Perjanjian

695 Kata
Sudah setahun Iliana mengamati Zoeya-gadis berambut panjang dengan poni yang menutupi matanya. Sosok manusia yang tidak pernah ingin menatap mata siapapun. Mata hantu sekali pun. Zoeya benci menatap mata mereka! "Ayolah Zoeya! Kamu dapat mendengarku 'kan?" Hantu perempuan berparas jelita terus saja mengikuti Zoeya sepanjang waktu. Seperti biasa, Zoeya terus saja menunduk dan pura-pura tidak melihat hantu tersebut. Ia tak mau berurusan dengan hantu. Sudah cukup ia hidup seperti hantu di antara manusia-manusia yang jarang menganggapnya ada. "Aku tahu kamu dapat melihatku, jangan abaikan aku!" Hantu gila! Kok ngegas, sih? Batin Zoeya yang sedikit ngeri mendengar intonasi tinggi entah kuntilanak atau apa di sampingnya. Illiana namanya. Menghela napas, mengusap muka dengan frustrasi. "Dengarkan aku, Zoeya. Aku bisa membantumu, aku bisa memberimu uang!" Tidak ada reaksi, Zoeya hanya memiringkan kepalanya ke kanan bermaksud menghindari lengkingan suara Iliana. "Please, dengarkan aku!" Kesal, Iliana menendang tong sampah yang ada di dekatnya. Sayangnya, ia hanyalah roh lemah yang tidak mampu menyentuh atau menggerakkan satu benda pun. Harus bagaimana lagi Iliana meyakinkan Zoeya, bagaimana caranya agar Zoeya mau membantunya? Apakah ia menyerah saja? Gadis kerempeng itu benar-benar keras kepala. Iliana mengacak rambutnya, meluapkan kekesala. Berteriak murka pada langit. Memaki rumput. Mengutuk selokan. Sampai akhirnya ia terduduk dan memeluk lututnya yang lemas. Habis sudah tenaganya sia-sia. "Apa kamu benar-benar bisa memberi saya uang?" Suara mezzo-sopran samar-samar tertangkap telinga si hantu gila, Iliana. Secepat kilat Iliana menengadahkan kepalanya, menatap sosok yang berdiri di hadapannya. Benarkah Zoeya berbicara padaku? Batinnya tak percaya. Ia tidak salah, Zoeya memang sedang berbicara dengannya. Senyum Iliana mengembang seperti pelangi yang muncul di kala hujan reda. Ini benar-benar keajaiban baginya. Iliana megangguk dan segera bangkit. "Ya Zoeya, aku bisa memberikan uang kepadamu. Asalkan kamu membantuku." "Bagaimana kamu bisa memberi saya uang, sedangkan kamu hanyalah arwah penasaran," ujar Zoeya. "Ikutlah denganku dan akan kubuktikan kata-kataku," ajaknya. Zoeya mengerutkan kening, gadis itu tampak berpikir. "Baiklah, ke mana kamu akan mengajak saya pergi?" Tanpa menjawab, Iliana menarik tangan Zoeya menuju sebuah apartemen. Tidak lewat teleportasi ghaib. Mereka berjalan kaki tiga puluh menit untuk tiba di unit apartemen Iliana. Sesampainya di depan pintu apartemen, Iliana meminta Zoeya menekan kode pintu, yang hanya diketahui oleh Iliana. "Ini adalah apartemenku, tak ada yang tahu tempat ini selain aku. Bahkan suamiku pun tak tahu tentang apartemen ini," jelasnya setelah mereka masuk dalam apartemen. "Tenang saja, kekayaan ini bukan hasil dari pelihara tuyul. Aku mendapatkan kekayaan dari royalti novel." Pandangan Zoeya menyapu setiap sudut ruangan. Mengamati sekaligus takjub dengan furnitur mewah dan modern yang melengkapi tempat ini. "Kamu seorang penulis novel?" tanya Zoeya ragu. Iliana tersenyum. "Jika kamu membantuku, aku akan memberimu uang." Iliana berusaha menyakinkan Zoeya. "Cuma menulis novel saja kamu bisa sekaya ini?" celetuk Zoeya takp percaya. "Novelku jadi bestseller, bukan hanya di Indonesia tapi juga di Asia." Iliana sedikit menyombongkan diri. "Dari 13 buah novelku yang telah terbit, ada beberapa yang sudah difilmkan," tambahnya dengan bangga. "Tapi, kenapa kamu enggak terkenal?" "Aku menyembunyikan identitasku, aku hanya menggunakan nama pena," jawab Iliana. Sepertinya sudah cukup bagi Zoeya mengetahui tentang Iliana. "Oke, bagaimana saya harus membantumu? Dan berapa uang yang akan kau berikan kepada saya?" Iliana mengarahkan jari telunjuknya ke sofa. "Ambilah uang yang ada di clutchbag-ku." Zoeya langsung mengambil clutchbag berwarna navy dan membawanya kepada Iliana. Mata Zoeya berbinar terang melihat lembaran seratus ribuan. "Bagaimana? Segitu cukup? Kau hanya perlu meminjamkan ragamu, agar aku bisa menyelamatkan keluargaku." Ilina mulai menjelaskan penawarannya. "Jika misiku berhasil, seluruh uang dan apartemenku adalah milikmu," tawar Iliana. Mata Zoeya seketika terbelalak. "SELURUH UANGMU?" "Iya, anggap saja uang yang ada di clutchbag itu adalah uang muka dari kerjasama. Setelah dendamku terbalas, baru aku memindah namakan apartemen ini atas namamu dan mentransfer seluruh tabunganku ke rekeningmu," iming Iliana. Seketika rasa cemas melanda pikiran Zoeya, bagaimana jika arwah ini jahat dan memanfaatkan tubuhnya? Tapi saat ini ia sangat membutuhkan uang dan satu-satunya harapan ia punya adalah Iliana. "Tapi kamu tidak akan mencelakakan tubuh saya 'kan? Janji tidak akan berbuat sesuatu yang kriminal." "Tentu tidak Zoeya, aku janji akan menjaga tubuhmu sebaik mungkin. Percayalah." Zoeya menatap lekat-lekat mata Iliana, ia tidak menemukan kebohongan di sana. Gadis itu menghela napas panjang dan akhirnya memberikan keputusan. "Baiklah, aku akan membantumu." Iliana tersenyum. Akhirnya ada raga yang dapat kupinjam. Tunggu saja kau iblis betina Jihan, aku akan membuatmu masuk penjara dan keluarga kecilku bisa selamat dari kungkunganmu! *** Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN