“Bi–biarkan saya mencerna ini dulu…” suara Ibu Gina bergetar. Beliau berdiri sambil memegang pelipis, langkahnya gontai tapi cepat, seolah setiap detiknya adalah ledakan kecil dalam kepalanya. “Ibu mau kemana?” Tanya Aurelia. “Pergi dulu, system di kepala Ibu benar-benar tidak bisa diajak kerjasama. Kalian makan saja makanannya.” Tanpa menoleh lagi kepada dua perempuan yang duduk di meja itu, beliau pergi begitu saja, membelah restoran dengan wajah pucat panik. Cici hanya bisa menatap kepergian itu, mata membesar, tubuh membeku. Keringat dingin tiba-tiba muncul di tengkuknya. Begitu pintu restoran menutup di belakang Ibu Gina, Cici langsung memutar tubuh ke arah Aurelia. “AURELIA!!!” Suara Cici pecah, hampir melengking. “Kenapa rencanamu kayak GINI?! Ini bukan rencana, ini kriminal!

