Bab 1 Cobaan atau Ujian?

944 Kata
Langit sore terlihat muram, warna kelabunya seperti memantulkan rasa duka yang Zahra rasakan. Ia duduk di depan sebuah nisan baru, tanah di sekitarnya masih basah dan berlumpur. Tangan Zahra gemetar saat menaburkan bunga melati di atas pusara itu. Bunga-bunga itu tampak pucat, tetapi tetap harum, mengingatkannya pada wangi minyak rambut ibunya yang selalu menemani malam-malamnya di rumah. "Mak, kenapa?" suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam desahan angin yang lembut. "Kenapa nggak bilang kalau sakitnya separah ini?" Air mata menggenang di matanya. Zahra mengerjap, mencoba menahannya, tetapi usahanya sia-sia. Setetes, dua tetes, hingga akhirnya tangisnya pecah. Suaranya serak, seperti tercekik rasa bersalah yang semakin menumpuk. Seandainya waktu bisa diputar, Zahra akan memilih pulang saat pertama kali mendengar kabar ibunya sakit. Ia masih ingat betul, suara lemah ibunya di telepon dua bulan lalu. "Mak cuma demam biasa, Nak. Kamu fokus belajar di pesantren aja, ya. Jangan khawatir." Dan Zahra percaya. Ia terlalu sibuk dengan hafalan Al-Qur’an, terlalu tenggelam dalam rutinitas pesantren, hingga tidak lagi memikirkan kemungkinan terburuk. “Seharusnya aku pulang…” ujarnya lirih, tangan mungilnya kini mengepal di atas tanah. "Seharusnya aku ada di sini buat Mak. Bukan malah sibuk sendiri..." Rasa sesal itu begitu kuat, menghantamnya seperti ombak di tepi pantai. Ia memejamkan mata, membiarkan ingatannya berputar. Ia ingat, ada satu malam ketika sahabatnya di pesantren, Siti, menawarinya untuk pulang. “Zahra, Makmu kan lagi sakit. Apa nggak sebaiknya kamu izin pulang?” Zahra hanya tersenyum kecil waktu itu, menggeleng. “Nggak apa-apa, Siti. Makku kuat. Lagian, pesantren ini lebih baik buat aku sekarang.” Sekarang, setiap kata itu terasa seperti racun yang menggerogoti hatinya. Pesantren yang ia banggakan, rutinitas yang ia prioritaskan, tidak lagi berarti apa-apa. Semua itu tidak bisa menggantikan waktu-waktunya bersama ibunya, waktu yang tidak akan pernah kembali. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Zahra merogoh saku gamis abu-abunya, tangan gemetar saat melihat nama yang muncul di layar. "Bapak..." gumamnya. Ia menggeser tombol hijau, tetapi tidak segera berbicara. Nafasnya tersengal, masih terisak. “Zahra?” Suara berat di ujung sana terdengar lebih serak dari biasanya. “Iya, Pak…” jawab Zahra akhirnya, berusaha menahan suara tangis yang masih menggantung. “Pulanglah.” Hanya itu yang Bapak katakan. Sederhana, tetapi berat. Zahra memejamkan mata, mencoba memahami maksudnya. Pulang? Untuk apa? Tidak ada lagi yang menunggunya di rumah selain kenangan yang menyakitkan. Tapi ia tahu, ia tidak punya pilihan. Ibunya mungkin sudah tiada, tetapi Bapak masih ada, dan Zahra tahu ia tidak bisa meninggalkannya sendirian. “Iya, Pak,” jawabnya akhirnya. Suaranya kecil, tetapi cukup untuk terdengar. Zahra berdiri perlahan, menyeka air matanya dengan ujung jilbab. Angin sore kembali bertiup, membawa dingin yang menusuk. Ia memandang nisan itu untuk terakhir kali, berbisik pelan, “Maafkan Zahra, Mak. Zahra pulang dulu.” Langkahnya terasa berat saat meninggalkan pemakaman. Setiap langkah seperti membawa serpihan kenangan, dan setiap kenangan terasa seperti duri yang menancap di hatinya. Tapi ia tahu, jalan pulang sudah menunggunya. Rumah Zahra tampak sama seperti terakhir kali ia tinggalkan tiga tahun lalu. Dindingnya masih dicat warna krem yang sudah pudar, dan pohon mangga besar di depan rumah itu masih berdiri kokoh. Tetapi saat Zahra melangkah ke dalam, ia tahu ada yang berbeda. Di teras, beberapa sandal tertata rapi—jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Zahra mengerutkan kening. Ia tidak mengenali sandal-sandal itu. Siapa yang datang? Dan kenapa ada begitu banyak? Dari dalam rumah, terdengar suara riuh. Suara perempuan bercampur tawa anak-anak. Bau masakan memenuhi udara, aroma gulai ikan yang entah kenapa terasa asing di rumah ini. Bapak berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak lega melihat Zahra. “Masuk, Nak,” katanya, dengan senyum tipis. Zahra melangkah masuk. Matanya langsung tertuju pada seorang perempuan berkerudung pastel yang duduk di ruang tamu. Di sekitarnya, lima anak sibuk memainkan gelas plastik. Perempuan itu tersenyum, tetapi Zahra tidak membalas. “Zahra,” Bapak memulai, suaranya pelan. “Ini Tante Ratna…” Zahra tidak menjawab. Pandangannya berpindah dari perempuan itu ke anak-anaknya, kemudian kembali ke Bapak. Pertanyaan memenuhi kepalanya, tetapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. “Siapa mereka, Pak?” Zahra akhirnya bertanya, suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan. Bapak menarik napas panjang, lalu mendekatinya. “Bapak mau menikah lagi, Zahra.” Dunia Zahra seperti berhenti. Kata-kata itu menggema di kepalanya, berulang-ulang seperti suara lonceng yang berdentang terlalu keras. “Mau… menikah lagi?” ia mengulang, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Bapak mengangguk pelan. “Tante Ratna orang baik. Dia akan bantu Bapak, dan juga kamu.” “Tapi Mak baru meninggal, Pak…” suara Zahra bergetar. "Belum ada dua bulan." “Bapak cuma nggak mau kamu sendirian, Zahra. Kamu tahu, Bapak sibuk kerja. Kalau nggak ada yang ngurus rumah, siapa yang jaga kamu?” Zahra menggeleng, menahan tangis yang mulai muncul di sudut matanya. “Tapi, Pak, ini terlalu cepat. Mak bahkan baru…” Suaranya terhenti. Ia tidak sanggup melanjutkan. “Bapak nggak punya pilihan,” jawab Bapak. “Bapak cuma ingin kamu punya keluarga yang lengkap.” Keluarga lengkap? Zahra merasa seperti ditampar. Bagaimana mungkin ia bisa merasa keluarga ini lengkap tanpa ibunya? Bagaimana mungkin Bapak berpikir ia bisa menerima ini? Zahra tidak menjawab. Ia menunduk, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Bapak memanggilnya lagi, tetapi Zahra tidak mendengar. Ia berbalik, melangkah keluar rumah tanpa arah. Langit mulai gelap ketika Zahra menemukan dirinya di depan sebuah masjid kecil di ujung jalan. Ia masuk dengan langkah gontai, tubuhnya terasa berat seperti sedang membawa beban tak kasat mata. Di sudut masjid, Zahra duduk bersila, punggungnya bersandar pada dinding. Matanya kosong, menatap lantai ubin yang dingin. "Mak, apa yang harus aku lakukan?" bisiknya pelan, hampir tidak terdengar. Tangisnya akhirnya pecah, kali ini tanpa upaya untuk menahannya. Di sudut masjid itu, Zahra merasa lebih sendirian daripada sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN