Kimberly keluar dari dalam kamar mandi, sambil menyeka rambutnya yang basah. Ia hanya mengenakan handuk baju berwarna putih ketika menghampiri Arthur di atas ranjang.
Arthur tersenyum memandang perempuan yang ia cintai tersebut. "Kim, kamu memang cantik sekali."
Kimberly tersenyum. "Tidak lagi malam ini, Arthie. Aku khawatir kalau kita melakukannya lagi, besok terlambat bangun. Lagipula aku masih harus mengerjakan tugas yang kamu berikan."
"Ah, iya ... sudah sampai mana?" tanya Arthur.
"Nanti aku tunjukkan," tukas Kimberly sembari mengenakan pakaian. "Tunggu, aku ambil laptop." Kimberly keluar dari kamar.
Selang beberapa menit, ia masuk dengan menjinjing tas laptop, kemudian duduk di samping Arthur. "Coba lihat ini, Arthie." Kimberly menunjukkan laporan tersebut.
Arthur mengamati layar laptop. Keningnya mengerut, berusaha memahami laporan dengan teliti. "Jadi kebocoran bukan mengarah pada Sally, dan Ronald?"
Kimberly menggeleng. "Sama sekali bukan. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh dan jujur."
"Lalu apakah kamu tahu siapa?" tanya Arthur.
Kimberly menghela napas panjang. "Belum. Sepertinya ia bekerja dengan rapi. Oh iya, setelah mengetahui Sally tidak terlibat, apakah aku masih diperlukan untuk mendampinginya?"
Arthur berpikir sejenak. "Well, aku rasa begitu. Pengawasanmu di sana bukan hanya soal Sally. Bisa jadi kita menemukan petunjuk di sana. Dan yang paling penting mencegah agar tidak terjadi kebocoran."
"Jadi kapan aku harus berangkat lagi?" tanya Kimberly.
Arthur tersenyum. "Tidak dalam waktu dekat. Nanti akan kucari waktu yang tepat."
"Oke, Honey." Kimberly mengecup bibir Arthur.
Sementara itu di tempat lain, Clive sedang memandang foto-foto pada album di tangannya. Senyumnya mengembang melihat dirinya memegang berbagai penghargaan akademis. Namun, ketika ia membalik ke halaman lain, dilihatnya selembar foto yang sobek setengah. Foto tersebut memantik darahnya bergolak, dan membawanya pikirannya kembali ke masa lalu; masa ketika ia berkuliah beberapa tahun silam ....
***
Clive berjalan di koridor jurusannya. Setiap orang memandangnya, sambil berbisik-bisik. Namun, hal itu sama sekali tidak mengganggu Clive. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Bukan hanya di jurusannya, tetapi juga di universitasnya.
Clive adalah salah satu Mahasiswa terpopuler di sana selain Arthur, dan Crystal. Ketiganya memiliki prestasi akademis yang tinggi. Namun, ketiganya juga merupakan sahabat dekat. Di antara ketiganya Crystal adalah yang paling berprestasi, diikuti Arthur, kemudian Clive.
Clive dan Crystal saling mencintai, dan berpacaran selama dua tahun. Bahkan keduanya telah mengikat janji untuk menikah selepas lulus, dengan cara bertunangan terlebih dahulu. Namun, diam-diam Arthur pun menaruh hati pada Crystal. Clive mengetahui hal tersebut, tetapi ia tidak mempermasalahkannya karena Arthur selalu mendukung hubungannya dengan Crystal. Sayang, satu kejadian mengubah kesetiakawanan menjadi kebencian di dalam hati Clive untuk selamanya ....
Saat itu mereka sedang mendaki di pegunungan bersalju. Kala itu tengah terjadi badai salju yang mendera kencang. Mereka berupaya berusaha mencari tempat berlindung, agar selamat dari terpaan cuaca kejam tersebut.
"Cliiiive!! Cliiiiive!!! Apakah kamu sudah menemukan tempat berlindung di depan?" Arthur berseru pada Clive yang berada paling depan.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu, Arthie!!" teriak Clive, yang tidak mendengar suara Arthur karena suara angin yang kencang.
"Sayang! Apakah kamu melihat tempat berlindung di depan?" Crystal mengulangi pertanyaan Arthur.
"Ah, tunggu!" balas Clive. Ia mengedarkan pandangan, dan menyipitkan mata, agar pandangannya lebih terfokus. "Aku tidak melihat ada sesuatu di depan! Mungkin karena pandanganku tidak terlalu jelas! Sebaiknya kita berjalan lagi lebih ke de—"
"Aku tidak bisa mendengarmu, Clive!" seru Arthur menginterupsi.
Clive menghela napas panjang. "Sudahlah! Ayo ikuti aku!" ujarnya, memberi tanda agar Arthur dan Crystal mengikutinya dari belakang.
Mereka berjalan sambil menggunakan tongkat ski sebagai penyanggah. Mungkin jika tanpa tongkat tersebut, salah satu atau bahkan semuanya telah tergelincir. Sesekali mereka berlindung di balik pepohonan untuk sekadar beristirahat, sebelum melanjutkan berjalan. Kurang lebih setelah menempuh perjalanan satu kilometer, Clive yang berada di depan, menghentikah langkahnya.
"Clive! Kenapa berhenti? Apakah kamu melihat sesuatu di depan sana, Kawan?" tanya Arthur, berteriak.
"Iya! Tapi aku tidak terlalu yakin!" Clive berseru, "Ayo kita jalan lagi!"
Akhirnya setelah berjalan tiga ratus meter, Clive berteriak, "Ada goa!"
"Apa? Suaramu tidak terdengar!!" teriak Arthur.
"Clive mengatakan ada goa di depan!!" seru Crystal.
"Benarkah? Kita selamaaaat!!!" Arthur berteriak gembira.
"Jangan terlalu senang, Kawan! Kita belum bisa tenang sebelum berada di dalam goa itu!" Clive mengingatkan.
Beberapa menit kemudian, ketiganya berhasil berada di dalam goa tersebut.
"Oh, Tuhan!! Kupikir nyawaku berakhir di tengah badai salju!" seru Arthur, lega.
"Hahaha! Aku pun berpikir demikian!" Clive menoleh pada Crytal yang menyandarkan diri pada dinding goa. "Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?!"
Crystal terlihat pucat, seluruh tubuhnya gemetar, demikian pula dengan bibirnya yang bergetar. Tak lama kemudian ia tidak sadarkan diri.
"Crystal! Kamu kenapa?" tanya Clive, panik. "Oh, Tuhan! Aku baru ingat kalau Crystal belum makan sejak tadi!" Clive berjalan ke mulut goa.
"Hei! Kamu mau ke mana?" tanya Arthur.
"Tunggu di sini! Aku akan mencari makanan!" kata Clive.
"Kamu sudah gila!! Badai belum berhenti!! Lagipula mana ada makanan di tempat seperti ini?!" seru Arthur.
"Ceri! Kalau beruntung, aku dapat menemukan buah itu!" tukas Clive.
"Tapi bagaimana mungkin kamu dapat me—"
"Jangan cegah aku! Aku tidak akan membiarkan keadaan tunanganku semakin memburuk!" Clive segera bergegas ke luar dari dalam goa.
Selama berjam-jam Clive belum juga kembali, sementara itu keadaan Crystal tak juga membaik. Sebaliknya justru semakin buruk.
Arthur pun memeriksa suhu Crytal, dan memperhatikan peenapasannya. "Ini bukan karena lapar ... jika meniliknya kesulitan bernapas, dan suhu tubuh yang dingin, berarti dia mengalami ... hipotermia ..." Arthur mengusap pakaian Crytal. "Bajunya basah. Jika terus mengenakannya, kondisinya semakin memburuk." Kemudian Arthur melepaskan pakaian Crystal, dan membuka pakaiannya sendiri kemudian memeluk Crystal dalam keadaan telanjang. Ia berharap suhu tubuhnya dapat menghangatkan Crytal.
Sayang, tanpa sepengatahuan Arthur, Clive telah tiba di goa. Melihat keadaan Arthur yang memeluk Crystal dan keduanya tanpa busana, hatinya menjengit-jengit. Ia pun mengurungkan diri masuk ke dalam. Rasa sakitnya tersebut selalu membayanginya. Sejak saat itu ia sudah menyimpan dendam pada Arthur. Hubungan dengan Crystal pun terganggu. Walau ia tahu Crystal saat itu tidak sadarkan diri tetapi bayangan ketika Arthur memeluk Crystal selalu terbayang. Itulah yang membuaf sikap Clive berubah dingin kepada Crystal. Mengenai hubungannya dengan Arthur, Clive berusaha menyembunyikannya rapat-rapat, karena berharap dapat bekerja di Axton selepas selesai kuliah. Dengan tujuan akan membalas Arthur dengan cara yang paling menyakitkan yang tak pernah Arthur bayangkan sebelumnya. Pengkhianatan atas kesetiakawanan yang dulu terukir indah, harus terkoyak oleh dendam.
Kejadian tersebut juga mengubah sisi lain Clive. Ia tak pernah benar-benar mencintai perempuan, karena khawatir akan merasakan sakit yang sama.
***