“Kak Cahaya….” Suara Bulan keluar patah, nyaris tidak terdengar di antara desir ombak dan degup jantungnya sendiri. Ia melepaskan tangan Bhumi, melangkah pelan, seolah jika ia bergerak terlalu cepat, pemandangan di depannya akan runtuh jadi debu. “Kak,” ulangnya, lebih lirih. Cahaya menggeleng. Air mata mengalir tanpa suara, membasahi pipinya. Tatapannya bukan marah yang meledak, melainkan luka yang terlalu dalam untuk diteriakkan. “Jangan dekat-dekat,” gumamnya. “Jangan… jangan sentuh aku.” “Kak, dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin—” “Jelasin apa?” Cahaya tersenyum getir, tawa yang patah. “Jelasin sejak kapan kamu jahat begini? Jelasin sejak kapan kamu bisa setenang itu memeluk suami orang—” Suaranya tercekat. “—calon suamiku.” “Itu bukan—” Bulan menggeleng cepat, napasnya berantaka

