Lyssa tak peduli lagi, gadis itu fokus menghayati nikmat pertemuan mereka di bawah sana. Plak, plak, plak. Suara pinggul Lyssa yang tertampar-tampar. Suara-suara kecipak dan napas yang memburu menambah panas suasana. Tubuh mereka basah oleh keringat, lengket bertemu menjadi satu. Tubuh Lyssa sebenarnya sudah super lemas, dia menyesal tadi pagi tidak sarapan. Apalagi saat Rainier kuat ‘membuangnya’ ke kasur, gadis itu bersyukur kasur Rainier empuk dengan kualitas terbaik. Pemuda di atasnya itu memulai lagi, cepat keluar masuk, kepalanya turun mengenyot d*da. Lyssa membelai-belai kepala pemuda itu, menenangkan, tapi Rainier tak tenang juga. “Rainier, tenanglah. Aku janji tidak akan ke mana-mana. Kamu bilang ingin menikahiku kan? Kita bisa selamanya tidur berdua, tidak perlu tergesa di

