Bulan sudah tahu apa yang akan dilakukan Bhumi, tapi kapan waktunya? Ia justru keburu mengantuk. Kantuk yang berat, semacam kabut hangat yang menggulung mata. Sekarang ini Bulan tengah menonton televisi di ruang santai lantai dua dengan jendela dibiarkan terbuka, angin lembut menyingkap tirai dan membawa aroma tanah yang basah. Bulan duduk di bawah, di atas karpet bulu, bersandar pada kaki sofa. Buah-buahan yang tadi dibelinya tersaji dalam mangkuk kecil, dingin, manis, segar di lidahnya. Di belakangnya, Bhumi duduk bersandar santai, satu kaki tertekuk, satu lagi menjuntai. Novel tipis bersampul krem, karya Bulan terbuka di tangannya. Cahaya dari televisi memantul di wajah Bhumi, memperlihatkan sorot mata yang tidak sedang sekadar membaca. Ia memerhatikan. Mengunyah setiap kalimat. Bulan

