Impoten. Kata itu masih bergetar di kepala Bulan bahkan setelah ia menutup kotak arsip rapat-rapat. Ada rasa kaget, tentu saja, tetapi lebih dari itu… rasa kasihan yang menelusup pelan, seperti embun dingin yang tidak bisa ia usap. “Dokter… kamu menyimpan banyak beban, ya…” bisiknya lirih, menyentuh tepi kotak seolah itu kulit manusia yang rapuh. Ia belum selesai menata rak ketika perutnya mengingatkan sesuatu, Bhumi belum makan camilan apa pun. Dan ini sudang siang. Kebiasaannya, dulu ketika Bulan masih membantu di apartemen Bhumi seminggu sekali, ia selalu mendapati toples cookies kosong dalam waktu cepat. Bhumi tidak pernah memuji, tidak pernah berterima kasih, tetapi… selalu menghabiskan. Itu cukup sebagai pengakuan. Bulan naik ke dapur, mengikat rambutnya lebih rapi, lalu memulai

