Malam yang Menggoda

1683 Kata
Akhir-akhir ini perasaan dan pikiran Profesor Alex teramat lelah. Banyak pekerjaan memusingkan dan penuh tekanan memburunya. Alex benci nepotisme dan kong-kali-kong dalam dunia akademis. Banyak yang menghujatnya munafik. Bahkan istrinya, Jihan, juga mendorongnya untuk keluar dari ideologi primitif seorang Alex. Beberapa minggu ini, rumah tangga Alex diwarnai dengan percekcokan. Setiap ia pulang, Jihan selalu membombardir Alex dengan sejuta pertanyaan yang lebih mirip omelan, membuatnya semakin stress. Alex tak menyalahkan Jihan, sikap istrinya menjadi sangat buruk setelah dua kali keguguran. Mungkin Jihan juga mengalami masa sulit, hingga melampiaskan seluruh kekesalannya pada Alex. Di saat demikian, Alex merasa semakin kesepian. Seolah-olah tak ada lagi tempat yang bisa ia tuju untuk pulang. Tepatnya hari ini, entah kenapa Alex begitu merindukan sosok Iliana. Wanita yang amat sangat ia cintai, ibu dari Evan, putranya yang penyayang dan paling mengerti Alex. Iliana berbeda sekali dengan Jihan yang kini egois dan selalu mau menang sendiri. Iliana tak pernah membantah Alex, selalu mendukung dan mempercayai apapun yang menjadi prinsip suami. Iliana juga selalu menyambut dengan senyum hangat kepulangan Alex. Tak pernah sekalipun Iliana menaikan nada suara ketika berbicara dengan suaminya. Keputusan sepihak takdir yang memisahkan pertemuan singkat Alex dan Iliana, memberi duka mendalam. Jika saja bukan demi Evan yang sudah sangat dekat dengan adik Iliana, yaitu Jihan. Alex tidak mungkin menikah lagi secepat ini.  Menghadiri undangan menteri ESDM yang secara pribadi mengajaknya makan malam, bukan hal yang Alex sukai. Sayangnya ia tak mungkin menolak hadir. Sebuah private room yang tampak mewah, menghadap langsung ke kolam renang, telah menunggu kehadiran Alex. Restoran Jepang bergaya modern kontemporer yang berlokasi di Hotel Gran Melia Kuningan, menjadi saksi beliau menawarkan sebuah posisi strategis untuk ayah satu anak itu. Meski menarik, tapi Alex tak mungkin tertarik.  Buat apa menduduki kursi direktur di salah satu sektor BUMN, jika posisi tersebut hanya akan menjadikannya wayang? Begitu yang Alex pikirkan tentang teori konspirasi petinggi di hadapannya. Dunia politik adalah pusaran lumpur hisap yang mampu membuat orang baik menjadi jahat dan orang bersih menjadi kotor. Alex mengakhiri pertemuan ini dengan penolakan halus. Mungkin nanti ia akan menyesali keputusannya. Suami Iliana itu melangkah keluar dengan pikiran kacau, sambil melonggarkan dasi. Ia masuk mobil, menyalakan mesinnya, dan meninggalkan pelataran parkir hotel. Tepat sebelum pintu keluar, muncul seorang gadis menghadang laju mobilnya. Beruntung Alex tepat waktu menginjak rem, kalau tidak, satu nyawa anak orang mungkin berakhir malam ini.  Gadis tidak waras itu menggedor pintu mobil Alex. Dosen ganteng hanya membuka kaca, memperhatikan dan mendengarkan si gadis sinting berkata. "Tolong selamatkan aku...."  Tatapan itu!  Alex merasa familiar dengan tatapan gadis gila yang sukses menarik perhatiannya. Tatapan hangat penuh cinta yang selama ini ia lihat di dalam mata almarhumah istrinya, Iliana.  "Pria itu. Dia akan menangkapku jika aku tak segera meninggalkan tempat ini. Kumohon biarkan aku masuk!" tambah Iliana di dalam tubuh Zoeya. Nada suaranya terdengar putus asa. Ekspresi panik tergurat jelas. Iliana menunjuk ke arah pria botak berwajah menyeramkan, yang berdiri di lobi. Alex langsung membukakan pintu mobil begitu menyadari gadis di hadapannya benar-benar dalam bahaya. Iliana cepat-cepat masuk saat suaminya membukakan pintu. Mobil meluncur meninggalkan pelataran hotel. Sambil fokus menyetir sesekali Alex menoleh ke arah gadis di sebelahnya. Perasaan aneh bergumul cepat, menyesaki benak Alex.  Apa yang salah? Mengapa gadis di sebelah Alex terus memandangi wajahnya?  Alex mencoba tetap berkonsentrasi pada kemudi, memperhatikan jalanan yang lumayan lenggang. Tidak lama kemudian, Alex merasakan tangan dingin dengan gemetar ringan merabai pipinya. Alex menoleh. Terkejut, mendapati gadis yang ia kira sinting itu sedang menangis pilu. Air mata membanjiri pipi halusnya. Gadis yang tak Alex tahu namanya tampak terhanyut dalam sebuah tangis menyesakkan.  Luka sedalam apa, yang telah menusuk hatinya?  "Kau baik-baik saja?" tanya Alex ragu. Iliana hanya menangis dan terus menangis dalam keheningan. Iliana bahagia bisa masuk ke mobil suaminya. Memandang wajah pria yang paling dicintai sedekat itu. Menyentuh kembali sang suami, membuatnya senang sekaligus sedih. Seperti menelan getir pahit kenyataan, jika Iliana ingat bahwa pria sebaik malaikat ini kini berada di sisi iblis betina, Jihan.  Aku merindukanmu Mas.  Kamu terlihat lebih kurus, apa kau makan dengan baik?  Apa kamu tidur dengan nyenyak? Apa kamu hidup bahagia Mas? Alex memperhatikan penampilan Zoeya. Lengan bajunya sobek, rambutnya basah dan lengket. Alex merasa gadis di sebelahnya baru saja mengalami pelecehan seksual.  "Kamu mendapat pelecehan seksual?" Alex bertanya hati-hati, tapi tetap saja membuat Iliana melotot menatap si suami.  Iliana kaget, ia sengaja merobek lengan baju,  dan menuangkan jus tomat ke kepalanya—yang telah dirias habis-habisan—untuk menjalankan skenario. Ia akan berpura-pura menjadi p*****r yang dihajar oleh istri tamunya saat mereka kepergok check in di hotel. Sayangnya, Alex justru berpikir ia adalah korban pelecehan seksual. Ah, Iliana harus lekas mengubah skrip ceritanya.  "Jangan salah paham, aku hanya menebak. Bajumu sobek dan rambutmu tak karuan kurasa pria tadi sudah berbuat yang—"  "Iya. Aku baru saja lolos dari p****************g yang hendak memperkosaku." Iliana menjawab sambil memutup muka dengan tangan. Menulis novel atau skenario mungkin mudah, tapi berakting bukan hal yang ia kuasai.  "Bagaimana bisa kamu ada di hotel bersama pria itu?" Alex semakin penasaran. "Anu. .. emm aku mengikuti casting untuk mendapat peran di sebuah film. Tapi rupanya aku dijebak casting abal-abal itu."  "Maaf, sudah membuatmu sedih dengan pertanyaan tadi. Siapa namamu?" Alex percaya dan tampak bersimpati.  "Zo-zoeya."  "Ke mana aku harus mengantarmu pulang?" Pertanyaan Alex membuat wajah Iliana semakin sedih. Dia hanya menggelengkan kepala. Bibirnya melengkung ke bawah. "Kau tidak ingin pulang?" Alex bertanya sekali lagi.  Iliana hanya mengangguk, membuat kening suaminya berkerut.  Siapa sebenarnya gadis ini? Di mana rumahnya? Dan kenapa dia tidak ingin pulang? Alex tidak habis pikir, kenapa ia berakhir membawa Zoeya ke hotel. Memesankan satu kamar suit room. Bahkan saat Iliana turun dari mobil tadi, Alex secara jentelmen melepas jasnya dan memakaikannya pada tubuh Zoeya yang memang kedinginan. Mereka berdua memasuki sebuah kamar hotel. Alex duduk di sofa sambil menatap iba ke arah Zoeya. "Kamu mahasiswi?" tanya Alex setelah mereka saling diam untuk waktu yang lama. "Iya." Iliana mengangguk. "Jurusan?"  "Sastra."  "Apa orang tuamu tidak khawatir jika kamu tak pulang malam ini?" Alex menatap serius. "Kedua orang tuaku sudah meninggal." Iliana berakting sempurna, menampilkan mimik sedih. Iliana duduk di depan Alex agar puas memandang wajah suaminya. Misinya berhasil. Membuat Alex tidak pulang, biar Jihan kalang kabut.  Sikap Iliana membuat Alex merasa aneh dan curiga pada sosok Zoeya. Kenapa gadis itu terus menatap Alex dengan mata sendunya?  "Kamu tidak takut berada di kamar hotel dengan pria asing sepertiku?" tanya Alex sambil mendekatkan wajahnya ke arah Zoeya. Terlihat reaksi gugup Zoeya sangat mirip mendiang istrinya.  Wajah bersemu. Pandangannya ke atas, dengan kedua tangan mengelus d**a.  Mengapa tatapan, ekspresi, bahkan reaksi Zoeya mirip Iliana?  "Aku tidak takut. So-soalnya aku tahu kamu orang baik." Iliana terbata. Ia bingung harus bagaimana menjelaskan hal rumit ini kepada suaminya.  "Dari mana kamu mendapat keyakinan seperti itu?" tanya Alex lagi dengan sedikit tersenyum geli. Jelas aku tahu Mas, aku istrimu.  Aku tahu apapun tentangmu!  Justru aku akan senang jika bisa berdua denganmu malam ini. "Ka-karena kamu menolongku." Iliana mencoba menegakkan bahu. Membangun kembali pertahanan yang nyaris runtuh.  Iliana merutuki dirinya. Harusnya dia punya lebih banyak persiapan untuk mendekati Alex. Bukan sekadar jus tomat, dan pakaian lengan robek.  "Baiklah.... Aku akan menjadi orang baik malam ini, sesuai katamu," ujar Alex sambil menyunggingkan senyum. "Selamat malam Zoeya, tidurlah. Aku pergi dulu, ini kartu namaku, kamu boleh menghubungiku jika membutuhkan bantuan." Alex pamit sambil mengulurkan sebuah kartu nama dan bangkit berdiri dari sofa. Aduhh bagaimana ini? Kenapa Mas Alex malah pergi? Aku harus menahannya bagaimanapun. "Ku mohon jangan pergi." Lancang Iliana menarik lengan Alex ke pelukannya.  "Kenapa?"  "A-a-a. Aku takut sendiri," jawab Iliana dengan mata berkaca-kaca.  Alex menatap Zoeya lekat-lekat. Tanpa sadar tangan Iliana membelai pipinya, kerinduan dan hasrat ingin menyentuh si suami yang sedari tadi ditahan, akhirnya lepas juga. Segera dia menarik tangan cerobohnya supaya Alex tak salah paham. Di luar prediksi, Alex justru menahan tangan Zoeya untuk tetap di pipinya. Perlahan tapi pasti wajah mereka semakin dekat. Iliana khilaf mendaratkan bibirnya ke bibir Alex.  Ohh astaga, ini bukan bibirku. Ini bibir Zoeya yang kupinjam.  Ini juga tubuh Zoeya!! Sudah kepalang tanggung untuk berhenti, pikir Iliana. Hidung mereka bergesek. Iliana suka cara Alex memagutnya. Lembut, hangat, licin. Membuat hasrat yang lama terpendam kembali meletup-letup.  Oohh aku benar - benar merindukan tubuhmu Mas! Ciuman panas mereka berlanjut ke ujung ranjang karena andil besar Iliana yang agresif. Satu persatu pakaian, mereka tanggalkan. Alex tak pernah mengkhianati istrinya selama berumah tangga dengan Iliana. Seluruh kebutuhannya terpenuhi, termasuk urusan ranjang. Sayangnya, tidak demikian saat bersama Jihan.  Rindu pada sosok Iliana, menemukan kehangatan tatapan Iliana dalam mata Zoeya. Membuat tubuh Alex tak ragu merayu kemolekan di hadapannya. Keduanya bercinta tanpa kata. Saling mencecap, mendekap erat. Semua mengalir cepat. Mendorong keduanya untuk gegas meraih nikmat.  Saat milik Alex siap menjelajah l**************n Zoeya. Ekspresi wajah pria beranak satu itu berubah drastis. "Kamu masih virgin?" Alex bertanya dengan mata membelalak. Ohh Tuhan, Zoeya kenapa kamu masih virgin, sih.  Tak mendapat jawaban dari Iliana membuat Alex menghentikan pergerakannya. Iliana terkejap, ia bingung harus melakukan apa. Di sisi lain tak ingin merusak Zoeya, tapi ia juga tak sanggup melihat kekecewaan mengerat wajah suaminya.  Meski akan disesali, Iliana memutuskan menarik Alex dalam pelukannya. "Aku tak apa. Kita lanjutkan Mas," bisik Iliana di telinga Alex.  "Kamu yakin. Kamu akan menyesalinya Zoeya?" Alex memperingatkan.  Iliana sudah hilang akal sehat. Ia siap menerima hukuman apapun yang Zoeya berikan. Tangan Iliana meraih milik Alex yang mulai lunglai. Alex sempat bimbang, tapi setelah senjatanya siap tempur, keyakinan itu kembali datang.  Iliana menahan nyeri dengan menggigit ujung bantal. Alex mendorong dan menarik perlahan-lahan. Keduanya menikmati rasa sakit dan kenikmatan dengan menahan erangan. Malu, segan, kikuk, entahlah apa yang mereka pikirkan. Bagi Alex menyetubuhi perawan yang baru dikenal adalah tindakan tidak masuk akal. Sayangnya sebagai pria, nafsunya terlalu besar hingga tak sanggup ditopang.  Mereka telah selesai. Iliana tak berdaya dan kehilangan banyak tenaga. Diperawani dua kali ternyata tak menjamin rasa sakitnya berkurang. Padahal mereka melakukan penetrasi hanya lima belas menit, rasanya seperti tiga jam. Gerakan lembut tangan Alex membantu membersihkan keringat dan sisa-sisa darah Zoeya dengan tisu. Tidak lama setelah itu Iliana terlelap, ia merasa tiba-tiba saja ruhnya terhempas keluar dari tubuh Zoeya.  Ohh tidak!! Raga Zoeya telah menolakku.... *** Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN