****
Setelah memikirkan pernyataan yang dibuat Ghani semalam, Bu Ratih akhirnya memutuskan untuk memanggil Reva ke dalam ruangannya. Tentu saja ia berbunga-bunga karena nyatanya Ghani menyetujui keinginannya untuk menikah dengan Revalisha. Bayangan memiliki cucu yang tampan dan cantik kini memenuhi otak Bu Ratih. Seakan tak sabar, Bu Ratih bahkan sudah melihat kalender meja di hadapannya guna memperhitungkan hari baik untuk keduanya.
Deritan pintu terbuat dari kayu jati itu terdengar lirih, bola mata Bu Ratih mendadak berbinar saat sosok Revalisha masuk ke dalam ruangannya. Gadis itu terlihat cantik, ia seperti bunga mawar berwarna pink yang terlihat basah dan segar ketika tertimpa sinar matahari.
"Ibu memanggil saya?" Reva memastikan diri di ambang pintu. Wajah polos nan imut itu membuat Bu Ratih menebar senyum lalu menganggukkan kepala.
Revalisha benar-benar masuk ke dalam ruangan, ia menutup pintu lalu duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerja Bu Ratih. Dengan tenang, gadis ayu itu duduk lalu menyimak setiap kata yang terlontar dari bibir sang majikan.
"Reva, bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kau tidur nyenyak tadi malam?" tanya Bu Ratih basa-basi, ia mengamati ekspresi Reva dengan seksama.
Gadis itu mengulas senyum, terasa manis seperti permen kapas. "Baik Bu, saya tidur dengan nyenyak tadi malam."
"Baguslah, Ibu senang mendengarnya. Padahal tadi malam kamu jadi pokok bahasan antara Ibu dan Ghani loh," ucap Bu Ratih lalu terkekeh lirih. Wanita paruh baya itu lalu melepas kaca mata yang ia pakai dan menaruhnya di atas meja. "Kami membahas tentang pernikahan kalian."
"Apa Bu?" Reva membeo, mengulang ucapan Bu Ratih dengan bola mata menatap tajam.
Sang majikan kembali terkekeh, merasa bahagia setelah mendengar Reva begitu terkejut dengan ucapannya barusan. "Iya, pernikahan kalian. Kamu dengan Ghani."
"Tapi Bu—"
"Ghani sudah menyatakan bahwa ia bersedia menikah denganmu, Reva. Ibu senang karena pada akhirnya Ghani bisa membangun biduk rumah tangga tepat di usianya yang matang. Ehm, Ibu bahagia karena sebentar lagi Ibu akan memiliki putri yang manis sepertimu," ucap Bu Ratih pelan seraya mengelus pipi Reva dengan teramat sayang.
Berbeda dengan sikap Bu Ratih yang hangat, kini perasaan Revalisha diselimuti keresahan. Bagaimana ia tidak resah, ia harus menikah dengan pria asing yang baru saja ia kenal dalam sehari. Tidak hanya itu, ia sama sekali tidak mengerti bagaimana sifat asli Ghani selama ini. Selain jantung yang ia punya, Reva tidak mengenal apapun dari Ghani.
"Bu, saya orang miskin, apa Ibu tidak malu memiliki menantu seperti saya? Saya juga tidak beribu dan berbapak, apakah Tuan Ghani mau menjadi sandaran saya ketika saya merasa goyah?" tanya Reva lirih, ia menatap Bu Ratih lalu menurunkan pandangan pada meja kayu yang dilapisi dengan kaca bening tersebut.
Bu Ratih mengurai senyum, ia bisa melihat ketulusan yang terpancar dalam diri seorang Reva. Bahkan dengan keterbatasan yang ia punya, Reva mencoba untuk tidak menutupi kekurangannya selama ini.
Perlahan Bu Ratih mengangkat dagu Reva, ia menatap gadis itu dengan tatapan lembut seorang ibu. Jujur saja, kekurangan Reva tidak akan menyurutkan niat Bu Ratih untuk menikahkan keduanya suatu hari nanti. " Dengar kata Ibu, Nak. Kami tidak memandangmu serendah itu, kami juga tidak memandang seperti apa status sosialmu. Kami hanya ingin kamu menemui kebahagiaan dalam keluarga kami. Reva, Ibu percaya bahwa kamu adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk Ghani kami. Reva, jangan ragu, Ibu akan selalu berada di pihakmu."
Reva membungkam mulut, mencoba memercayai apa yang dikatakan wanita baik lagi bijak di hadapannya. Harusnya Reva bersyukur memiliki majikan sebaik Bu Ratih. Selain baik, Bu Ratih bahkan menganggapnya seperti anak sendiri. Sebuah penghargaan yang begitu sangat berarti.
"Jadi Reva, apakah kau bersedia menjadi menantu kami?" desak Bu Ratih ketika Reva tak kunjung membuka suara. "Pikirkan lagi, kami selalu siap menunggu jawabanmu."
****
Revalisha tentu saja bingung setelah mendapatkan lamaran mendadak tersebut. Ia ragu akan jawaban yang perlahan muncul dalam benaknya, mungkinkah ia menuruti apa yang menjadi buah pemikirannya kali ini?
Sikap Revalisha yang semula periang dan banyak bicara kini seakan lenyap ditelan bumi. Wati dan Beno yang menjadi kawan lama Reva merasa aneh dengan perubahan tersebut. Mereka bertiga adalah teman sejak SMA, sudah tahu betul bagaimana sifat masing-masing sedari lama.
Siang itu ketika matahari tengah terik-teriknya membakar permukaan bumi, ketiga keluar dari florist milik Bu Ratih untuk makan siang bersama. Setelah memesan makanan, ketiganya mulai bercakap-cakap seperti kawan lama.
"Rev, kok aku liat akhir-akhir ini kamu banyak diam ya? Ada apa sebenarnya? Jangan diam aja, kami ini temanmu, kami bisa jadi tempat kelah kesah kamu." Wati memberanikan diri untuk menanyakan perihal diamnya Revalisha beberapa hari ini.
Revalisha menatap Wati, gadis itu bisa melihat kecemasan yang terpancar dari bola mata Watik yang memesona dengan bulu mata yang lentik. Tatapan Reva gantian tertuju pada Beno, pria berkacamata dan selalu memiliki tugas mengantar bunga pesanan itu turut menyimak dirinya untuk lekas menjawab.
Reva mengela napas, ia terdiam sejenak saat pelayan muda lagi cantik datang menuju ke meja mereka dan menyuguhkan tiga buah gelas es teh gula batu di atas meja.
"Bu Ratih melamar diriku untuk menjadi menantunya," jawab Revalisha lirih setelah sang pelayan berlalu. Gadis itu menunduk, meraih gelasnya lalu menyeruput es dingin itu dengan menggunakan sedotan yang tersedia.
Wati dan Beno saling bertatapan, merasa tak percaya jika gadis polos itu masuk dalam bidikan Bu Ratih untuk menjadi kandidat calon menantu idaman. "Beneran, Rev?"
"Iya, aku dijodohkan dengan Tuan Ghani padahal aku sama sekali tidak mengenalnya." Reva terdengar mengeluh, ia menggaruk keningnya yang tidak gatal secara perlahan.
"Ya udah tolak saja," cetus Beno singkat. Pria itu menyambar gelas, menyeruputnya dengan cepat.
"Eh, jangan gitu. Rev, kamu suka gak sama Tuan Ghani? Aku sih belum pernah liat, cuma kalau aku jadi kamu, aku pasti nurut." Wati berkata pelan, ia meraih tangan Reva lalu menggenggamnya.
"Kamu mah beda sama Reva, kamu mah hooh-hooh saja." Beno menimpali, membuat Wati meninju lengan pria itu sedikit keras.
"Aku harus bagaimana? Terima atau kagak?" Revalisha angkat bicara membuat kedua temannya tertegun sejenak. Mereka menatap Revalisha cukup lama, melihat keseriusan yang terpancar dalam bola mata indah milik Reva.
"Jawabannya ada di dalam hati kamu, Rev. Kalau hati kamu nyaman, gak ada salahnya kamu iya-in aja. Toh ada Bu Ratih, kamu gak kenal anaknya tapi kamu bisa kendalikan dia lewat ibunya. Bener nggak?" Wati mulai bersuara, ia menatap Reva dengan tatapan penuh. "Lagipula, Bu Ratih selama ini sayang banget sama kamu. Bisa saja kamu dianggap anak emas nantinya, melebihi sayangnya dia sama anak sendiri."
Reva kembali terdiam, ia menggigit bibirnya sedikit keras. Perhatian gadis itu lagi-lagi teralih ketika sang pelayan cantik kembali hadir membawakan tiga buah mangkuk berisi mi ayam bakso kesukaan mereka.
"Sudahlah, kamu pikirkan lagi matang-matang. Sesuaikan dengan kata hatimu, jika kamu memang merasa kamu bisa menjadi menantu mereka, ya sudah kamu terima saja. Anggap itu rejeki kamu, setidaknya kamu akan hidup bahagia di samping ibu yang begitu menginginkan kamu untuk menjadi menantunya. Iya nggak, Ben?" Wati mengalihkan tatap pada Beno yang terlihat lahap menyantap mi ayam dalam mangkuknya. "Woi, jawab dong! Makan melulu sih?!"
Beno nyaris tersedak saat Wati meninju lengannya sekali lagi. Pria itu tak menjawab, terus sibuk menelan mi ayam yang ia pesan. Kekonyolan yang ia lihat membuat Revalisha perlahan mengulas senyum. Senang rasanya memiliki teman-teman sekocak mereka.
"Aku sih nurut Revalisha aja, kalau dia mau ya udah terima apa adanya aja. Dari dulu aku nge-fans sama Reva tapi Reva gak reaksi sama aku ya udah mundur alus. Tapi, kalau si Ghani itu nyakitin kamu, nih ada Beno yang bakal belain kamu." Beno akhirnya angkat bicara, ia menepuk d**a saat berkata demikian.
"Heleh, sombong kali. Kemarin nyatanya ada anjing gonggong di tokonya Pak Mukhlas pas aku beli pembalut pun, kamu gak usir anjing itu," sungut Wati seraya mengaduk mi ayam dengan saus dan kecap yang tersedia.
"Ini mah beda, masak aku harus hadapin anjing sih?!" Beno memprotes membuat Wati terkekeh lucu begitupun dengan Revalisha yang menyimak percakapan mereka.
Beno menyeruput es-nya dengan cepat, ia lalu menatap Revalisha dengan tatapan serius. "Rev, kamu harus bisa memutuskan mana yang baik mana yang enggak buat kamu. Saat ini kamu berada di perbatasan antara ya atau tidak, sekali salah melangkah kamu tidak bisa mundur lagi. Carilah satu alasan untuk mendukung alasan kamu untuk menerima atau tidaknya lamaran itu, semua tergantung dari hati kamu. Rev, kami percaya kamu pasti bisa menentukan semua ini dengan bijak. Kami akan selalu mendukungmu."
****