7 tahun kemudian…
Hari ini aku pergi untuk berburu, menjelajahi hutan untuk mencari mangsa disiang hari, kegiatan ini sangat mantap sekali.
Mulai 5 tahun yang lalu, aku menyadari bahwa berburu dan belajar banyak sihir bukanlah hal yang buruk, akhirnya aku menekuni hal itu mulai sekarang.
Sekarang umurku sudah 12 tahun, guru mulai mengajariku tentang dunia ini.
Ternyata didunia ini, ada yang namanya monster dan juga iblis, mereka adalah musuh manusia yang harus dibasmi, lalu dia juga berkata bahwa didunia ini juga ada yang namanya kerajaan.
Jika monster, biasanya mereka cenderung tidak akan memiliki akal dan untuk iblis, guru bilang bahwa jika aku bertemu dengan iblis sebaiknya lari saja karena katanya sangat berbahaya.
Untuk kerajaan itu, aku memimpikan kira kira seperti apa sebuah kerajaan itu dan aku berharap bahwa suatu hari nanti aku bisa kesana. Lagipula diduniaku yang sebelumnya tidak ada yang namanya kerajaan.
Daripada kerajaan, sepertinya aku akan lebih tertarik dengan makanan yang ada disana, pasti sangat enak dan beragam.
Tidak tidak, sadarlah Ella. Sekarang bukan waktunya memikirkan itu, yang paling penting sekarang adalah berburu, kalau kau tidak dapat buruan kaupikir makan malam kali ini pakai apa.
Aku menghilangkan bayanganku tentang kerajaan dan mulai fokus berburu, lihat aku akan memperlihatkan teknik yang baru saja diajari guru.
Berdiri dengan tenang, fokuskan pikiran. Cara ini sangat berguna jika digunakan berburu dihutan, karena dengan hanya berdiri dengan memfokuskan pikiran aku bisa mendengar semua suara yang jaraknya ribuan mil dariku, aku juga bisa memilih mana suara yang ingin kudengar dan suara yang tidak ingin kudengar.
Aku hanya perlu memburu binatang yang jaraknya tak jauh dariku.
Aku mendapatkannya, ada hewan yang jaraknya 300 meter dari tempatku berdiri.
“Sippp, pasti akan kutangkap kau, bersyukurlah karena akan menjadi santapanku malam ini.”
Aku segera ketempat hewan itu berada dengan melompat diatas dahan dahan pohon, keahlianku yang satu ini juga tidak sia sia, aku bisa kesana dengan cepat.
Sesampainya disana, aku melihat ada rusa besar yang sedang makan disana, aku melihatnya dari atas pohon dan yang paling penting, aku melihat ada tanaman kentang!!
Langka sekali ada kentang disini. Dikehidupan sebelumnya aku jarang sekali memakan kentang dan banyak membeli makanan instan saja.
Tapi didunia ini, 6 tahun yang lalu, guru menemukan sebuah kentang dan membuatnya menjadi keripik, mulai dari situ aku menyukai kentang.
Kata guru, kentang sangat amat langka dihutan ini, jadi kalau aku ingin makan kentang hanya bisa bergantung pada keberuntungan, dan sekarang keberuntungan sedang memihakku.
Setelah kubunuh rusa itu, akan kuambil juga kentangnya.
Aku menyiapkan anak panah dan bersiap untuk membidik.
“Diamlah rusa yang baik.”
Tapi saat aku ingin membidik rusanya, ada suara gemuruh yang langsung membuat tembakanku meleset dan membuat rusanya lari.
“Sialannn!! Siapa yang membuat gaduh disini sih, menganggu berburuku saja.”
Tak lama kemudian, aku melihat sesuatu dari kejauhan.
“Woiiii!! Kenapa diam saja, cepat lari!!!”
Seorang anak laki laki seusiaku berteriak, dia datang dari arah suara gemuruh itu dan ternyata setelah kulihat dibelakangnya ada…
“WAAAA!!! MONSTER LABA LABA!!”
Aku terkejut hingga terjatuh dari pohon, anak tadi langsung menarik tanganku untuk mengajakku melarikan diri.
"Woi, sialann!! Kenapa kau membawa monster menyebalkan ini kearahku, dasar!!”
"Ya mana kutahu kalau disana ada dirimu, kau pikir aku dukun.”
“Siall!! Kentangku yang berharga.”
Aku berlari bersama anak laki laki yang entah dari mana datangnya, mana lagi dia membawa monster yang paling kubenci sedunia.
Laba laba tadi mulai mengeluarkan jaring jaringnya.
“WAAA!! Aku benci jaring jaring ini!! Kau bisa memanjat pohon tidak?”
“Tidak!! Cepat lakukan sesuatu atau dia akan memakan kita.”
Kalau sudah begini, apa boleh buat.
Aku langsung menggedong anak laki laki itu dan berlari dengan memanfaatkan dahan dahan pohon. Lariku bisa lebih cepat jika memanfaatkan dahan dahan pohon ini.
Setelah berada lumayan jauh dari monster laba laba itu, aku berhenti dan menurunkan bocah ini.
“Sekarang laba labanya sudah tidak terlihat. Huhh… berat sekali kau bocah.”
“Heii!! Aku itu seumuranmu, kalau aku bocah lalu kau apa, ha!?”
“Husttt, diam sebentar.”
“Memangnya ada apa? Apakah laba laba itu datang lagi?”
“Berisik lagi, kubuang kau kejurang. Diamlah sebentar!!”
Aku mengeluarkan anak panahku, kemudian membidik sesuatu.
Brukkk…
Sepertinya bidikanku tepat sasaran. Aku langsung berlari kearah bidikanku tadi, diikuti oleh anak itu.
Saat melewati semak semak, terlihat seekor rusa yang besar telah mati dengan anak panah yang menancap di kepalanya.
“Baiklah kita bawa pulang ini saja, cukup untuk makan malam bertiga.”
“Bertiga?”
"Iya, aku, guru, dan kau.”
Aku menggunakan sihir pengecil yang diajarkan guru, ternyata semua sihir yang diajarkan guru sangat bermanfaat.
Rusa yang tadi besarnya melebihi diriku sekarang menjadi lebih kecil dariku, kemudian kami berjalan untuk pulang kerumah sambil membicarakan beberapa hal.
“Sihir macam apa yang kau gunakan tadi?”
“Oh, itu sihir pengecil, guru yang mengajariku. Nanti kalau sudah sampai rumah, baru kembalikan ke bentuk semula.”
“Apakah rusa ini bisa menjadi lebih besar?”
“Yahhh, mungkin saja.”
“Kenapa mungkin?”
“Karena guru belum mengajariku sampai sana, untuk sihir ini aku hanya diajari cara mengecilkan dan mengembalikan ke bentuk semula.”
“Tidak kusangka cewek barbar dan mirip gorilla sepertimu, ternyata bisa sihir.”
“HAAAA!!? Kau bilang apa!!”
“Cewek barbar dan mirip gorilla.”
Kalau bukan karena membawa rusa ini, dah kupukul duluan ni anak.
Dah diselametin, bukannya bilang makasih kek atau bantu apa kek, ini malah ngehina gue, sabar jelah aku ni.
“Hei, kau ini manusia atau iblis?”
“Jelas saja aku ini manusia!! Dilihat dari manapun aku ini manusia, apakah kau tidak bisa membedakan antara manusia dan iblis!?”
“Tentu saja aku bisa, jangan meremehkanku, bocah sialan.”
“Padahal sendirinya bocah, masih memanggil orang lain bocah, lagipula aku juga memiliki nama.”
“Siapa namamu?”
“Kai Wingston, namamu?”
“Ella Ethelbert, darpada itu, kau ini berasal dari mana?”
"Aku berasal dari Kerajaan Tirania.”
“Kerajaan!! Hei, seperti apa kerajaan itu? Apakah disana ada banyak orang? Apakah ada banyak makanan? Apakah kastil disana sangat besar?”
Kami berdua berjalan pulang sambil membicarakan Kerajaan Tirania yang dia maksud, yah aku memang pernah melihat sebuah kerajaan sih dari atas gunung saat pertama kali aku bisa menggunakan sihir pelacak.
Sihir pelacak adalah sihir yang kugunakan untuk berburu hewan tadi, walaupun sebenarnya namanya bukan itu, tapi karena cara kerjanya sama saja dengan melacak makanya kunamai sihir pelacak.
Kerajaan itu memang sangat besar, tapi karena aku melihat dari atas gunung dan jaraknya terlalu jauh, aku jadi tidak bisa melihat apa yang sebenarnya ingin aku lihat.
Singkatnya, aku dan Kai sudah sampai rumah, hari juga sudah mulai gelap.
"Kau duduk disini dulu, aku akan mandi, nanti kalau sudah selesai kau juga mandilah.”
Kai mengangguk dan aku meninggalkannya disana, aku mencari guru dibelakang rumah.
“Guru, aku pulang.”
“Oh, kau sudah pulang. Bagaimana perburuanmu hari ini?”
“Sangat buruk sekali, aku dikejar oleh monster laba laba tadi dan juga aku hanya dapat satu rusa saja, ditambah lagi, padahal aku menemukan kentang dihutan tadi, tapi karena dikejar monster s****n itu aku jadi tidak bisa mendapatkannya.”
“Hahaha, aku sampai lupa kalau harus mengajarimu cara melawan monster itu secara langsung.”
“Sudahlah, ini bukan pertama kalinya guru melakukan itu padaku, aku ingin mandi dulu. Oh ya, ada anak diruang tamu, dia akan ikut makan malam dan menginap disini.”
Aku segera mandi, oh ya rumah ini sama sekali tidak gelap kok dimalam hari, berkat sihir dari guru, saat malam hari disini tidak gelap sama sekali.
Setelah selesai mandi, aku menghampiri Kai. Ternyata guru sudah bersama dengan kai, mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang serius.
“Hei, kalian sedang membicarakan apa? Kelihatannya serius sekali.”
“Aku hanya bilang padanya, dengan rambut berwarna pirang dengan sepasang mata ruby yang indah itu, aku harap dia tidak akan menjadi sekonyol dirimu, hahaha.”
“Aku konyol darimananya, dasar kakek s****n!!”
“Sudah kubilang, aku itu gurumu, hormati aku dan panggil aku guru, atau aku akan menghukummu dengan meniadakan makan malammu.”
“HAAA!! Tapi aku yang mendapatkan rusa itu, atas dasar apa kau meniadakan makan malamku.”
"Itu semua terserah padamu, bukannya kau sudah berjanji padaku 7 tahun yang lalu.”
“Cih, dasar kakek s****n!!”
Aku menoleh kearah kai, dia sepertinya sudah menatapku daritadi sambil cengar cengir sendiri dan itu sedikit menggangguku.
“Apa liat liat, cepet mandi sana!!”
Kai berdiri lalu berjalan melewatiku.
“Oke, cewek gorilla.”
“Aku bukan gorilla!! Lagipula namaku itu Ella!!”
Yah, begitulah aku melewati hari super s**l ini karena harus bertemu dengan anak s****n ini.
Keesokan harinya, Kai pulang kerumahnya diantar oleh guru, sedangkan aku disuruh berburu lagi, padahalkan aku juga ingin ikut dan sedikit melihat lihat kerajaan itu, dasar kakek tua pelit. Sampai kapan aku harus menaati janji konyol yang kubuat dulu, gara gara itu, aku hanya terlihat sebagai babu dimatanya.
Sejak saat itu, Kai menjadi sering berkunjung ke gunung, untuk bertemu denganku dan guru. Dia juga membawakan kentang sekaligus biji bijiannya.
Akhirnya aku bisa membuat keripik kentang sepuasku, benar benar surga yang indah.