Di sebuah restoran yang berada di pusat Gloucester. Arthur dan Kimberly baru saja tiba di sana. Mereka mengambil tempat yang jauh dari keramaian. Keduanya sedang memesan makanan kepada seorang Pramusaji.
"Silakan." Pramusaji memberikan buku menu. "Apa yang ingin dipesan, Mr, dan Miss."
"Mmm ..." Arthur menyelisik halaman demi halaman. "Lancashire Hotpot, dan jus anggur."
Pramusaji mencatat pesanan Arthur, kemudian menoleh pada Kimberly. "Anda, Miss?" tanya Pramusaji.
"Saya juga memesan yang sama," jawab Kimberly, seraya tersenyum.
"Silakan ditunggu." Pramusaji berlalu meninggalkan mereka.
Kimberly mencuri pandang pada Arthur, tetapi ketika tatapan mereka bertemu, ia menundukkan kepala. Ia berusaha menutupi semburat merah di pipinya.
"Kamu tahu kenapa aku mengajakmu ke sini?" tanya Arthur.
"Mengenai yang tadi saya catat?" Kimberly balik bertanya, karena merasa ragu dengan jawabannya.
Arthur tersenyum. "Benar, tetapi masih ada yang lain."
Kimberly mengangguk, seraya mengambil buku catatan kecil dari dalam tas.
"Kali ini tidak perlu dicatat," sergah Arthur.
"Iya, Sir."
"Kamu masih ingat yang kukatakan mengenai kebocoran di dalam perusahaan kita?" Arthur bertanya.
"Masih, Sir. Apakah berhubungan dengan proyek ini?"
Arthur menggeleng. "Tidak sepenuhnya. Laporan keuangan tersebut sejak dua tahun lalu, sebelum proyek ini. Tapi mungkin saja akan ada kebocoran lain dalam Proyek Gloucester, kalau kita tidak bisa mencegahnya," terang Arthur, "Kecurigaanku pada pelaku yang penyebab kebocoran semakin mengerucut pada dua orang."
"Dua orang? Siapa, Sir?"
Arthur menghela napas. "Diam-diam aku mengecek cerita mengenai kecelakaan karyawan yang dikatakan oleh Sally. Ternyata itu hanya kecelakaan kecil, dan tidak menghambat pekerjaan. Yang menghambat justru aliran dana yang terlambat datang."
"Jadi maksudnya, Sally?" tanya Kimberly, terkejut. "Lantas siapa satu lagi?"
"Siapa lagi kalau bukan orang yang melindunginya tadi pagi?!" tukas Arthur.
Kimberly mencerna pikiran sejenak. "Maksudnya Mr. Bostock?"
Arthur mengangguk. "Benar, dia yang melindungi Sally saat aku menanyakan alasan keterlambatan proyek. Lagipula aku mendengar desas-desus kalau mereka menjalin hubungan spesial." Arthur berhenti sejenak, kemudian melanjutkan. "Tapi itu masih dugaan. Selama tidak ada bukti, maka belum bisa dipastikan. Karena itulah aku memintamu untuk menyelidikinya, Kim."
Kimberly berpikir sesaat. Raut wajahnya terlihat khawatir. "Sa-saya tidak berani, Sir."
"Kamu tidak perlu takut. Aku yang melindungimu."
"Baik. Lalu bagaimana dengan catatan saya?"
Tiba-tiba Pramusaji datang menginterupsi pembicaraan. "Silakan." Setelah meletakkan pesanan, ia berlalu.
Arthur dan Kimberly berbincang sambil menyantap hidangan.
***
Sementara itu di London, Perry sedang bertemu dengan Clive di kafe. Perry menumpahkan kekesalannya karena ia baru tahu dari Clive kalau Kimberly bekerja di Axton.
"Tidak kusangka kamu menikamku dari belakang, Clive!" Kemarahannya menyebabkan kesantunan yang biasa ditunjukkan, luntur tak bersisa.
"Tenanglah dulu Pe—"
"Pantas sejak bertemu kalian, keesokan harinya ia menghilang!"
"Aku katakan ... tenang ..." Clive berbicara lamat-lamat dengan intonasi beku. Ia menatap Perry tajam.
Perry tahu kemarahan laki-laki dihadapannya, sungguh mengerikan. Uang, dan kekuasaan Clive mampu membuatnya merana. Ia terdiam, dan mencoba menyimak.
"Bagus, jika kamu mengerti posisimu," ujar Clive, "Kamu harus tahu, bukan aku penyebab kepergian Kimberly, tetapi Arthur. Jika kamu segan denganku, seharusnya kamu paham kalau menentang Arthur, atasanku dan pria terkaya di seluruh Britania."
Mendadak nyali Perry menciut. Kecemasan dan ketakutan teraduk di dalam hatinya. "Aku paham, Sir," ujarnya lirih.
Seringai miring tampak di wajah Clive. "Tapi itu hanya sementara."
"A-apa maksud Anda?" tanya Perry heran.
"Arthur. Dia hanya sementara berada di posisinya sekarang," terang Clive.
"Saya tidak mengerti maksud Anda." Perry terlihat bingung.
"Kalau kamu ingin lebih jelas. Temui aku besok pagi di apartemenku." Clive memberikan kartu namanya. "Ada seseorang yang ingin kukenalkan."
"Tentu. Saya pastikan besok datang."
Sementara itu, di Gloucester. Ashley yang mendengar pembicaraan Ronald, dan Sally, sedang gusar. Meskipun Axton Group bukan miliknya, tetapi kondisi keuangan Axton dapat menyebabkan kejatuhan laki-laki yang ia cintai. Tentu saja tak menginginkan hal tersebut terjadi. Namun, ia butuh pendapat seseorang mengenai hal tersebut. Dan satu-satunya sahabat yang mau mendengarkannya adalah, Tammy.
"Halo, Tam ... well, aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" Ashley berjalan hilir-mudik di teras kamar hotel. "Ah, benarkah? Aku besok kembali ... proyek di sini berjalan baik, tapi ada sesuatu yang ingin kuceritakan." Volume suaranya menurun, seraya melongok ke dalam ruangan. "Tidak apa-apa, aku hanya memastikan perempuan murahan itu tidak ada di kamar ... yah, sialnya aku memang sekamar dengannya ... tentang apa? Tentang pembicaraan Ronald Bostock dengan kekasihnya, Sally ... kamu pasti terkejut, kan?" Ashley tergelak. "Dengar, Tam ..." Aslhey pun menceritakan apa yang didengarnya dari pembicaraan Ronald, dan Sally. "Jadi siapa menurutmu? Kim? ... dugaan kita sama ... bisa jadi, dan sangat mungkin begitu ... aku tidak rela Axton jatuh karena perempuan licik itu ... apa yang harus aku lakukan? ... malam ini? Ta-tapi aku ... baik, aku mengerti ... well, thank you. Sampai bertemu di kantor, Tam!" Usai menutup sambungan, Ashley membuka pintu, kemudian menengok ke kanan-kiri.
Ia menghela napas lega, tak mendapati Kimberly di sekitar situ. "Kalau saja ia tidak membawa kunci, aku tidak perlu sekhawatir ini. Well, mungkin aku hanya memiliki sedikit waktu," gumam Kim, bergegas ke meja di mana tas Kimberly diletakkan. Tanpa pikir panjang, ia membuka tas tersebut, lalu menggeledahnya. Selama beberapa saat ia menggeledah, tetapi tak ada bukti-bukti yang menguatkan prasangkanya. "Di mana kamu simpan bukti-bukti itu? Ah, apa ini?" Ashley menggumam seraya mengeluarkan map yang berisi laporan keuangan dari Arthur. Matanya menyelisik isi dalam map. "Sepertinya memang ini. Aku akan menyimpannya." Ashley buru-buru memasukkan map tersebut ke dalam tasnya. Baru saja memasukkan map tersebut, tiba-tiba terdengar suara bel dari depan. Ashley bergegas membukakan pintu.
"Ash, bisakah kamu ikut dengan kami ke bawah?" tanya Ronald, yang datang bersama Sally.
"A-ada apa, Mr. Bostock?" Diam-diam Ashley memperhatikan pakaian keduanya yang berantakan.
"Aku juga tidak tahu. Tapi baru saja Mr. Axton menyuruhku ke bawah, dan memberitahumu," jawab Ronald Bostock.
"Ba-baik. Silakan turun duluan, Sir. Saya akan menyusul setelah bersiap-siap," terang Ashley.
Ronald mengangguk. "Jangan lama-lama." Kemudian berlalu bersama Sally.
"Ada hal penting apa, sehingga Mr. Handsome mengumpulkan kami mendadak?" gumam Ashley, sembari menutup pintu. Setelah itu, ia mengambil pakaian terbaiknya. Wajar, ia tak ingin kalah dibandingkan Kimberly, yang ia tahu sedang bersama Arthur.
Sambil merapikan pakaian, ia memandang bayangannya pada cermin. Siluet tubuhnya yang indah terpantul dari cermin. Sementara kecantikannya, menambah kepercayaan diri Ashley. "Aku rasa cukup," gumamnya, lantas keluar dari dalam kamar.
***