MEMULAI PERJALANAN

1418 Kata
    3 tahun kemudian…       Kali ini aku berusia 15 tahun, kegiatanku masih sama sama saja seperti dulu, disaat pagi hingga tengah hari aku akan belajar sihir dengan guru, setelah itu pergi berburu untuk makan malam.       Terkadang ada beberapa kegiatan yang sangat menyenangkan, seperti berburu monster dengan guru dan Kai.       Oh ya, Kai selalu datang kesini seminggu sekali, dia datang di pagi hari dan pulang saat sore hari diantar oleh guru.       Saat Kai berkunjung, disaat itulah berburu monster dilakukan, tapi entah kenapa hari ini rasanya berbeda.       “Kai lama sekali, sih. Padahal biasanya saat pagi pagi sekali, dia sudah menunggu disini.”       Hari ini adalah hari biasanya Kai datang berkunjung, tapi hari ini saat matahari sudah diatas kenapa batang hidungnya belum kelihatan juga.       Biasanya, Kai sudah berada disini mengobrol dengan guru sambil menungguku bersiap, maklumlah aku selalu bangun kesiangan, hehe.       Tapi sejak minggu kemarin, dia bahkan tidak datang kesini, apakah dia sudah lupa untuk datang kemari? Andai saja aku boleh ke Kerajaan Tirania, aku pasti sudah menjemputnya sekarang.       “Ayo kita berangkat sekarang, Ella.”       “Ehh, Kai bagaimana? Tidak menunggunya dulu?”       “Kai tidak akan datang lagi kemari.”       “Tapi kenapa? Padahal kita ini teman tapi sudah tidak mau mengunjungiku lagi. Ughh, andai saja aku bisa kesana, aku pasti akan menjemputnya.”       “Jangan pernah coba coba kesana, aku pasti akan membawamu kesana saat kau sudah berusia 16 tahun, tunggulah satu tahun lagi."       “Iya iya, aku mengerti kok.”       Aku dan guru akhirnya meninggalkan Kai dan memulai berburu monster berdua, untuk makan malam, kami akan mencari hewannya sambil memburu monster.       Singkatnya saja, aku dan guru sudah menyelesaikan perburuan hari ini, kami berhasil membunuh 10 monster dihutan ini dan salah satunya adalah yang paling kubenci sedunia, yaitu monster laba laba.       Yahh, sebenernya yang tepat bukan kami, tapi akulah yang membunuh 10 monster itu, si kakek tua itu cuman mencari lalu memancingnya agar menyerangku.       Buruan untuk makan malam hari ini, ada dua babi hutan. Cukup sepadanlah untuk apa yang kulakukan hari ini.       Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan dan juga hari ini aku juga cukup kesepian karena biasanya aku akan berdebat dengan Kai setelah sampai rumah, si kakek tua itu juga menjadi jarang berdebat denganku.       1 tahun kemudian…       Akhirnya, hari hari yang kutunggu datang juga.       Aku sudah berusia 16 tahun, guru berjanji akan mengijinkanku untuk pergi ke Kerajaan Tirania, bahkan dia pun juga ikut dan sekarang aku dan guru sedang dalam perjalanan menuju kerajaan itu.       Huhh!! Sudah satu tahun aku tidak bertemu dengan Kai, apakah saat kita bertemu, dia akan sama seperti dulu ya?       Sesampainya di gerbang, kami dihentikan oleh para penjaga disana, guru sedikit berbicara dengan penjaga itu, akhirnya kamipun dibiarkan masuk.       Kai pernah bilang padaku bahwa kerajaan Tirania itu sangat indah, kastilnya juga besar dan bersinar, dan yang paling penting katanya makanan disini enak enak semua.       Kai pernah berjanji akan mentraktirku makan sepuasnya disini 4 tahun yang lalu, saat aku menyelamatkannya dari monster laba laba waktu itu.       Sekarang aku mau menagih janjinya, ehh malah dianya yang kagak ada disini.       Aku dan guru akhirnya masuk kesana, ternyata dulu sebelum aku ada, guru tinggal disini, tapi karena ada urusan pekerjaan guru harus meninggalkan kerajaan ini.       Setelah berjalan lumayan lama, akhirnya sampai juga dirumah guru. Rumah guru ternyata lumayan besar dan juga sangat cantik.       “Pakailah kamar yang ada dilantai dua, aku masih harus membuat laporan ke Raja dan Archduke.”       “Kenapa harus melapor?”       “Karena aku dulu bekerja untuk kerajaan, sebagai penyihir tingkat tinggi mereka, tentu saja saat aku kembali aku harus melapor. Aku pergi dulu dan juga bersihkan rumah ini sedikit, sudah lama sekali aku tidak tinggal disini.”       Setelah itu dia pergi, rumah sebesar ini dan aku harus membersihkannya sendiri, yang benar saja.       Padahal sekarang matahari masih diatas dan aku berniat untuk jalan jalan tapi malah disuruh bersih bersih rumah.       Yahh, mau bagaimana lagi, lagipula aku juga akan tinggal disini, kalau tempat ini kotor dan banyak debunya, aku juga yang akan merasa tidak nyaman.     Saat bersih bersih, aku juga memikirkan sesuatu, aku tidak pernah menyangka bahwa kakek tua itu adalah penyihir tertinggi disini, sepertinya selama ini, aku terlalu meremehkannya.       4 jam kemudian…       Huhhh, akhirnya selesai juga. Hari sudah mulai sore, kenapa guru belum kembali juga. Masa melapor saja bisa sampai 4 jam, itu melapor apa molor.       Tiba tiba, pintu rumah terbuka, guru pulang sambil membawa sesuatu ditangannya.       “Guru sudah pulang? Kenapa lama sekali!?”       “Ini untukmu.”       Guru melemparkan sesuatu padaku.       “Ini… seragam? Untuk apa?”       “Setelah aku melapor tadi, aku mendaftarkanmu ke akademi, mulai besok bangun yang pagi.”       “Kenapa aku harus pergi ke akademi?”       “Turuti saja perkataanku, bukankah kau masih memiliki janji itu denganku.”       “Cihh, iya iya, aku akan berangkat ke akademi.”       “Di akademi itu, tidak ada yang namanya status ataupun kedudukan, semuanya sama, jadi jika mendapatkan masalah kau tidak akan bisa menggunakan namaku sebagai penyihir tertinggi di kerajaan ini.”       “Hei kakek tua, kaupikir aku anak yang suka menggunakan kekuasaan walinya.”       Perdebatanku dengan guru akhirnya dimulai lagi, hari ini diakhiri dengan sebuah perdebatan yang telah lama bersembunyi.     Yahh, tidak apa apalah, daripada tidak berdebat sama sekali, aku merasa bahwa pasti ada yang salah dengan si kakek tua itu, kalau sudah beginikan aku tidak perlu khawatir lagi.           Keesokan harinya, aku pergi ke akademi yang diberitahukan guru tapi… sepertinya tidak berjalan lancar.       “Sepertinya aku tersesat, duhhh, ini juga salah guru, bagaimana aku bisa tau letak akademinya hanya dengan peta yang tidak jelas ini!!”       “Anu… permisi.”       Saat aku sedang kesal karena tersesat gara gara peta yang tidak jelas ini, ada yang memanggilku dari belakang.       “Siapa?”       Aku menoleh kearah panggilan itu, saat kulihat ternyata ada anak perempuan memakai seragam yang sama denganku, rambut pendek berwarna biru muda dengan sepasang mata yang berwarna biru muda juga, tingginya sedikit lebih pendek dariku.       Kelihatannya anak ini sangat sopan dan cukup pemalu, mungkin.       “A-anu… namaku Sarah, sepertinya kau memerlukan bantuan, apakah ada yang bisa kubantu?”       “Halo, namaku Ella, kelihatannya kita dari akademi yang sama, bisakah kau beritau padaku dimana akademi itu? Daritadi aku hanya muter muter disini dan tersesat gara gara peta bodoh ini, kau bisa bantu aku?”       “Ka-kalau kamu mau, kita bisa berangkat bersama.”       “Tentu saja, kenapa tidak.”       Aku menggandeng tangan Sarah, dengan bicara yang terbata bata seperti itu dan juga sikapnya yang agak pemalu, aku tau pasti anak ini jarang berinteraksi.       Saat aku menggandeng tangannya, wajahnya seperti menunjukkan rasa bahagia, karena sudah begini, biarkan aku saja yang menemaninya hingga nanti.       Aku dan Sarah membicarakan tentang akademi itu.       Ternyata akademi itu tidak sama seperti sekolah biasa, mereka hanya mempelajari tentang monster, iblis, dan sihir.       Setiap saat, disana, pasti akan ada pekerjaan untuk membasmi monster dan setelah pekerjaan mereka diselesaikan, dengan membawa inti monster yang telah dibasmi mereka akan mendapat imbalan berupa uang.       Aku juga sepertinya sedikit menyukai akademi ini, karena tidak perlu membawa tas atau apapun ke akademi, soalnya buku dan alat tulis bisa dikeluarkan dengan sihir, bagi yang bisa melakukan sihirnya.       Ujiannya juga hanya berupa ujian praktek sihir, jadi tidak perlu belajar terlalu keras, apalagi aku juga memiliki guru. Hidup disini sepertinya akan gampang.       Sesampainya di akademi, aku harus berpisah dengan Sarah karena harus menemui guru di ruang guru.       Bersama dengan guru praktek, akupun dibawa ke ruang praktek untuk mengetahui seberapa kemampuanku dan untuk menentukan aku akan berada di kelas apa.       Ternyata disini, ada kelas A sampai dengan J, rasanya sama seperti dengan sekolah yang ada diduniaku dulu.       Saat aku memulai praktek, entah apa yang salah denganku, sihir yang kukeluarkan untuk praktek hari ini rasanya agak berbeda dengan sihir yang kukeluarkan biasanya.       Alhasil, aku ditempatkan di kelas E, rasanya aneh sekali. Yahh kalau hasilnya sudah seperti ini ya mau diapakan lagi, lagipula aku juga tidak terlalu peduli akan ditempatkan di kelas yang mana.       Kali ini guru yang menemaniku telah berubah, yang tadi guru praktek sekarang menjadi wali kelasku, omong omong wali kelasku adalah seorang wanita, beliau bernama Alice.       Sesampainya didepan kelas, Bu Alice menyuruhku untuk menunggu hingga aku dipanggil. Beberapa saat kemudian, aku benar benar dipanggil.       Aku memasuki ruang kelas dan mulai mengenalkan diri.       “Halo semuanya, perkenalkan, namaku Ella Ethelbert, untuk kedepannya semoga kita bisa menjadi teman yang baik.”       Aku tersenyum kepada semua anak yang ada di kelas, saat aku sadar bahwa disana ternyata ada Sarah dan juga Kai!!       Ternyata aku sekelas dengan mereka berdua, sungguh sebuah kebetulan yang sangat indah, sekarang aku tidak perlu repot repot mencari teman baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN