S2: Pagi yang Panas

2383 Kata

Bulan duduk kaku di kursi penumpang mobil hitam itu, kulit joknya terlalu halus, terlalu mahal, terlalu asing dibandingkan hidupnya yang biasa. Setiap belokan saat mobil keluar dari gang kumuh itu seperti mendorongnya menjauh dari dirinya sendiri. Bhumi mengendarai tanpa suara, kedua tangannya mantap di kemudi, wajahnya fokus menatap jalan. Hening yang mengikat di antara mereka terasa tebal, sampai sebuah suara beep halus terdengar dari earpiece di telinga Bhumi. “Ya, kenapa?” Bulan hanya bisa memandang lurus ke depan saat suara dari pihak lain terdengar samar-samar. “Pasien icu tiga dua sudah reaktif lagi, Dok. Tekanan darah drop menjadi delapan puluh per lima puluh.” “Mulai norepinephrine dua mikro per kilogram per menit. Jangan lewat lima menit. Pantau urine output. Bila di bawah t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN