Kata ular itu, mereka sudah tau tentang kita dari cerita si ular, dan mereka tidak akan menyakiti kita," ucapnya menjelaskan memberi senyum lebar pada mereka semua.
"Ayo, kita masuk lebih dalam. Mereka sudah menyiapkan berbagai buah-buahan untuk kita. Ayo." Perly memimpin jalan kali ini dengan tampang ceria dan mata berbinar. Seolah lupa dengan kejadian barusan di mana dirinya hampir menangis karena ketakutan. Sedangkan di belakang, teman-temannya terus mengikutinya sambil berjaga-jaga. Tidak ada yang tau bukan, bahaya apa yang akan datang.
Dan saat sampai di tempat yang si ular maksud, satu kata yang terlintas di kepala mereka.
Surga buah.
Tampaknya kata itu cocok untuk tempat ini. Berbagai macam buah-buahan, sampai sayuran ada di sini. Mereka tumbuh subur dan dalam jumlah yang sangat banyak.
"Bolehkah jika aku hidup bersama para hewan ini di sini? Aku pasti akan mati dalam keadaan kekenyangan," ucap Zate menatap buah-buah itu dengan tatapan berbinar.
"Tak masalah. Kau cocok menjadi salah satu dari mereka." Sudah tau bukan? Siapa yang berbicara bak sayatan katana yang satu ini?
Tak lama setelah mereka sampai di sana, beberapa gajah membawa buah-buahan menggunakan belalainya dan meletakkannya di depan mereka, begitupun dengan hewan lainnya yang juga membawa buah-buahan dengan caranya masing-masing. Sungguh manis.
"Salam kami, Putri"
Perly terkejut mendengarnya. Semua hewan itu memberi salam padanya dan mereka terlihat seperti sedang menunduk.
"Perly, apa mereka sedang memberi salam padamu?" tanya Befra pada Perly.
Perly menoleh dan mengangguk sambil tersenyum, "Iya. Aku mendengarnya sendiri," jawab Perly.
"Mereka tau tentangku?" tanya Perly menatap ular yang ada di bawahnya.
"Tentu. Sudah kukatakan, kau pemilik semua yang ada di sini. Mustahil jika mereka tak mengenali pemilik mereka sendiri," jawab ular itu membuat Perly kembali terdiam.
Kenapa seolah, di sini dia yang tidak tau dengan dirinya sendiri?
"Tapi bagaimana kamu tau tentang aku yang satu itu?" tanya Perly lagi.
"Queen, kukatakan sekali lagi, tak ada yang tidak tau tentangmu," ucap ular itu membuat Perly menghembuskan nafas perlahan. Si ular sepertinya tak berniat menjelaskan apa-apa padanya.
"Ayo beri salam juga pada mereka," ucap Perly pada teman-temannya.
"Salam kami," ucap mereka serentak memberi salam ala pangeran dan putri kerajaan.
"Queen, ambillah buah-buahan itu. Kami semua memberikannya pada kalian. Bukankah kalian harus pergi jauh setelah ini, bawalah sebanyak yang kalian butuhkan," ucap ular itu lagi dan Perly mengangguk.
"Perly, tas yang kita bawa tidak akan bisa menampung buah-buahan sebanyak ini," ucap Tier menenteng dua tas kosong di tangannya lalu menatap buah-buahan yang begitu banyak di bawah sana.
Perly ikut menoleh dan mengangguk pelan, "Ah iya. Aku lupa kalau kita hanya membawa 3 tas," ucap Perly menggaruk pelipisnya bingung.
"Tenang saja, kami juga sudah mempersiapkan itu semua," ucap ular itu lagi pada Perly.
Dan tak lama datanglah dua ekor monyet, membawa tiga keranjang yang sepertinya terbuat dari akar tanaman. Cukup besar, dan sepertinya itu lebih dari cukup untuk menampung semua buah-buahan itu.
"Apa kalian sudah mengetahui kami akan memerlukan ini?" tanya Perly pada ular.
"Begitulah kira-kira. Ambillah, dan bawa buah-buahan itu," ucap si ular.
Perly hanya diam, lalu menghadapkan sepenuhnya tubuhnya pada semua hewan yang entah kapan berkumpul di depan mereka, tidak lagi mengepung dari berbagai arah.
Perly mengulas senyum paling manis yang dia punya, "Terima kasih kepada kalian semua. Terima kasih atas kebaikan yang kalian lakukan. Aku, memberi kalian kebebasan atas kekuatan Dark. Jangan takut lagi. Dark tidak akan bisa mempengaruhi kalian. Aku yang akan menghalanginya," ucapnya.
Perly menjentikkan jarinya, dan cahaya emas keluar dari tubuh semua hewan yang ada di sana membuat teman-temannya terkejut dengan hal itu.
Itu barusan apa? Perly melakukan apa? Dan bagaimana?
Perly membuka matanya dan berbalik, tersenyum kala tatapan terkejut dari mereka yang pertama kali dilihatnya, "Ayo masukkan buah-buahan itu ke dalam keranjang itu. Mereka sudah mempersiapkannya untuk kita," ucap Perly pada teman-temannya dan mereka mengangguk kaku. Rasanya hilang kata untuk bertanya.
•
Sepertinya waktu sangat cepat berlalu bagi mereka. Rasanya baru sebentar mereka meninggalkan daerah plants, dan sekarang sudah hampir malam namun mereka sudah cukup jauh dari daerah plants.
"Apa kita akan membuat tempat lagi?" tanya Befra pada mereka.
"Sepertinya tidak aman jika kita bermalam di luar, bisa saja pengendali Dark kembali menemukan kita dan menyerang kita," jawab Zate diangguki Tier.
Itu tentu akan Tier setujui. Tak ingin kejadian yang dulu terulang kembali pada Perly. Begitupun yang lainnya.
"Zate benar. Kita harus mencari tempat yang lain selain tempat terbuka ini," ucap Tier.
"Ke mana? Di sini hanya ada hutan. Kamu tidak melihatnya? Kita tidak mungkin membuat sebuah rumah di sini." ucap Marta menatap sekelilingnya.
Mereka harus setuju dengan itu. Ide gila jika harus membuat rumah dalam waktu beberapa menit. Bukannya istirahat, mereka bisa-bisa tidak akan tidur sampai besok pagi.
"Emm ...." Gumaman itu menarik atensi semuanya. Menatap gadis lightning yang kini tengah menyusun kata untuk menyampaikan sesuatu pada mereka. Dia mendongak, "Berbicara tentang Dark. Wanita itu ... sepertinya mengenali aku," ucapnya dengan suara yang semakin kecil sampai ujung kalimat.
Kening mereka kentara menimbulkan kerutan, tak paham sedikitpun kata yang terlontar dari mulut Perly.
"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu, wanita siapa?" tanya Befra.
"Wanita Dark itu?" Anta bertanya yang disambut anggukan kepala oleh Perly, "Dia tau kalau aku adalah penyelamat itu. Dan dia berbicara tentang seorang ratu, tapi dia tidak menyebutkan namanya," jelas Perly.
Mereka semua menghela nafas, hampir bersamaan membuat Perly jelas tau, ada yang mereka tau dan dirinya tak tau. Apalagi dengan cara mereka menatap dirinya seperti ... entahlah, Perly tak tau bagaimana cara mengatakannya.
"Perly, wanita yang kau bunuh tempo lalu adalah wanita kepercayaan Queen Ellona, Ratu Pengendali Dark," ucap Tier membuat bola mata Perly nyaris ke luar.
Orang kepercayaan katanya? Tidak salah? Hey, Perly bukannya tidak tau kalau di dunia pengendali ini semua kekuatan ada tingkatannya. Dan orang kepercayaan? Hell! Yang dia bunuh ini orang kepercayaan seorang ratu pengendali elemen jahat, bagaimana bisa? Akan diapakan dirinya nanti oleh si ratu itu?
"Bagaimana bisa? Orang kepercayaan?" tanya Perly menatap tak percaya mereka semua.
Anta yang ada di samping Perly, langsung memberi rangkulan pada gadis itu. Hanya untuk membuat si gadis tenang.
"Tenanglah, " katanya lembut, " bukankah itu Bagus? Dia mengetahui tentangmu dan kamu berhasil membunuhnya, itu akan semakin menyulitkan Queen Ellona untuk mengetahui keberadaanmu," ucapnya tersenyum.
Justru itu yang Perly takutkan. Semakin Queen Ellona sulit untuk menemukan dirinya, maka sewaktu-waktu, Queen Ellona bisa saja membuat salah satu dari mereka menjadi umpan untuk dirinya dengan suka rela datang menghadap si ratu. Yang dia takutkan, hanyalah, bagaimana kalau nanti mereka yang terluka? Dia akan sangat merasa terpukul akan hal itu.
Menghembuskan nafas dalam, "Memangnya untuk apa dia mencariku? Apa dia ingin membunuhku karena aku adalah penyelamat itu?" tanya Perly.
"Bukankah hanya itu satu-satunya jawaban? Seharusnya kau tidak perlu lagi menanyakannya, kau ini bagaimana," jawab Anta.
Mendengar itu, Perly langsung saja melepas rangkulan tangan pemuda itu. Memasang wajah kesal, "Tidak bisakah kamu sedikit santai menjawabnya? Aku hanya bertanya bukan menghakimi seseorang!" pekiknya kesal.
Padahal baru beberapa detik yang lu, Anta bersikap manis padanya. Lalu kenapa secepat itu sifatnya berubah?
"Sudahlah, ayo kita cari tempat. Aku rasa kita harus mencari gua atau semacamnya," ucap Marta dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak terlalu jauh mereka berjalan, kini di depan mereka ada sebuah gua yang tampak menyeramkan. Mulut gua itu di penuhi oleh tumbuhan-tumbuhan merambat dan di sekitar gua itu banyak tumbuhan semak belukar yang hampir menutupi jalan masuk gua.
"Kalian yakin? Ini terlihat seperti sarang seekor singa yang buas," ucap Perly memperhatikan gua itu.
"Aku juga tidak begitu yakin. Tapi kita tidak ada pilihan lain. Ayo kita periksa ke dalam," ucap Tier. Dirinya ingin memimpin jalan, namun Marta lebih dulu menarik kerah belakang pakaiannya.
"Bukan kau, Zate yang akan memimpin jalan memangnya kau mau kami tersesat karena kau tak dapat melihat jalan?" tukas Marta membuat Tier mendengus pelan.
Marta menatap Zate, "Kamu bisa berjalan lebih dulu untuk menerangi jalan kita?" tanya Marta pada Zate.
Zate mengangguk dan berjalan di depan. Mengapa mereka tidak menyuruh Perly? Karena kekuatan Perly baru saja pulih dan mereka tidak ingin Perly mengeluarkan kekuatannya lagi. Begitu possessive, meski Perly sekarang dalam keadaan segar bugar.
"Tempat ini tidak seburuk yang kita pikir," ucap Befra setelah mereka sampai ke dalam.
Tempatnya bersih, walaupun sedikit lembab tapi tempat ini layak untuk ditempati.
"Aku rasa kita aman di sini. Tidak ada binatang buas. Dan kalaupun ada mereka tidak akan menyakiti kita," ucap Anta disetujui yang lainnya.
"Kalau begitu, aku dan Marta akan membuat tempat tidur. Zate, kamu buatlah penerangan untuk kita. Befra dan Anta, bisakah kalian membuat penghalang di depan? Agar tidak ada yang masuk ke dalam," ucap Tier memberi perintah. Mengintruksi mereka satu persatu apa yang harus dilakukan.
Mereka semua mengangguk kecuali Anta yang sedikit menggerutu, "Dia sudah berlagak seperti pemimpin di sini," ucapnya pelan membuat Befra terkekeh mendengarnya.
"Kerjakan saja, ini adalah bentuk kerja sama bukan antara pemimpin dan bawahannya," ucap Befra membuat Anta berdecak.
Melihat semuanya yang bekerja sesuai dengan pembagian, Perly malah menatap bingung seperti orang linglung di sana, "Lalu aku?" tanya Perly menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu diam saja di sana, dan bersikaplah yang baik," jawab Marta tanpa menoleh.
"Aku diperlakukan seperti anak kecil lagi!" gumam Perly memutar bola matanya malas.
"Dengar ini. Aku dulu adalah Ketua OSIS. Aku yang memimpin anggotaku, dan akulah yang banyak bekerja. Jadi jangan perlakukan aku seakan-akan aku ini tidak bisa melakukan apa-apa, kau paham itu?" ucap Perly bertolak pinggang menatap Marta.
"Ya ... ya ... berucaplah semaumu." Hanya itulah tanggapan Marta membuat Perly berdecak kesal.
"Dan ingatlah, itu dulu. Kamu lupa kalau sekarang kamu berada di dunia yang berbeda?" timpal Tier semakin membuat Perly kesal.
Perly kemudian hanya diam sambil memperhatikan sekelilingnya. Siapa tau saja ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Dan benar saja. Mata Perly menangkap sesuatu di sebalik batu besar yang berada tak jauh dari tempat mereka membuat tempat tidur.
Perly berjalan perlahan ke arah batu besar itu untuk memastikan apa yang ada di sana.
Perly menggunakan cahayanya untuk menerangi batu itu.
"Ada seseorang di sana?" tanya Perly terus melangkah.
Perly dapat melihat, tumbuhan merambat yang ada di sekitar batu itu bergerak, berarti memang ada sesuatu disana.
"Perly, kau sedang apa di sana?" teriak Befra pada Perly.
Perly berbalik, "Tidak. Aku hanya sedang memastikan sesuatu," jawabnya lalu kembali menoleh ke depan.
Akhirnya Perly menemukan apa yang sedari tadi mengganggu penglihatannya yang ada di sebalik batu itu.
"Siapa kamu?" tanya Perly menatapnya bingung.