BAB 2: Ramai tapi Sepi

688 Kata
Rumah Zahra tampak sama seperti terakhir kali ia tinggalkan tiga tahun lalu. Dindingnya masih dicat warna krem yang sudah pudar, dan pohon mangga besar di depan rumah itu masih berdiri kokoh. Tetapi saat Zahra melangkah ke dalam, ia tahu ada yang berbeda. Di teras, beberapa sandal tertata rapi—jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Zahra mengerutkan kening. Ia tidak mengenali sandal-sandal itu. Siapa yang datang? Dan kenapa ada begitu banyak? Dari dalam rumah, terdengar suara riuh. Suara perempuan bercampur tawa anak-anak. Bau masakan memenuhi udara, aroma gulai ikan yang entah kenapa terasa asing di rumah ini. Bapak berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak lega melihat Zahra. “Masuk, Nak,” katanya, dengan senyum tipis. Zahra melangkah masuk, tetapi hatinya terasa berat. Ia memperhatikan sekeliling ruang tamu yang terasa lebih ramai dari biasanya. Sofa tua itu masih di tempatnya, tetapi sekarang ada beberapa tambahan bantal yang tidak ia kenal. Di sudut ruangan, sebuah termos besar berwarna merah terletak di meja kecil, dikelilingi oleh beberapa gelas plastik. Matanya langsung tertuju pada seorang perempuan berkerudung pastel yang duduk di ruang tamu. Di sekitarnya, lima anak sibuk memainkan gelas plastik, mencoba menumpuknya menjadi menara. Perempuan itu tersenyum, tetapi Zahra tidak membalas. Senyum itu tidak membuatnya merasa nyaman—malah justru menambah rasa asing yang menghantui rumah ini. “Zahra,” Bapak memulai, suaranya pelan seperti menyiapkan diri untuk sesuatu yang berat. “Ini Tante Ratna…” Zahra tidak menjawab. Pandangannya berpindah dari perempuan itu ke anak-anaknya, kemudian kembali ke Bapak. Pertanyaan memenuhi kepalanya, tetapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. Siapa perempuan ini? Siapa anak-anak itu? Dan kenapa mereka ada di rumahnya? “Siapa mereka, Pak?” Zahra akhirnya bertanya, suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan. Bapak menarik napas panjang, lalu mendekatinya dengan langkah pelan. Ia meletakkan tangannya di bahu Zahra, seolah mencoba menenangkan badai yang mulai berkecamuk di hati anaknya. “Bapak mau menikah lagi, Zahra.” Dunia Zahra seperti berhenti. Kata-kata itu menggema di kepalanya, berulang-ulang seperti suara lonceng yang berdentang terlalu keras. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya. “Menikah… lagi?” katanya, hampir seperti bisikan. Bapak mengangguk. “Iya, Nak. Bapak butuh seseorang untuk membantu menjaga rumah ini… untuk mengurus Bapak, juga kamu.” Zahra melangkah mundur, melepaskan tangan Bapak dari bahunya. “Jadi itu alasannya? Karena Bapak butuh seseorang untuk mengurus Bapak?” katanya, suaranya bergetar. Bapak tidak menjawab, tetapi matanya menunjukkan rasa bersalah. Zahra mengalihkan pandangannya ke arah perempuan berkerudung pastel itu lagi. Perempuan itu masih duduk di tempatnya, tampak canggung tetapi tetap tenang. Anak-anaknya tidak memperhatikan apa yang terjadi, sibuk dengan permainan mereka. “Kenapa sekarang, Pak? Kenapa begitu cepat setelah Mak meninggal?” Zahra melanjutkan, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. “Bapak tidak ingin kamu merasa sendirian,” jawab Bapak, suaranya lirih. Zahra tertawa kecil, tetapi itu bukan tawa bahagia. “Sendirian? Jadi Bapak pikir ini solusi yang tepat? Membawa orang asing ke rumah kita, ke kehidupan kita, tanpa bicara sama sekali dengan aku?” “Zahra, tolong mengerti…” “Mengerti?” potong Zahra. “Mak baru meninggal, Pak. Baru beberapa minggu. Dan sekarang Bapak sudah… sudah…” Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Kata-kata itu terasa terlalu berat untuk diucapkan. Ruangan itu menjadi sunyi. Bahkan anak-anak yang tadi sibuk bermain mulai memperhatikan. Zahra bisa merasakan tatapan mereka, penuh penasaran tetapi tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Zahra,” Bapak akhirnya berkata lagi, suaranya lebih tegas. “Bapak tidak meminta kamu untuk menerima ini sekarang. Tapi Bapak harap kamu bisa mencoba memahami. Hidup harus terus berjalan.” Hidup harus terus berjalan. Kata-kata itu terdengar seperti tamparan bagi Zahra. Bagaimana mungkin Bapak mengucapkannya dengan begitu mudah, seolah semuanya baik-baik saja? Seolah tidak ada yang berubah? Zahra tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala perlahan, lalu berbalik menuju kamarnya. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Di belakangnya, ia bisa mendengar suara Bapak memanggil, tetapi ia mengabaikannya. Saat Zahra menutup pintu kamarnya, air mata yang ia tahan akhirnya jatuh. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan diri. Tetapi bagaimana ia bisa tenang ketika dunia yang ia kenal sekarang terasa seperti terbalik?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN