“Tapi dia keluar dari poli kandungan, loh, Mas. Itu bikin aku bingung,” suara Bulan lirih, hampir berbisik. “Apa mungkin terjadi sesuatu sama Kak Cahaya?” Mereka berbaring di ranjang. Bhumi bersandar setengah duduk, bahunya menjadi bantalan. Bulan tidur miring, memeluknya, satu tangannya menyelip di pinggang Bhumi, keningnya menempel di d**a yang naik-turun pelan. Lampu tidur menyala redup, memantulkan cahaya lembut di dinding. Bhumi mengusap rambut Bulan dengan ujung jarinya, gerakannya pelan dan berulang. “Sayang,” katanya rendah, menenangkan. “Banyak alasan orang datang ke poli kandungan. Bisa pemeriksaan rutin. Bisa persiapan menikah. Bisa hal lain yang tidak ada hubungannya dengan apa pun yang kamu pikirkan.” Bulan mendongak sedikit, matanya masih setengah terbuka. “Tapi rasanya… a

