Memulai Misi

821 Kata
"Baik. kamu boleh meminjam tubuh saya, tapi setelah urusan saya di kampus selesai. Saya harus pergi untuk menyelesaikan pembayaran. Saya akan segera kembali," pamit Zoeya setelah menerima beberapa bendel uang. "Tapi kamu tidak kabur 'kan?" Iliana memperjelas kekhawatirannya. Zoeya menatap tajam Iliana. "Saya bukan orang yang suka mengingkari janji, saya pasti kembali menemuimu." "Oke, deal!" "Tapi..." Baru saja Zoeya ingin melangkah pergi, suara Iliana membuatnya kembali berbalik. "Tapi apalagi?" "Bisakah kamu tinggal di sini mulai hari ini? Paling tidak selama misiku berjalan," pinta Iliana memohon sungguh-sungguh. "Bisa saja, tapi kenapa saya harus tinggal di sini? Memangnya kenapa jika saya tinggal di rumah saya?" selidik Zoeya. Iliana menggigit bibir sebelum menjawab, "Rumahmu ... entah kenapa, aku tidak bisa masuk ke sana. Bukan hanya aku, tapi semua mahluk sepertiku." Zoeya mengerutkan dahinya. "Seperti ada sebuah energi yang menghalangi para hantu untuk  memasuki rumahmu. Selama setahun aku mengikutimu, aku selalu berusaha masuk ke dalam rumahmu, tapi gagal. Aku selalu terpental dan berakhir sakit!" Zoeya mengangguk-anggukan kepala. Ia akhirnya mengerti mengapa setelah kepergian bundanya, tak ada satu pun hantu yang menganggu Zoeya selama ia berada di dalam rumah. Rupanya ada sebuah energi yang melindungi rumah Zoeya. "Nanti saja kita lanjutkan, aku harus buru-buru." Zoeya segera meninggalkan Iliana. *** Sembari menunggu Zoeya, Iliana memutuskan untuk pergi ke kampus tempat sang suami mengajar. Ia harus mengekori Profesor Alex untuk mengumpulkan informasi. Supaya misinya berjalan dengan baik, Iliana perlu tahu agenda suami sedetil mungkin. Alexander Nelson Tamsih, pria yang sangat Iliana cintai. Selain resmi menjadi dekan termuda di fakultas ekonomi salah satu PTN di Jakarta. Alex juga aktif di dunia politik. Ia sempat ditunjuk sebagai staf khusus di bidang ekonomi oleh presiden sebelumnya, tetapi jabatannya sudah berakhir sesuai dengan berakhirnya masa jabatan sang presiden. Tentu, sebagai istri, Iliana bangga dan bahagia melihat kesuksesan suaminya. Namun, kebahagiaan itu harus dikubur dengan sebuah kenyataan pahit. Fakta bahwa ia telah tewas terbunuh oleh adik tirinya, Jihan. Membuatnya tak bisa pergi dengan tenang. Usai mendapatkan informasi jadwal acara Alex, Iliana kembali ke apartemen. Jadi malam ini, iliana akan memulai misinya. Jika sesuai jadwal, nanti malam suaminya akan menghadiri pertemuan di sebuah restoran Jepang. Iliana akan mencoba mendekati Alex dengan tubuh Zoeya. Perlahan-lahan ia akan memikirkan strategi yang tepat untuk mendapatkan hati Alex. "Ahhhh, Zoeya. Aku senang kamu sudah kembali." Iliana girang melihat Zoeya berada di apartemennya. Ekspresi Zoeya tak terbaca, ia menatap Iliana dengan penuh selidik. Iliana yang ditatap merasa bingung, sampai mengamati tubuhnya sendiri dari bawah ke atas. "Apa ada yang salah denganku Zoeya?" tanya Iliana akhirnya. "Saya merasa janggal. Bukannya kamu arwah yang bisa merasuki siapa pun? Kenapa kamu tidak merasuki sembarang orang saja? Kenapa harus saya?" tanya Zoeya serius. "Tidak semudah itu, Zoeya." Iliana menghela napas. Ia berjalan ke sebelah Zoeya lalu duduk di samping gadis indigo itu. "Hanya beberapa dari kami yang bisa merasuki manusia, sembarang manusia. Itupun jika manusia tersebut dalam keadaan lemah dan pikirannya kosong. Arwah penasaran sepertiku tidak bisa melakukan itu, ilmuku masih belum cukup untuk menaklukan raga manusia. Hanya gadis yang bisa melihat hantu sejak lahir yang bisa menarikku ke dalam tubuhnya," ungkap Illiana. "Lalu bagaimana saya bisa menarikmu ke dalam tubuh saya?" Zoeya semakin bingung. "Pegang tanganku dan berkonsetrasilah," minta Illiana tanpa basa-basi. Zoeya pun mengikuti permintaan Iliana dan gadis itu ternyata mampu mengenggam tangan Iliana. Iliana tersenyum sebentar lalu kembali mengintruksi Zoeya. "Kosongkan pikiranmu Zoeya, dan tariklah aku ke dalam ragamu." Zoeya mengembuskan napas pelan-pelan lalu memejamkan matanya. "Kamu pasti bisa, Zoeya!" Perlahan tubuh Iliana tertarik ke dalam raga Zoeya, rupanya hal itu berhasil. Akan tetapi beberapa saat kemudian roh Iliana terhempas. Raga Zoeya menolak. Zoeya terengah-engah. "Saya belum siap." "Kamu ragu Zoeya?" Iliana mendesah kecewa. "Tidak, saya hanya harus memastikan sesuatu," elak Zoeya. "Apa itu?" tanya Iliana cepat. "Bagaimana cara saya bisa mengeluarkan kamu dari tubuh saya, nanti?" Iliana memegang pundak Zoeya. "Aku akan keluar sendiri saat urusanku selesai, jiwamu tetap akan menguasai ragamu. Jika tubuhmu menolak, meski aku memaksa untuk masuk. Rohku akan tetap terhempas keluar." "Apa saya bisa percaya kata-katamu?" Zoeya masih sangat ragu. "Tentu, buktinya aku terhempas saat kamu mendorongku dengan ketidaksiapanmu." Zoeya mengangguk, penjelasan Iliana masih logis. Bisa diterima. Mereka bersiap untuk menyatukan tubuh mereka kembali. Keduanya berkonsentrasi. Mata Zoeya terpejam, ditariknya napas dalam-dalam. Jemari kere saling berpautan. Sesaat kemudian, tubuh Zoeya seolah menghisap arwah Iliana. Mata Zoeya perlahan terbuka. Cepat ia mencari cermin. Gadis itu tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi rapinya. "Kini, aku tampak seperti gadis berusia 20 tahun." Iliana memperhatikan penampilan Zoeya di cermin. Gelengan kepala miris, menyadari dengan pasti bahwa gadis yang ia pinjam tubuhnya ini lebih layak disebut hantu. Poninya sudah panjang, menutupi mata. Menjadikan Zoeya terlihat tidak normal. Di tambah lagi bajunya. Zoeya yang hanya mengenakan kaos oblong atau kemeja buluk dan tas ransel hitam bau yang sering bertengger di punggungnya. "Bagaimana mungkin aku akan menarik perhatian Mas Alex jika penampilanku seperti gelandangan?" gerutu Iliana dalam raga Zoeya. "Aku butuh ke salon. Kecantikan salah satu hal penting untuk mendekati Mas Alex." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN