Ruang VIP itu bukan sekadar kamar. Bulan berdiri di ambang pintu, terpaku. Dindingnya berwarna ivory lembut, lantainya kayu oak yang hangat, bukan keramik dingin seperti rumah sakit biasanya. Lampu-lampu kecil tersembunyi di balik panel kayu menciptakan cahaya lembut, hampir seperti hotel bintang lima. Ada ruang tamu kecil dengan sofa beige, meja kopi marmer, vas bunga segar, dan jendela kaca besar yang memperlihatkan taman belakang rumah sakit yang tenang, hijau, tidak terasa seperti fasilitas medis sama sekali. Bulan melangkah pelan, menyentuh sedikit sandaran sofa. “Ya Tuhan… tempat seperti ini… untuk Ibu?” Ia menoleh ke arah tempat tidur utama. Ibu Alya terlelap damai, selimut putihnya naik turun perlahan mengikuti ritme nafasnya. Peralatan medisnya canggih, minimalis, dan tidak ter

