"Alena..." lirih Bagas dengan suara yang hampir hilang. Kenapa harus seperti ini? Bagas tidak pernah membayangkan hal ini terjadi. Perasaan takut, marah, khawatir bergabung menjadi satu. Bagas memeluk Alena dengan sangat kuat. Padahal tubuhnya juga mencapai batas. "Saya mohon bertahan Alena, saya mohon!" Bulir air mata tidak bisa Bagas tahan. Sudah lama ia tidak menangis, bahkan ia lupa kapan terakhir kali mengeluarkan air mata. Orang pikir Bagas adalah sosok manusia yang tidak bisa menangis, padahal mereka tidak tahu betapa lemah jiwa Bagas. Selama ini dia cenderung menahan dan menahan, tapi kali ini Bagas tidak bisa. Rasa sakit itu makin menjadi-jadi, Alena bahkan mencengkram lengan Bagas dengan kuat. Tidak ada satupun yang mencoba untuk menolong, mereka hanya menonton seakan menanti s

