
Zahra adalah seorang gadis remaja yang baru saja tamat dari pesantren, sebuah tempat yang selama ini menjadi rumah keduanya. Namun, hidup Zahra berubah drastis setelah kepergian ibunya yang tiba-tiba meninggal karena sakit. Kenangan terakhir bersama ibunya dipenuhi penyesalan karena Zahra tidak sempat pulang saat ibunya terbaring lemah. Ia terlalu sibuk di pesantren, meyakini bahwa penyakit ibunya hanyalah demam biasa seperti yang dikatakan di telepon. Kini, Zahra hanya bisa menangisi kuburan ibunya, memohon ampun atas keputusannya yang telah membuatnya kehilangan kesempatan terakhir untuk berada di sisi ibunya.
Setelah pemakaman, Zahra dihadapkan pada kejutan lain. Bapaknya, seorang agen sawit yang tinggal di Medan, memutuskan untuk menikah lagi hanya dalam waktu dua bulan setelah kepergian ibunya. Janda yang akan menjadi istri barunya membawa serta lima anak, yang kini juga akan tinggal di rumah Zahra. Zahra tidak setuju, tapi ia kalah suara. Dengan rumah yang kini penuh sesak, Bapak Zahra memutuskan untuk mengurangi pengeluaran, termasuk dalam hal pendidikan Zahra.
Pesantren tempat Zahra menuntut ilmu dianggap terlalu mahal untuk keluarga yang kini harus menghidupi enam anak. Bapak Zahra memilih menyekolahkannya di sebuah SMA swasta yang terkenal sebagai tempat anak-anak “bermasalah.” SMA itu memiliki reputasi buruk di kalangan masyarakat sekitar. Zahra terpaksa mengalah, meski hatinya berat meninggalkan suasana religius pesantren yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Namun, ketika Zahra mulai bersekolah di sana, ia menyadari bahwa reputasi buruk SMA itu tidak sepenuhnya benar. Memang, siswa-siswinya punya gaya yang bebas—seragam yang dimodifikasi, rambut dicat warna-warni, dan aksesori yang mencolok. Tapi, secara akademis, sekolah itu tetap menjalankan sistem yang sama dengan sekolah lain. Guru-gurunya mengajar dengan disiplin, dan beberapa siswa ternyata memiliki bakat yang luar biasa.
Hari-hari pertama Zahra di sekolah baru itu tidak mudah. Ia merasa seperti orang asing, apalagi dengan kerudung panjangnya yang membuatnya menonjol di antara teman-temannya. Ia sering merasa dihakimi, baik oleh teman sekelasnya maupun dirinya sendiri. Namun, Zahra perlahan mulai menerima lingkungan barunya. Teman-teman barunya ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Mereka hanya punya gaya hidup yang berbeda, tetapi tetap menghargai Zahra sebagai pribadi.
Sebuah peristiwa tak terduga terjadi di minggu kedua Zahra di sekolah itu. Saat berjalan di koridor menuju ruang kelas, Zahra tidak sengaja ditabrak oleh seorang siswa laki-laki. Tabrakan itu membuat Zahra hampir jatuh, tapi siswa itu sigap menangkapnya. Ia adalah Raka, seorang abang kelas yang terkenal “bandal” di sekolah tersebut. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya sering terlihat berantakan, dan ia selalu membawa gitar. Meski demikian, Raka memiliki reputasi sebagai pemain band yang berbakat dan sering tampil di acara sekolah maupun festival musik lokal.
“Maaf, gue gak lihat jalan,” kata Raka sambil tersenyum tipis. Zahra hanya mengangguk kaku, merasa canggung sekaligus heran. Sejak kejadian itu, Zahra sering melihat Raka bermain gitar di sudut lapangan sekolah. Meski tidak pernah berbicara lagi dengannya, ia mulai merasa penasaran. Bagaimana seorang yang terlihat “bandal” bisa begitu pandai memainkan alat musik?
Hari-hari Zahra di sekolah baru terus berjalan. Ia mulai beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dari pesantren. Meski masih sering merindukan ibunya dan suasana pesantren, Zahra belajar untuk melihat sisi baik dari kehidupannya sekarang. Kehidupan di rumah dengan lima saudara baru dan seorang ibu tiri tetap menjadi tantangan, tapi Zahra berusaha mencari ketenangan di tengah semua itu.
Zahra juga mulai memahami bahwa tidak semua hal di dunia ini sesuai dengan apa yang terlihat di permukaan. SMA yang awalnya ia anggap buruk ternyata memiliki keunikan tersendiri, dan orang-orang seperti Raka, yang terlihat bebas dan “bandal,” ternyata punya sisi lain yang menarik untuk dikenali. Perjalanan Zahra di sekolah ini baru saja dimulai, tapi ia tahu bahwa ia akan menemukan banyak hal yang mengubah cara pandangnya tentang hidup, keluarga, dan diri sendiri.

