Devan tidak bisa membendung amarahnya lagi, kecemburuannya sudah memuncak dan membakar ubun - ubunnya. "Persetan! Bagaimana mungkin aku bisa dipermainkan oleh gadis kecil? Dan dia tadi pakai seragam kerja lagi? Kurang apa aku? Jangan - jangan dia kerja demi bertemu Bian itu. Devan tidak bisa konsentrasi bekerja lagi, yang dipikirkan saat ini hanyalah ingin mendisiplinkan sang istri. Dulu Devan bisa mentoleransi, tapi kini Warda sudah sah menjadi istrinya. Devan segera menelpon Wandi untuk menjemput Warda secepat mungkin. Devan sendiri juga bergegas pulang meninggalkan segunung pekerjaan. "Aku cemburu sekali... Rasanya pengen memukul orang," batin Devan. Sesampainya di rumah, Warda sudah berada di dalam kamar. Begitu dia masuk gadis kecil itu tengah merengut juga. "Sejak kapan kamu

