“R-Rainier, tidak bolehkah aku ngobrol dengannya?” tanya Lyssa, matanya masih terpaku pada si lelaki penghibur. Senior Kwan melirik sekilas, meniup asap rokok dari mulut. “Oke,” jawab Rainier pendek. Lyssa merapikan baju, kemudian berjalan menuju lelaki tadi yang juga menunggunya di depan lounge. Semua orang juga bisa melihat Rainier cemburu, wajah pemuda itu datar, dingin membekukan. Teguk demi teguk tak berhenti ia minum. Bahkan saat Lyssa kembali pun, dia bergeming, tak menoleh pada gadis di sebelahnya. “Ih.. Jangan minum banyak-banyak. Katanya nanti mau mampir rumahku?” Lyssa mengambil gelas Rainier, meletakkannya di meja. Rainier akhirnya melirik juga pada Lyssa, Lyssa memang pergi tak lama, tapi tetap saja dia cemburu. “Sudah selesai urusannya?” tanya Rainier dengan wajah tanp

