bc

Zahra Kenapa?

book_age16+
1
IKUTI
1K
BACA
family
playboy
heir/heiress
drama
bold
cheating
childhood crush
love at the first sight
surrender
like
intro-logo
Uraian

Zahra adalah seorang gadis remaja yang baru saja tamat dari pesantren, sebuah tempat yang selama ini menjadi rumah keduanya. Namun, hidup Zahra berubah drastis setelah kepergian ibunya yang tiba-tiba meninggal karena sakit. Kenangan terakhir bersama ibunya dipenuhi penyesalan karena Zahra tidak sempat pulang saat ibunya terbaring lemah. Ia terlalu sibuk di pesantren, meyakini bahwa penyakit ibunya hanyalah demam biasa seperti yang dikatakan di telepon. Kini, Zahra hanya bisa menangisi kuburan ibunya, memohon ampun atas keputusannya yang telah membuatnya kehilangan kesempatan terakhir untuk berada di sisi ibunya.

Setelah pemakaman, Zahra dihadapkan pada kejutan lain. Bapaknya, seorang agen sawit yang tinggal di Medan, memutuskan untuk menikah lagi hanya dalam waktu dua bulan setelah kepergian ibunya. Janda yang akan menjadi istri barunya membawa serta lima anak, yang kini juga akan tinggal di rumah Zahra. Zahra tidak setuju, tapi ia kalah suara. Dengan rumah yang kini penuh sesak, Bapak Zahra memutuskan untuk mengurangi pengeluaran, termasuk dalam hal pendidikan Zahra.

Pesantren tempat Zahra menuntut ilmu dianggap terlalu mahal untuk keluarga yang kini harus menghidupi enam anak. Bapak Zahra memilih menyekolahkannya di sebuah SMA swasta yang terkenal sebagai tempat anak-anak “bermasalah.” SMA itu memiliki reputasi buruk di kalangan masyarakat sekitar. Zahra terpaksa mengalah, meski hatinya berat meninggalkan suasana religius pesantren yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Namun, ketika Zahra mulai bersekolah di sana, ia menyadari bahwa reputasi buruk SMA itu tidak sepenuhnya benar. Memang, siswa-siswinya punya gaya yang bebas—seragam yang dimodifikasi, rambut dicat warna-warni, dan aksesori yang mencolok. Tapi, secara akademis, sekolah itu tetap menjalankan sistem yang sama dengan sekolah lain. Guru-gurunya mengajar dengan disiplin, dan beberapa siswa ternyata memiliki bakat yang luar biasa.

Hari-hari pertama Zahra di sekolah baru itu tidak mudah. Ia merasa seperti orang asing, apalagi dengan kerudung panjangnya yang membuatnya menonjol di antara teman-temannya. Ia sering merasa dihakimi, baik oleh teman sekelasnya maupun dirinya sendiri. Namun, Zahra perlahan mulai menerima lingkungan barunya. Teman-teman barunya ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Mereka hanya punya gaya hidup yang berbeda, tetapi tetap menghargai Zahra sebagai pribadi.

Sebuah peristiwa tak terduga terjadi di minggu kedua Zahra di sekolah itu. Saat berjalan di koridor menuju ruang kelas, Zahra tidak sengaja ditabrak oleh seorang siswa laki-laki. Tabrakan itu membuat Zahra hampir jatuh, tapi siswa itu sigap menangkapnya. Ia adalah Raka, seorang abang kelas yang terkenal “bandal” di sekolah tersebut. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya sering terlihat berantakan, dan ia selalu membawa gitar. Meski demikian, Raka memiliki reputasi sebagai pemain band yang berbakat dan sering tampil di acara sekolah maupun festival musik lokal.

“Maaf, gue gak lihat jalan,” kata Raka sambil tersenyum tipis. Zahra hanya mengangguk kaku, merasa canggung sekaligus heran. Sejak kejadian itu, Zahra sering melihat Raka bermain gitar di sudut lapangan sekolah. Meski tidak pernah berbicara lagi dengannya, ia mulai merasa penasaran. Bagaimana seorang yang terlihat “bandal” bisa begitu pandai memainkan alat musik?

Hari-hari Zahra di sekolah baru terus berjalan. Ia mulai beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dari pesantren. Meski masih sering merindukan ibunya dan suasana pesantren, Zahra belajar untuk melihat sisi baik dari kehidupannya sekarang. Kehidupan di rumah dengan lima saudara baru dan seorang ibu tiri tetap menjadi tantangan, tapi Zahra berusaha mencari ketenangan di tengah semua itu.

Zahra juga mulai memahami bahwa tidak semua hal di dunia ini sesuai dengan apa yang terlihat di permukaan. SMA yang awalnya ia anggap buruk ternyata memiliki keunikan tersendiri, dan orang-orang seperti Raka, yang terlihat bebas dan “bandal,” ternyata punya sisi lain yang menarik untuk dikenali. Perjalanan Zahra di sekolah ini baru saja dimulai, tapi ia tahu bahwa ia akan menemukan banyak hal yang mengubah cara pandangnya tentang hidup, keluarga, dan diri sendiri.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Cobaan atau Ujian?
Langit sore terlihat muram, warna kelabunya seperti memantulkan rasa duka yang Zahra rasakan. Ia duduk di depan sebuah nisan baru, tanah di sekitarnya masih basah dan berlumpur. Tangan Zahra gemetar saat menaburkan bunga melati di atas pusara itu. Bunga-bunga itu tampak pucat, tetapi tetap harum, mengingatkannya pada wangi minyak rambut ibunya yang selalu menemani malam-malamnya di rumah. "Mak, kenapa?" suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam desahan angin yang lembut. "Kenapa nggak bilang kalau sakitnya separah ini?" Air mata menggenang di matanya. Zahra mengerjap, mencoba menahannya, tetapi usahanya sia-sia. Setetes, dua tetes, hingga akhirnya tangisnya pecah. Suaranya serak, seperti tercekik rasa bersalah yang semakin menumpuk. Seandainya waktu bisa diputar, Zahra akan memilih pulang saat pertama kali mendengar kabar ibunya sakit. Ia masih ingat betul, suara lemah ibunya di telepon dua bulan lalu. "Mak cuma demam biasa, Nak. Kamu fokus belajar di pesantren aja, ya. Jangan khawatir." Dan Zahra percaya. Ia terlalu sibuk dengan hafalan Al-Qur’an, terlalu tenggelam dalam rutinitas pesantren, hingga tidak lagi memikirkan kemungkinan terburuk. “Seharusnya aku pulang…” ujarnya lirih, tangan mungilnya kini mengepal di atas tanah. "Seharusnya aku ada di sini buat Mak. Bukan malah sibuk sendiri..." Rasa sesal itu begitu kuat, menghantamnya seperti ombak di tepi pantai. Ia memejamkan mata, membiarkan ingatannya berputar. Ia ingat, ada satu malam ketika sahabatnya di pesantren, Siti, menawarinya untuk pulang. “Zahra, Makmu kan lagi sakit. Apa nggak sebaiknya kamu izin pulang?” Zahra hanya tersenyum kecil waktu itu, menggeleng. “Nggak apa-apa, Siti. Makku kuat. Lagian, pesantren ini lebih baik buat aku sekarang.” Sekarang, setiap kata itu terasa seperti racun yang menggerogoti hatinya. Pesantren yang ia banggakan, rutinitas yang ia prioritaskan, tidak lagi berarti apa-apa. Semua itu tidak bisa menggantikan waktu-waktunya bersama ibunya, waktu yang tidak akan pernah kembali. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Zahra merogoh saku gamis abu-abunya, tangan gemetar saat melihat nama yang muncul di layar. "Bapak..." gumamnya. Ia menggeser tombol hijau, tetapi tidak segera berbicara. Nafasnya tersengal, masih terisak. “Zahra?” Suara berat di ujung sana terdengar lebih serak dari biasanya. “Iya, Pak…” jawab Zahra akhirnya, berusaha menahan suara tangis yang masih menggantung. “Pulanglah.” Hanya itu yang Bapak katakan. Sederhana, tetapi berat. Zahra memejamkan mata, mencoba memahami maksudnya. Pulang? Untuk apa? Tidak ada lagi yang menunggunya di rumah selain kenangan yang menyakitkan. Tapi ia tahu, ia tidak punya pilihan. Ibunya mungkin sudah tiada, tetapi Bapak masih ada, dan Zahra tahu ia tidak bisa meninggalkannya sendirian. “Iya, Pak,” jawabnya akhirnya. Suaranya kecil, tetapi cukup untuk terdengar. Zahra berdiri perlahan, menyeka air matanya dengan ujung jilbab. Angin sore kembali bertiup, membawa dingin yang menusuk. Ia memandang nisan itu untuk terakhir kali, berbisik pelan, “Maafkan Zahra, Mak. Zahra pulang dulu.” Langkahnya terasa berat saat meninggalkan pemakaman. Setiap langkah seperti membawa serpihan kenangan, dan setiap kenangan terasa seperti duri yang menancap di hatinya. Tapi ia tahu, jalan pulang sudah menunggunya. Rumah Zahra tampak sama seperti terakhir kali ia tinggalkan tiga tahun lalu. Dindingnya masih dicat warna krem yang sudah pudar, dan pohon mangga besar di depan rumah itu masih berdiri kokoh. Tetapi saat Zahra melangkah ke dalam, ia tahu ada yang berbeda. Di teras, beberapa sandal tertata rapi—jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Zahra mengerutkan kening. Ia tidak mengenali sandal-sandal itu. Siapa yang datang? Dan kenapa ada begitu banyak? Dari dalam rumah, terdengar suara riuh. Suara perempuan bercampur tawa anak-anak. Bau masakan memenuhi udara, aroma gulai ikan yang entah kenapa terasa asing di rumah ini. Bapak berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak lega melihat Zahra. “Masuk, Nak,” katanya, dengan senyum tipis. Zahra melangkah masuk. Matanya langsung tertuju pada seorang perempuan berkerudung pastel yang duduk di ruang tamu. Di sekitarnya, lima anak sibuk memainkan gelas plastik. Perempuan itu tersenyum, tetapi Zahra tidak membalas. “Zahra,” Bapak memulai, suaranya pelan. “Ini Tante Ratna…” Zahra tidak menjawab. Pandangannya berpindah dari perempuan itu ke anak-anaknya, kemudian kembali ke Bapak. Pertanyaan memenuhi kepalanya, tetapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. “Siapa mereka, Pak?” Zahra akhirnya bertanya, suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan. Bapak menarik napas panjang, lalu mendekatinya. “Bapak mau menikah lagi, Zahra.” Dunia Zahra seperti berhenti. Kata-kata itu menggema di kepalanya, berulang-ulang seperti suara lonceng yang berdentang terlalu keras. “Mau… menikah lagi?” ia mengulang, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Bapak mengangguk pelan. “Tante Ratna orang baik. Dia akan bantu Bapak, dan juga kamu.” “Tapi Mak baru meninggal, Pak…” suara Zahra bergetar. "Belum ada dua bulan." “Bapak cuma nggak mau kamu sendirian, Zahra. Kamu tahu, Bapak sibuk kerja. Kalau nggak ada yang ngurus rumah, siapa yang jaga kamu?” Zahra menggeleng, menahan tangis yang mulai muncul di sudut matanya. “Tapi, Pak, ini terlalu cepat. Mak bahkan baru…” Suaranya terhenti. Ia tidak sanggup melanjutkan. “Bapak nggak punya pilihan,” jawab Bapak. “Bapak cuma ingin kamu punya keluarga yang lengkap.” Keluarga lengkap? Zahra merasa seperti ditampar. Bagaimana mungkin ia bisa merasa keluarga ini lengkap tanpa ibunya? Bagaimana mungkin Bapak berpikir ia bisa menerima ini? Zahra tidak menjawab. Ia menunduk, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Bapak memanggilnya lagi, tetapi Zahra tidak mendengar. Ia berbalik, melangkah keluar rumah tanpa arah. Langit mulai gelap ketika Zahra menemukan dirinya di depan sebuah masjid kecil di ujung jalan. Ia masuk dengan langkah gontai, tubuhnya terasa berat seperti sedang membawa beban tak kasat mata. Di sudut masjid, Zahra duduk bersila, punggungnya bersandar pada dinding. Matanya kosong, menatap lantai ubin yang dingin. "Mak, apa yang harus aku lakukan?" bisiknya pelan, hampir tidak terdengar. Tangisnya akhirnya pecah, kali ini tanpa upaya untuk menahannya. Di sudut masjid itu, Zahra merasa lebih sendirian daripada sebelumnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook