Arthur, Kimberly, Ronald, Sally, dan Ashley, duduk mengelilingi meja makan di Ruang VIP kafe. Wajah Ronald, Sally, dan Ashley, tampak bertanya-tanya alasan Arthur mengumpulkan mereka mendadak.
"Sir, apakah ada hal yang sangat penting?" tanya Ronald, cemas.
Arthur menggeleng. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi karena besok kita harus meninjau lokasi sebelum pulang, aku tidak punya waktu untuk menyampaikannya." Arthur berhenti sejenak, sebelum kembali berkata, "Mulai sekarang, aku menunjuk Kimberly untuk mendampingi Sally sebagai pengawas lapangan. Ia akan bertugas memberi laporan langsung kepadaku soal perkembangan Proyek Gloucester." Arthur menoleh pada Ashley. "Khusus masalah Gloucester, Kimbelry yang akan memegang semua dokumen, Ash. Kamu mengurusi berkas lain, selain Gloucester."
Ashley terhenyak. Ia sama sekali tak berpikir keputusan itu diambil Arthur. Kekhawatiran Kimberly mengambil alih posisi pentingnya mendampingi Arthur pun menyeruak. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, dan terpaksa menyetujuinya. "Iya, Sir."
Arthur mengangguk, kemudian mengedarkan pandangan pada mereka. "Ada yang keberatan?"
Ronald, dan Sally paham jika Arthur mencurigai Sally, kalau menyatakan keberatan sama saja membenarkan kecurigaan Arthur. Keduanya memilih setuju dengan keputusan Arthur.
"Ah, satu lagi. Kimberly akan datang satu minggu sekali, selama dua hari." Kemudian ia memandang Sally, dan Kimberly bergantian. "Kuharap kalian bisa bekerjasama dengan baik."
"Baik, Sir," jawab keduanya serentak.
Rapat itu pun telah usai, dan mereka kembali ke kamar masing-masing. Namun, Kimberly mendapati sikap ketus Ashley semakin menjadi-jadi.
"Kamu beri apa Mr. Axton, sampai-sampai karyawan baru sepertimu diberi tanggung jawab besar?!" ucap Ashley, sinis.
"A-aku tidak—"
"Tak perlu menyangkal! Kenyataannya keputusan itu diambil setelah kalian pergi bersama!" bentak Ashley.
Kimberly terhenyak. Ia tidak tahu kalau Ashley mengetahui kepergiannya dengan Arthur. Keterkejutan Kimberly tidak luput dari perhatian Ashley.
"Terkejut karena aku mengetahui kepergian kalian?" Ashley mendengkus. "Sepandai apa pun bangkai ditutupi, baunya tetap akan tercium! Tunggu saja! Aku akan mengungkap jatidirimu sebenarnya!"
Hati Kimberly bagaikan teriris mendengar kata-kata Ashley. Ia pun berlari ke luar unit menuju lantai dasar. Setibanya di bawah ia berjalan gamang, sembari menatap lantai dengan gamang. Namun, ternyata ada seseorang yang memperhatikannya, dan segera menghampiri.
"Kim," sapa orang tersebut, mengejutkan Kimberly.
"Mr. Axton ..."
"Kenapa kamu tampak murung?" tanya Arthur bersimpati.
"Ti-tidak ada apa-apa, Sir," jawab Kimberly berusaha menutupi.
Arthur menyelisik wajah Kimberly sesaat, kemudian kedua ujung bibirnya terangkat. "Aku tidak bisa tidur, bagaimana kalau menemaniku berbincang di kafe di luar hotel ini?"
"Tapi bagaimana kalau nanti ada yang melihat?" tanya Kimberly cemas, seraya memandang berkeliling.
"Tidak usah khawatir. Kita tidak menggunakan Supir Axton. Aku akan memesan taksi. Lagipula apa yang dikhawatirkan jika kita memang tak berbuat macam-macam?!"
Kimberly mencerna pikiran sejenak. "Baik," ucapnya lirih.
Arthur dan Kimberly, memesan taksi yang tersedia di hotel, kemudian mereka pun masuk.
"Hendak ke mana, Sir?" tanya pengemudi taksi.
"Kami ingin ke restoran. Terserah Anda pilihkan restoran terbaik di Gloucester," jawab Arthur.
Pengemudi taksi, melirik Kimberly dan Arthur dari kaca spion, seraya tersenyum. "Baiklah saya tahu tempat yang tepat untuk Anda."
Mobil taksi tersebut berjalan dengan kecepatan tenang melintasi jalanan Gloucester. Sesekali ia melirik ke spion, seraya menggumam, "Sungguh senang jika masih muda."
"Kenapa?" tanya Arthur, berpikir pengemudi tersebut mengajaknya bicara.
"Ti-tidak, Sir," ucapnya gugup.
Seperempat jam berlalu, akhirnya taksi berhenti di pinggir jalan. Setelah membayar keduanya pun turun.
Kimberly memandang berkeliling, dan melihat banyak pub di sekitar sana. "Kenapa di tempat seperti ini?"
Arthur menghela napas. "Mungkin ia pikir kita sepasang kekasih yang ingin menghabiskan waktu di pub. Kalau kamu ingin pindah tempat, aku akan memesan taksi lagi." Arthur menawarkan.
Kimberly menjadi tidak enak hati telah sering merepotkan Arthur. "Tidak apa di sini, selama tidak memesan minuman keras," jawabnya lirih.
"Ah, ya mungkin saja kita bisa memesan minuman lain."
Keduanya pun masuk ke dalam satu pub, tetapi di sana hanya menyediakan minuman keras. Akhirnya mereka mencari tempat lain, dan tetap saja sama.
"Semua pub di sini hanya menyediakan minuman keras." Arthur menghela napas. "Ya sudah, sebaiknya kita memesan taksi la—"
"Saya rasa tidak apa-apa, jika hanya meminum sedikit wine," sergah Kimberly lirih, merasa tak ingin merepotkan.
"Kamu yakin?"
Kimberly mengangguk. "Hanya sedikit saja tak akan membuat mabuk."
"Baiklah."
Malam itu mereka menghabiskan waktu di salah satu pub di sana. Kimberly yang tak terbiasa meminum minuman keras, mudah terpengaruh wine. Segala hal yang mengganggu pikirannya dicurahkan pada Arthur. Sementara itu Arthur pun tidak berbeda. Tanpa terasa sudah beberapa botol minuman telah dihabiskan.
"Hahaha! Jadi begitulah, Sir!"
"Wah! Cerita tentang adikmu mengingatkanku akan masa lalu. Sifatnya sangat mirip denganku."
"Benarkah?" tanya Kimberly, dengan pandangan mulai memudar.
"Iya be—" Arthur menghentikan kalimatnya, ketika melihat Kimberly tertidur di atas meja. "Kurasa kita harus pulang sekarang, Kim." Ia segera memapah Kimberly ke luar dari pub, dan masuk ke taksi yang parkir di sana.
"Mau ke mana, Sir?"
"Green Glou Ho—"
"Jangan ke ... sana ... aku tidak ingin bertemu Ash ...," ucap Kimberly, setengah sadar.
Arthur menghela napas, lalu berkata pada pengemudi taksi. "Antarkan kami ke hotel di dekat sini."
"Baik, Sir."
Selang beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan sebuah hotel yang terlihat sepi pengunjung.
"Di sini?" tanya pengemudi taksi.
"Iya, tidak apa-apa."
Arthur turun, sembari memapah Kimberly masuk ke dalam hotel. Setelah memesan kamar, kini keduanya berada di dalam kamar. Arthur merebahkan Kimberly di atas ranjang, kemudian memandang Kimberly yang pakaiannya tersingkap. Melihat Kimberly demikian, ditambah lagi pengaruh alkohol, hasratnya terkulik. Namun, ia segera mengalihkan pandangan, dan hendak beranjak.
"Jangan pergi ..." Kimberly menahan tangan Arthur. Ia tampak masih setengah sadar, dan dalam pengaruh minuman keras. "Temani aku ... " Kimberly menarik tangan Arthur, lalu memeluknya. "Aku takut Perry datang ... Sir." Kimberly memeluk Arthur erat-erat.
Didekap demian erat oleh perempuan secantik Kimberly, runtuhlah usaha Arthur menahan diri. Apalagi sebenarnya, benih-benih perasaan cinta telah tumbuh di hatinya. "Tidak ada orang lain di sini. Panggil saja aku Arthie." Arthur mencecap bibir Kimberly.
Alih-alih menolak, Kimberly justru menyambut cecapan laki-laki yang mengusik pikirannya selama ini. "Arthie ..."
Malam itu atasan dan bawahan tersebut terbuai hasrat yang terlarang. Keduanya menepikan segala pikiran yang menghalangi untuk memadu kasih. Meskipun Kimberly terpengaruh alkohol, tetapi ia tak akan menyesali kalau laki-laki di hadapannya yang merenggut mahkotanya. Sungguh, baginya tidak ada yang layak mengambil kesuciannya selain Arthur, satu-satunya pria yang ia cintai.
***