Entah kenapa melihat Devan, Warda menjadi takut, dia berusaha menghindar tetapi langsung dicegah oleh calon suaminya. "Kamu barusan bersama siapa? Naik motor sambil berpelukan dengan cowok lain? Kalau kamu sakit tidak bisakah memberitahu aku? Aku ini calon suamimu, seharusnya akulah yang bertanggungjawab atas semua masalahmu," pekik Devan naik pitam. Warda hanya bengong, gadis itu belum bisa memahami arti komitmen. Yang dia tahu menikah dengan Devan adalah sebuah perjanjian yang tidak mengikat kebebasannya. Dan bukankah Devan yang duluan melanggar janji? "Maaf, Tuan Devan. Sebaiknya sebelum pernikahan kita jangan saling bertemu," jawab Warda lemah. Tuan? Seperti pemisah di antara mereka, untuk menyadarkan Devan jika Warda bukan pasangan sejatinya. Devan tidak bisa berkutik, walaupun

