Bagaimana mungkin Bulan terus-menerus menolak Bhumi, saat pria itu berulang kali membuktikan bahwa cintanya bukan sekadar janji yang diucapkan pelan, melainkan tindakan yang disiapkan dengan rapi dan sabar. Rumah untuk Ibunya telah Bhumi siapkan, dekat dengan rumah sakit, tenang, dengan seorang pembantu yang akan menemani hari-hari Ibu Alya. Semua dibuat tanpa gaduh, tanpa pamer, seolah itulah cara Bhumi mencintai dengan memastikan, lalu mundur selangkah agar orang lain merasa aman. Pagi itu bandara masih lengang. Udara berbau kopi dan besi dingin. Bulan memeluk Ibunya lama, merasakan tulang punggung yang tak lagi setegap dulu, napas yang masih harus diatur pelan. “Bulan,” kata Ibu Alya sambil menepuk punggung putrinya. “Kamu nikmati bulan madu dan liburanmu. Jangan kepikiran Ibu terus.”

