**** Kali ini mungkin Ghani yang harus mengulur ususnya untuk menghadapi Reva. Gadis itu menangis, bahkan Ghani sendiri tak punya cara untuk menenangkannya agar tidak lagi menitikkan air mata. Pria berwajah tampan hanya bisa menarik napas, mencari celah agar kesadarannya tetap utuh dan tidak lekas naik pitam. "Ya sudah, kita pulang saja. Aku akan mengantarmu pulang, biar nanti aku yang minta ijin sama Ibu." Ghani memutuskan, ia lalu memakai seatbelt dan mulai menyalakan mesin mobil. "Tidak usah, antar saja saya ke florist. Saya harus bekerja karena masih ada sisa setengah hari," tolak Reva seraya menenangkan diri. Gadis itu menghapus sisa air mata yang tertinggal lalu memakai seatbeltnya dengan aman. Ghani tak banyak bicara, bola matanya terus bergerak mengamati apa saja yang dilakukan

