20

1031 Kata
Ashley memandang bayangannya di cermin. Rambutnya yang lurus dan pirang, terlihat berkilau. Sepasang matanya yang sendu dihiasi bulu mata lentik. Hidungnya yang pipih dan mancung, berpadu serasi dengan bibir merah merekah. Kecantikan wajahnya menyempurnakan keelokan tubuhnya yang bagai gelas bertangkai. Apalagi kemeja pink muda, yang kancing bagian atasnya tidak tertutup, memperlihatkan sebagian bagian dadanya. Hampir tidak ada laki-laki yang sanggup menyangkal kecantikannya. Kalaupun ada, mungkin hanya sedikit. Salah satunya adalah Arthur Phillip Axton. Kejadian di malam kemarin masih meninggalkan kekecewaan yang mendalam di hati Ashley. Ia tak habis pikir, mengapa berbagai upaya untuk mendekati—bahkan menggoda—Arthur, selalu menemui kegagalan. Kata-kata Tammy yang mengatakan kalau ia harus lebih agresif kembali terngiang. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengikuti saran Tammy. Hari ini. Ya, hari ini ia akan memberi kejutan pada sang pujaan yang telah mengisi hatinya selama bertahun-tahun belakangan. Kalau ia sanggup menaklukkan laki-laki itu, kebahagiaan yang selama ini ia idamkan akan terwujud. Ashley memandang sekali lagi bayangannya di cermin, lantas sebelah ujung bibirnya setengah terangkat. "Aku harus bisa mendapatkanmu malam ini." Setelah berkata demikian ia pun melangkahkan kakinya ke luar dari dalam unit apartemennya. *** Di dalam Axton Tower yang terletak di jantung area Shoreditch, merupakan kantor pusat Axton Group. Pagi itu aktivitas di Axton Tower menggeliat. Ribuan karyawannya sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Hal yang sama tampak di lantai 25—tempat para Direksi dan jajarannya. Ashley, Tammy, dan Kimberly pun sudah berada di sana. Ketiganya terlihat sibuk dengan tugas mereka. Namun, diam-diam Ashley sering melirik Kimberly. Hal tersebut tak luput dari perhatian Tammy. "Hei, Ash," ucap Tammy, "ada apa dengannya, sampai kamu terus mencuri pandang?" "Pssst ...." Ashley meletakkan jarinya di bibir. "Jangan keras-keras, nanti ia mendengar suaramu," bisik Ashley pada Tammy Jayden, sahabatnya. "Ah, sori, sori ...." Tammy berbisik, "Bodohnya aku. Mudah-mudahan suaraku tidak terdengar. Well, kamu belum menjawab pertanyaanku, Ash." Ashley menoleh ke kanan, dan kiri, kemudian menarik Tammy menjauh. "Eeh ... ada apa ini?" tanya Tammy Jayden terkejut, ketika Ashley menariknya ke pojok ruangan. Ashley menghela napas. "Di sini kita tidak harus berbisik-bisik." "Aku tidak menyangka kamu sebodoh ini," ujar Tammy. "Apa maksudmu, Tammy?" tanya Ashley heran. Tammy tersenyum, seraya menggandeng Ashley. "Kalau tidak ingin ada yang mendengar, kita berbincang di kafe bawah." "Tapi ini sedang jam kerja. Kalau kita ketahuan bagaimana?" tanya Ashley, merasa cemas. "Tenang, kita hanya berbincang sebentar. Kalau pun Mr. Handsome atau Clive mencari, bilang saja kita sedang di bawah untuk menginput data." Tammy Jayden berkata enteng. Mereka pun masuk ke dalam lift. Setibanya di bawah, keduanya bergegas menuju kafe. "Kita duduk di sebelah sana saja," ujar Tammy Jayden, menunjuk meja yang terhalang dinding. Ashley menganggukkan kepala. "Oke, Tammy." Tak lama setelah mereka duduk, seorang pelayan datang menghampiri. "Mau memesan apa, Miss?" tanya pelayan tersebut, seraya menyodorkan buku menu. "Sebentar." Tammy Jayden mengambil buku menu, kemudian menyelisik list makanan dan minuman. Ia membuka halaman demi halaman. "Aku pesan jus stroberi." "Maaf, jus stroberi kosong," terang pelayan kafe. Tammy mengehela napas. "Kalau jus jeruk?" tanyanya. "Jus jeruk tersedia, Miss." Pelayan berkata sopan. "Ada lagi, Miss?" Ia menoleh pada Ashley yang tengah membuka-buka menu. "Mmm ... hot chocolate?" Ashley menoleh, seraya bertanya. "Ada, Miss. Apakah mau mencoba menu terbaru kami Beef and Chic—" "Tidak ... tidak ... lain kali saja. Kami tidak punya waktu lama." Tammy menyela ucapan pelayan. Pelayan menganggukkan kepala. "Kalau begitu, silakan ditunggu." Kata pelayan, kemudian berlalu pergi meninggalkan Ashley Hampton dan Tammy Jayden. Tammy mengangkat sebelah alisnya, seraya tersenyum. "Jadi kenapa kamu terus memperhatikan perempuan murahan itu?" tanya Tammy. "Demi mendekati Mr. Handsome." Ashley menjawab. "Demi mendekati pujaan hatimu? Apa hubungannya?" tanya Tammy Jayden, heran. "Well, jadi begini. Aku ingin memiliki waktu hanya berdua dengannya—" "Berdua dan melakukan "itu", kan?!" Ashley menganggukkan kepala. "Iya. Tapi ada yang aku perlukan dari perempuan murahan itu." Ashley menerangkan. Tiba-tiba pelayan datang membawa dua gelas minuman pesanan mereka, dan menginterupsi perbincangan. "Silakan, Miss." "Terima kasih." Tammy tersenyun, kemudian menoleh pada Ashley. "Memerlukannya? Kamu sudah gila, Ash!" Tammy Jayden setengah berseru. "Dengarkan aku dulu, Tammy," ujar Ashley. "Oke. Jadi apa yang mau kamu katakan, Ash?" tanya Tammy Jayden. "Mr. Handsome tidak akan bereaksi dengan godaanku. Aku sudah mencobanya, dan semakin menghindariku. Tapi dia akan berbeda jika itu Kimberly." Ashley menerangkan. "Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Tammy Jayden merasa heran. "Aku melihat kedekatan mereka ketika di Gloucester. Dan aku sangat yakin ada hubungan berbeda di antara mereka," jelas Ashley Hampton, yang wajahnya tampak kesal. "Oh, Tuhan! Jadi memang benar perempuan itu suka menggoda!!" Tammy setengah berseru. "Pssst ... pelankan suaramu. Bisa jadi ada orang kantor kita ada yang di kafe ini." Ashley berkata, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Ah, tenang saja. Ini jam kerja, mereka tidak ada di sini." Tammy Jayden menyahut. "Berhati-hati lebih baik, daripada tidak," kata Ashley. Tammy Jayden menganggukkan kepala. "Well, oke. Bisa kamu lanjutkan?" pinta Tammy yang merasa penasaran. "Iya jadi begitulah. Karena itu aku akan menunggunya lengah dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Mr. Handsome, dan memintanya bertemu di hotel." Ashley Hampton menjelaskan rencananya. Tammy Jayden menghela napas. "Percuma. Kalau dia melihatmu, pasti akan marah." "Ah, aku tidak bodoh, Tammy. Aku sudah memiliki cara yang tepat untuk menaklukkannya. Masalahnya aku harus mendapatkan ponselnya. Dan jangan sampai ada yang melihatku ketika mengambilnya. Jadi, bisakah kamu menutupiku ketika aku melakukannya?" tanya Ashley Hampton. Tammy mencerna pikirannya sejenak, sebelum berkata, "Oke akan aku bantu." Mendengar kata-kata Tammy Jayden, senyum Ashley pun terkembang. Ia sangat yakin rencananya kali ini dapat membuat sang laki-laki pujaan berada dalam pelukannya. "Oh iyq, bagaimana hubunganmu dengan Mr. Clive?" tanya Ashley pada sahabatnya, Tammy Jayden. Kedua ujung bibir Tammy Jayden terangkat tinggi. "Semakin baik. Well, aku tahu kalau ia hanya menginginkan tubuhku, dan kurasa ia juga tahu kalau aku hanya menginginkan hartanya." Tammy Jayden menerangkan. "Wow! Dan dia tidak keberatan?" tanya Ashley, tak menyangka. Tammy Jayden tertawa kecil. "Sudah kukatakan kartu kreditnya tidak berbatas. Baginya sangat mudah memberi semua yang aku inginkan. Menurutku hubungan tanpa melibatkan perasaan seperti ini adalah yang terbaik," kata Tammy Jayden. "Kenapa?" tanya Ashley Hampton. Tammy tersenyum. "Hubungan cinta selalu memiliki dua sisi, yaitu bahagia, atau merana. Di kala merana menyapa, tentu akan sangat menyakitkan." Kedua perempuan itu saling mencurahkan isi hati mereka, tetapi sepuluh menit kemudian mereka kembali ke ruangan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN