Rumah tunggal milik Ibu Gina berdiri anggun dalam remang sore. Lampu-lampu taman menerangi jalan setapak menuju beranda, memantulkan cahaya kuning keemasan di permukaan mobil hitam Sadam yang baru berhenti. Udara beraroma wangi melati dari taman samping rumah. Cici duduk kaku, menggenggam tas kecil di pangkuannya. Nafasnya naik turun seperti gelombang kecil yang tak stabil. Sadam keluar lebih dulu, memutari mobil, dan membuka pintu penumpang. “Cici,” panggilnya lembut. Cici menurunkan kaki, tetapi tubuhnya seperti tertahan. Sadam langsung memegang kedua bahunya, menurunkannya perlahan agar berdiri tepat di depannya. “Om… aku takut,” ucap Cici lirih, nyaris seperti anak kecil yang hendak masuk ruang kepala sekolah. Sadam menarik napas panjang, lalu memeluknya, erat, kuat, hangat. Peluk

