"Sayang." Safiya melihat ke arah suara. "Iya, Om." "Dandan saja kalau pas di rumah. Kalau keluar cukup pakai bedak. Gitu saja kamu sudah cantik." Puji Abram. Safiya tersipu mendengar pujian dari Abram. Keduanya berpandangan. Abram mendekat dan meraih dagunya. Mengecup kembali bibir itu seperti tadi siang. Tangan Abram hendak memeluk Safiya, namun, di tahan oleh Safiya. "Mau apa, Om?" "Buatkan adiklah buat Abel!" "Om." "Tidak bisakah kamu memanggilku dengan sebutan Mas, Kakak, Aa, Sayang atau Cinta. Asal jangan Om!" Safiya menelan ludah dan tertawa. "Hah banyak sekali? Bingung mau pilih yang mana?" Abram tersenyum. Abram tahu bahwa pernikahan harus diniati dengan kesungguhan. Maka ia akan bersabar. "Pilih salah satu selain, Om." "Ngak mau." "Jadi?" Rasanya Abram ingin marah k

