Tubuh Warda sudah mulai terbiasa dengan sentuhan Devan, sehingga secara perlahan tidak ada penolakan ketika Devan memeluk atau mengecup rambutnya. Setelah perkelahian tadi siang, mereka kini sadar jika cinta mulai tumbuh bersemi. Dan rasa cemburu itu sangat menjengkelkan. Warda juga mulai berdandan, mengimbangi Devan yang sangat tampan dan selalu rapi. "Kamu cantik sekali," puji Devan. "Aku sudah biasa dikatakan begitu," balas Warda mengerjai. "Kalau begitu, beri aku kecupan sedikit saja," pinta Devan. "Tidak mau," tolak Warda malu. "Ah sedikit saja, masa dengan suami sendiri pelit," bujuk Devan. Dia heran, padahal usian Devan sudah dewasa tetapi pandai sekali merengek. "Baiklah, tapi tutup matamu!" jawab Warda mengalah. Devan sangat senang, dia menundukkan kepalanya karena jarak

