"Apakah tidak akan masalah jika kita mengambilnya? Mungkin saja ini milik orang lain, kita perlu meminta izin terlebih dahulu," ucap Perly masih menengadah, menatap Zate, Anta dan Tier yang sedang memanjat Pohon Manggis di hadapannya.
"Apa yang ada di hutan ini adalah milik semua pengendali, Perly. Semuanya bebas mengambilnya tanpa perlu izin dari siapapun," jawab Befra tanpa menoleh.
Namun berbeda dengan Perly yang terlihat sangat antusias, dengan cepat tolehkan kepala sampai rambutnya mengenai Marta di samping, "Begitukah?" Befra hanya mengangguk.
"Kalau di duniaku dulu ..." Perly menjeda ucapannya saat teringat ucapannya dulu. Dia kemudian menggeleng, "Ah, tidak, tidak. Lupakan saja, aku sudah berjanji untuk tidak membahas itu di sini," lanjutnya.
"Lanjutkan saja, tidak masalah. Kami juga ingin tau bagaimana hal-hal seperti ini di dunia manusia," ucap Marta menatapnya tersenyum membuat Perly ikut tersenyum.
Dan dengan semangat dia bercerita, "Kalau di dunia manusia, semuanya memiliki pemilik dan harus memiliki izin, kalau tidak, kita akan dikenai hukuman sesuai dengan besar kecilnya tindakan kriminal yang kita lakukan. Ya seperti mengambil buah ini, ini bisa disebut dengan tindakan pencurian. Jika pemiliknya melaporkan kita, maka kita harus menerima hukumannya," jelas Perly panjang lebar.
"Sepertinya tidak terlihat damai," ucap Befra menanggapi. Perly hanya mengangguk, dia menyetujui pendapat itu, "Ya begitulah. Prinsip mereka adalah, peraturan ada untuk dilanggar. Tapi menurutku, peraturan ada karena adanya pelanggar. Hanya saja, mereka yang tidak sadar." ucap Perly lagi.
"Buah yang matang tidak cukup banyak, apa kita harus mencari tempat lain?!" teriak Zate dari atas sana.
Ketiga gadis itu menengadah, menemukan Zate yang menatap mereka. "Yasudah. Turunlah, kita akan mencari tempat lain!" balas Marta berteriak.
Mereka bertiga akhirnya turun ke bawah dengan masing-masing tas yang terbuat dari karung yang digantungkan di leher.
Ketiganya menyusul tiga pria yang kini berjalan ke arah mereka. Befra yang lebih dulu melihat tas yang mereka bawa, mendesah lesu, "Ini terlalu sedikit. Kita akan berjalan sangat jauh hari ini," ucapnya memberitahu.
"Ayo kita cari di tempat yang lain," ucap Tier dan mereka mengangguk menyetujui.
Mereka kembali berjalan sambil melihat-lihat sekitarnya, apakah ada yang bisa mereka ambil untuk bekal mereka di perjalanan nanti.
"Ada rambutan!" seru Marta menunjuk dua pohon rambutan yang sedikit tersembunyi oleh semak-semak.
"Di mana?" tanya Perly tidak melihatnya.
"Ayo aku tunjukkan," Marta mengarahkan mereka ke tempat pohon rambutan yang dia lihat.
"Ah benar ternyata. Buahnya lumayan banyak." ucap Zate menengadah ke atas.
"Tapi sepertinya pohon yang satunya baru saja diambil. Tidak ada yang matang," tunjuk Anta pada pohon di sebelahnya. Tier mengangguk, "Yasudah, kita panjat yang ini saja," ucap Tier bersiap-siap akan memanjat.
"Apa kita tidak bisa menggunakan kekuatan saja? Energiku akan terkuras habis kalau begini," keluh Zate. Bahunya turun karena lemas, lengkap dengan ekspresi sengsara di sana.
"Gunakan saja kalau kamu mau mati di perjalanan," jawab Anta menyusul Tier memanjat pohon rambutan itu.
"Ck. Kenapa dia tidak bisa berpikir dulu sebelum berbicara?" gumam Zate lalu ikut memanjat.
"Bukankah ini adalah buah-buahan musiman?" tanya Perly.
"Buah musiman?" tanya Marta mengulang pertanyaan Perly.
Perly mengangguk, "Iya. Buah yang hanya akan berbuah pada musimnya saja, kamu tidak tau?" Marta dan Befra sama-sama menggeleng. Di sini tidak ada istilah seperti itu.
Dan Marta dengan cepat menjelaskan kala Perly sudah memasang ekspresi bingung, "Buah ini akan terus berbuah, hanya saja tidak selalu matang. Jika sudah ada yang mengambilnya, tiga hari setelah itu buah yang lain akan segera matang dan yang belum matang kembali berbuah dalam beberapa hari. Begitu seterusnya," jelas Marta membuat Perly melotot.
"Benarkah? Wah ...! Kenapa tidak dari dulu saja aku tinggal di sini? Aku akan puas memakan semua buah-buahan ini," ucap Perly menatap rambutan di atasnya dengan tatapan berbinar.
Mereka berdua terkekeh. Itu terdengar lucu.
"Apakah di dunia manusia, seperti yang kamu katakan tadi?" tanya Befra dan dengan cepat Perly mengangguk, "Ya. Ada yang musiman yang berbuah hanya pada musimnya saja. Ada yang hanya berbuah sekali dan setelah itu tidak bisa berbuah lagi, ada juga yang berbuah terus menerus tapi harus menunggu matangnya dalam waktu yang cukup lama," jelas Perly membuat Marta tertawa.
"Pantas saja, kau sangat rakus memakan buah-buahan di sini, rupanya nutrisimu kurang terpenuhi di dunia manusia," ucapnya mendapatkan pukulan dari Perly.
"Hey! Tangkap ini!" teriak Anta dari atas lalu menjatuhkan tas yang tadi dia bawa.
Mereka menengadah dan harus terkejut oleh sebuah tas yang telah melayang jatuh di atas Perly. Untung saja reflek Perly sangat bagus. Gadis itu dengan sigap menangkapnya.
"Hey! Kira-kira jika ingin menjatuhkannya! Kau bisa membuat diriku terkena masalah serius!" teriaknya kesal pada Anta yang terlihat tidak peduli.
Mendecak pelan, Perly lalu membuka ikatannya dan mengambilnya satu.
"Jangan dimakan," larang Befra membuat buah itu menggantung di mulut Perly.
"Kita harus mencucinya terlebih dahulu. Bagaimana kau ini," ucapnya lalu mengambil alih buah yang Perly pegang beserta tasnya.
"Kami menggabungkannya. Tas ini untuk nanti jika kita menemukan buah yang lainnya," ucap Tier saat sudah sampai di depan mereka.
"Iya. Berikan padaku, biar aku membawanya satu," ucap Marta lalu Tier dan Zate langsung memberikan tasnya pada Marta.
Anta yang baru sampai, dibuat heran oleh wajah cemberut Perly, sambil menepuk pakaiannya yang mungkin kotor, dia bertanya, "Kenapa dengan bibirmu? Ingin ditampar?" tanya Anta pada Perly.
Befra dan yang lainnya lagsung menatap Perly. Befra geleng-geleng kepala, katanya, "Dia ingin memakan buah ini, tapi aku melarangnya," jawab Befra.
Anta geleng-geleng kepala sambil mendecak, hidung mancung gadis itu disentil membuat Perly memekik, "Dasar kau ini," katanya, "Kita harus mencucinya terlebih dahulu, baru boleh dimakan. Apa kau tidak pernah belajar tentang kebersihan?" tanya Anta membuat Perly semakin cemberut.
"Ya ya!" jawab Perly ketus.
"Ayo kita cari lagi," ucap Marta dan mereka mengangguk.
Tier yang berjalan di depan tiba-tiba berhenti membuat secara otomatis langkah orang-orang di belakangnya juga terhenti.
"Ular itu lagi," ucap Befra melihat seekor ular di depannya.
•
Ya itu adalah ular yang sama yang dulu menyerang mereka. Kenapa mereka bisa tau? Karena bekas kunci dari Marta dan Tier masih ada di tubuhnya. Meski tak sampai melukai tubuh si ular, tapi tampaknya bekas itu tak kunjung menghilang. Atau mungkin, ular itu yang tidak menginginkan bekas itu menghilang?
Zate dan Anta tentu bingung dengan reaksi itu. Semua yang ada di dunia fairy adalah berteman, bahkan dengan binatang buas sekalipun. Lalu kenapa mereka seperti sangat berjaga-jaga hanya karena melihat seekor ular? "Tenanglah, itu hanya seekor ular," ucap Zate tenang.
"Ular itu pernah menyerang kami, karena dipengaruhi oleh Pengendali Dark," ucap Marta cepat membuat Zate yang ingin mendekat pada ular itu kembali ke tempatnya dan mengambil ancang-ancang, bersiap untuk menyerang.
"Apa kemungkinan pengaruh itu masih ada?" tanya Anta juga melakukan hal yang sama.
"Kita belum bisa memastikannya. Bisa saja Dark kembali mempengaruhinya," jawab Tier.
Sama seperti sebelum-sebelumnya, jika berada dalam bahaya, Perly-lah yang berada di tengah-tengah mereka agar mereka mudah untuk melindunginya. Benar-benar memasang badan, menjadi tameng untuk Perly.
"Perly, bagaimana pun nanti keadaannya, jangan menggunakan kekuatanmu lagi. Beritahu kami jika kamu mendapat petunjuk dan biarkan kami yang melindungimu," ucap Befra pada Perly. Mewanti-wanti dengan apa yang bisa saja Perly lakukan secara tiba-tiba.
Ular itu tidak bergerak dan tidak melakukan apa-apa selain diam ditempatnya dengan tatapannya seperti awal mereka bertemu, yaitu menatap Perly. Lebih intens dari sebelumnya.
"Jangan menyerang kalau dia tidak menyerang kalian. Bukankah kalian bilang mereka bersahabat dengan para pengendali," ucap Perly memperingati.
Mereka mengangguk meski tetap memasang ancang-ancang di depan. Sangat siap jika sewaktu-waktu ular itu menyerang.
"Kamu bisa mendengarku?" Perly berucap dalam hatinya, "Jika kamu sedang memerlukan bantuan, katakanlah. Aku dan teman-temanku akan membantumu," lanjutnya.
"Kamu masih bisa berbicara padaku?" Akhirnya Perly mendapatkan jawabannya.
Perly tersenyum dan mengangguk, sangat yakin bahwa ular itu bisa melihatnya melskukan itu, "Ya, apa kamu masih diganggu oleh Pengendali Dark? Atau ada hal lain yang mengganggumu?" tanya Perly lagi.
"Tidak. Aku sudah baik-baik saja berkat dirimu. Aku melihat kalian yang sedang kesulitan mencari makanan. Jadi aku ingin membantu," ucap ular itu.
Kening Perly berkerut mendengarnya. Membantu? Menemukan makanan maksudnya? Perly mengalihkan perhatian pada teman-temannya yang sedang sibuk mengatur strategi kalau-kalau ular di depan mereka berubah ganas.
"Benarkah? Kamu tau tempatnya?" tanya Perly.
"Iya. Aku tau tempatnya. Kalian bisa mengikuti aku, akan aku tunjukkan tempatnya," ucap ular itu lagi. Dan Perly hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Dia tidak berbahaya, dia hanya ingin membantu kita," ucap Perly pada teman-temannya.
Mereka semua yang tadinya fokus pada ular itu beralih menjadi menatap Perly, terdiam sebentar sebelum suara Anta terdengar, "Bagaimana kamu tau?" tanya Anta cepat.
"Dia yang mengatakannya," jawab Perly santai namun itu membuat Zate dan Anta terkejut.
"Kamu bisa berbicara dengannya?" tanya mereka serentak, "Bagaimana bisa?" Lagi keduanya berucap serentak.
Sedangkan Perly hanya mengangguk beberapa kali lalu mengedikkan bahunya tanda tak tau.
"Kapan? Kenapa kami tidak mendengarnya? Kau jangan bercanda di situasi seperti ini, Perly. Kau juga akan terkena bahaya nantinya," ucap Zate pada Perly.
"Mereka bertelepati." ucap Tier.
"Telepati?" tanya Anta mengulang ucapan Tier.
Tier mengangguk. Sedikit banyaknya terhibur karena mimik muka Zate dan Anta. Kedua lelaki berbeda elemen itu memasang wajah aneh yang lucu karena saking tak percayanya. Tentu saja, ini hal langka, bahkan, mungkin selama ini baru ini mereka mendengarnya.
"Tidak mungkin ...," lirih Zate masih menatap tak percaya pada Perly membuat gadis itu menghela nafas panjang. Akan lama jika begini urusannya.
Laki-laki itu melanjutkan, "Perly, jadi kamu pernah ...." Ucapan Zate menggantung, menunjuk Perly dan Perly hanya mengangguk, seolah tau apa kelanjutan kalimat itu.
"Ya begitulah. Ayo, kita ikuti dia. Dia ingin membantu kita mencari makanan," ucap Perly lagi lalu berjalan mendahului mereka, dengan ular itu yang juga mengikuti Perly sampingnya.
"Jadi itu benar-benar ada?" tanya Anta entah pada siapa, pria itu bertanya seperti sedang berbisik.
Namun bukan Marta namanya kalau dia tak mendengar gumaman itu, "Seperti yang kamu lihat," katanya membuat Anta menoleh, "Ya sudah ayo kita ikuti dia," ucap Marta dan mereka berjalan mengikuti Perly.
Perly dan ular itu beserta semua teman-temannya terus berjalan menyusuri hutan sampai mereka tiba di suatu tempat yang penuh dengan berbagai macam buah-buahan.
"Apa hanya aku yang melupakan tempat ini? Aku rasa, aku tak pernah melihatnya," gumam Befra melihat sekelilingnya.
Bagian dari hutan yang sekarang mereka pijak ini, terlihat baru dan terasa asing oleh mereka semua. Pepohonannya, tumbuhan yang tumbuh di sana, semuanya, terasa seakan mereka adalah orang baru di tempat yang bahkan sudah tak terhitung mereka datangi.
"Ya, aku juga baru pertama kali datang ke sini," timpal Zate mengangguk pelan.
"Aku yang setiap hari ke sini saja baru pertama kali melihat ada tempat semacam ini di hutan," ucap Anta.
"Apa ini semacam tempat rahasia?" tanya Tier.
Perly yang sedang asik-asiknya memandangi berbagai macam buah segar di depan matanya, terganggu oleh atensi teman-temannya yang malah terdiam tak jauh darinya. Terlihat bingung dan linglung.
Dirinya mendekat, "Kenapa kalian terlihat bingung? Ayo ambillah, kalian bilang perjalanan kita akan sangat jauh kali ini," ucap Perly yang melihat teman-temannya hanya diam memandangi tempat ini.
"Perly, tanyakan pada ular itu, kenapa kami tidak pernah menemukan tempat ini? Apa ini adalah tempat rahasia?" ucap Marta pada Perly.
Gadis yang ditanyai bingung. Ini lebih aneh dari dirinya. Yang benar saja, mereka yang berbelas tahun hidup di sini tidak tau menau tempat ini? Tapi tetap, Perly menatap ke arah ular yang ada di samping bawah, "Kamu dengar bukan? Kenapa bisa begitu?" tanya Perly pada ular itu.
"Ya memang. Ini adalah tempat tersembunyi. King Ratheon yang membuat tempat ini khusus untuk para hewan yang ada di hutan ini, dan tempat ini dibuat tak kasat mata untuk para pengendali agar mereka tidak mengambil hak para hewan. Ini belumlah keseluruhan tempatnya," jelas ular itu membuat Perly mengangguk.
Perly mengangguk mengerti sedangkan di sana teman-temannya semakin digerogoti oleh rasa penasaran yang sanat amat tinggi. Apalagi melihat Perly mengangguk tanpa menjelaskan pada mereka.
"Lalu kenapa kami bisa melihatnya?" tanya Perly.
"Karena jika ada hewan yang menginginkan pengendali untuk melihatnya, maka mereka bisa melihatnya. Seperti aku yang sudah mengizinkan kalian melihatnya," jawabnya lagi.
Perly berbalik, siap untuk menjelaskan apa yang ular itu katakan padanya, sebelum sesaat terhenti kala ular itu kembali berkata, "Kecuali dirimu. Kau tak perlu lagi izin dariku. Kau adalah pemilik semua yang ada di sini, Queen." Yang mana, sukses membuat Perly terdiam dalam keterkejutan.
•