S2: Rasa Sakit

1984 Kata

Bulan tidak mengerti apa yang barusan digumamkan Bhumi, suaranya berat, serak, dan seperti ditarik dari dasar kelelahan. Pria itu bersandar di sofa, kemeja hitamhnya terbuka satu kancing, memperlihatkan garis d**a yang naik-turun cepat. Aroma alkohol samar tercampur dengan wangi maskulin yang memenuhi ruangan dingin tanpa dekorasi itu. Bulan bergegas menyelesaikan cuci piring meski kepalanya mulai berputar hebat. Setiap percikan air seolah pecah menjadi cahaya yang membuatnyavberdenyut mengikuti panas di tubuhnya. “D-dokter, saya pamit pulang. Besok saya akan kembali ke villa secepanya. Dan… cookies, makanan di sini sudah saya siapkan. Semuanya atas perintah Kak Cahaya. Maaf, saya… nghhh… saya kira dokter tidak akan pulang malam ini. saya permisi dulu.” Saat Bulan berusaha mencapai pintu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN