Arthur baru saja masuk ke dalam rumah, setelah menempuh perjalanan udara dari Gloucester. Matanya kuyu, seiring tubuhnya yang lelah. Ketika melihat sang istri menyambutnya, perasaan bersalah pun bergelayut. Sebisa mungkin ia menghindari tatapan Louise, agar perasaan bersalah tersebut tak semakin besar.
"Halo, Arthie." Louise mengecup pipi Arthur. "Tidak usah masuk kantor hari ini, sepertinya kamu tampak lelah," ucapnya, sambil mengusap wajah Arthur.
Kedua ujung bibir Arthur setengah terangkat, seraya mengalihkan pandangan. "Aku harus tetap ke sana. Mungkin sore, setelah beristirahat."
Louise menghela napas. "Jangan terlalu memaksakan, Sayang."
"Jangan khawatir, badanku bugar setelah beristirahat," sahut Arthur.
"Memangnya masih ada karyawan nanti?" tanya Louise.
"Aku akan memanggil orang-orang yang kubutuhkan." Arthur berjalan ke kamar.
"Tidak makan dulu?" tanya Louise setengah berseru.
"Aku sudah sarapan di Gloucester," balas Arthur, sembari masuk ke kamar.
Sebenarnya tidak memerlukan waktu lama dari Gloucester ke London, tetapi waktu yang dihabiskan bersama Kimberly, mengendurkan tenaga Arthur. Selain itu, ia tak ingin berlama-lama bersama Louise, sebab dapat membuatnya semakin merasa bersalah.
***
Pada sore hari di Axton Tower, Arthur sedang berada di ruangannya. Ia tengah mengamati angka-angka yang tampil di layar komputer. Tak lama kemudian, ia menekan interkom, "Ashley, bisakah kamu berada di kantor sampai malam? ... iya, ada yang harus aku jelaskan ... mengenai intensive lembur, akan diperhitungkan ... tidak, tidak ... itu hak setiap karyawan, kamu harus mau menerimanya ... baik, nanti masuklah ke ruanganku jam tujuh malam." Usai menutup sambungan ia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Pikirannya melayang pada perempuan yang belakangan selalu membayangi pikirannya.
Ia pun segera mengirim pesan pada Kimberly, 'Hi, Dear. Apakah kamu masih di kantor?'
Tak lama pesan balasan pun masuk, 'Hello, My Arthie. Iya aku sedang di mejaku, merindukanmu.'
Jemari Arthur kembali menari, menekan tombol pada layar ponsel, 'Aku juga, Sayang. Tapi kita tidak bisa sering bertemu ketika di kantor.'
'Aku tahu,' balas Kimberly.
'Well, lagipula kamu juga perlu beristirahat.' Arthur membalas.
'Mmm ... okay. Tapi apakah nanti kamu mau mengunjungiku sepulang kantor?" tanya Kimberly, melalui pesan balasan.
'Tidak malam ini, Sayang. Aku masih harus bekerja lembur. Bagaimana kalau besok malam?' balas Arthur.
Cukup lama Arthur menunggu balasan Kimberly. Arthur dapat menduga kalau Kimberly merasa kecewa. Namun, sesaat kemudian pesannya masuk.
'Okay. Besok akan aku siapkan makan malam Skotlandia.'
'Aku semakin tidak sabar menanti besok malam. Well, sampai besok, Sayang. I love you.' balas Arthur.
'I love you too, Arthie.'
Arthur menghela napas, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada layar komputer. Ia mencoba mengulik dan menghitung angka-angka tersebut. Mengalkulasi ulang untuk mencari letak kebocoran yang terjadi di dalam Axton Group. Selama satu jam lamanya, ia berkutat dengan angka-angka tersebut, tetapi ia belum menemukan apa yang ia cari, dan membuatnya menyerah sementara.
Arthur melihat jam dinding telah menunjukkan pukul tujuh malam. Tak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka. Ashley muncul dari balik pintu. Penampilan Ashley tampak berbeda dari biasanya. Rambutnya yang brunette, kini berubah pirang. Ia mengenakan baju yang menampilkan sebagian d**a bagian atas, rok ketat di atas lutut yang menampilkan kakinya yang jenjang. Namun, warna dan motif pakaiannya seperti yang biasa dikenakan Louise. Hanya dengan melihatnya sepintas, orang dapat menduga kalau ia mencoba mengikuti gaya Louise Anne Charlotte, tetapi dengan menampilkan keseksian yang tak biasa ditampilkan Louise.
Arthur melirik sekilas, kemudian membuang pandangan. "Duduklah, Ash," tukasnya tak mengacuhkan penampilan Ashley.
"Ya, Sir." Ashley menarik kursi, dan meletakkannya menyejajari Arthur.
Arthur bukan orang yang naif, dan dapat mengetahui ada yang janggal dari sikap Sekretarisnya tersebut. Namun, ia memilih tak ambil pusing, selama Ashley tetap melaksanakan tugas dengan baik.
"Coba kamu kalkulasi ulang angka-angka ini," perintah Arthur.
"Dari yang mana?" Ashley pura-pura tidak melihatnya dengan jelas, seraya mencondongkan tubuh.
Alih-alih terpancing, Arthur bangkit dari tempat duduk. "Aku mau memesan makan malam, kamu mau apa?"
"Mmm ... apa saja, Sir," jawab Ashley.
"Tunggu di sini." Arthur berjalan ke pintu, tetapi tiba-tiba Ashley memanggil.
"Sir."
Arthur pun menoleh. "Ada apa? Apa kamu mau memesan yang lain?"
Ashley menggeleng. "Kenapa tidak menyuruh orang lain saja yang membelinya?"
Arthur tersenyum. "Aku bosan dari tadi berada di sini. Ingin menghirup udara segar sebentar," ujarnya, kemudian keluar dari ruangan.
Sikap dingin dan tak acuh yang ditunjukkan Arthur, membuat Ashley merasa kecewa. Padahal sepulang dari Gloucester, Ashley tidak beristirahat. Ia segera ke salon, dan membeli pakaian untuk menarik perhatian sang pujaan hati. Ia tak habis pikir kenapa Arthur tidak pernah terlihat tertarik, padahal banyak lelaki yang rela berbuat apa saja hanya demi bisa menghabiskan waktu bersantap siang dengannya. Dari segala kemungkinan, hanya satu alasan yang membuatnya yakin kenapa Arthur tidak meliriknya, yaitu Kimberly.
Dugaan Ashley memang tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Arthur memang mencintai Kimberly, tetapi bukan berarti jika ia tak menyukai Kimberly, lantas mau bersama Ashley. Sayang, Ashley tidak dapat menilai semuanya dengan baik. Obsesinya yang terlalu besar telah membutakan matanya. Tatkala pikirannya tengah melamun, tiba-tiba ada masuk ke ruangan.
"Sir. Ax—" Ashley tak meneruskan kalimat ketika melihat yang datang adalah Office Boy. "Di mana Mr. Axton?"
"Oh, Mr. Axton tadi menyuruh saya untuk mengantar makanan ke sini. Tapi beliau keluar dari kantor, katanya ada urusan mendadak dan meminta saya menyampaikan pesan pada Anda," terang Office Boy, kemudian keluar dari ruangan.
Mendapat kabar tersebut, Ashley merasa terluka. Bagaimana mungkin orang yang selalu bersikap baik padanya, kini berubah? Tidak mungkin jika tanpa sebab. Ya, Kimberly-lah penyebabnya!
Sementara itu di tempat lain, sebuah mobil sedan berwarna hitam baru saja masuk ke area parkir apartemen. Sesudah memarkirkan kendaraannya, Arthur turun dan masuk ke dalam apartemen yang di tinggali sang kekasih.
Semula Arthur memang tidak berencana ke sana. Namun, karena tidak nyaman dengan Ashley dan juga Ashley harus mengerjakan tugas di ruangannya, ia memilih untuk datang ke tempat Kimberly. Tentu saja kehadirannya akan menjadi kejutan yang menggembirakan Kimberly.
Begitu tiba di depan unit Kimberly, Arthur menekan bel. Namun, tak jua ada yang membukakan pintu. Selama beberapa menit Arthur menunggu sambil sesekali menekan bel. Sampai akhirnya setelah dua puluh menit menunggu, pintu pun terbuka.
"Arthie!" Mata Ashley membulat sempurna, tak menyangka kehadiran Arthur di sana.
"Kejutan, Sayang!" Kedua ujung bibir Arthur terangkat tinggi, menampilkan deretan giginya yang putih dan beraturan.
Kimberly langsung memeluk ke kasihnya erat. "Maaf, tadi aku sedang mandi." Ia menarik Arthur masuk ke dalam unit.
***