Cup! Tepat di bibir Safiya dengan secepat kilat Abram mengecupnya. Bagaimana bisa suaminya itu memulai lagi, memulai membuat jantung Safiya berdetak hebat seperti mau keluar? Seketika pikiran Safiya jadi blank. Tidak bisa memikirkan apapun selain tak menolak sentuhan yang diberikan oleh suaminya, yang entah kenapa jarak duduk antara mereka sekarang semakin menipis. "Maaf. Saya tidak mau melakukannya sekarang, Safiya." Abram berusaha menahan istrinya itu supaya tidak lagi semakin memangkas jarak di antara mereka. "Kenapa, Om?" "Kamu masih delapan belas tahun. Masa kuliah kamu masih panjang, kalau kamu hamil bagaimana?" "Yah, nggak papa sih, Om," balas Safiya. "Tapi ...," Abram mengantung kalimatnya, sungguh pria itu tidak mau membuat impian istrinya berhenti hanya karena mengandung

