Kimberly menggeliat, sambil merentangkan tangan. "Di mana aku?" Ia melirik ke sebelah, dan terhenyak manakala melihat Arthur tidur di sebelahnya. "Oh, Tuhan! Apa yang terjadi semalam?" pekiknya seraya menarik selimut menutupi tubuhnya.
Suara Kimberly sontak membangunkan Arthur. Keadaan tersebut membuat keduanya merasa canggung. Selama beberapa menit keadaan tersebut berlangsung, sampai akhirnya Arthur memecah keheningan.
"Maaf," ucap Arthur pelan.
Kimberly diam sejenak, seraya berpikir. Semburat merah di wajahnya tampak kentara. "Tidak apa-apa. Kalau bukan karena wine, semuanya tidak akan terjadi."
Arthur menatap lembut wajah gadis cantik di depannya. "Aku rasa tidak."
Kimberly terhenyak mendengar kalimat itu meluncur dari Arthur. "Maksudnya?"
Arthur menghela napas. "Alkohol hanya mendorong hasrat yang sebenarnya sudah bersembunyi di dalam hati."
Sepasang mata Kimberly membulat sempurna, merasa tak percaya dengan kata-kata Arthur. "Saya masih tidak paham, Sir."
"Aku rasa kamu tahu apa yang kumaksud." Arthur menarik wajah Kimberly, kemudian mencecap bibirnya lamat-lamat. "Dan panggil saja aku Arthie jika kita sedang berdua."
Tak perlu menjawabnya dengan lisan, Kimberly membalasnya dengan menyambut cecapan Arthur. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik wajahnya menjauh. "Arthie, aku takut kita terlambat."
Arthur melirik jam tangannya. "Masih cukup lama."
"Tapi, bagaimana kalau mereka mencari kita?" tanya Kimberly, khawatir.
"Ah, jika itu yang kamu khawatirkan." Arthur mengambil ponselnya, lantas mengirim pesan.
Tak lama kemudian, ponsel Kimberly berbunyi. Ia segera mengambil, dan membuka pesan tersebut yang berisikan pesan Arthur kepada Ronald, Sally, Ashley, dan dirinya, 'Acara ke lokasi proyek dibatalkan. Aku ada urusan mendadak, dan kita bertemu di bandara.' Kimberly tertegun. "Tapi Ashley tahu kalau aku tidak berada di kamar, ia pasti menduga aku bersamamu, Arthie."
"Semua orang bisa berpikir macam-macam. Pikiran mereka di luar kendali kita, kan?! Daripada waktu habis memikirkan apa yang mereka pikirkan, lebih baik kita melanjutkan yang tadi tertunda."
Keduanya kembali saling menghangatkan, terbuai dalam hasrat yang berada di antara nyata dan samar.
Beberapa jam kemudian, ketika tiba di bandara, Arthur dan Kimberly tiba di jam, dan menggunakan kendaraan yang berbeda, agar tidak dicurigai. Namun, pandangan Ashley jelas kalau ia sangat mencurigai mereka. Sikap ketusnya pada Kimberly semakin menjadi, tetapi ia segera menutupinya di hadapan Arthur. Sementara itu, Ronald, dan Sally sama sekali tidak curiga. Pikiran mereka lebih disibukkan dengan perpisahan mereka sebentar lagi. Setelah menunggu setengah jam, akhirnya mereka pun masuk ke dalam pesawat.
***
Di suatu rumah mewah berarsitektur Yunani, yang berada di tengah Kota London. Perry dan Clive baru saja memasuki ruang tamu. Perry terperangah melihat kemewahan tersebut. Sudah seringkali ia mengantarkan pesanan ke rumah klien yang kaya, tetapi belum pernah ia melihat rumah semewah itu.
"Sebenarnya siapa yang akan kita temui?" tanya Perry, masih mengagumi.
"Sebentar lagi kamu bertemu dengannya. Well, sebenarnya tidak ada yang spesial dengan rumah ini. Aku pun bisa membelinya, tetapi aku lebih suka tinggal di apartemen yang tadi kamu kunjungi sebelum kita sama-sama berangkat ke sini," ujar Clive, menunjukkan dirinya tidak berada di bawah si pemilik rumah.
Selang lima belas menit kemudian, seorang laki-laki muncul menemui mereka. Tubuhnya tinggi besar, mengenakan kemeja merah marun dan celana bahan hitam. Wajahnya yang persegi, ditumbuhi kumis dan jenggot lebat serta rapi. Sementara itu apda bagian wajahnya, terdapat sepasang mata berukuran sedang dengan sorot mata tajam, alis tebal, hidung mancung dan bengkok ke bawah, dan bibir yang lebar kehitaman. Tangannya memegang cerutu yang sudah menyala. Dialah pesaing bisnis terbesar Arthur.
Begitu melihatnya, Perry tentu mengenali sosok yang terkenal di seluruh Britania Raya. Ia pun buru-buru menyalaminya. "Mr. Blake." Laki-laki bernama lengkap Nathaniel Damarion Blake hanya tersenyum tipis, tanpa menyambut uluran tangan Perry.
"Inikah laki-laki yang kamu ceritakan, Clive?" tanya Nathaniel, seraya menyapu Perry dari bawah ke atas.
"Benar, Nath. Di luar urusan kita nanti, kamu bisa memesan banyak perempuan cantik darinya," jawab Clive tergelak.
"Ah, aku tidak membutuhkan jasa semacam itu. Dengan semua yang kumiliki, tidak ada perempuan yang sanggup menolakku." Nathaniel berkata pongah.
Mendengar kata-kata Nathan, Clive menyeringai miring. "Ada. Dan kamu tidak akan bisa memilikinya."
"Siapa yang kamu maksud?" Nathan menatap tajam pada Clive.
"Louise Anne Charlotte. Perempuan yang telah menolakmu berulang kali. Bukankah begitu?!"
Nathaniel tersungging, kemudian mengisap cerutunya dalam-dalam. "Suatu saat nanti ia akan bertekuk lutut. Percayalah," tukasnya, seraya mengembuskan asap dari dalam mulut.
"Well, aku tidak yakin. Tapi tidak ada salahnya kita bertaruh. Oh iya, bagaimana dengan urusan kita?" tanya Clive.
Nathaniel kembali menyelisik Perry. "Kamu yakin dia orang yang tepat?"
"Sementara ini aku yakin." Clive merangkul pundak Perry. "Tapi kalau ternyata dugaanku meleset, tidak sulit untuk membungkamnya, kan?!"
Mendengar kata-kata Clive, Nathaniel tergelak keras. "Ah, Perry ... itu kan namamu?"
"Iya, Sir," jawab Perry, berusaha menutupi ketakutan yang menyeruak.
"Kalau bergabung dengan kami, ada dua kemungkinan. Yang pertama, kamu bisa kaya raya, bahkan menjadi salah satu orang terkaya di Britania Raya. Yang kedua, mayatmu teronggok di dalam tanah." Nathaniel menyeringai. "Bagaimana, apakah kamu bersedia?"
Perry adalah orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Tanpa berpikir panjang, ia menyanggupi tawaran tersebut. "Sir, saya suka tantangan."
Nathaniel kembali tergelak. "Aku tidak tahu kamu ini bodoh, atau sangat percaya diri. Bahkan kamu belum mendengar tugas yang akan diberikan, tetapi sudah menyanggupi." Nathaniel mengambil sebatang cerutu, lalu memberikannya pada Perry. "Tapi aku mulai menyukaimu. Isaplah cerutu ini, sebagai tanda aku menerimamu bergabung ke dalam aliansi kami."
"Terima kasih!" seru Perry semangat, seraya menyulut cerutu.
"Sebenarnya kamu sama saja dengan Perry," celetuk Clive.
"Apa maksudmu?" tanya Nathaniel.
"Well, kamu belum melihat kecakapannya, tetapi sudah menerimanya." Clive berkata.
"Hahahaha! Itu karena aku percaya pada pilihanmu!" jawab Nathaniel.
"Bagus. Kalau begitu sudah bisa kita mulai?" tanya Clive.
"Tentu saja." Nathaniel menoleh pada Perry. "Kamu sudah tahu tujuan dari pertemuan kita?"
"Mr. Grissham sempat memgatakan sekilas, kalau tujuannya adalah untuk menjatuhkan Arthur Axton. Benar demikian, kan?!"
Nathaniel mengangguk. "Benar. Tetapi bukan hanya itu."
"Lalu?" tanya Perry.
Nathaniel tersenyum, seraya melirik pada Clive. "Tujuan lain adalah memberi pucuk pimpinan Axton pada Clive."
Clive tergelak. "Tenang, seluruh aliansi akan mendapatkan bagian. Aku hanya jabatan saja."
"Seluruh aliansi? Apakah masih ada yang lain selain kita?" tanya Perry yang rasa penasarannya terkulik.
"Tentu saja ada. Tetapi kamu belum bisa menemuinya sekarang. Dia adalah otak dari semua rencana kita, dan juga merupakan pimpinan aliansi ini. Suatu saat, ia akan muncul."
Rencana makar telah digagas. Eksekusi rencana pun telah dimulai. Arthur Axton berada dalam situasi yang tak pernah ia bayangkan.
***