“Selamat siang.” Rombongan kecil keluarga Evan dan keluarga Lyssa menoleh. Berbeda dengan bibir Lyssa yang membentuk senyum, wajah Tante Vania dan Tante Sheila mencibir. Rainier, pemuda itu tenang berdiri di sebelah kekasihnya. “Siang,” balas Lyssa. Mendongak melihat kekasihnya. Sepasang kekasih itu saling berbalas senyum. Rainier kembali melihat Tuan Wangsa, lelaki usia kepala lima itu dalam diam mengamati Rainier dari atas sampai bawah. Jujur merasa sedih pada tampilan lelaki pilihan putrinya. Rainier masih tetap sama, tersenyum sopan. Dalam hati ia menyesal sudah membuka kancing blazernya, menampilkan kemeja seragam yang tak masuk celana. Dua kancing teratasnya pun lepas, dasi sudah pergi entah ke mana. Lyssa dan Rainier. Jika dilihat dari luar, tidak akan ada yang mengatakan ba

